
Baru saja Hiroshi ingin keluar mengambil alat langsung di halangi oleh beberapa dokter dan Satpam.
Hiroshi, Aizen dan Gale saling pandang dan bingung kenapa para Dokter itu membawa satpam.
"Hm? Apa mau kalian?" tanya Aizen melihat 5 orang dokter dan 2 satpam bersama mereka.
Aizen melihat suster yang baru saja pergi dari ruang IGD juga bersama dokter tersebut.
"Apa kau dokter yang masuk ke dalam ruangan IGD?" tanya salah satu dokter.
"Ya. Kenapa?" tanya Hiroshi dengan datar. Hiroshi merasa kalau dokter di depan nya ingin mencari masalah dengannya dan yang memanggil mereka adalah suster yang ada di dalam menjaga putra Aizen.
"Apa kau tahu peraturan rumah sakit ini? Di rumah sakit ini tidak mengizinkan dokter luar memeriksa pasien rumah sakit ini." kata sala satu dokter.
"Dari mana peraturan kalian itu? Kalian hanya dokter amatir. Hanya memeriksa anak kecil saja tidak bisa. Bagaimana kalian bisa menjadi dokter?" kata Aizen menatap tajam para dokter di depannya.
"Apa katamu??" Dokter itu marah karena meremehkannya.
"Kalau begitu aku tanya pada kalian, apa kalian tahu luka apa yang di alami putra ku?" tanya Aizen.
"Tentu saja. Putra anda kena luka bakar di punggung dan luka cambukan." kata sang Dokter yang memriksa Ren.
"Kalau begitu apa putra aku bisa sembuh?" tanya Aizen.
"Saya rasa putra anda masih lama sembuhnya, Tuan. Apa lagi putra anda lagi koma." kata Dokter.
Hiroshi hanya tersenyum saja mendengar perkataan Dokter yang memeriksa Ren.
'Lama sembuhnya? Itu karena kalian sama sekali tidak ada peralatan yang lengkap makanya bisa mengatakan seperti itu.' batin Hiroshi dengan senyum.
"Aku tidak ingin bicara yang tidak penting sama kalian semua. Hiroshi lakukan saja operasinya." kata Aizen langsung menyuruh Hiroshi.
"Apa mereka tidak akan menghalangi jalan ku?" tanya Hiroshi.
__ADS_1
"Kau tidak boleh melakukan operasi apapun di sini!" teriak Dokter.
"Sebenarnya apa mau kalian? Apa kalian ingin putraku mati??" bantak Aizen dengan marah sampai semua dokter ketakutan melihat Aizen.
"Sudahlah Aizen. Dari pada kita bicara dengan mereka, mendingan kita pergi tempat lain saja." kata Gale menghentikan Aizen.
Aizen melihat ke Gale karena ada benarnya. Aizen melihat ke para Dokter hanya diam dan menatapa dengan tajam.
"Hiroshi, kau bawa putra Aizen dan kita pergi ke rumah sakit mu saja." kata Gale.
"Baiklah." Hiroshi langsung ke ruang IGD dan membawa Ren keluar.
"Awas saja kalian. Kalian akan tahu apa akibat kalian mengganggu ku." Aizen menatap tajam para dokter.
Aizen mengambil Ren dari Hiroshi tapi sayangnya para dokter itu tidak mau membiarkan Aizen dan yang lain pergi.
"Apa mau kalian? Jangan sampai aku melakukan hal kejam pada kalian semua." kata Aizen dengan ancam pada Dokter yang menghalangi mereka.
"Apa kau pikir karena sudah membayar, kalian bisa pergi begitu saja. Dokter itu seperti tidak ingin menghalangi Aizen tapi mereka mendengar sesuatu di belakangnya.
Dokter tersebut terkejut begitu juga dengan yang lain. Mereka tidak menyangka ada orang lain yang menolong Aizen.
"Minggir!!! Aku hitung sampai 3 jika tidak, maka peluru mereka akan menembak kepala kalian!!!" ancam Aizen dengan keras.
Para dokter itu ketakutan melihat pistol yang di taruk di dahi mereka dan membiarkan Aizen dan yang lain lewat. Aizen langsung bergegas pergi sama Gale dan Hiroshi.
"Pakai mobil aku saja. Biarkan anak buah mu nanti menyusul." kata Hiroshi langsung ke mobilnya.
Aizen tidak mau buang waktu langsung mengikuti Hiroshi.
"Halo.. Kau kasih peringatan dan kasih hadiah kecil pada rumah sakit XX." Aizen menelpon sekretarisnya dan langsung menutupnya.
Aizen dari tadi melihat Ren tidur di pangkuannya. Aizen merasa tidak becus sebagai ayah, karena dirinya Ren jadi seperti ini.
__ADS_1
"Tidak apa, Aizen. Anak mu sudah melakukan pertolongan pertama, jadi kau tidak usah khawatir." kata Hiroshi yang sedang mengemudi melihat Aizen melihat Ren dengan tatapan sedih.
20 menit kemudian akhirnya sampai ke rumah sakit.
Hiroshi berhenti di depan rumah sakit dan melihat sudah ada suster yang membawa ranjang karena Hiroshi sebelum mobil jalan sudah menelpon rumah sakit.
Hiroshi dengan cepat membawa Ren ke ruang operasi. Aizen dan Gale sedang duduk di luar sambil menunggu.
"Tidak apa. Hiroshi pasti akan menyembuhkan Ren." kata Gale menepuk bahu Aizen.
"Ya. Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak bisa tenang jika terjadi sesuatu pada Ren." kata Aizen.
Aizen langsung menelpon sekretarisnya.
"Bagaimana?" tanya Aizen.
"......."
"Aku tidak peduli!" kata Aizen dengan dingin.
"......"
"Kau bereskan tikus yang berani melawan ku. Aku tidak peduli dengan resiko kehilangan harta mereka. Mereka duluan yang ingin melawan ku, maka akan aku layani!" kata Aizen langsung menutup sambungannya.
"Kenapa? Apa sekretaris mu katakan?" tanya Gale.
"Para dokter itu meminta ampun padaku. Apa lagi ada seorang dokter yang berani melawan dan tidak takut pada peringatan ku." kata Aizen.
"Orang bodoh mana yang berani melawan sang penguasa?" tanya Gale dengan senyum.
"Entahlah. Nanti aku urus sampai Ren membaik." kata Aizen. Aizen lebih mementingkan Ren daripada para tikus itu.
T.B.C
__ADS_1