
----Diluar kelas----
“Bagaimana? apa akting aku bagus?” tanya Ren melihat Reyna dengan senyum manis
“…….” Reyna hanya diam saja dan menghela nafasnya.
“Apa kita sudah bisa pergi sekarang?” tanya Reyna dengan datar.
“OK. Kita pergi sekarang, Aku takut kaki kamu kenapa-kenapa.” kata Ren dengan khawatir melihat kaki Reyna sudah membiru. Saat Ren sudah berjalan Reyna menyelanya.
“Turunkan aku Ren. Aku bisa jalan sendiri Ren.” kata Reyna dengan pelan dan memaksanya untuk menurunkannya.
“TIDAK! Kaki kau lagi sakit mana mungkin aku menyuruhmu jalan kaki ke ruang kesehatan.” kata Ren dengan tegas.
“Nanti dilihat oleh orang lain.” kata Reyna dengan pelan tidak mau ada yang melihat kalo Ren mengendongnya.
“Tenang saja, tidak ada yang melihat kita.” kata Ren dengan senyum manis. Karena kampus lagi sepi karena
semua mahasiswa lagi masuk kelas.
“Aku tidak mau tau. Turunkan aku sekarang!” kata Reyna dengan tegas melihat Ren tidak mau menurunkannya
“Kalau kau tidak mau aku cium kau disini, kau pasti diam.” kata Ren dengan kata tegas dan menggoda. Ren tidak
sedang bercanda karena kaki Reyna sakit, tidak mungkin Ren membiarkannya berjalan.
Muka Reyna langsung memerah, melihat Ren berani menggodanya di kampus.
“Ta..Tapi… Kalo orang lain melihat gimana?” tanya Reyna dengan pelan dan masih muka memerah.
“Itu bisa aku urus. sekarang kita pergi sekarang, Ok. Aku takut kaki kamu kenapa-kenapa.” kata Ren dengan lembut
dan khawatir dengan kaki Reyna dan langsung ke ruang kesehatan.
----di Skip sampai ruang kesehatan----
“Siang dok.” kata Ren yang langsung masuk ke ruang kesehatan
“Ada apa Ren? Tumben kamu disini apa sakit?” kata dokter mendengar suara Ren yang sedang fokus membaca dokumen dimejanya.
“Bisa memeriksa kakinya?” tanya Ren yang sedang meletakkan Reyna ke kasur.
__ADS_1
Dokter itu langsung melihat dikasur ternyata seorang gadis yang duduk di kasur.
“Siapa dia? Apa pacarmu?” kata Dokter itu dengan senyum melihat Ren membawa seorang gadis ke ruang kesehatan.
“Bukan!” kata Ren dengan datar.
“Kalau gitu kenapa kamu membawanya kesini kalau bukan pacar.” kata dokter dengan senyum yang sedang memeriksa Reyna.
“Bukan urusanmu.” kata Ren dengan dingin.
“Kayaknya tidak ada masalah denganmu? Apa ada yang sakit?” kata Dokter itu memeriksa tubuh Reyna yang tidak ada luka ditubuhnya, sesaat dokter itu memegang kakinya Reyna langsung berteriak membuat dokter dan Ren terkejut.
“Aww…. Sakittt….” teriak Reyna sambil menahan rasa sakit dikakinya.
Dokter itu langsung melihat kaki Reyna ternyata sudah infeksi membiru dan keluar darah.
“Ini sudah membiru, Tunggu sebentar saya ambil obatnya dulu.” kata dokter itu terkejut melihat kaki Reyna yang sudah membiru dan keluar darah dan langsung mengambil obat di lemari.
Sedangkan Ren sudah sangat khawatir melihat kaki Reyna sudah keluar darah. Setelah mengambil obat dilemari, dokter itu langsung mengobati kaki Reyna.
“Ini saya sudah selesai mengobatinya. Jangan banyak bergerak dulu dan untuk sementara jangan kena air tunggu sampai lukanya kering.” kata dokter yang selesai mengobati luka Reyna.
“Sama-sama. Istirahat lah” Jawab Dokter tersenyum dengan memegang tangan Reyna melihat Reyna senyum manisnya.
Ren yang melihat itu mengepalkan tangannya langsung menatap tajam dokter itu dan ingin marah. Tapi dia menahannya karena Ren sudah berjanji sama Reyna kalo tidak mau hubungan mereka diketahui oleh siapapun.
Reyna yang melihat Ren menahan marah karena pasti cemburu melihat dokter memegang tangannya hanya tersenyum.
“Siapa namamu?” tanya Dokter sambil memegang tangan Reyna
“Reyna Dok.” Jawab Reyna
“Nama yang bagus. Apa kamu mahasiswa pindahan?” tanya Dosen yang ingin mengetahui tentang Reyna dan membuat teh.
“Iya Dok, Saya mahasiswa pindahan hari ini baru pertama kali masuk kampus.” Reyna menjawab dengan pelan.
“Wah…. Hari pertama kuliah sudah terluka disini, kamu harus hati-hati.” kata Dokter itu dengan pelan sambil mengkasih teh ke Reyna.
“Hehe… I-iya dok.” kata Reyna dengan kaku dan merasa terasa takut karena melihat tatapan Ren sangat seram karena dokter bicara dengannya.
“Kalau ada apa-apa kamu kesini aja, biar saya mengobati lukamu.” kata Dokter itu dengan lembut.
__ADS_1
Dokter itu tidak tau kalau Ren dari tadi menatapnya dengan sangat seram dan rasa ingin memukul dokter ini dengan tinjunya karena bicara sangat lembut dengan Reyna, langsung saja Ren mencairkan suasana itu.
“Ehemmm… Kau tidak membuatkan aku teh dok?” Ren langsung berdehem yang melihat dokter itu berbicara dengan Reyna saja.
“Kau tidak kembali ke kelas?” kata dokter itu terkejut melihat Ren masih ada di ruangan.
“Apa ada masalah kalau aku disini?” tanya Ren menatap tajam dokter itu.
“Emmm…., Tidak ada. Kenapa kau tidak kembali kekelas? Bukankah masih jam waktu kuliah?” tanya dokter yang mencairkan suasana itu yang melihat Ren menatapnya dengan tajam.
“Emangnya kenapa kalo aku disini? Kenapa kau tidak pergi aja menyelesaikan tugasmu?” kata Ren dengan datar menyuruhnya suruh pergi dari ruangan itu.
Dokter itu langsung melihat Ren dengan seksama yang melihatnya dengan mata tajam yang mengatakan (jangan melihat kekasihnya walau hanya 1 menit saja) kemudian melihat kearah Reyna yang diam saja dan melihat ke Ren dengan senyum.
“Apa kalian berpacaran?” tanya Dokter itu dengan senyum yang melihat Ren sangat prosesif dengan Reyna.
“BUKAN!” teriak Ren dan Reyna dengan bersamaan kemudian mereka saling pandang.
“Kalau memang kalian tidak berpacaran kenapa kalian sangat kompak.” kata dokter itu dengan senyum melihat Ren dan Reyna sangat kompak.
“Siapa yang bilang kalo kita berpacaran?” kata Ren dengan marah ke dokter itu.
“Kalau kalian tidak berpacaran kenapa kau disini Ren? Apa kau mau menemaninya?” kata dokter itu yang melihat Ren tidak mau keluar dari ruangan itu.
“Andrew, Apa kau ingin aku keluarkan pekerjaan kau di kampus ini!” kata Ren menatap tajam Andrew dengan nada intimidasi.
“Ren kau tidak boleh bicara seperti itu.” kata Reyna dengan pelan.
“Tidak apa-apa Reyna.” kata Dokter Andrew ke Reyna langsung bicara ke Ren
“Tapi Ren, Aku lihat kau sepertinya sangat ingin menemaninya.” kata Dokter Andrew dengan senyum kecil.
“Ini urusan ku kenapa kau urus, pergi kau dari sini!” teriak Ren dengan dingin dan menatap tajam Andrew dan mengusirnya.
“Kenapa aku harus pergi? Reyna kan pasienku, tentu aku harus menemaninya.” kata Dokter Andrew yang ingin mendekati Reyna tapi di cegah oleh Ren.
“Pergi kau Andrew atau kau mau aku pukul baru pergi?” kata Ren dengan tidak sabar.
“Ok.. Ok… Aku pergi. Jika Ren melukaimu panggil aku ya. Biar aku yang mengusirnya.” kata Dokter Andrew dengan senyum ke Reyna dan langsung pergi dari ruangan takut Ren akan memarahinya.
“Pergi kau sialan!!” teriak Ren sambil mengambil bantal melemparnya kearah Andrew tapi tidak kena karena Andrew sudah duluan keluar ruangan itu.
__ADS_1