
“Tidak! Aku pulang saja.” Ren yang baru saja ingin pergi langsung terdengar suara pintu.
“Ren. Akhirnya kau datang juga.” Seorang pria keluar dari ruangan melihat Ren.
Ren melihat ke arah suara itu langsung menoleh. Ren merasa marah pada Andrew dan Kai langsung menatap tajam pada mereka berdua.
“Dok, akhirnya dokter ada. Ini Ren mau pulang, Dok. Ren tidak mau di periksa.” kata Andrew dengan senyum karena Dokternya membuka pintu dengan waktu yang pas.
“Kenapa? Hanya periksa biasa saja kan.”
“Aku tahu, kau pasti takut di suntik kan?” tebak Kai.
“Siapa yang bilang, Hah??!!” teriak Ren.
“Sudah jangan berteriak lagi. Di sini rumah sakit, bukan rumah kalian.” Dokter itu menghentikan Ren.
“Bukankah dia yang mulai duluan.” Ren menunjuk ke Kai.
“Ren, kau masuk ke dalam. Aku mau mengecekmu, karena kau sudah 8 bulan lebih tidak cek. Jadi jangan harap kau bisa pulang dengan cepat.” kata Dokter menarik tangan Ren dan masuk ke dalam.
Ren merasa tidak bisa kabur lagi akhirnya pasrah dan mengikuti dokter itu. Andrew dan Kai ikut masuk ke dalam. Mereka ingin melihat perkembangan Ren.
Dokter itu seperti biasa periksa Ren. Ren hanya diam dan patuh saja. Setelah beberapa kali diperiksa dokter itu tersenyum.
“Sepertinya kau semakin membaik. Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Dokter setelah periksa Ren.
“Hah? Apa benar Dok? Bukankah Ren setiap di periksa selalu sama seperti sebelumnya? Kenapa bisa semakin membaik?” tanya Kai dengan terkejut.
“Ya. Bahkan aku bisa melihat kalau Ren sangatlah segar dan tidak Lelah.” kata Dokter.
“Jadi, apa aku boleh pulang?” tanya Ren merasa ingin pulang sekarang.
“Belum. Karena aku masih ingin memeriksa yang lain.” jawab Dokter dengan tegas membuat Ren kesal.
__ADS_1
“Jadi? Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Dokter.
“Kenapa malah bertanya seperti itu padaku?” tanya Ren.
“Bukankah sudah pasti kalau aku ingin tahu bagaimana kau bisa tidur tanpa makan obat.” kata Dokter.
“Hah? Ren apa benar kau tidak makan obat tidurmu?” tanya Kai dengan terkejut.
“Aku juga punya firasat kalau terjadi sesuatu pada Ren karena sudah 8 bulan lebih Ren tidak periksa ataupun beli obat tidurnya.” kata Andrew.
“Apa kau sudah tidak mengalami mimpi buruk lagi?” tanya Dokter.
“Hah~. Ayolah. Walaupun di tanyapun bukankah sudah pasti jawabannya.” kata Ren menghela nafasnya.
“Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak kasih tahu. Aku ingin tahu alasanmu tidak makan obat lagi, bukan karena kau sudah sehat Ren.” kata Dokter.
“Aku sudah menemukannya. Apa itu cukup?” kata Ren dengan santai.
BRAK
“SERIUS KAU REN?” tanya Kai dengan keras.
“Berisik! Jangan berteriak!” bentak Ren membuat Kai terdiam.
“Benarkah kau sudah menemukannya? Aku tidak menyangka kau mendapatkannya.” kata Dokter dengan senyum.
“Tentu saja Uncle Hiroshi. Aku tidak akan pernah bohong dengan perkataanku.” kata Ren dengan senyum.
“Siapa itu Ren?” tanya Kai dengan penasaran.
“Aku tidak mau memberitahumu.” jawab Ren.
Kai hanya diam saja karena Ren tidak mau memberitahunya. Andrew hanya tersenyum dan sudah menebak siapa itu.
__ADS_1
“Apa Papa dan Mamamu tahu kalau kau sudah sembuh?” tanya Hiroshi.
“Tentu saja. Bahkan mereka terkejut kalau aku sudah mendapatkannya.” jawab Ren dengan senyum.
“Baiklah. Lain kali kau ajak dia ke sini bersamamu.” kata Hiroshi.
“Tentu saja, jika ada waktu lenggang.” kata Ren dengan senyum.
Ren dan yang lain akhirnya keluar dari ruangan Hiroshi. Setelah Hiroshi melihat Ren dan yang lain kaluar langsung mengeluarkan amplop di laci mejanya.
“Sepertinya tugasku sudah selesai Aizen. Putramu sudah sembuh dan aku tidak memerlukan ini lagi.” kata Hiroshi melihat amplop coklat itu.
***
"Reyyy..."
Ren mencari Reyna di apartemen sambil berteriak-teriak sampai semua orang di dalam terkejut.
"Astaga..." Rayna yang sedang memasak hampir saja menjatuhkan kuali.
"Kenapa kau teriak teriak? Kau membuat semua orang terkejut tahu." Reyna menatap tajam Ren.
"Hehehe... Aku ingin Bertemu dengan mu." Ren tersenyum langsung memeluk Reyna.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Reyna.
"Tidak ada. Hanya saja aku merindukan mu saja." jawab Ren memeluk Reyna dengan lembut.
Reyna merasa heran dengan Ren karena berpikir pasti terjadi sesuatu pada Ren. Reyna tidak mau berpikir panjang karena Ren tidak mau memberitahunya.
'Rey, karena ada dirimu disampingku aku sudah bisa tidur dengan nyenyak, bahkan kau juga membuat aku jatuh cinta padamu. Aku yang dulu tidak suka mendekati ataupun bicara dengan orang lain, tapi semenjak bertemu denganmu aku jadi berubah. Kau membuat hidup ku berubah sejak saat itu.' batin Ren.
T.B.C
__ADS_1