
“Um….” Reyna membuka matanya perlahan.
“Ini dimana?” Reyna melihat sekeliling ruangan bukan berada di apartemennya.
Klek
Suara buka pintu membuat Reyna melihat siapa yang masuk.
“Reyna, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Yuna senang Reyna sudah sadar.
“Yuna… Ini dimana? Sepertinya bukan dikamar aku?” tanya Reyna melihat sekeliling ruangan.
“Kau dirumah sakit Reyna.” jawab Yuna mengasih Reyna minum air hangat.
“Rumah sakit? Kenapa aku berada dirumah sakit?” tanya Reyna dengan bingung.
Sebelum Yuna menjawab langsung terdengar suara pintu.
“Rey…?”
Reyna mendengar suara lelaki yang familiar langsung menengok kearah pintu depan.
“Ren..” kata Reyna melihat Ren didepan pintu.
“Rey, kau sudah sadar.” kata Ren langsung melangkah dengan cepat mendekati Reyna dan memeluknya dengan lembut.
“Syukurlah, kau sudah sadar. Aku sangat cemas terjadi sesuatu padamu.” kata Ren memeluknya dengan erat.
“Ren… Aku susah bernafas…” kata Reyna dengan pelan.
“Oh, maaf.” Ren langsung melonggarkan pelukannya.
“Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?” tanya Ren dengan lembut.
“Tidak. Aku baik-baik saja.” jawab Reyna.
“Biar aku panggil dokter ya.” kata Ren langsung menekan tombol di dekat kasur Reyna.
“Dokter? Kenapa harus memanggil dokter?” tanya Reyna dengan bingung.
“Tentu saja untuk memeriksamu.” kata Ren dengan datar.
“Untuk apa diperiksa? Aku baik-baik saja.” kata Reyna dengan pasti.
“Karena kau baru sadar, tentu saja harus diperiksa oleh dokter.” kata Ren.
Sebelum Reyna ingin bicara langsung dokter masuk kedalam.
“Siang, saya ingin memeriksanya.” kata Dokter.
Ren dan Yuna segera menyingkir dan memeriksa Reyna. Yuna melihat ke Ren terkejut apa yang barusan dia lakukan pada Reyna.
‘Apa dia benar-benar ketua? Kenapa dia tidak seperti rumor yang orang bilang? Katanya ketua sangat dingin dan tidak suka dengan wanita. Tapi aku melihat ketua malah dekat dengan Reyna, bahkan cemas dan bicara lembut dengannya.’ batin Yuna melihat Ren sangat peduli dengan Reyna.
Setelah dokter memeriksanya langsung tersenyum.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Ren.
“Nona Reyna sudah tidak apa-apa. Besok juga sudah bisa pulang.” kata Dokter dengan lembut.
__ADS_1
“Benarkah, besok sudah boleh pulang?” tanya Yuna dengan gembira.
“Ya. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau memeriksa pasien lain.” kata Dokter dengan lembut.
“Terima kasih dokter.” kata Yuna.
“Sama-sama.” kata dokter langsung keluar dari kamar.
“Syukurlah kau baik-baik saja Rey. Kau besok sudah bisa pulang.” kata Ren dengan senyum membelai kepala Reyna dengan lembut.
“Memangnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa di rumah sakit?” tanya Reyna dengan bingung.
“Apa kau tidak ingat?” tanya Yuna.
“Aku sama sekali tidak ingat. Aku hanya ingat waktu itu kita diselamatkan oleh Ren dan aku tidak sadarkan diri. Setelah itu aku tidak ingat lagi.” kata Reyna.
“Sebelum aku jawab kau jawab pertanyaan aku dulu Rey.” kata Ren dengan tatapan serius.
“Apa?” tanya Reyna.
“Apa kau beberapa hari ini tidak makan teratur?” tanya Ren.
“Ke-kenapa kau tanya seperti itu?” kata Reyna yang mulai gugup.
“Jawab saja.” kata Ren.
Reyna hanya diam dan tidak mau menjawab. Ren melihat muka Reyna sepertinya benar.
“Ternyata benar kau tidak makan dengan teratur. Pantas saja masuk rumah sakit sampai 3 hari.” kata Ren membuat Reyna tersenyum kecil.
“Apa yang kau lakukan sampai tidak makan Rey?” tanya Ren.
“Maaf.” kata Reyna pelan.
“Ya sudah kalau tidak mau kasih tau. Tapi lain kali jangan seperti ini lagi. Aku benar-benar khawatir terjadi sesuatu denganmu.” kata Ren dengan lembut membelai kepala Reyna.
“Maaf Ren, membuatmu khawatir.” kata Reyna dengan pelan.
“Apa kau mau lapar? Aku ada bawa nasi untukmu.” kata Ren memperlihatkan bungkusan kotak nasi.
“Mau…. Aku lapar.” jawab Reyna dengan cepat mengambil kotak nasi itu dan memakannya dengan rakus.
Ren hanya tersenyum melihat Reyna makan dengan lahap dan rakus sampai mulutnya banyak belepotan.
“Makan dengan pelan Rey. Nasinya masih banyak.” kata Ren mengambil tisu membersihkan mulut Reyna yang banyak saos.
“Aku sangat lapar. Tentu saja harus makan banyak.” kata Reyna makan dengan rakus.
“Minum dulu Reyna.” kata Yuna mengasih segelas air.
“Aku sudah berapa jam tidur dirumah sakit?” tanya Reyna.
“Bukan berapa jam.” kata Ren.
“Apa maksudmu bukan jam?” tanya Reyna dengan bingung.
“Kau sudah menginap dirumah sakit selama 3 hari Rey.” jawab Ren dengan tersenyum kecil.
“APA!!! 3 HARI???!!! teriak Reyna tidak percaya.
__ADS_1
“Benar, kau berada dirumah sakit selama 3 hari.” kata Ren dengan pasti.
“Kau jangan bercanda Ren!” kata Reyna yang tidak percaya.
“Kau tanya saja sama dia.” kata Ren dengan datar menunjuk ke Yuna.
Reyna melihat ke Yuna seakan bertanya padanya apa benar dan Yuna menganggukkan kepalanya membuat Reyna tidak percaya.
“Aku selama 3 hari di rumah sakit? Apa aku sedang bermimpi?” tanya Reyna pada dirinya sendiri.
“No! It’s not Dream Rey.” kata Ren mencubit pipi Reyna agak kuat supaya benar dia tidak bermimpi.
“Pantes saja perut aku sangat lapar. Kenapa aku bisa menginap sampai 3 hari?” tanya Reyna.
“Tekanan darahmu rendah Rey. Sepertinya lelaki yang menculik kamu menyuntikkan sesuatu padamu sampai badanmu sangat lemas dan tidak bertenaga.” kata Ren.
“Aku tidak ingat dia menyuntikkan aku sesuatu?” tanya Reyna dengan bingung.
“Mungkin sebelum kau bangun. Yuna juga kena dan dia juga menginap dirumah sakit selama 2 hari dan boleh pulang tadi pagi.” kata Ren.
“Apa kau tidak apa Yuna?” tanya Reyna dengan cemas.
“Tidak apa Reyna. Aku sudah baikkan.” kata Yuna.
"Tunggu! Bukankah kau bilang mereka menyuntikkan aku sesuatu? Kenapa kau bertanya kalau aku ada makan dengan teratur atau tidak?" tanya Reyna yang ingat perkataan Ren.
"Tentu saja aku tau. Kalau kaki dan tanganmu terikat dan tidak bisa kau lepaskan. Berarti kau tidak ada tenaga untuk membuka ikatan itu kan. Kau bisa bela diri pasti mudah melepaskan ikatan itu." kata Ren dengan senyum.
Reyna hanya terdiam mendengar perkataan Ren, karena benar apa yang dikatakan oleh Ren.
“Rey…” Ren ingin bicara langsung terdengar suara keras dari pintu.
“Ren! Apa benar Reyna sudah sadar?” tanya Kai yang banyak berkeringat karena berlari.
“Apa kau tidak bisa teriak? Ini rumah sakit!” teriak Ren ke Kai tiba-tiba mendobrak pintu dengan keras.
“Maaf… Maaf…” kata Kai.
“Hai Reyna, bagaimana keadaanmu?” tanya Kai mendekati Reyna.
“Baik.” jawab Reyna.
“Sedikit lagi kau mendekatinya. Aku usir kau keluar sekarang juga.” ancam Ren.
“Kenapa kau begitu dengan aku Ren. Aku kan hanya menanyakan keadaannya.” kata Kai.
Ren menatap tajam Kai membuat Kai hanya bisa diam membisu.
“Ren, kau tidak boleh bicara seperti itu dengan sahabatmu.” kata Reyna.
“Aku hanya tidak ingin dia mendekatimu atau melihat mukamu itu Rey.” kata Ren dengan tegas.
“Muka? Memangnya ada apa dengan muka ku?” tanya Reyna sambil memengang mukanya.
“Kau kelihatan sangat cantik Reyna. Bahkan Cecilia saja kalah denganmu. Aku baru tau kalau ada gadis cantik sepertimu.” kata Kai dengan senyum.
Reyna bingung dengan kata Kai. Reyna melihat ke Ren. Ren tau maksudnya langsung membuka Hpnya membuka camera memperlihatkan mukanya.
Reyna melihat mukanya diHp Ren awalnya diam dan berpikir ada apa dengan mukanya. Setelah beberapa detik Reyna langsung terkejut karena mukanya tidak di make up.
__ADS_1
“AKH!!! Berarti aku…” teriak Reyna memegang mukanya.
“Ya benar. Mereka sudah tau wajah aslimu Rey. Rahasiamu sudah terbongkar.” kata Ren dengan senyum.