
“Ma, ayo ketemu pak William dengan istrinya. Mereka sudah ada duduk di ruang tamu.” kata Aizen melihat istrinya masih masak.
“Mama masih memasak pa. Papa saja yang bicara dengan mereka.” kata Hana.
“Apa mama tidak masak terlalu banyak? Siapa yang mau habiskan makanan sebanyak ini? Apa keluarga William juga ikut makan bersama kita?” tanya Aizen melihat istrinya masak terlalu banyak lauk.
“Siapa yang bilang mereka juga ikut makan bersama dengan kita. Ini semua untuk calon menantu kita.” kata Hana dengan tegas sudah menyebut Reyna sebagai menatunya.
“Menantu?” tanya Aizen dengan terkejut dan bingung siapa yang disebut menantu oleh Hana.
“Siapa yang mama maksud menantu?” tanya Aizen dengan bingung.
“Nanti papa juga akan bertemu dengannya.” jawab Hana dengan senang.
“Apa Ren masih belum pulang?” tanya Hana.
Aizen menggelengkan kepalanya mengatakan belum kembali membuat Hana kesal.
“Pergi kemana anak itu? Sudah mau makan siang masih belum pulang.” kata Hana kesal.
“Coba papa telpon ya.” kata Aizen langsng menelpon Ren melihat Hana sudah kesal karena putranya masih belum kembali.
“Halo, Ren kau dimana sekarang? Mamamu sudah lama menunggu kalian.” kata Aizen.
Setelah berhenti bicara sebentar, “Baiklah.” Aizen langsung menutup telponnya.
“Bagaimana?”
“Dia sudah di jalan. Sebentar lagi akan pulang.” kata Aizen.
“Baiklah. Kalau begitu mama masih harus memasak. Papa layani saja pak William dan istrinya. Putri mereka tidak datang bersama mereka?” tanya Hana.
“Sepertinya tidak, nanti putri mereka akan menyusul.” kata Aizen.
“Ya udah. Ini minumannya. Bibi tolong kasih sama tamu kita.” kata Hana menaruh minuman di meja.
“Baik Nyonya.” kata Bibi.
Aizen langsung pergi ke ruang tamu dengan Bibi yang mengantarkan minuman. Sedangkan Hana masih memasak.
Setelah beberapa menit Felicia bru saja datang ke rumah Ren.
“Siang.” kata Felicia yang baru saja di depan pintu.
__ADS_1
“Fel, kau sudah datang. Ayo salam dengan tuan Ryuujin.” kata Papa Felicia melihat Felicia sudah datang.
“Siang Om. “ kata Felicia dengan senyum berjabat tangan dengan Aizen.
“Ayo duduk dan minum. Di meja juga ada cemilan dan kue.” kata Aizen menyuruh Felicia untuk duduk.
“Ren kemana om?” tanya Felicia tidak melihat Ren.
“Ren lagi keluar. Sebentar lagi dia akan kembali.” kata Aizen melihat Felicia sangat ingin bertemu dengan Ren.
“Oh…” kata Felicia kecewa karena sangat ingin bertemu dengan Ren.
“Oh ya, nyonya kemana tuan?” tanya istri William tidak melihat istri tuan Ryuujin.
“Istri saya lagi di dapur memasak. Setelah selesai masaka nanti dia akan ke sini.” jawab Aizen.
“Memang sudah waktunya makan siang.” kata Istri William melihat jam sudah jam 12 lewat.
“Ya. Istri saya ingin memasak sendiri untuk keluarga karena putra kami sudah lama tidak pulang. Jadi istri saya sangat antusias ingin memasak untuk putra kami.” kata Aizen.
Istri William mengganguk mengerti karena kalau dia maka dia akan melakukan hal yang sama dengan istri Ryuujin.
Setelah beberapa lama mereka bicara. Ren langsung masuk ke rumahnya dengan membawa plastik. Felicia yang melihat Ren sudah pulang langsung gembira dan berdiri langsung mendekati Ren.
Ren melihat Felicia ingin membuka pastik itu langsung mengambil dengan paksa.
“Kenapa kau malah membuka barang orang lain tanpa izin? Memangnya ini punya mu.” kata Ren dengan paksa mengambil lagi plastik dari Felicia.
“Bukankah ini untuk aku?” tanya Felicia bingung.
“Apa aku ada bilang ini untuk mu? Jangan seenaknya mengambil barang orang lain.” kata Ren dengan dingin langsung melangkah masuk ke dalam.
Orang tua Felicia merasa malu karena melihat kelakuan putri mereka di depan tuan Ryuujin. Sedangkan Aizen hanya diam datar melihat Felicia.
“Pa, mama dimana?” tanya Ren menaruh plastik itu di meja lain.
“Di belakang sedang masak. Ini apa?” tanya Aizen melihat Ren menaruh plastik di meja.
“Kue untuk mama.” jawab Ren.
“Dari siapa? Apa kau pulang sendirian?” tanya Aizen melihat putranya pulang sendirian.
“Dari seseorang. Tidak, dia sekarang lagi di luar……” kata Ren terputus melihat ada seorang gadis yang masuk kedalam dengan anggun.
__ADS_1
“Siang semua.” kata Gadis itu dengan lembut dan berjalan ke dalam dengan anggun.
Semua orang di ruang tamu melihat seorang gadis yang cantik masuk kedalam. Mereka terpana dengan kecantikan gadis itu. Sedangkan Felicia membulatkan matanya dan terkejut siapa yang masuk kedalam.
“Ka-Kau…. Kenapa kau ada disini?” tanya Felicia dengan terkejut menujuk ke gadis itu.
“Memangnya aku tidak boleh ke sini?” tanya gadis itu dengan santai.
“Justru itu yang ingin aku tanya padamu. Disini bukan tempat yang cocok untuk orang seperti mu.” kata Felicia dengan menatap tajam.
“Aku di undang oleh orang tua Ren. Maka dari itu aku datang kesini.” jawab gadis itu dengan santai dan masuk ke dalam. Felicia yang mendengar itu terkejut membuatnya terdiam.
“Siang tante dan om. Maaf menganggu.” kata gadis itu dengan sopan.
“Siang, duduk lah. Siapa namamu?” tanya Aizen mengizinkan gadis itu duduk.
“Nama saya Reyna om. Oh ya, ini ada sedikit kue untuk om dan tante.” kata Reyna menaruh kantong di meja.
Benar itu Reyna. Ren pergi menjemput Reyna untuk bertemu dengan orang tuanya.
“Wah tidak usah repot-repot membawa sesuatu ke sini.” kata Aizen dengan senyum.
“Tidak apa om, karena saya sudah di undang jadi tidak enak jika tidak memberikan sesuatu.” kata Reyna dengan senyum.
Ren langsung duduk di sebelah Reyna. “Bukankah sudah aku bilang kalau tidak usah beli apapun. Tapi kau tidak mau mendengar.” kata Ren.
“Tetap saja aku tidak enak Ren. Jika seseorang mengundang seseorang pasti harus memberikan sesuatu.” kata Reyna dengan tegas.
“Baiklah…Baiklah…. Apa yang kau lakukan akan aku turuti.” kata Ren dengan senyum lembut.
Aizen melihat putranya tersenyum dengan pacarnya karena apa yang dibilang oleh Ren tidak bohong karena dia melihat Ren tersenyum tulus pada gadis ini.
‘Sepertinya benar Ren memiliki hubungan dengan gadis ini. Aku pikir Ren sedang bersandiwara, dan ternyata tidak.’ batin Aizen tersenyum.
“Em.., Ren dia siapa?” tanya Pak William melihat Reyna.
“Dia pacar ku om. Namanya Reyna.” jawab Ren dengan senyum memperkenalkan Reyna dengan pak William.
Pasangan William itu terkejut mendengar perkataan Ren kalau gadis yang disampingnya adalah pacarnya. Felicia juga tidak kalah terkejutnya mendengar kata Ren.
“Bukankah Ren ingin bertunangan dengan Fel? Kenapa Ren sudah punya pacar?” gumam pak William.
Nyonya William juga berpikir yang sama dengan suaminya. Sedangkan Felicia membeku mendengar perkataan Ren.
__ADS_1
“Tidak Mungkin!!!!!” teriak Felicia dengan marah dan tidak percaya apa yang di dengarnya.