Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 223 - TRAUMA RAYNA


__ADS_3

“Rey, kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan teh dan roti lapis untuk mu.” kata Rayna melihat Reyna keluar dari kamar.


“Terima kasih Ray. Apa kau melihat Ren?” tanya Reyna.


“Tidak. Kenapa? Apa Ren tidak ada di kamar?” tanya Rayna.


“Ya. Jika kau tidak melihatnya, pasti dia sudah pergi.” kata Reyna dengan santai.


“Rey, apa kau kenal dengan tuan Riku? Kenapa aku merasa kau selalu bersikap dingin dan cuek padanya?” tanya Rayna.


“Kenapa kau bertanya tiba-tiba?” tanya Reyna mendengar Rayna bertanya tiba-tiba tentang Riku.


“Aku hanya penasaran saja. Apa lagi aku melihat kau sepertinya tidak takut padanya walaupun kau marah ataupun cuek padanya.” kata Rayna.


Reyna tersenyum mendengar perkataan Rayna. Reyna sebenarnya marah dan cuek pada Riku karena ada alasan tertentu.


Sebenarnya Reyna juga tidak ingin marah pada Riku, tapi karena apa yang telah dia lakukan padanya terlalu keterlaluan karena bukan Cuma hanya karena Riku mengurungnya di rumah, tapi Riku juga tidak memberikannya makan selama 2 hari penuh, bahkan di rumah itu tidak ada orang, dan Reyna sendirian di rumah.


Bagaimana Reyna tidak marah pada Riku tidak memberikannya makan bahkan meninggalkannya sendirian di rumah. Masih untung di rumah masih ada bahan makanan, jadi Reyna masih bisa makan, jika tidak, Reyna pasti sudah lemas dan pingsan karena kelaparan.


Reyna tidak ingin mengatakan ini pada Rayna dulu, karena jika dia mengatakannya pasti Rayna juga tidak akan percaya.


“Karena aku mengenalnya Ray. Riku selalu seperti itu jika sudah ada yang berteman dengannya. Apa lagi Dia tahu kenapa aku marah padanya.” kata Reyna.


“Memangnya apa yang dia lakukan padamu sampai kau marah dan tidak mau memaafkannya?” tanya Rayna dengan penasaran


Rayna penasaran karena baru pertama kalinya Rayna melihat Reyna marah pada seseorang dan tidak mau memaafkannya walaupun Riku sudah memaafkannya.


“Walaupun aku memberitahu mu Ray, kau pasti tidak akan percaya.” kata Reyna dengan senyum.


“Sudahlah. Jangan membicarakan dia lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” kata Reyna.


“Apa?” tanya Rayna.


“Sebenarnya liburan 2 bulan lagi aku ingin pulang ke rumah. Apa kau ingin ikut denganku?” tanya Reyna.


“Pulang? Maksudmu apa? Bukankah rumah kita di sini?” tanya Rayna dengan bingung.

__ADS_1


“Pulang ke rumah Ray. Pulang ke tempat orang tua kita. Aku tinggal di kota ini karena aku kuliah di kota ini.” kata Reyna.


“Jadi maksudmu adalah….”


“Ya. Kita akan pulang ke tempat orang tua kita berada.”


Rayna langsung terdiam perkataan Reyna. Tiba-tiba banyak pikiran di dalam kepala Rayna.


Apakah orang tuanya masih hidup? Apakah orang tuanya mau menerimanya sebagai putri mereka? Apakah mereke percaya kalau putri mereka masih hidup?


Entah kenapa Rayna tiba tiba terdiam dan mulai gemetar, tangannya yang memegang gelaspun langsung terjatuh begitu saja.


Reyna melihat Rayna seperti ketakutan dan gemetar langsung saja mendekati Rayna.


“Kenapa Ray? Kenapa kau ketakutan?” tanya Reyna memegang tangan Rayna yang gemetaran dan menenangkan Rayna.


Rayna tidak menjawab malah semakin gemetar dan ketakutan. Reyna melihat Rayna ketakutannya tidak berhenti langsung saja memeluk dan menenangkan Rayna dengan mengelus punggung Rayna dengan pelan dan lembut.


“Tidak apa Ray. Jangan takut, aku di sini bersama mu.” kata Reyna dengan pelan dengan lembut menenangkan Rayna.


Setelah beberapa menit kemudian Rayna mulai tenang dan tidak gemetar lagi karena Reyna menenangkannya.


“Apa sudah tenang?” tanya Reyna dengan lembut menglap keringat Rayna dengan tangannya.


“Hum…” Rayna hanya berdehem dan mengangguk saja.


“Apa kau takut bertemu orang tua kita?” tanya Reyna dengan pelan.


Rayna tidak menjawab dan hanya mengangguk kepalanya dengan pelan. Karena Rayna memiliki trauma dengan orang tua Calvin, apa lagi dengan Mama tiri Calvin. Mama Tiri Calvin selalu memaksa dan memukul Rayna dengan keras, bahkan sampai memukul Rayna jika Rayna ada melakukan kesalahan sedikit saja.


Rayna pernah tidak sengaja menjatuhkan piring keramik dan untungnya piringanya tidak pecah dan hanya tergores sedikit saja karena dengan cepat Rayna mengambilnya walaupun tangannya kena luka kecil.


Mama Tiri Calvin mengetahui kalau Rayna telah memecahkan piringnya langsung saja menampar dan memukul tangan Rayna dengan rotan dan tidak perduli dengan Rayna yang masih hamil muda.


Calvin tidak tahu tentang ini selama 6 bulan lebih karena Calvin selalu bekerja dan berpikir kalau Mamanya tidak akan melakukan hal itu pada Rayna. Pas waktu Calvin tahu, dia marah pada mamanya dan memutuskan keluar dari rumah dan hidup bersama Rayna.


Karena Calvin tidak tahan dengan kelakuan mamanya pada Rayna, jadi memutuskan keluar rumah, dari pada Rayna selalu kena marah dan kena pukul sama Mamanya, apa lagi Rayna sedang mengandung anaknya. Tidak mungkin Calvin membiarkan mamanya menyiksa Rayna di rumah terus, karena hal ini membuat Rayna trauma dan takut bertemu dengan orang lain.

__ADS_1


“Apa kau takut kalau orang tua kita tidak menerima mu?” tanya Reyna.


Rayna tidak menjawab bahkan memalingkan mukanya kesamping.


“Tidak apa Ray. Aku yakin pasti Papa dan Mama akan menerima mu. Apa lagi tahu kalau mereka memiliki seorang putri lagi, mereka pasti akan senang. Apa lagi mereka pasti akan lebih senang lagi karena sudah memiliki 2 cucu yang imut.” kata Reyna dengan senyum lembut untuk tidak membuat Rayna ketakutan.


“A-Apa kau ya… yakin Rey?” tanya Rayna dengan gemetar dan terputus-putus.


“Tentu saja. Kau akan pulang bersamaku. Aku yakin Papa dan Mama akan senang dengan kehadiranmu.” kata Reyna dengan senyum memegang kedua tangan Rayna dengan erat.


Setelah Rayna melihat mata Reyna tidak ada kebohongan langsung saja mengangguk. Reyna langsung membantu Rayna berdiri dan duduk di kursi sampai Rayna tenang.


“Aku akan menyiapkan minuman panas untukmu.” kata Reyna langsung ke dapur membuat susu madu hangat untuk Rayna.


Rayna hanya mengangguk saja dan duduk di kursi untuk menenangkan dirinya. Setelah Rayna menyiapkan susu madu untuk Rayna dan mengasih ke Rayna. Rayna langsung meminumanya dengan pelan.


“Aku akan membangunkan yang lain dulu. Aku duduk saja dan menenangkan kepalamu.” kata Reyna selesai bicara langsung ke kamar Calvin dan membangunkan Calvin, Rachel dan Richie.


“Pagi Ray. Kau sudah bangun.” kata Calvin yang baru saja di bangunkan oleh Reyna dan keluar kamar langsung melihat Rayna sedang duduk di kursi.


“Pagi kak.” kata Rayna dengan senyum agak paksa.


“Apa terjadi sesuatu Ray? Kenapa aku melihat kau sepertinya berkeringat banyak?” tanya Calvin melihat Rayna berkeringat sangat banyak di mukanya.


“Tidak apa, kak. Aku hanya kelelahan saja.” kata Rayna dengan pelan.


“Benarkah?” tanya Calvin dengan tidak percaya. Rayna hanya mengangguk kepalanya saja.


“Baiklah. Jika memang kelelahan, jangan di paksa. Kau istirahat saja di kamar, jangan memaksakan dirimu untuk membuat sarapan untuk kita.” kata Calvin dengan lembut.


“Iya kak. Setelah aku mengantarkan anak-anak baru istirahat.” kata Rayna.


“Biar aku saja yang mengantar anak-anak. Kau setelah makan, langsung tidur istirahat di kamar. Aku tidak mau kau sakit karena membuat sarapan untuk kita. Tidak boleh membantah ya.” kata Calvin dengan tegas.


Rayna hanya bisa menuruti perkataan Calvin. Rayna setelah meminum susu langsung ke kamar tidur.


Sedangkan Calvin dan yang lain makan sarapan mereka dan pergi bekerja. Rachel dan Richie di antar oleh Calvin setelah itu baru ke perusahaan.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2