
Semua orang disana terkejut mendengar perkataan Ren. Apa lagi Tuan William dan Nyonya William melihat ke putri mereka.
Sedangkan Felicia terkejut Ren tau kalau di memukul gadis di kelas lain hanya karena Ren membantunya.
"Fel, apa benar yang di katakan Ren kalau kau memukul teman sekolahmu sampai masuk ke rumah sakit?" tanya Tuan William ke Felicia.
Tuan William benar-benar tidak percaya jika putri mereka memukul teman sekolahnya sampai masuk ke rumah sakit.
"Ti-tidak... I-itu tidak benar..." kata Felicia dengan gagap dan sangat gugup bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin.
"Ren apa benar yang kau katakan? Kau tidak boleh berbohong sama dengan kita Ren." kata Tuan William ingin Ren tidak berbohong padanya.
"Yang aku katakan semua adalah benar. Jika tuan William tidak percaya, tuan bisa pergi ke sekolah dan bertanya pada pihak sekolah. Karena mereka juga tau kelakuan Felicia pada murid lain. Bahkan bukan cuma hanya sekali Felicia melukai murid di sekolah."
"Sudah beberapa murid yang dilukai oleh Felicia ada yang masuk ke rumah sakit, ada yang sampai trauma, bahkan ada yang pindah sekolah karena mental mereka tidak tahan dengan kelakuan Felicia." kata Ren dengan santai.
"Jika memang benar Felicia melakukan hal seperti itu kenapa pihak sekolah tidak memanggil orang tuanya?" tanya Nyonya William.
"Karena status keluarga tuan makanya pihak sekolah hanya bisa diam. Waktu itu aku pernah memberikan surat ke rumah tuan untuk pemanggilan ke sekolah tapi tuan tidak datang karena Felicia sudah melihat surat itu dan membuangnya." kata Ren.
"Apa benar yang di katakan Ren, Fel?" tanya Tuan William menatap Felicia yang sudah berkeringat dingin dan sangat gugup.
"Ti-tidak... Itu tidak benar." Felicia mengelak.
"Dari pada Tuan bertanya pada putri Tuan mendingan tuan pergi ke sekolah saja dan bertanya pada kepala sekolah." kata Ren.
"Ka-kau jangan bicara yang tidak tidak Ren. Aku tidak pernah melakukan itu pada murid lain." kata Felicia yang sudah mulai marah.
"Kenapa kau begitu takut? Apa kau takut orang tuamu mengetahui jati dirimu yang sebenarnya? Aku rasa tidak usah di sembunyikan lagi karena kau sudah sangat keterlaluan dengan kelakuan kau Fel." kata Ren.
"Jangan kau berpikir orang tuamu adalah orang yang berpengaruh di kota kau bisa melakukan sesuka hatimu. Jika kau melakukan kesalahan bukan cuma hanya kau yang kena Fel, orang tuamu juga akan kena." sambung Ren.
"I-itu tidak benar.. Ren kau jangan asal bicara." teriak Felicia. Felicia tidak ingin orang tuanya tau apa yang di lakukannya pada teman sekolahnya.
"Dari pada Tuan William bertanya sama Ren, aku sarankan tuan pergi ke sekolah saja karena guru tau apa yang di lakukan oleh murid-murid mereka. Bukankah di sekolah itu ada CCTV?" kata Aizen.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Ryuujin, Ren kalau begitu kami permisi dulu." kata tuan William dengan sopan ingin permisi.
Felicia yang tidak ingin pergi di paksa oleh tuan William, Nyonya William juga bersalaman dengan Aizen dan Ren dan langsung pulang bersama dengan suami dan putrinya.
Setelah keluarga William pergi Aizen menatap Ren langsung saja memeluk Reyna dengan cepat bahkan mencium keningnya dengan lembut membuat Aizen terbelalak.
Aizen : "......"
Aizen tidak habis pikir sama putranya baru saja tamunya pergi putranya langsung bercumbu dengan wanitanya.
"Ren, apa kau tidak melihat tempat?" tanya Aizen.
"Kenapa? Bukankah tamu sudah pergi? Tidak masalah dong jika aku berpelukan dengan pacarku." kata Ren datar langsung mencium pipi Reyna dengan lembut.
"Apa kau tidak malu di lihat orang lain?" tanya Aizen tidak habis pikir dengan putranya.
"Kenapa harus malu? Itu artinya aku mencintainya dan dia hanya milikku seorang." kata Ren dengan tegas tanpa melepaskan pelukannya.
Aizen : "......" Aizen terdiam merasa de ja vu mendengar perkataan putranya seperti pernah mendengar perkataan itu di suatu tempat.
"Bukankah dia anakmu sendiri? Bahkan kata-katanya sangat mirip denganmu waktu muda." kata Hana langsung mendekati Aizen, Ren dan Reyna.
"Kau pasti sedang berpikir pernah mendengar perkataan Ren barusan bukan? Itu adalah kata-kata yang selalu kau katakan pada ku." kata Hana.
"Apa papa pernah bicara seperti itu?" tanya Aizen.
"Ya." jawab Hana.
Hana melihat Ren berpelukan dengan Reyna seperti tidak mau melepaskannya.
"Ren, apa kau bisa melepaskan ku. Aku tidak bisa bernafas." kata Reyna merasa sangat malu.
"Ren, lepaskan dia. Dia merasa tidak nyaman jika kau memeluknya terus." kata Hana melihat Reyna sudah mulai malu karena Ren berani menciumnya di depan orang tuannya.
"Maaf, apa aku memelukmu terlalu keras?" tanya Ren dengan lembut melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Tidak apa." kata Reyna dengan lembut.
Aizen : "......"
Hana : "......"
Aizen dan Hana merasa seperti bermimpi dan berhalusinasi melihat putra mereka meminta maaf pada seorang gadis.
"Ehem... Sudah kita makan lagi. Ini sudah sangat telat untuk makan siang." kata Hana langsung mencairkan suasana.
"Siang tante, terima kasih sudah mengundangku untuk datang. Ini ada sedikit kue untuk tante." kata Reyna dengan sopan mengasih kue sama Hana.
"Waw.. Kau terlalu baik. Tapi tidak usah repot-repot bawa kue ke sini. Kita bicara di dalam saja. Ayo.." kata Hana dengan senang menerima kue dari Reyna dan memegang tangan Reyna masuk ke dapur bersama.
"Ayo makan saja apa yang kau suka. Tante masak banyak untukmu." kata Hana antusias menyuruh Reyna duduk disampingnya.
"Ma, bukankah mama harusnya duduk di sebelah papa? Kenapa mama malah duduk disebelah Rey?" kata Ren merasa keberatan tidak bisa duduk di samping Reyna.
"Kau duduk di depannya saja. Mama ingin bicara dengannya." kata Hana menyuruh Ren duduk di depan.
Ren ingin sangat keberatan tapi dia tidak bisa menolak perkataan mamanya. Akhirnya Ren duduk disebelah papanya.
"Mama memasak makan favorit papa semua." kata Aizen dengan senang melihat makanan di meja semua adalah makanan favoritnya.
"Tentu saja. Karena mama ingin makan bersama Ren dan gadis ini." kata Hana dengan senang melihat Reyna.
Entah kenapa Hana melihat Reyna merasa bisa cepat dekat dengannya bahkan bisa banyak bicara dengannya.
"Ayo kita makan semua." kata Hana mengambil nasi untuk Aizen, Ren dan Reyna.
"Kau mau apa?" tanya Hana ingin mengambil lauk untuk Reyna.
"Aku bisa sendiri tante." Reyna merasa sangat tidak enak jika mamanya Ren mengambil lauk untuknya.
"Tidak apa. Bagaimana kalau ayam saos ini. Ini sangat enak." kata Hana langsung mengambil saos ayam dan ayamnya ke piring Reyna dan mengasih ke Reyna.
__ADS_1
"Terima kasih tante." kata Reyna dengan senyum.
"Sama-sama. Oh ya siapa namamu?" tanya Hana dengan senyum karena Hana masih belum tau nama Reyna.