
Sementara itu di perusahaan Heaven, Reyna sedang senyum senyum sendiri di mejanya melihat Hp-nya ada pesan dari Kai kalau Ren terkejut dan marah karena mukanya di ubah olehnya. Bahkan Kai mengirimkan foto Ren pada Reyna.
"Hahaha.... Ini akibatnya jika kau berani denganku Ren. Selanjutnya apa yang akan aku lakukan padanya ya?" gumam Reyna senyum dengan berpikir.
"Kak Reyna."
Reyna langsung melihat ke depan mendengar ada yang memanggilnya.
"Ada apa Har?" tanya Reyna.
"Pak Satya bilang akan membawa aku ke airport untuk menjemput client. Apa aku boleh ikut sama pak Satya?" tanya Harry.
"Kenapa harus kau? Sekretarisnya kemana?" tanya Reyna dengan mengernyit dahinya mendengar kalau Harry harus ikut ke airport menjemput client.
"Sekretarisnya sedang ada cuti karena ada urusan keluarga. Jadi pak Satya melihat aku sedang tidak ada kerjaan jadi mengajak aku menjemput client." jelas Harry.
"Terus, kenapa kau malah minta izin padaku? Kalau memang pak Satya yang mengajakmu juga tidak masalah kan?" tanya Reyna dengan bingung.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi karena pak Satya bilang ingin mengajak aku karena aku tidak ada kerjaan, Tapi aku kan hanya pegawai biasa, kenapa aku harus ikut dengannya?" tanya Harry dengan bingung.
Walaupun Harry tau dia adalah seorang hacking di Heaven Corporation tapi semua pegawai di perusahaan tau kalau Harry hanya pegawai biasa saja.
"Ikut saja dengan pak Satya, Har. Pak Satya memang selalu mengajak seseorang untuk menemaninya, bahkan jika ada meeting penting." kata Reyna.
"Apa benar tidak apa kak?" tanya Harry.
"Tidak apa. Dan lagi ini juga kesempatan buatmu. Jika kau bertemu dengan client perusahaan, nanti suatu saat kau juga akan tau bagaimana berinteraksi dengan mereka." kata Reyna.
"Baiklah kak. Jika kak Reyna memang mengizinkan, maka aku akan ikut dengan pak Satya." kata Harry.
"Apa yang pak Satya suruh, ikut saja perintahnya. Karena pak Satya tidak akan menyuruh sembarangan orang untuk menemaninya bertemu dengan Client." kata Reyna dengan senyum.
"Baik kak." kata Harry dengan lega.
Awalnya Harry tidak ingin ikut karena Harry takut kalau pak Satya akan menyuruhnya bicara dengan client. Karena Reyna mengatakan kalau hanya ingin di temani, maka Harry langsung lega.
__ADS_1
"Oh ya, pastikan kau bawa air di mobil. Karena beli air di airport sangat mahal." kata Reyna memperingati Harry.
"Baik kak. Oh ya, kak Reyna. Nanti bisa bilang sama kak Rayna untuk menjemput Rachel dan Richie di preschool mereka. Karena aku ikut dengan pak Satya, sudah pasti aku akan lama pulangnya." kata Harry.
"Kenapa kau tidak hubungi saja Rayna?" tanya Reyna dengan bingung.
"Hp aku mati kak, jadi aku lagi charger. Takutnya aku kelupaan bilang sama kak Rayna." kata Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah. Nanti aku beritahu dia. Sebentar lagi juga Rayna akan datang ke perusahaan." kata Reyna.
"Terima kasih kak." kata Harry.
"Oh ya, apa benar kalau orang tua mu pergi ke luar negeri?" tanya Reyna.
"Iya kak. Papa dan mama pergi ke luar negeri karena ada urusan penting." jawab Harry.
"Bagaimana dengan adik mu?" tanya Reyna. Seingat Reyna Harry punya satu adik lagi yang beda 2-3 tahun.
"Clara, sekarang sedang sekolah kak. Nanti sore jam 3 dia baru pulang." kata Harry.
"Iya kak. Makanya aku sengaja membawa Rachel dan Richie ke apartemen aku supaya Papa dan Mama tidak curiga." kata Harry.
Selama 3 hari ini Harry mengajak Rachel dan Richie ke apartemennya karena orang tua Harry ke apartemennya. Karena orang tua Harry masih belum tau kalau Rayna dan Calvin masih hidup, begitu pun dengan Clara adiknya Harry dan Calvin.
"Kalau kau mau, kau bawa saja adikmu dan anak-anak untuk makan di apartemen." kata Reyna.
"Tapi, nanti Clara bisa tahu tentang kak Rayna dan kak Calvin kan?" tanya Harry.
"Nanti aku bicarakan dengan mereka berdua. Aku yakin mereka berdua pasti mengizinkan Clara untuk makan di sana. Aku juga berpikir pasti Rayan juga akan menyuruh Clara untuk tinggal di sana." kata Reyna.
Harry terkejut mendengar perkataan Reyna kalau akan mengajak Clara untuk tinggal di apartemennya.
"Apa kak Reyna yakin?" tanya Harry.
"Tentu saja. Kau jangan khawatir, semuanya serahkan padaku." kata Reyna dengan senyum.
__ADS_1
"Baik kak. Terima kasih kak." kata Harry dengan senyum. Harry sangat senang memiliki kakak ipar seperti Reyna yang selalu perhatian padanya.
"Sekarang kau pergi lah bertemu pak Satya, Nanti pak Satya lama menunggumu." kata Reyna.
"Baik kak." kata Harry langsung pergi meninggalkan Reyna dan bertemu dengan pak Satya.
"Ada apa dengan Harry, Reyna?' tanya Yuna.
"Pak Satya mengajaknya pergi ke airport menjemput client. Makanya Harry meminta izin padaku." kata Reyna.
"Oh. Client dari mana?" tanya Yuna.
"Sepertinya dari amerika." jawab Reyna.
"Kenapa kau bisa tahu client dari amerika?" tanya Yuna dengan bingung.
"Tentu saja tahu. Bukankah kita pernah di suruh buat surat untuk client di amerika?" kata Reyna.
Yuna mengingat ingat memang pak Satya menyuruh mereka berdua membuat surat untuk client. Yuna setelah itu langsung mengerjakan kerjaannya karena masih ada beberapa dokumen yang harus di selesaikan.
***
Harry yang baru saja masuk ke ruangan pak Satya untuk memberitahu pada pak Satya jika dia akan menemaninya menjemput Client.
"Bagaimana? Apakah no... Ehem... Apakah Reyna mengizinkanmu?" tanya pak Satya langsung terbatuk karena hampir bilang Reyna dengan sebutan nona.
"Kak Reyna mengizinkan saya pak. Apakah kita akan pergi sekarang juga?" tanya Harry.
"15 menit lagi setelah aku mengerjakan dokumen ini. Kau siap-siap saja dulu di lobby tunggu aku. Jangan lupa bawa beberapa botol air minum untuk minum di mobil. Karena ke Airport sangat jauh." kata pak Satya.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu." kata Harry langsung keluar dari ruangan dan membawa beberapa botol air minum dan menunggu pak Satya di lobby.
Setelah 20 menit pak Satya langsung ke bawah dan pergi bersama Harry ke airport menjemput Client.
T.B.C
__ADS_1