
“Sekarang kita harus cari cara supaya kita dapat menemukan Ren.”
“Mau cara apa yang harus kita lakukan? Bahkan kita tidak tau dimana keberadaannya.”
“Andrew, Kai kalian berdua cepat cari cara supaya kita dapat menemukan Ren.” kata Temannya menyuruh Andrew dan Kai memikirkan sesuatu.
“Kenapa harus kita juga? Bukankah kalian yang disuruh?” tanya Kai yang tidak ingin membantu temannya.
“Jika kau tidak ingin membantu maka aku akan bilang pada gadis itu kalau kau yang membantu Ren. Biar kau yang kena ambas sama dia.” ancam temannya.
“Sialan kau! Kenapa kau malah memasukkan aku ke dalamnya.” teriak Kai dengan marah.
“Terus, apa pula masalahnya dengan kami? Bukankah kalian juga disuruh oleh orang tuanya kalau mengajak Ren ikut acara itu?”
Kai mengendus kesal melihat Temannya malah memasukkannya ke masalah mereka. “Drew, mendingan kau tanya sama dia, apa dia sudah bicara pada Ren?” tanya Kai menatap Andrew.
“Kenapa kau tidak tanya saja sendiri? Bukankah kau ada nomornya?” tanya Andrew dengan heran.
“Aku tidak pandai bicara dengan benar.” jawab Kai datar.
“Bilang saja kalau kau tidak ingin kena marah sama dia. Kenapa kau selalu menyuruh aku terus?” kata Andrew dengan kesal melihat Kai.
“Cepat saja telpon dia.” perintah Kai.
Andrew mau tidak mau telpon Reyna. Sambungan ke 3 baru diangkat Reyna.
“Ada apa Andrew?” tanya Reyna.
“Em… Reyna, apa Ren ada bersama denganmu?” tanya Andrew.
“Tidak. Kenapa kau mencari Ren?” tanya Reyna.
“Dia tidak menjawab telponnya bahkan pesan juga tidak dibalas. Aku ada yang mau bicarakan dengannya.” kata Andrew.
“Ren tidak bersama denganku.” kata Reyna.
“Andrew telpon siapa?” tanya temannya ke Kai.
“Penyelamat.” jawab Kai datar.
“Penyelamat? Siapa itu?” tanya ke tiga temannya dengan serempak dan penasaran.
“Nanti kalian juga akan tau.” jawab Kai dengan senyum.
Salah satu dari 3 temannya langsung saja mendekati Andrew dan menyuruhnya loud speaker.
“Apa kau bisa tanya dimana dia berada?” tanya Andrew.
“Kenapa kalian tidak telpon saja dia berturut-turut. Pasti dia akan mengangkatnya.” jawab Reyna.
“Justru aku sudah telpon dia sebanyak 40 kali tidak dijawabnya.” kata Andrew.
__ADS_1
“Mungkin dia mematikan suara Hp nya.”
“Justru itu aku minta tolong padamu supaya tanya pada Ren kemana dia pergi.” kata Andrew memohon.
“Baiklah. Aku akan mencobanya, Jika dia tidak mengangkat telpon aku jangan salahkan padaku.” kata Reyna.
“Thanks Reyna.” kata Andrew dengan senyum dan mematikan telponnya.
“Siapa gadis itu? Suaranya sangat lembut.” tanya temannya dengan penasaran.
“Teman Ren.” jawab Andrew singkat.
“Apa kau yakin gaids itu akan memberitahu keberadaan Ren?”
“Kita hanya bisa percaya padanya. Nanti juga dia akan telpon balik.” jawab Andrew.
Ke 3 temannya hanya mengangguk paham dan hanya percaya pada Reyna.
---- Di mobil -----
“Siapa yang telpon?” tanya Yuna.
“Andrew. Dia menanyakan keberadaan Ren.” jawab Reyna.
“Seingat aku Ketua juga tidak masuk kampus dalam seminggu ini. Apakah ada terjadi sesuatu padanya?” tanya Yuna.
“Entah lah. Karena dia tidak ingin ikut acara orang tuanya makanya bersembunyi di suatu tempat. Makanya temannya sedang mencari keberadaannya.” jawab Reyna.
“Nona kita sudah sampai.” kata supir berhenti di depan apartemen Reyna.
“Terima kasih pak. Yuna ayo kita turun.” kata Reyna langsung turun dari mobil di ikuti Yuna.
Reyna melihat keatas apartemennya tempat tinggalnya ternyata lampunya hidup dan jendela terbuka.
“Kenapa Reyna?” tanya Yuna.
“Tidak ada. Ayo kita masuk kedalam.” kata Reyna.
'Kenapa apartemen aku lampunya hidup dan jendelanya dibuka? Apa ada orang didalam apartemenku?’ batin Reyna.
Reyna dan Yuna masuk kedalam apartemen dan sampai depan pintu Reyna melihat ada sepasang sandal di depan pintunya. Reyna melihat sekilas sandal itu dan langung tahu sandal siapa itu.
Reyna langsung saja masuk kedalam rumahnya dengan Yuna.
“Reyna, didepan sandal siapa? Apa ada orang didalam apartemenmu?” tanya Yuna.
“Ada. Hanya seekor maling yang masuk kedalam.” kata Reyna dengan datar.
“Maling!” teriak Yuna dengan terkejut.
“Apa kita perlu telpon polisi?” tanya Yuna langsung mengambil Hp nya.
__ADS_1
“Tidak usah Yuna, karena aku sudah tau siapa maling itu.” jawab Reyna dengan santai.
“Siapa?”
“Sepertinya kau terlalu santai menonton TV di rumah orang. Sejak kapan ini rumah mu?” tanya Reyna ke orang yang sedang asik nonton TV sambil makan cemilan.
“Kau sudah pulang?” katanya dengan santai memakn cemilan.
“Kenapa kau punya kunci apartemenku bahkan kau tau nomor kuncinya?” tanya Reyna tanpa menjawab pertanyaannya.
“Aku membuat kunci duplikatnya. Dan soal kunci nomor pintunya sangat gampang karena kau memakai nomor yang sangat mudah aku ketahui.” katanya dengan senyum.
“Sejak kapan kau buat kuncinya?” tanya Reyna agak terkejut.
“Semenjak aku menginap disini.” jawabnya dengan santai.
‘Semenjak menginap? Apa orang ini dari awal memang ingin menginap di tempat aku karena ingin mendapatkan kunci apartemenku?’ batin Reyna.
“Kau bahkan tidak tau bukan? Bahkan dalam seminggu ini aku tidur di apartemenmu.” katanya dengan santai meminum jus.
Reyna : “…!!!!”
Reyna terkejut mendengar apa yang didengarnya. Selama seminggu ini Reyna suka sibuk jadi tidak memperhatikan sekeliling rumahnya, dan Reyna sekarang baru sadar kenapa selama seminggu ini cemilan, isi kulkas, dan masakannya yang di simpan di kulkas selalu berkurang.
“Apa disini tempat persembuyian yang tepat untuk mu?” tanya Reyna mengsilangkan tangan di depan dadanya.
“Tentu saja. ini tempat persembuyian yang sangat tepat dan aman. Karena mereka pasti tidak akan tau kalau aku akan ada disini.” katanya dengan senang dan percaya diri.
“Reyna, bahan yang kita beli barusan sudah aku masukkan ke kulkas.” kata Yuna menghampiri Reyna.
Yuna langsung ke dapur karena harus menaruh belanjaan yang di belinya dengan Reyna. Yuna langsung tersentak melihat siapa yang duduk di sofa sambil memakan cemilan.
“Ke-Ketua? Kenapa ketua ada disini?” tanya Yuna dengan terkejut melihat Ren duduk santai di sofa sambil makan cemilan.
Benar orang itu adalah Ren. Ren memilih tempat apartemen Reyna untuk tempat persembunyiannya dari Andrew dan teman-temannya.
“Hai Yuna.” sapa Ren dengan santai.
“Yuna, kau telpon polisi sekarang juga, karena ada maling yang masuk tanpa izin pemiliknya.” kata Reyna ke Yuna dengan datar.
Yuna dan Ren terkejut mendengar apa yang dibilang Reyna menyuruh memanggil polisi dan menangkap Ren.
“Kenapa harus telpon polisi? Apa aku orang asing bagimu?” tanya Ren dengan terkejut mendengar Reyna akan menelpon polisi untuk menangkapnya.
“Kenapa tidak? Kau masuk dan menginap tanpa seizin aku, bahkan kau memakan semua isi yang ada didalam. Bukankah itu dinamakan maling?” kata Reyna dengan santai.
“Tapi kau mengenalku, dan aku mengenalmu. Kenapa harus sampai telpon polisi? Apa aku seperti mengambil barang berhargamu?” tanya Ren yang masih terkejut.
“Bukankah kau sudah mengambil barang berhargaku di rumah ini? Memakan cemilan, makan lauk, minum jus, memakai semua peralatan di rumah ini, bahkan santai nonton TV mengambil listrik aku. Bukankah itu namanya maling mengambil barang di rumah orang?” kata Reyna dengan santai.
Ren : “……….”
__ADS_1
Ren mati kutu mendengar kata Reyna karena ada benarnya dia memakan semua makanan dan minuman yang Reyna beli bahkan memakai listrik apartemennya untuk nonton TV dan mencuci bajunya.