
putera terus terngiang-ngiang ucapan qiana yang akan menikah setelah lulus SMA jika menemukan orang yang cocok dengannya dan ingin dia ajak menikah "masa sekecil itu nikah" gumam putera seakan tidak rela dengan ucapan qiana yang akan menikah muda
putera yang tadi melihat raut wajah Dion saat berkunjung ke rumah qiana jadi makin kepikiran, jelas putera yang seorang laki-laki tentu tahu arti tatapan mata Dion saat melihat qiana "jangan sampai adiku menikah dengannya" gumam putera tak rela jika qiana akan menikah dengan Dion
Dion yang sudah ada di usia pria matang memungkinkan sekali akan menikahi qiana jika mereka makin dekat karena terlihat usia Dion yang sudah cukup matang dan cukup untuk menikah
putera yang sedang komat-kamit tak jelas itu tentu jadi perhatian mama kinan saat anaknya itu masuk ke dalam rumah "kamu kenapa sayang" tanya mama kinan yang sedang duduk di sofa ruang keluarga yang kebetulan di lewati putera karena untuk ke kamar putera tentu harus melewati ruangan itu
"eh mama" putera memeluk mamanya itu saat melihat keberadaan mamanya yang sudah ada di rumah "mama sudah pulang toh" tanya putera bermanja di pelukan mama kinan
mama kinan memicingkan matanya ke arah putera "kamu aneh sih putera, mama kan pulang kerja selalu sebelum jam 5 biar bisa makan malam bareng papa dan ini sudah jam berapa" mama kinan melirik jam dinding rumahnya yang sudah menunjukan pukul 7 malam
putera menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sadar bahwa ini sudah cukup malam dan pasti mamanya sudah di rumah, mamanya kan selalu pulang sebelum jam 5 agar bisa makan malam bersama papa Hans "maaf mah, putera mungkin sedang gak fokus" kekeh putera
mama kinan mengusap kepala putera yang masih bermanja dalam pelukannya "kamu mikirin apa sih sayang? mikirin pacar kamu ya" tanya mama kinan
"pacar apa" heran putera "semenjak putus dengan cewek yang terakhir putera lagi malas buat cari pacar lagi, takut bikin pening kepala mah" balas putera yang memang sudah malas pacaran karena setiap pacaran pastilah itu tidak akan bertahan lama dan itu karena putera tidak pernah nyaman dengan sifat-sifat mantan kekasihnya yang di luar ekspetasinya
"ya kirain mama kamu mikirin pacar kamu, soalnya saat kamu masuk dan gerutu gak jelas kamu punya pacar" pikir mama kinan
"gak kok mah, tadi tuh putera lagi kepikiran ucapan qiana mah" balas putera
"haaah" mama kinan mengerutkan keningnya "mikirin ucapan apa?" tanya mama kinan ikut penasaran
__ADS_1
"masa tadi qiana bilang mau nikah setelah lulus SMA kalau ketemu cowok yang cocok, kan aneh mah" jelas putera
"ya gak aneh lah sayang, kalau qiana merasa cocok dan ingin menikah di usia itu ya biarin aja, kita kan semua tahu motto hidupnya dia, no pacaran tapi langsung nikah saja" balas mama kinan
keluarga besar qiana tentu tahu alasan kenapa qiana tidak mau pacaran dan hany mau berhubungan dengan seseorang yang akan jadi suaminya. walaupun qiana tidak pernah menceritakannya tentus emua keluarga tahu bahwa qiana sedikit takut dengan kegagalan orang tuanya dalam membina rumah tangga dan cerita-cerita tentang pernikahan orang tuanya
"gak bisa gitu lah mah, aku gak suka rencana itu" balas putera mencebikkan bibirnya
mama kinan terkekeh dengan raut wajah putera "sudah ah jangan di pikirin, mending kamu mandi, terus ikut makan malam, papa tadi lagi bebersih paling bentar lagi keluar kamar " ucap mama kinan
"iya mah" putera berjalan naik ke arah kamarnya yang berada di lantai 2
mama kinan menggelengkan kepalanya saat melihat punggung putera yang makin menjauh, merasa anaknya begitu lucu
"iya kak, tumben kakak nelpon" tanya mama sheryl
"kangen aja sama adik kakak" balas mama kinan
"sher" kinan diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya "om bimo ada rencana mau kasih perusahaan ke putera setelah putera lulus kuliah, kamu tahu kan mama kita yang gak mau ambil bagian harta om bimo" ucap mama kinan perihal jemina yang kini jadi mama sambung kinan dan sheryl tidak mau mengambil sedikitpun harta om bimo karena kakek burhan lebih memilih mengurus perusahaan sheryl dan mendirikan beberapa perusahaan sendiri bersama nenek jemina
"iya aku tahu itu kak, cuma kalau sampai om bimo kasih perusahaan itu ke putera, kakak mau kasih tahu engga kalau om bimo itu ayah kandungnya dan bukan brian" tanya sheryl
"entahlah, kakak juga bingung, karena setahu putera brian gak mau ambil sedikitpun harta om bimo dan putera kan tahu kalau brian itu anak om kamu terus kalau om bimo kasih hartanya buat putera pasti dia nanti akan nanya dong" jelas mama kinan
__ADS_1
hubungan antara brian dan bimo sudah di ketahui semua anggota keluarga besar dan para anak-anak juga sudah mengetahuinya karena arkana ingin di akui sebagai ayah kandung Brian dan anak-anak brian bisa memanggilnya kakek
"gimana ya kak, aku juga bingung" balas mama sheryl yang juga ikut bingung bagaiamna menjelaskan posisi putera yang anak kandung Bimo dan bukannya brian
"di tambah kalau sampai putera tahu kalau brian bukan ayah kandungnya, otomatis dia tahu tidak ada hubungan darah dengan qiana , itu yang nambah bikin aku pening" sahut mama kinan membawa nama qiana di dalam pembicaraan mereka
"kok jadi bawa-bawa qiana ke pembahasan ini kak" heran sheryl kenapa nama anaknya di bawa-bawa
"kamu tahu kan seberapa sayang putera sama qiana" tanya mama kinan
"tentu aku tahu kalau putera begitu sayang pada qiana, karena qiana kan perempuan sendiri di keluarga besar kita makanya semua saudaranya begitu menyayangi qiana" Dikeluarga besar sheryl tentu qiana lah pemenang segala kasih sayang karena hanya qiana lah perempuan di generasi muda keluarga mereka
"dia itu barusan cerita sama aku kalau gak rela jika qiana menikah setelah SMA jika ketemu pria yang cocok, jadi apa yang kamu pikir akan putera lakuin saat tahu dia dan qiana gak ada hubungan darah sama sekali, karena dia kan sudah tahu kalau kita berkeluarga karena dulu ayah yang pernah menikahi neneknya, bukan gak mungkin loh anakku gaet qiana biar jadi istrinya nanti" balas mama kinan menyampaikan pemikirannya
sheryl langsung menyemburkan tawa keras mendengar ucapan kinan "kakak kok bikin aku ketawa sih kak" terdengar tawa sheryl yang masih menyembur keras dengan bebasnya
"aku serius sheryl" balas mama kinan
sheryl berusaha menetralisir tawanya "kalau putera jadi mantuku ya gak papa loh kak, aku kan tahu putera sedari kecil dan aku tahu seberapa sayang dia sama qiana jadi gak masalah, kita jangan terlalu musingin itu kak biar mereka yang memilih jalan hidup mereka sendiri saja" balas sheryl
"oke kalau gitu, setidaknya kakak lebih tenang setelah cerita sama kamu" ucap mama kinan yang lega dengan pemikiran mama sheryl
"sudah lah kak jangan terlalu banyak berpikir, untuk masalah om bimo minta bantuan sama kak hans saja untuk bicara sama putera, dia kan lebih tahu bagaimana bicara dengan putera ketimbang kakak" ucap sheryl memberikan usul
__ADS_1
"iya nanti biar kakak bicara dulu dengan suami kakak" mama kinan pun mengakhiri panggilannya