
Reyna sudah tidak bisa berkata apa pun karena wajah aslinya sudah terbongkar.
“Kenapa kalau wajahnya terbongkar?” tanya Kai.
“Rey tidak ingin memiliki teman yang melihat dari penampilan. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu?” kata Ren.
“Jadi ini alasannya dia tidak ingin memperlihatkan wajah aslinya.” kata Kai menganggukkan kepalanya.
“Apa masih ada makanan?” tanya Reyna mengubah topik pembicaraan karena perutnya minta diisi.
“Kau sudah makan 4 kotak nasi, masih belum kenyang?” tanya Ren melihat 4 kotak nasi sudah habis dimakan Reyna.
“Belum.”kata Reyna dengan datar.
“Aku ada bawa buah. Apa kau mau?” kata Yuna mengasih apel ke Reyna.
“Apa saja boleh, yang penting makanan.” kata Reyna mengambil apel di tangan Yuna.
“Sini biar aku potong.” kata Ren mengambil apel itu dan memotongnya.
“Kai, apa kau datang kesini hanya untuk menjenguk Rey?” tanya Ren mengasih potongan apel ke mulut Reyna.
“Ah ya. Aku mau beritahu kalau pameran drama kita telah ditentukan.” kata Kai.
“Terus apa hubungannya dengan aku?” tanya Ren tanpa melihat ke Kai.
“Drama? Drama apa?” tanya Reyna.
“Dalam 3 bulan ke depan kita akan mengadakan drama setiap jurusan. Kelas kita mendapat undian drama.” kata Kai.
“Memangnya kita dapat drama apa?” tanya Yuna.
“Drama putri tidur.” kata Kai.
“Cih! Drama membosankan.” kata Ren dengan dingin.
“Kenapa kau bilang begitu? Bukankah itu romantis?” tanya Reyna.
“Benar Ren.” kata Kai.
“Yang jadi putri siapa?” tanya Yuna.
Kai mengasih bukunya pada Yuna. Yuna melihat peran jadi putri langsung terkejut dan melihat ke Kai. Kai hanya tersenyum.
“Ren, apa kau tidak menanyakan siapa yang menjadi putri?” tanya Kai.
“Kenapa aku harus tau siapa yang peran jadi putri?” tanya Ren dengan dingin.
“Terserah padamu.” kata Kai dengan senyum.
“Reyna, apa kau mau melihat naskahnya?” tanya Kai mengasih naskah ke Reyna.
“Boleh.” kata Reyna ingin mengambil naskah itu langsung diambil oleh Ren dengan cepat dan mengasih ke Reyna.
“Ini naskahnya.” kata Ren.
Reyna hanya tersenyum melihat kelakukan Ren.
“Dasar pria posesif.” kata Kai.
__ADS_1
“Apa kau bilang?” tanya Ren menatap tajam Kai.
“Sudah… Jangan ribut lagi. Ini rumah sakit.” kata Reyna.
“Reyna, aku pulang dulu ya. Papa aku telp katanya sudah didepan rumah sakit.” kata Yuna mendapat telp dari papanya.
“Baiklah. Hati-hati ya. Terima kasih sudah menjenguk aku.” kata Reyna.
“Aku juga balik karena aku ada perlu.” kata Kai juga ingin pulang.
“Ketua, Reyna, aku pulang dulu ya.” kata Yuna.
“Ren, Reyna aku balik dulu.” kata Kai.
“Sampai jumpa di kampus.” kata Reyna.
Setelah Yuna dan Kai pergi. Tinggal Reyna dan Ren berdua.
“Ren, apa kau tidak pulang?” tanya Reyna.
“Aku masih ingin menemanimu.” kata Ren dengan lembut.
“Terserah padamu.” kata Reyna dengan senyum.
---- 3 hari Kemudian ----
“Reyna, apa kau sudah membaca naskahnya?” tanya Yuna.
“Ya, selama di rumah sakit aku membaca semua.” kata Reyna.
“Siapa yang memilih peran dalam drama ini?” tanya Reyna.
“Peran dipilih dalam undian.” jawab Yuna.
“Ok. Jangan lama ya dosen sebentar lagi akan datang.” kata Yuna.
“Ok.”
Setelah beberapa menit dosen masuk ke kelas.
“Baiklah semuanya diam!” kata dosen baru masuk ke kelas.
Semua mahasiswa duduk ditempat duduknya.
“Baiklah, karena banyak yang protes dengan peran dalam drama. Jadi kita ulang lagi undiannya.” kata Dosen meletakkan kotak agak besar.
“Didalam sini terdapat semua peran dalam drama kita. Semuanya akan mendapat peran masing-masing dan tidak boleh ada yang protes atau tolak lagi.”
“Setiap namanya dipanggil langsung ambil undiannya dan bilang dapat peran apa.” kata Dosen langsung memanggil nama.
Setelah semua mahasiswa mengambil undiannya. Dosen langsung mengumunkan peran-perannya.
“Penyihir dilakukan oleh Cecilia.”
“Raja diperankan oleh Kai, Ratu diperankan oleh Yuna.”
“Pak, langsung saja peran utamanya pak.” kata mahasiswa dengan cepat.
“Benar pak.” kata mahasiswa lainnya karena tidak sabar mendengar siapa peran utama wanita dan laki.
__ADS_1
“Baiklah. peran utama yang menjadi Putri adalah…”
“Kira-kira siapa yang jadi putri dan pangerannya?”
“Tidak tau. Mungkin aku?”
“Tidak mungkin. Itu mungkin aku.”
Banyak mahasiswi berbisik-bisik siapa yang akan menjadi putri.
“Reyna.” kata Dosen membuat semua mahasiswi terdiam.
“Pak, siapa yang menjadi putri?” tanya Cecilia karena takut salah dengar.
“Yang menjadi pemeran utama wanita menjadi putri adalah Reyna.” kata Dosen dengan jelas.
Semua mahasiswa menganga tidak percaya bahwa Reyna menjadi pemeran sebagai putri. Sedangkan Reyna baru masuk kelas karena baru dari toilet melihat semua mahasiswa menatap dengan tidak percaya.
“Ada apa? Kenapa semuanya menatap aku seperti itu?” tanya Reyna bingung.
“Reyna, kau dari mana? Kenapa baru masuk kelas?” tanya Dosen.
“Maaf pak, saya dari toilet. Toilet lantai ini lagi perbaikan jadi saya pergi ke toilet lantai bawah.” jawab Reyna.
“Kembali ke kursimu.” kata Dosen.
Reyna langsung mengangguk dan kembali ketempat duduknya. Setelah Reyna jalan berapa langkah langsung dosen menghentikan Reyna.
“Reyna, kau mendapatkan peran sebagai putri. Pasti kan kau melakukan peranmu dengan baik.” kata Dosen membuat Reyna terkejut.
“Hah? Putri?” tanya Reyna dengan terkejut. Reyna baru saja masuk malah mendapatkan pemeran utama sebagai putri.
“Apa bapak tidak salah? Bukankah dia belum undian kenapa bisa jadi pemeran utama?” tanya Cecilia dengan terkejut.
“Karena Reyna undiannya terakhir jadi bapak tinggal membacanya dan Reyna tidak usah kedepan ambil undiannya.”
“Itu karena kalian sendiri yang ingin mengulang undian pemerannya. Jadi tidak bisa diulang lagi.” kata dosen dengan tegas.
‘Sial! Kenapa malah gadis kampungan itu mendapatkan pemeran utamanya?’ batin Cecilia dengan kesal.
“Wah! Reyna kau jadi pemeran utama. Selamat ya.” kata Yuna dengan senang.
“Kenapa harus aku yang jadi pemeran utama?” kata Reyna dengan lemas.
“Kenapa? Bukankah itu bagus?” tanya Yuna.
“Aku merasakan aura hitam di sekeliling ruangan. Mereka menatap aku dengan seram bahkan semakin benci.” kata Reyna dengan datar.
“Aura hitam?” tanya Yuna melihat sekeliling mereka, ternyata semua mahasiswi menatap Reyna dengan seram dan benci membuat Yuna langsung terdiam.
“Cecil, kau jangan menatap benci seperti itu.” kata Serena.
“Gimana aku tidak benci dengannya. Dia mendapatkan peran sebagai putri. Dia bisa mendapatkan ciuman dari pangeran tau.” kata Cecilia dengan geram.
“Kita masih belum tau siapa yang menjadi pemeran utama prianya. Mungkin bukan Ren yang menjadi pangerannya.” kata Serena.
“Benar juga. Jika itu Ren maka aku akan mengutuknya.” kata Cecilia dengan seram.
“Selanjutnya bapak umumkan pemeran utama pria.” kata dosen.
__ADS_1
Semua mahasiswa langsung diam mendengar siapa yang akan menjadi pemeran utama pria.
“Yang menjadi pemeran utama pria adalah……”