Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 211 - ORANG YANG BELI TANAH


__ADS_3

Clara yang dari tadi melihat Calvin dan Harry bicara, tapi Clara menatap terus wajah Calvin karena dia berpikir apakah benar kalau dia adalah kakaknya atau bukan.


'Apakah benar dia adalah Kak Calvin? Tapi entah kenapa aku merasa kak Calvin kayak seperti berbeda ya, dan juga kapan kak Calvin pulang ke kota ini? Kenapa tidak memberitahuku dan memberitahu Papa dan Mama?' batin Clara yang masih banyak pertanyaan.


"Kak, kira-kira siapa yang membeli rumah kita ya?" kata Harry dengan pelan berbisik pada Calvin supaya Clara tidak mendengar nya.


"Kakak juga tidak tau. Kita tunggu saja orang nya datang." kata Calvin.


Ting tong ~


Rayna mendengar bunyi bel langsung menghentikan pekerjaannya dan membuka pintu.


"Ren." Rayna melihat ternyata Ren yang datang.


Ren langsung saja masuk ke dalam setelah Rayna membuka pintu. Ren melihat Rayna yang sedang duduk di sofa sambil bermain HP langsung saja mendekatinya dan memeluknya.


"Rey, kau sedang apa?" tanya Ren langsung duduk di samping Reyna dan melihat apa yang sedang Reyna lakukan.


"Hanya membuka media sosial saja." kata Reyna dengan santai.


"Apa kau tidak merindukan ku?" tanya Ren.


"Tidak." jawab Reyna cepat.


Ren terdiam dengan perkataan Reyna, sedangkan Harry dan Calvin mendengar jawaban Reyna langsung saja merasa akan terjadi ribut lagi, karena Ren jika mendengar perkataan Reyna sudah pasti akan cemberut dan ribut.


"Apa yang barusan kau bilang? Kau tidak merindukanku?? Bagaimana mungkin??" tanya Ren.


"Kenapa aku harus rindu dengan mu? Bahkan kita setiap hari bertemu." jawab Reyna datar.


Ren : "......."


"Aku sudah tidak bertemu denganmu selama 12 jam bukankah itu lama. 12 jam itu sudah setengah hari." kata Ren dengan cepat.


"Baru saja setengah hari, bukan sehari. Bagaimana kalau aku menghilang selama 1 bulan? Apa kau akan tersiksa?" tanya Reyna.

__ADS_1


"What??!!! 1 Bulan???!! Apa kau bercanda??!!" tanya Ren berteriak dengan terkejut.


Reyna melihat Ren dengan datar. Apakah Ren ini bodoh atau sengaja? Padahal Reyna hanya bertanya saja malah di anggap serius. Reyna merasa ada yang salah dengan otak Ren.


'Dia ini bodoh atau sengaja sih? Sepertinya ada yang tidak beres dengan otaknya. Aku rasa aku suruh Ren ke rumah sakit dan periksa otaknya yang tidak beres itu.' batin Reyna.


"Kau ke rumah sakit saja dan periksa otak kau Ren. Aku rasa tidak ada yang beres dengan otak kau." kata Reyna.


"Kenapa aku harus ke rumah sakit? I'm fine, Ok. I'm not sick." kata Ren dengan cepat.


"Benarkah? Kenapa aku merasa kau itu sedang sakit? Otak kau itu sedang tidak ada yang beres." kata Reyna.


"Apa kau lihat aku ini sedang sakit? Dimana sakitnya? Aku ini sehat. Stamina aku Full." kata Ren dengan cepat.


"Kalau begitu kau pergi saja kerja sana. Jangan menggangguku." kata Reyna.


"No! Aku mau bersamamu. Aku sudah kangen dengan mu, bahkan aku sudah lembur kerja supaya besok bisa menemani mu." kata Ren dengan cepat memeluk Reyna dengan lembut dan tidak mau melepaskannya.


"Untuk apa kau menemaniku? Aku sedang kerja, tapi kau malah ingin bersama ku. Yang ada kau itu mengganggu ku." kata Reyna dengan cepat.


"Tapi aku kan ingin makan bersama dengan mu Rey. Sudah beberapa hari ini aku sibuk dan tidak sempat makan siang bersama mu." kata Ren dengan senyum.


"Terserah pada mu lah." kata Reyna rasanya sudah males bicara dengan Ren.


"Rachel, sudah malam. Ayo pergi tidur lagi." kata Rayna melihat sudah jam 9.30 malam.


"Tapi, Rachel masih ingin menggambar Mommy." kata Rachel karena gambarnya masih belum selesai.


"Besok saja di sambung ya. Jika terlalu malam, besok Rachel tidak bisa bangun pagi. Bukankah Rachel ingin tidur dengan Mommy?" tanya Rayna dengan senyum supaya Rachel mau tidur.


"Baiklah Mommy. Rachel juga ingin tidur dengan Mommy." kata Rachel tidak bisa menolak karena memang ingin tidur dengan Mommy nya.


Rayna langsung membersihkan peralatan gambar Rachel dan menyimpannya. Setelah itu baru mengajak Rachel dan Richie tidur di kamar.


"Daddy, apa Daddy tidak tidur dengan Rachel?" tanya Rachel melihat Calvin masih duduk di sofa.

__ADS_1


"Rachel duluan saja dengan Mommy ya. Nanti Daddy menyusul." kata Calvin dengan senyum.


"Baiklah Daddy. Pastikan Daddy tidur di samping Rachel ya." kata Rachel.


"Tentu saja, sekarang pergi tidur ya. Good night my girl." kata Calvin dengan senyum mencium pipi Rachel.


"Kau pergi tidur juga Clara. Kau tidur saja di kamar kak Calvin. Kak Rayna sudah menyiapkan kasur di dalam untuk mu." kata Harry.


"Baiklah kak." kata Clara langsung ke kamar tidur.


"Kakek juga pergi tidur. Pastikan kalian jangan tidur terlalu larut malam." kata Kakek.


"Baik kek." kata Harry.


Setelah kakek, Rayna dan yang lain masuk kamar. Di luar hanya tinggal Reyna, Calvin, Harry dan Ren.


"Reyna, jam berapa orang nya datang ke sini?" tanya Calvin.


"Siapa?" tanya Reyna.


"Itu orang yang membeli rumah orang tua aku." kata Calvin.


"Orangnya kan sudah datang, kau tanya saja padanya." kata Reyna dengan santai.


"Sudah datang? Dimana orangnya?" tanya Calvin melihat sekeliling ruang tamu tidak ada orang.


"Kau tanya saja sama dia." kata Reyna menunjuk ke Ren.


"Aku?" tanya Ren menunjukkan dirinya sendiri dengan bingung.


"Ren? Kenapa harus tanya dengan Ren?" tanya Calvin dengan bingung.


"Karena orang yang beli tanah rumah orang tua kalian adalah perusahaan keluarga Ren." kata Reyna dengan santai.


"APAA??!!!" kata Calvin dan Harry dengan terkejut.

__ADS_1


"Tanah? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Ren dengan bingung apa yang sedang Reyna dan Calvin bicarakan.


T.B.C


__ADS_2