
Setelah Satpam membuka gerbangnya, Reyna langsung menjalankan mobilnya dan pergi tempat parkir mobil.
Calvin yang dari tadi melihat rumah di depan mereka, langsung melihat papan nama Mansion itu tertulis Gemtones Mansion membuat Calvin langsung terkejut. Calvin ingat kalau Gemstone Mansion ini hanya ada 1 keluarga saja yang memiliki Mansion ini.
"Rey, ini rumah siapa?" tanya Rayna yang baru saja keluar mobil.
"Nanti kau akan tahu, jika aku kasih tahu sekarang nanti bukan kejutan lagi." kata Reyna dengan senyum.
"Bibi, nanti suruh pelayan yang lain membawa semua barang di mobil aku ke dalam ya." kata Reyna ke Bibi.
"Baik Nona." kata Bibi yang baru saja sampai dengan pelayan lain.
Bibi melihat ke Calvin dan Rayna langsung terkejut karena melihat ada orang yang mirip dengan Nona Reyna.
Reyna yang melihat Bibi terkejut dan sudah mematung langsung tersenyum saja. Reyna membawa Rayna dan Calvin masuk ke dalam, sedangkan Bibi dan yang lain membawa barang Reyna dan yang lain.
"Reyna... Apa mungkin kau..." Calvin entah kenapa merasa kalau Reyna adalah anak pemilik Mansion ini.
"Kalian berdua tunggu saja dulu di sini. Aku masuk duluan, sampai aku bilang kalian masuk kalian jangan masuk kedalam." kata Reyna.
Calvin dan Rayna saling pandang bingung mendengar perkataan Reyna, tapi mereka tetap menurut menunggu di depan pintu.
Reyna masuk kedalam dengan pelan, Reyna langsung melihat Hana sedang berbicara dengan Siska. Reyna mendekati mereka dengan pelan sampai mereka tidak mengetahui keberadaannya.
Reyna berjalan dengan pelan sampai di belakang Siska. Hana melihat Reyna di belakang langsung terkejut tapi Reyna menaruh satu jari di bibirnya mengatakan kalau jangan memberitahu pada Siska. Hana hanya diam mengangguk saja.
"Kau kenapa Hana?" tanya Siska melihat Hana melihatnya.
"Ti-tidak ada." kata Hana dengan gugup.
"Oh ya, bagaimana dengan putra mu? Apakah dia tidak datang bersama kalian?" tanya Siska.
"Ren tidak ikut dengan kami. Dia ingin berlibur di sana." jawab Hana dengan meminum teh supaya menghilangkan rasa gugupnya.
"Kenapa tidak bawa saja dia ke sini? Aku sudah lama tidak melihatnya. Aku rasa dia pasti ganteng dan tampan." kata Siska.
"Ya. Sekarang dia sudah besar dan mirip dengan Aizen. Sifatnya pun sebelas dua belas dengan Aizen." kata Hana.
"Hahaha... Seperti aku duga.... Ayah dan Anak memang sama." kata Siska dengan senyum.
"Terus, kapan putri mu kembali?" tanya Hana.
__ADS_1
"Benar juga, harusnya dia sudah sampai di sini." kata Siska melihat jam sudah beberapa jam Putrinya tidak kembali.
"Siska, kau tutup matamu." kata Hana.
"Untuk apa?" tanya Siska dengan bingung.
"Sudah tutup saja."
Siska tidak tahu apa maksud Hana, tapi tetap menutup matanya.
"Apa seperti ini?"
Reyna melihat Siska sudah menutup matanya langsung menutup mata Siska dengan kedua tangannya.
"Hana, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Siska.
"Coba tebak siapa?" tanya Reyna menggunakan suaranya agak berbeda.
Siska mendengar suara orang lain di belakangnya langsung terkejut. Siska memegang tangan Reyna dan ingin membuka matanya tapi Reyna menutupnya lagi dengan tangannya.
"Tebak siapa? Jika bis tebak maka aku akan kasih kau hadiah." kata Reyna dengan senyum.
"Hmmm..." Siska berpikir siapa di belakangnya.
"Suprise Ma... Aku pulang..." kata Reyna dengan senyum langsung mencium pipi Siska dengan lembut.
Hana terkejut mendengar Reyna memanggil Siska dengan sebutan Mama. Sedangkan Calvin dan Rayna yang bersembunyi di pintu pun terkejut.
"Reyna, kau sudah pulang sayang. Mama merindukan mu Reyna." kata Siska melihat Reyna sudah pulang langsung berdiri dan menghampiri Reyna dan memeluknya dengan lembut.
"Bagaimana kuliahmu di sana?" tanya Siska dan menyuruhb Reyna duduk di sampingnya.
"Baik Ma."
"Anak Pintar."
"Siska... Reyna putri mu?" tanya Hana yang masih terkejut.
"Ya. Dia putri aku satu-satunya." kata Siska dengan senyum.
"Pantas saja.. Aku selalu berpikir kalau Reyna sangat mirip dengan seseorang, ternyata kau sangat mirip dengan Siska, Reyna." kata Hana dengan senyum.
__ADS_1
"Maaf Tante, aku tidak memberitahu tante waktu itu." kata Reyna dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa. Berarti Ren tahu identitasmu Reyna?" tanya Hana.
"Ren sudah mengetahuinya dari awal ,Tante." kata Reyna.
'Anak itu! Beraninya dia tidak memberiutahu padaku... Lihat saja, besok aku balik aku akan menghukum anak nakal itu.' batin Hana marah pada Ren karena tidak memberitahunya.
"Oh ya tadi mu bilang kalau ingin mengasih mama Hadiah? Apa hadiahnya?" tanya Siska dengan senyum.
"Sebelum itu aku ingin bertanya pada Mama. Aku ingin mama jawab dengan jujur." kata Reyna dengan serius.
"Apa? Mama pasti akan jawab dengan jujur." kata Siska melihar Reyna sudah serius.
"Apa aku memilki saudara perempuan?" tanya Reyna.
Siska yang mendengar perkataan Reyna langsung terdiam dan terkejut. Siska berpikir kenapa Reyna bertanya apakah memiliki saudara atau belum, tapi Siska melihat mata Reyna sepertinya sudah mengetahuinya. Siska jadi mau tidak meu menjawab jujur pada Reyna.
"Sebenarnya kau memiliki adik kembar Reyna. Sayangnya dia sudah meninggal semenjak usianya 6 bulan." kata Siska dengan perasaan berat dan mengingat kejadian yang bertahun-tahun lalu.
"Kenapa bisa meninggal Ma?" tanya Reyna.
"Dia memiliki tubuh yang lemah, jadi sering sakit. Sampai suatu hari Adik mu tiba-tiba panas tinggi dan bergetar, Mama dan Papa dengan cepat membawanya ke rumah sakit, jadi setelah di periksa oleh dokter ternyata nyawanya tidak selamat." kata Siska sudah mengeluarkan air matanya. Hana langsung mendekati Siska dan menenangkannya.
"Apa Mama yakin kalau dia adalah saudara kembar aku?" tanya Reyna.
"Tentu saja. Bahkan tanda lahirnya ada di dadanya berbentuk bulan sabit." kata Siska.
Reyna merasa masalah Rayna ini sama sekali tidak benar. Reyna mendengar kalau Rayna di temukan di depan panti asuhan, sedangkan mendengar cerita Mamanya sama sekali tidak ada yang benar sedikit pun.
Reyna merasa ada masalah yang masih belum mereka ketahui sampai saudaranya yang di anggap meninggal oleh orang tuanya, tapi ternyata saudara nya masih hidup dan Reyna membawanya pulang.
"Jangan menangis Ma.. Aku akan memberikan hadiah special untuk Mama." kata Reyna.
"Apa?" tanya Siska menghapus air matanya.
"Masuk lah Calvin..." kata Reyna.
Calvin dan Rayna langsung masuk ke dalam bersama. Calvin memegang bahu Rayna yang sudah menangis karena mendengar cerita Siska.
Siska dan Hana awalnya siapa yang datang, setelah melihat Rayna yang sedang menangis langsung terkejut, apa lagi Siska terbelalak dan terkejut melihat Rayna.
__ADS_1
T.B.C