
“Apa semua persiapannya sudah selesai?” tanya Ren.
“Sudah. Kita hanya tinggal tunggu waktu saja.” jawab Kai.
“Pastikan semuanya tidak ada yang ketinggal atau kurang. Aku pergi melihat yang lain dulu.” kata Ren dengan dingin.
“OK.”
***
“Enzi, kau mau kemana? Sebentar lagi drama kita akan dimulai.” kata Felix melihat Enzi pergi.
“Bukannya masih ada 2 jam lagi? Aku mau pergi beli minum dulu.” kata Enzi meninggalkan kelasnya.
“Aku tidak menyangka waktu sangat cepat. Aku akan mencium gadis kampungan didepan banyak orang membuat aku muak dan jijik. Waktu latihan saja membuat aku mual apa lagi dilihat banyak orang.” kata Enzi dengan kesal.
Enzi minta sama Dosen untuk menggantikan perannya sebagai Pangeran. Tapi dosen dengan keras menolak permintaan Enzi karena nanti yang ada semuanya malah protes dan tidak akan selesai memilih perannya.
“Akh! Kenapa malah aku yang kena sial begini! Ini masa kuliah yang paling sial bagi aku!” teriak Enzi dengan kesal.
“Coba saja kalau culun itu cantik, maka aku akan mempertimbangkannya. Bahkan aku akan mau jadi pacarnya. Kalau mukanya seperti banyak jerawat dan kacamata besarnya, apa lagi pakaiannya seperti kampungan. Siapa yang mau dengannya.” sambung Enzi sambil meminum soda.
“Ngapain kau disini? Bukankah kau harus bersiap-siap?” tanya Ren dengan dingin melihat Enzi duduk santai sambil minum soda.
“Memang apa urusannya denganmu? Bukankah dramanya masih ada waktu 2 jam lagi?” tanya Enzi dengan cuek
“Walaupun waktunya masih ada 2 jam lagi, Bukankah membawa semua peralatan ke panggung akan memakan waktu juga?” tanya Ren menatap dingin Enzi.
“Itukan kerjaan mereka. Aku sebagai pemeran utama harusnya santai sedikit dong. Bukankah kau juga harusnya membantu mereka juga karena kau tidak dapat peran?” tanya Enzi.
“Aku hanya berkeliling kampus melihat apakah ada yang santai dan tidak membantu?” kata Ren.
“Benarkah? Apa kau dapat orangnya?” tanya Enzi dengan santai meminum sodanya.
“Ya. Aku menemukan orang yang sedang santai sambil menikmati minumnya dengan enak, sedangkan yang lain sedang mempersiapkan untuk dramanya.” kata Ren dengan dingin sambil mengsilangkan kedua tangannya.
“Baguslah. Kau harus menghukum orang yang tidak tau diri itu dengan adil.” kata Enzi dengan santai.
“Menurutmu hukuman apa yang cocok untuknya?” tanya Ren dengan senyum cilik.
“Terserah padamu. Bukankah kau ketuanya?” kata Enzi.
“Bagaimana kalau selesai drama nanti dia akan membereskan semua peralatan dramanya?” tanya Ren dengan senyum dingin.
__ADS_1
“Bagus juga.”
“Benarkah? Kalau begitu aku serahkan padamu nanti untuk membereskan barangnya nanti.” kata Ren dengan senyum licik.
“Ok. Hm….. Tunggu… Apa yang barusan kau bilang?” kata Enzi yang langsung terkejut apa yang dikatakan Ren.
“Bukankah kau bilang kalau bagi yang tidak membantu maka akan mendapatkan hukuman membereskan peralatan drama setelah drama kita selesai? Itu hukuman untukmu. Jadi kau lakukan dengan baik.” jawab Ren dengan senyum licik.
“WHAT!!! Apa kau bercanda Ren!” teriak Enzi dengan terkejut.
“Apa? Apa kau berpikir aku bercanda? Bukankah kau sendiri yang bilang hukumannya?” tanya Ren.
“Kau jangan bercanda! Aku sebagai pemeran utama pria masa harus melakukan hal seperti itu! Itu tugas mereka yang tidak dapat bagian peran.” kata Enzi.
“Walaupun kau dapat peran sebagai pemeran utama bukan berarti kau bisa seenaknya saja bersantai diluar sedangkan yang lain dapat peran saja juga membantu.” kata Ren dengan dingin.
“Jika kau tidak mau mendapatkan hukumanmu mendingan kau langsung ke kelas membantu yang lain.” ancam Ren dengan dingin.
“Cih!” Enzi mengendus kesal langsung pergi meninggalkan Ren. Sedangkan Ren langsung tersenyum penuh kemenangan melihat Enzi pergi dengan wajah kesal.
“Ren!”
Ren mendengar ada yang memanggilnya langsung berbalik dan langsung tersenyum melihat Reyna dan Yuna membawa beberapa kantong.
“Ren, ngapain kau disini?” tanya Reyna.
“Kabur? Maksudmu?” tanya Reyna.
“Kabur dari tugasnya. Kalian dari mana?” kata Ren.
“Habis dari supermarket beli minuman.” jawab Yuna memperlihatkan isi kantong yang dibawanya.
“Berat ya jadi ketua. Harus memeriksa semuanya.” kata Reyna.
"Tentu saja. Jika tidak, bagaimana kita bisa selesai mengerjakan semuanya jika semua orang hanya ingin dapat nilai bagus tapi tidak bekerja dengan benar.” kata Ren.
“Apa ketua mau minum?” tanya Yuna mengasih cola ke Ren.
“Hm…..” kata Ren berdehem saja langsung menerima colanya.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Ren.
“Sudah. Hanya tinggal ganti baju dan make up saja.” kata Reyna dengan senyum.
__ADS_1
"Bagus. Pastikan semua perlengkapan baju dan semua barangnya tidak ada yang rusak." kata Ren dengan datar.
"Oh ya. Kalian dapat peran apa?" tanya Ren.
"Apa kau tidak tau kami jadi peran apa? Apa kau tidak membaca buku dramanya?" tanya Reyna.
"Tidak." jawab Ren.
"Kalau begitu kau tunggu sampai drama kita mulai saja." kata Reyna.
"Kenapa? Beritahu saja sekarang." kata Ren.
"Nanti pas drama mulai kau akan tau, karena jika di kasih tau sekarang juga percuma saja." kata Reyna.
"Kenapa percuma? Jangan bikin aku penasaran." kata Ren yang memaksa Reyna menjawab pertanyaannya.
"Ayo Yuna, kita pergi sekarang. Nanti kita bisa telat." kata Reyna langsung memegang tangan Yuna dan pergi meninggalkan Ren.
"Tunggu! Jawab pertanyaan aku dulu." kata Ren memegang tangan Reyna.
"Maaf ketua, sebentar lagi drama akan dimulai. Jadi kita kembali untuk mengganti pakaian kita." kata Reyna dengan pelan melepaskan tangan Ren dan langsung pergi dengan Yuna.
"Reyna, kenapa kau tidak kasih tau saja peran kita sama ketua?" tanya Yuna.
"Jika dikasih tahu nanti akan merepotkan Yuna." kata Reyna.
"Merepotkan apa? Apakah ada masalah?" tanya Yuna.
"Nanti kau akan tau Yuna." jawab Reyna dengan senyum.
"Reyna, sebenarnya kau ada hubungan apa dengan ketua? Kalian berdua sepertinya bukan cuma hanya kenal saja kan." tanya Yuna dengan penasaran.
"Suatu saat kau juga akan tau Yuna. Jika sekarang aku beritahu takut ada orang yang mendengarnya." jawab Reyna.
"Apakah hubungan kalian begitu rahasia?" tanya Yuna.
"Ya. Kau tau kan banyak yang suka dengan Ren. Aku hanya tidak ingin orang lain mentargetkan aku. Kau lihat sendiri kan, aku hanya bicara biasa dengan Ren saja sudah banyak yang benci dan menghina aku." kata Reyna.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kau mengatakannya." kata Yuna dengan senyum.
"Terima kasih Yuna. Aku senang punya teman seperti mu." kata Reyna dengan senyum.
"Aku juga senang berteman denganmu Reyna." jawab Yuna.
__ADS_1
Setelah Reyna dan Yuna pergi, ada seseorang yang melihat mereka berdua dengan tatapan benci dan sinis.
"Lihat saja kalian berdua. Aku akan membalas kalian berdua karena berani mendekati Ren." kata seorang gadis dengan tatapan benci.