Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 300 – DI PAKSA KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

“Kai, apa Ren tidak datang kampus?” tanya Andrew.


“Tidak. Bahkan Ren tidak balik ke apartemen.”


“Apa dia tidur di apartemen Reyna lagi?” tanya Andrew.


“Mungkin. Dan lagi semenjak pertama kali Ren tidur di apartemen Reyna, Ren sudah sangat jarang tidur di apartemennya.” jawab Kai.


“Aku sudah menelponnya berkali-kali tapi dia tidak menjawab.” kata Andrew.


“Memangnya kenapa?” tanya Kai


“Aku ada telpon dari dokter Ren, katanya Ren sudah berbulan-bulan tidak ke rumah sakit mengecek.” kata Andrew.


“Bukankah itu hal normal? Ren bahkan pernah 3 bulan tidak pergi mengecek ke rumah sakit.” kata Kai.


“Ya.. 3 Bulan masih belum masalah karena obatnya pasti masih ada. Sekarang masalahnya Ren sudah hampir 8 bulan tidak pergi cek, jadi dokternya bertanya padaku.” jelas Kai.


“Hah!! 8 Bulan??!! Apa kau bercanda??” tanya Kai dengan terkejut.


“Kenapa aku harus bercanda? Dan lagi kau tinggal bersamanya masa tidak tahu Ren makan obat atau tidak.”


“Bagaimana aku bisa tahu kalau dia makan obatnya pas tidur?” Kai mengelak.


“Apa tidak periksa obat di kamarnya?” tanya Andrew.


“Tidak. Ren setiap keluar selalu mengunci kamarnya.”


“Apa kau tidak bertanya padanya?”


“Tidak. Jika aku menanyakannya yang ada dia akan marah.”


“Dari mana marahnya padahal kau hanya bertanya.”


“Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakan padanya nanti.”


“Apa kita coba tanya pada orang tuanya?” saran Andrew.


“Untuk apa kau tanya mereka, yang ada mereka juga akan menanyakan balik pada kita.” kata Kai.


“Jadi apakah kita sendiri yang harus menanyakan padanya?”


“Bukan kita tapi kau sendiri yang menanyakan padanya. Aku tidak mau.”


“Nanti setelah pekerjaanku selesai, aku pergi cari dia.”


“Tumben. Bukankah biasanya kau tidak mau?”


“Bagaimana tidak, nanti dokter pribadinya menelpon aku terus menanyakan Ren. Ren tidak membalas atau menjawab panggilan Dokternya, jadi dia meminta padaku.” jelas Andrew.

__ADS_1


“Berjuanglah.” kata Kai dengan santai.


“Sialan kau, kau hanya tidak ingin kena marah pada Ren saja!!” teriak Adnrew dengan kesal.


***


“Sekarang bagaimana cara aku bermain dengan mereka?” gumam Reyna dengan senyum licik.


“Aku sudah memberikan mereka sedikit hadiah dan ternyata mereka malah menambahkan masalah padaku.” gumam Reyna sambil berpikir.


Reyna merasa memberikan pelajaran yang mudah pada Anna dan Sara tidak akan membuat mereka pasrah. Anna dan Sara memiliki dendam dengan orang yang berbeda padanya. Anna sangat suka dengan Ren sedangkan Sara tidak suka dengan Rayna.


“Oh ya, kalau tidak salah mereka ingin bekerja sama dengan perusahaan Heaven ya.” gumam Reyna ingat kalau pak Satya beberapa hari lalu mengirimkan perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.


Reyna langsung membuka email di Hp-nya dan melihat data perusahaan yang ingin bekerja sama. Reyna tersenyum melihat ada nama Anna dan Sara. Reyna merasa punya ide yang sangat bagus untuk Anna dan Sara.


“Hm… Sepertinya ini akan menarik jika aku masukkan mereka ke perusahaanku. Aku ingin melihat bagaimana mereka bekerja di sana.” gumam Reyna dengan senyum licik.


Reyna langsung mengirimkan info pada pak Satya kalau ada 2 perusahaan yang di terima tapi dengan syarat bahwa anak mereka akan bekerja di perusahaan Heaven selama 3 bulan untuk melihat cara bekerja mereka akan menentukan kerja sama perusahaan.


“Lihat saja, aku akan memberikan kalian apa itu kekayaan dan status yang kalian remehkan.” guma Reyna dengan senyum licik.


***


“Aku pulang.”


“Aku sudah pulang Rey. Aku sudah membuat makanan kesukaanmu.” kata Rayna.


“Masih. Ren ada di kamarmu.”


Reyna hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya. Reyna melihat Ren dengan baca komik dengan santai makan cemilan di kasurnya.


“Ini kamarmu atau kamarku?” tanya Reyna.


“Kau sudah pulang.”


“Kenapa kau pakai kamarku sudah seperti kamar kau sendiri?”


“Memangnya kenapa? Kamarmu juga kamarku.” Ren dengan santai makan snack.


“Sudahlah. Tadi aku ketemu Andrew. Dia ingin bicara denganmu.” Reyna merasa Lelah bicara dengan Ren.


“Kenapa harus bilang padamu? Bukankah dia bisa telpon aku?” Ren bingung kenapa Andrew malah meminta pada Reyna.


“Itu karena kau sama sekali tidak menjawab panggilan atau menjawab chatnya.”


Ren langsung bingung. Ren langsung saja membuka Hp-nya dan ternyata memang ada panggilan dari Andrew berpuluh kali dan chat yang banyak.


“Oh, ternyata suaranya aku silent. Pantas saja kenapa aku merasa sangat sepi.”

__ADS_1


Ren melihat Reyna hanya diam menatapnya. Ren langsung saja tersenyum dan bilang dengan santai.


“Jangan khawatir, aku akan menelponnya sekarang.” Ren langsung berdiri dan menelpon Andrew.


Ring~


Ring~


“Halo Ren. Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”


“Kenapa? Bilang saja dengan intinya, jangan banyak bertele.”


Andrew di seberang langsung terdiam. Andrew merasa kalau Ren malas bicara dengannya. Andrew langsung saja bilang apa yang ingin di sampaikan pada Ren.


“Ok.” jawab Ren dengan singkat langsung mematikannya.


“Kenapa begitu cepat?” tanya Reyna.


“Hanya menanyakan hal tidak penting.”


Reyna bingung dengan perkataan Ren. Kalau Andrew ingin cepat bicara dengan Ren sudah pasti bukan hal yang tidak penting. Tapi Reyna tidak ingin berpikir Panjang.


***


Beberapa harinya Ren pergi ke rumah sakit bertemu dokter pribadinya. Ren tidak ingin pergi ke rumah sakit, tapi Ren di paksa sama Andrew dan Kai.


“Tidak! Aku tidak mau di periksa! Aku sudah sembuh!” Ren berteriak memberontak karena Andrew dan Kai memegangnya dengan kuat sampai Ren tidak bisa lepas.


“Mau sampai kapan kau berbohong hanya karena tidak ingin di periksa.” kata Kai.


“Benar tuh. Apa kau tahu kalau kau merepotkan kita berdua hanya karena kita menemani kau ke rumah sakit?” tanya Andrew.


“Sejak kapan aku bilang ingin ke rumah sakit? Kapan aku merepotkan kalian? Kalian sendiri yang memaksaku kesini!” teriak Ren dengan keras.


“Kami melakukan ini untuk kau tahu. Kenapa kau sama sekali tidak menghormati temanmu?”


“Kenapa aku harus menghormati kalian kalau kalian memaksaku?!”


Ren dengan kuat melepaskan tangan Andrew dan Kai dan akhirnya lepas dari mereka.


“Aku pulang. Awas saja kalau kalian melakukannya lagi. Aku akan kasih kalian satapan hewanku.” Ren menatap tajam Andrew dan Kai.


“Tenang saja. Karena ini adalah yang terakhir. Kau tidak akan bisa kabur lagi sekarang.” kata Andrew dengan senyum.


“Hah?” Ren bingung menatap Andrew.


“Kau sudah sampai tujuan, jadi percuma saja kau pulang.” kata Andrew menunjukkan ruang dokter pribadi Ren.


Ren melihat ke arah pintu langsung menatap tajam Andrew. Andrew hanya tersenyum puas saja karena sudah bicara dengan Ren sampai tujuan.

__ADS_1


“Sudahlah Ren. Kau sudah tidak bisa kabur lagi.” kata Kai dengan senyum.


T.B.C


__ADS_2