Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 135 - TIDAK ASING


__ADS_3

"Kalau bukan kau siapa lagi bocah." jawab Riku datar.


"Kau hanya pak tua apa yang bisa kau lakukan pada Rey ku. Apa mungkin kau cuma hanya ingin mengambilnya? Jika itu terjadi maka aku akan membunuhmu." kata Ren dengan aura membunuh.


"Apa pula masalahnya bagimu mengambilnya darimu? Kau bukan siapa-siapa Rey." kata Riku dengan santai.


"Siapa yang bilang aku bukan siapanya Rey? Aku ini masa depannya. Jadi kau tidak berhak mengatakan aku bukan siapanya Rey." kata Ren.


"Masa Depan? Cih, kau saja bahkan tidak cocok dengan kriterianya." kata Riku.


"Siapa yang bilang? Aku saja bahkan sudah mau tunangan dengannya bahkan akan menjadi suami baginya." kata Ren dengan dingin membuat Riku terkejut.


Bukan cuma Riku yang terkejut tapi semua orang di ruang tamu terkejut juga kecuali Reyna hanya diam saja.


"Kau bocah sialan! Aku masih belum menerimamu kau sudah mengatakan akan menjadi suami Rey. Apa kau bermimpi hah??" teriak Riku. Bahkan Rui yang disampingnya juga terkejut mendengar Bosnya tiba-tiba teriak.


"Ya kau mungkin berpikir aku bermimpi menikah dengan Rey, tapi aku tidak. Aku bisa melihatnya suatu saat apakah Rey akan menjadi aku seutuhnya atau tidak." kata Ren santai.


Riku di sebrang telpon sudah memecahkan gelas yang di pegangnya karena marah dan emosi ke Ren.


"Kenapa? Apa sudah tidak bisa bicara lagi? Aku rasa kau sangat lemah." kata Ren dengan senyum.


"Kau bocah sialan! Aku akan membunuhmu jika aku bertemu dengan mu sekarang." kata Riku dengan dingin dan aura membunuh.


"Coba saja. Aku akan melihat bagaimana kau melakukannya." kata Ren dengan santai.


Ren dan Riku masih saja beribut dengan kata-kata mereka karena tidak ada yang mau kalah atau menyerah.


"Apa kau sudah selesai bicaranya?" tanya Reyna melihat Ren dan Riku masih belum selesai bicara mereka yang membuat kepalanya pusing melihat kelakuan mereka berdua.


"Rey, kau lihat pak tua ini. Dia malah menantang dan marah padaku." kata Ren merengek pada Reyna dan memeluknya.


Reyna : "......"


Riku    : "......"


"Kau bocah sialan! Jangan coba memeluknya. Aku akan membunuhmu bocah!" teriak Riku sampai Hana dan Aizen mendengar suara Riku.


"Waaa.... Rey... Lihat dia malah marah denganku." kata Ren merengek.


Reyna : "......"

__ADS_1


Reyna memegang dahinya karena merasa sangat pusing melihat satunya berteriak kutukan pada Ren sedangkan satunya merengek padanya seperti anak kecil karena Riku memarahinya.


"Apa kau sudah selesai bicaranya?" tanya Reyna ke Riku.


"Di mana bocah itu?" tanya Riku.


"Kau kenapa telpon aku? Apa ingin mnegajak makan malam?" tanya Reyna.


"Ya. Kalau aku ada luang kita makan malam bersama." kata Riku.


"Dia tidak ada waktu untuk mu pak tua." kata Ren dengan dingin mendengar kalau Riku mengajak Reyna makan malam.


"Apa pula masalah baginya? Bagaimana Rey? Apa kau bisa? Jika bisa aku akan menjemputmu. Kita sudah lama tidak makan bersama." kata Riku.


"Jangan berani menjemputnya. Dia sama sekali tidak ada waktu untukmu. Coba saja kau berani membawanya." kata Ren dengan dingin langsung mematikan sambungannya.


"Kenapa kau malah mematikannya?" tanya Reyna.


"Karena aku tidak ingin kau bicara lama dengan pak tua itu." kata Ren dengan dingin dan memeluk Reyna dengan lembut.


"Aku rasa sudah mau malam. Aku mengantarkan kau pulang ya." kata Ren melihat jam sudah jam 6 lewat.


"Kenapa tidak makan malam saja sekalian di sini." kata Hana merasa tidak tega jika Reyna cepat pulang.


"Baiklah. Kapan-kapan datang lagi ya. Tante merasa jika ada Reyna tante merasa rumah ini tidak merasa sepi." kata Hana.


"Tentu tante. Lain waktu aku akan datang ke sini lagi. Tentu saja akan membuatkan kue lagi untuk tante." kata Reyna dengan senyum.


"Kabarin jika Reyna datang. Tante akan memasak lagi untukmu." kata Hana dengan senang.


"Tentu tante. Kalau begitu aku permisi pulang dulu ya tante." kata Reyna dengan senyum.


"Hati-hati ya. Ren pastikan kau membawanya sampai rumahnya." kata Hana ke Ren.


"Iya ma. Ren tau." kata Ren


Ren langsung mengantarkan Reyna balik ke apartemen.


"Apa mama merasa kesepian tidak ada Reyna?" tanya Aizen.


"Iya. Mama merasa sangat tenang jika bersama dengannya." kata Hana.

__ADS_1


"Bahkan mama merasa tidak asing dengannya. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Bahkan wajahnya mirip dengan seseorang." sambung Hana mengingat wajah Reyna.


"Pernah melihatnya? Di mana Ma?" tanya Aizen.


"Tidak tau Pa. Mama tidak bisa ingat." kata Hana menggelenggkan kepalanya.


"Ya sudah jika tidak ingat. Jangan dipaksa. Oh ya, Tadi kenapa mama tidak mau bertemu dengan keluarga pak William?" tanya Aizen.


"Mama tidak suka melihat Felicia Pa. Sekali Felicia melihat mama dia pasti mengeluarkan wajah palsunya. Mama tidak suka melihatnya." kata Hana.


"Biarpun begitu mama juga tidak boleh seperti itu pada tamu kita ma. Walaupun mama sibuk memasak juga harus melihat mereka walaupun sebentar." kata Aizen dengan lembut.


"Iya Pa. Mama tahu. Lain kali mama tidak akan begitu lagi." kata Hana dengan pelan.


---- Di Mobil Ren ----


"Rey, apa kita sekalian cari makan saja? Supaya kau tidak usah cari makan lagi." kata Ren.


"Boleh. Enaknya makan apa?" tanya Reyna.


"Apa kau mau coba warung di dekat sini? Makanannya dijamin enak. Banyak pilihan makanan." kata Ren.


"Apa saja boleh Ren, yang penting enak dan halal." kata Reyna.


"Tentu. Aku yakin kau pasti akan ketagihan makan di sana." kata Ren.


"Ok. Kita makan disana." kata Reyna.


Ren dan Reyna pergi mencari makan malam. Sedangkan Riku menelpon Reyna berkali-kali tidak di angkat karena Hp Reyna mati karena Ren yang mematikan Hp nya.


"Sialan bocah itu! Apa dia sengaja mematikan Hp Reyna?" tanya Riku dengan kesal.


"Jadi bagaimana Bos? Apa kita jadi pesan tempat makannya?" tanya Rui.


"Tidak usah lagi. Gara-gara bocah itu aku harus makan sendiri lagi." kesal Riku.


Rui hanya diam saja karena Bosnya sangat ingin makan bersama dengan nona Reyna. Karena nona Reyna lagi kerja magang jadi Bosnya tidak bisa mengajak makan bersama karena Reyna selalu makan bersama dengan teman kantor dan teman kampusnya.


"Rui, pesankan makanan untukku." kata Riku.


"Baik Bos." kata Rui langsung keluar ruangan dan memesan makanan untuk Bosnya.

__ADS_1


"Bocah itu tiap hari selalu membuat aku marah dan muak karena tiap ada bocah itu aku jadi tidak bisa makan bersama dengan Rey." kata Riku dengan kesal. Riku masih mencoba menelpon Reyna berkali-kali supaya Reyna mengangkat telponnya.


__ADS_2