
Ren pergi menuju perusahaan Ryuujin memakai mobil sportnya.
"Ren, kenapa kita harus cepat-cepat pergi ke perusahaan? Bukankah masih banyak waktu?" tanya Kai duduk di bangku sebelah Ren.
"Apanya cepat? Bukankah ini sudah telat? Kau lihat sendiri jam berapa sekarang." kata Ren dingin.
Kai bingung melihat jam di tangannya dan berkata, "Sekarang masih jam 7.45."
"Itu sudah telat... Coba kau pikir berapa lama kita pergi ke perusahaan dari apartemen." kata Ren.
"Bukankah kita hanya perlu waktu 15 menit? Dan lagi perusahaan papamu bukanya jam 8.30." kata Kai.
"Kenapa aku punya teman bodoh sepertimu?" kata Ren dengan menatap tajam Kai merasa Kai sangatlah bodoh.
"Apa maksud kau aku bodoh. Aku ini normal bukan bodoh." kata Kai.
"Dari mana normalnya? Aku rasa kau juga sangat aneh tau. Aneh dan bodoh." kata Ren.
"Aku penasaran kenapa kau bisa masuk ke universitas dengan otak kau yang sangat rendah itu." kata Ren.
"Apa maksudmu dengan otak rendah?" tanya Kai dengan bingung.
"Nanti kau juga akan tau." kata Ren tidak ingin bicara banyak lagi sama Kai karena Ren merasa dia akan jadi ikut bodoh juga jika bicara dengan kai.
----Sampai Perusahaan----
"Turun." kata Ren sampai perusahaan.
"Rasanya malas aku bekerja jika datang cepat." kata Kai dengan malas keluar dari mobil.
Ren tidak menggubris Kai dan langsung pergi meninggalkannya. Kai melihat Ren sudah pergi dia langsung cepat jalan.
Saat masuk perusahaan, Ren langsung naik ke lift dan menuju ke ruang HRD di lantai 4. Tentu saja dengan Kai, karena Kai jalan cepat karena tidak ingin di tinggalkan.
"Ren, kau jalan terlalu cepat." kata Kai mengejar Ren.
"Itu karena kau sangat lambat." kata Ren datar.
"Bukankah masih ada waktu?"
Ren tidak menggubris Kai dan masuk kedalam ruangan HRD.
"Pagi pak."
"Oh, tuan muda. Anda sudah datang. Silakan duduk tuan muda." kata HRD melihat Ren masuk kedalam bersama Kai.
Ren langsung duduk di sofa. Ren melihat sekeliling ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang lain sudah datang?" tanya Ren.
"Yang lain?" tanya HRD dengan bingung.
Kai yang mendengar perkataan Ren tiba-tiba teringat sesuatu kalau Reyna tidak bekerja magang di perusahaan Ryuujin.
'Sial! Aku lupa memberitahu Ren. Bisa mati aku.' batin Kai lupa memberitahu Ren.
"Siapa maksud tuan muda?" tanya HRD dengan bingung.
"Orang kerja magang di sini. Memang siapa lagi?" tanya Ren.
"Yang bekerja magang di perusahaan ini hanya tuan muda dan teman tuan muda saja. Tidak ada yang lain." jelas HRD.
Ren terdiam mendengar perkataan HRD. "Apa maksudmu?" tanya Ren.
"Ya tuan muda. Mahasiswa yang bekerja di perusahaan kita hanya kalian berdua saja." jelas HRD.
Ren : "......"
Ren merasa otaknya berhenti seperti tidak jalan sama sekali, tidak mengerti perkataan HRD.
"Apa kau ingin bilang kalau yang magang di perusahaan ini hanya kami berdua saja? Bukankah ada 4 orang yang berkerja magang di sini?" tanya Ren minta kepastian.
"Benar tuan muda. Yang magang di perusahaan ini hanya tuan muda dan tuan muda Kai saja. Awalnya memang 4 orang yang mengajukan bekerja magang di perusahaan, tapi sayangnya 2 orang yang akan dipilih itu sudah masuk ke perusahaan lain. Jadi kami tidak bisa memasukkan bekerja magang lagi disini." jelas HRD.
Ren terdiam membeku mendengar perkataan HRD. Ren merasa ada bom besar yang jatuh ke dirinya, Hati dan otak Ren seperti kena bom yang membuatnya seperti waktunya berhenti mengetahui kalau Reyna tidak bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
"Apa kau tau sesuatu tentang ini Kai?" tanya Ren.
"Tahu apa? Aku tidak tau kalau Reyna tidak bekerja di perusahaan ini." kata Kai menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Ren merasa ada yang Kai sembunyikan darinya membuatnya bertanya lagi.
"Apa kau yakin? Bukankah kau pernah melihat daftar dimana kita akan magang? Jangan bilang kalau kau tidak melihat nama Reyna." kata Ren yang sudah menjadi dingin.
"Aku tidak melihat nama Reyna Ren. Karena aku berpikir pasti Reyna akan masuk ke perusahaan ini." kata Kai dengan cepat.
"Kau jangan coba-coba berbohong padaku Kai. Sekali kau berbohong, kau akan tau akibatnya." kata Ren sudah menatap tajam Kai dengan tatapan membunuh.
"Aku beneran tidak tau." kata Kai dengan cepat takut dengan tatapan tajam Ren.
"Em.., Tuan muda, apa ada masalah dengan 2 orang itu?" tanya HRD melihat tuan mudanya sangat marah.
Ren langsung berdiri dan keluar dari ruangan HRD dan langsung mengeluarkan Hp nya menghubungi Reyna. Ren menghubungi Reyna berkali-kali tapi tidak di angkat oleh Reyna.
"Kenapa Rey tidak menjawab panggilanku?" gumam Ren dengan kesal. Ren tidak mau putus asa menelpon Reyna sampai di jawab Reyna.
__ADS_1
Sedangkan di ruang HRD Kai sedang duduk gugup takut Ren masuk dan marah padanya. HRD pun bingung dengan tuan mudanya tiba-tiba marah dan langsung keluar dari ruangannya.
"Em... Tuan muda Kai, apa terjadi sesuatu pada tuan muda Ren?" tanya HRD.
"Dia marah."
"Marah??? Marah kenapa? Apa saya melakukan kesalahan padanya?" tanya HRD sudah menjadi takut.
"Bukan. Sekarang Ren pasti lagi telpon." jawab Kai.
"Telpon siapa tuan muda?" tanya HRD.
"Masa depannya."
"Masa depan?? Siapa itu?" tanya HRD dengan bingung.
"Suatu saat pak HRD juga tau nanti." kata Kai dengan santai.
Beberapa menit kemudian Ren masuk ke dalam dengan wajah kesal bercampur sedih.
"Kenapa? Apa dia tidak mengangkat telepon mu?" tanya Kai menebak dari wajah Ren.
"Tidak. Aku telpon berkali-kali dan chatting dengannya tidak di jawab sama dia." kata Ren mengendus kesal.
"Mungkin dia lagi sibuk." kata Kai.
"Kai, kau disini saja bekerja dulu." kata Ren.
"Memang kau mau kemana? Jangan bilang kau....." kata Kai merasa tau apa yang dipikirkan Ren.
"Aku ingin pergi menemuinya sekarang juga." kata Ren langsung mengambil kunci mobilnya tapi Kai lebih cepat darinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ren dengan dingin menatap tajam Kai.
"Kau temui dia apa yang akan kau lakukan. Walaupun kau temui dia mau memohon atau paksa padanya, kau pasti tidak bisa menyuruh dia pindah tempat magang karena kampus kita sudah membuat suratnya." kata Kai.
"Kita tidak tau kalau tidak mencobanya." kata Ren memaksa ingin pergi menemui Reyna.
"Baiklah terserah padamu Ren." kata Kai menyerah mengasih kunci mobil ke Ren.
Kai melihat Ren mengambil kuncinya dan baru saja memegang gagang pintu langsung berkata, "Jika kau ketemu dengannya dan memohon padanya untuk bekerja di sini, jangan salahkan aku jika dia marah dan benci dengan keegoisanmu Ren."
Ren berhenti mendengar perkataan Kai dan melihat ke Kai dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kau melihat aku seperti itu? Bukankah benar apa yang aku bilang?" tanya Kai dengan santai.
Ren langsung duduk di sofa dan berwajah bercampur sedih, kesal, marah sampai menelpon Reyna terus.
__ADS_1
Kai : "......"
'Hanya bilang kalau Reyna akan marah dan benci padanya, Dia langsung berhenti dan patuh. Raja singa ini beneran takut sama Ratu singa.' batin Kai melihat Ren menelpon Reyna berkali-kali.