
Sheryl di bawa ke rumah sakit dengan masih menggendong baby qiana “serahkan saja anak kamu sama kakak, biar kakak yang akan urus anak kamu. Lebih baik periksa kondisi kamu” Hans menahan langkah Sheryl yang masih tak menyadari kalau dia mengalami pendarahan di area selangkangannya yang mungkin terjadi karena jahitan pasca melahirkannya terbuka
“aku gak papa kak, aku mau menemani anakku dan melihat dengan jelas kalau anakku baik-baik saja” balas Sheryl
“jangan ngeyel deh sher, kalau kinan lihat kondisi kamu kaya gini bisa di amuk aku sama dia dan aku gak mau dia marah sama aku gara-gara kamu ngeyel” bentak Hans yang merasa sheryl tak bisa di ajak bicara baik-baik
Hans menengadahkan tangannya ke arah sheryl “sekarang kasih dia ke aku, aku akan menjaganya” pinta Hans sedikit memaksa karena kondisi sheryl juga mengkhawatirkan
“baiklah” Sheryl menyerahkan baby
qiana pada Hans dengan berat hati
"tenang dan jalani pemeriksaan dengan baik, kakak akan jaga baik-baik anak kamu" ucap hans menenangkan sheryl
Hans langsung memanggil petugas
jaga di rumah sakit untuk memeriksa keadaan Sheryl agar bisa mengurus Sheryl dengan baik
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan di nyatakan Sheryl dan anaknya dalam keadaan sehat. Sheryl di bawa ke ruang rawatnya dan juga baby qiana ikut ada di sana karena
sheryl merengek pada hans agar baby qiana seruangan dengannya karena sheryl benar-benar tidak ingin kecolongan lagi
ayah burhan benar-benar tak tega melihat keadaan sheryl yang jelas sekali kalau ia terguncang. mata sheryl benar-benar tak mau lepas dari box bayi anaknya “tidur nak” pinta ayah burhan yang melihat wajah lelah putrinya
“enggak yah, aku mau jaga qiana” Sheryl terus memandangi wajah cantik putrinya yang masih terlelap
“kamu butuh istirahat Sheryl, kondisimu kurang baik. Ayah akan jaga qiana jadi istirahat ya” pinta ayah burhan yang terus merayu Sheryl untuk istirahat
“ceklek” hans berjalan masuk ke ruang rawat Sheryl
Hans berjalan menghampiri ayah burhan “masih belum mau istirahat dia “ Tanya hans melihat mata sheryl masih tertuju pada wajah baby qiana yang masih tertidur
__ADS_1
Ayah burhan mengelengkan kepalanya “belum, sudah om suruh tidur dari tadi” balas ayah burhan tak mengerti lagi harus apa agar anaknya kembali istirahat
Hans mendekat ke arah Sheryl “kamu sayang anak kamu tidak” Tanya hans dengan nada pelan
Sheryl langsung menatap tajam hans “tentu saja sayang lah, kenapa kakak Tanya kaya gitu” kesal Sheryl
“kalau kamu sayang harusnya kamu istirahat gak ngeyel kaya gini” balas hans dengan ketus
“aku hanya ingin jaga anak aku kak, emangnya salah” balas hans
“aku sudah minta penjaga untuk jaga kamar kamu ini sher, dan ada ayah kamu yang juga jaga kamu jadi tenang dan tidur” pinta hans dengan nada syarat memerintah
“hiks hiks hiks” Sheryl terisak akan bentakan hans “aku takut kehilangan anakku lagi kak” tangis Sheryl pecah karena memang dirinya masih belum baik-baik saja setelah kehilangan baby qiana
melihat itu ayah burhan langsung memeluk Sheryl untuk menenangkannya “tenang lah sher, kali ini kakak sudah minta orang buat jaga anak kamu dan kita gak akan kecolongan lagi. Lagian kamu harus tetap sehat ungtuk anak kamu. Nanti kaalu
karena stres ASI kamu berhenti itu akan mempengaruhi kesehatan qiana . jadi nurut ya” pinta hans dengan suara di buat serendah mungkin agar sheryl mau beristirahat
“iya kak” Sheryl mengangguk dan berbaring di ranjang
“om jagain sheryl ya, saya mau buat perhitungan sama suami sheryl yang gak peka itu” pamit Hans
“iya” balas ayah burhan masih konsen dengan sheryl
sebenarnya ayah burhan juga ingin membuat perhitungan dengan mario tapi ia menunda itu semua karena sheryl jauh lebih membutuhkannya sekarang
Hans melangkahkan kakinya lebar
menuju halaman rumah sakit di mana Mario sedang mengamuk karena tidak di ijinkan
masuk oleh penjaga yang sudah di siapkan oleh hans “kalian lupa siapa pemilik rumah sakit ini hah!” bentak Mario kesal karena tidak di izinkan masuk ke rumah sakit padahal ia begitu ingin melihat sheryl
__ADS_1
Hans melangkah lebar menghamiri
Mario dan “bugh” hans langsung memukul wajah tampan Mario dengan gerakan cukup
kasar “bisa gak kamu biarin aku istirahat hah!” bentak hans mulai kesal karena mario benar-benar menguras kesabarannya
Mario mengusap sudut bibirnya yang berdarah “kau yang melarang aku masuk” Tanya Mario dengan tatapan nyalang
“iya” hans berkacak pinggang menatap tajam hans “aku yang larang kenapa?” tantang hans
Mario menunjuk ke arah rumah sakit “ di dalam sana ada istriku jadi aku harus bertemu dengannya” balas Mario
Hans menunjuk ke arah kepalanya
“kamu punya otak enggak sih” Tanya hans menayayakan akan isi pikiran Mario
“dia habis terguncang karena anak yang baru ia lahirkan dengan susah payah di culik orang tapi malah suaminya masih perhatian dengan orang sudah menculik anaknya” hans menujuk wajah Mario “kau pikir dia mau ketemu kamu sekarang” teriak hans
“aku hanya peduli dengan sahabatku saja” balas Mario tak mau di salahkan
“bagi Sheryl, qiana bukan hanya sahabat yang kau pedulikan tapi qiana adalah anaknya. Bagi seorang ibu anak adalah bagian hidupnya dan kau melewati batasan itu hanya demi sahabat gilamu
itu” ungkap Hans mewakili isi pikiran sheryl
Mata Mario sudah berkaca-kaca “aku sangat mencintai Sheryl hans. Tapi aku juga tak bisa mengabaikan regina karena dia pernah menyelamatkan hidupku” adu Mario yang ingin hans mengerti dirinya
hans tentu mengerti maksud ucapan mario padanya “kalau kau meminta aku mengerti dirimu maaf aku tidak bisa karena menurutku kau tetap salah. Bagaiamana bisa kau mengesampingkan nyawa anakmu “ ungkap hans
hans meraup wajahnya dengan kasar "dan kau tahu mario" mario menatap wajah hans "kali ini istrimu benar-benar tak baik-baik saja jadi jangan muncul di sekitaran nya jika masih mencintainya" ucap hans meninggalkan mario
hari ini begitu melelahkan untuk hans, begitu lelah sampai ia ingin selalu marah-marah. hans memilih istirahat di rumah sakit agar bisa tetap mengawasi sheryl
__ADS_1
Mario jatuh terduduk dan menangis meraung di sana tak perduli ini sudah jam 4 dini hari dan orang rumah sakit masih tertidur
"maafkan aku sheryl, aku selalu menyakitimu" mario mencengkeram dadanya kuat "padahal aku sangat mencintaimu tapi kenapa selalu saja aku membuatmu terluka" gumam mario sangat menyesali dirinya yang tidak bisa tegas