Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 17 - Beruang Kutub Tua Jelek


__ADS_3

Pagi Hari...


Setelah pergulatan panas mereka kemarin, Shena membuka matanya lebih dulu tepat jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Senyum mengembang terukir dari bibir manis Shena, melihat Ash yang masih tidur terlelap di sampingnya. Dan tanpa menggunakan sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya, yang hanya tertutup selimut setelah kemarin keduanya melakukan aktivitas panas.


Di Mansion Ash...


"Wah, wah... Sepertinya sebentar lagi kita akan memiliki anggota baru nih." Ujar Dayn dengan memainkan matanya dengan Arthur untuk menggoda pasutri yang baru saja pulang itu.


"Benar. Semakin tidak sabar." Sambung Arthur dengan semangat.


Shena mengerti dengan arah percakapan Dayn dan Arthur yang pastinya ikut menjadi dalang kejadian kemarin. Shena merasa sangat malu karena baginya percakapan seperti itu hanya dilakukan untuk orang-orang sudah dewasa. Lain dengan Ash, pria tersebut tampak lebih santai, dia hanya menganggapnya angin lalu.


Tuan Theo melihat anaknya yang kebingungan langsung memanggilnya. Matanya tidak sengaja membidik sesuatu di leher putrinya.


"Shena, Apa yang terjadi dengan leher mu? Kau terluka?" Nada khawatir Tuan Theo bergegas menghampiri putrinya.


Shena teringat akan satu hal karena Ash membuat banyak noda di sana. Ia lupa menutupinya dengan make up. Pupilnya melebar dan langsung menutup noda di lehernya dengan tangan.


"Katakan! Tidak terjadi sesuatu di acara pertemuan kemarin, kan?" Tanya Tuan Theo memaksa.


"Agh... Ayah, Aku baik-baik saja. Ini hanya luka ringan." Jawab Shena gugup.


"Ha.. Haha... Sepertinya luka itu di buat oleh Ash kemarin malam." Ujar Arthur menimpali.


Tuan Theo pun naik pitam karena ia kira menantunya itu sudah menyakiti putrinya.


"Ash, Kau tidak menyakiti putriku sampai memukulnya hingga luka seperti ini?" Tanya Tuan Theo beralih pada Ash dengan tatapan tajam.


"Ayah, mereka hanya sedang memprovokasi keadaan menjadi lebih buruk. Aku benar-benar tidak melakukan apapun. Mana mungkin aku berani menyakiti putrimu." Balas Ash.


"Arthur, Dayn, Ceritakan apa yang terjadi?!" Tanya Tuan Theo pada mereka untuk meminta penjelasan yang lebih.


"Paman, Ayolah... Aku pikir kau tahu akan hal ini kenapa Ash dan Nona Shena tidak pulang kemarin malam. Mereka sudah..." Arthur melanjutkan jawabannya dengan memperagakan kedua tangannya seolah isyarat berciuman.


Tuan Theo tertawa dan baru mengerti.


"Agh.. Ha.. Haha... Ya, ya. Aku baru mengerti sekarang. Pppfftt..." Tuan Theo pun senyum menggoda ke arah putrinya.

__ADS_1


Seketika pipi Shena memerah dan menunduk malu.


"Sayang, Ayo mari duduk di samping Ayah. Kita akan sarapan. Ayah yakin kalian pasti belum sempat makan apapun di hotel. Sudah menguras banyak tenaga kemarin malam, Kalian harus mengisi energi lagi." Ucap Tuan Theo terkekeh diikuti Dayn dan Arthur.


Shena mengangkat sudut bibirnya, Ia merasa malu ketika ayah nya membicarakan hal-hal yang menurutnya sangat tidak penting.


"Iya Ayah."


"Dan kau juga Ash!" Titah Tuan Theo.


Shena langsung duduk di sisi ayah dan juga suaminya. Ia mengikuti arahan ayahnya untuk melayani suaminya dengan menyajikan makan. Hal tersebut sontak membuat yang lainnya senang.


"Paman, maksudku Suamiku, Ingin makan roti atau nasi?" Tanya Shena dengan tatapan polosnya. Ia tidak menyebut paman di hadapan ayahnya. Tuan Theo mengucapkan syukur karena ia pikir anaknya akan sulit menyesuaikan diri.


Ash menatap wajah polos istrinya dengan perasaan hangat.


"Aku roti saja." Jawab Ash demikian


"Eh... Kenapa hanya roti? Seharusnya nasi supaya kau bertambah energinya supaya semakin kuat lagi untuk bertempur nanti malam." Goda Tuan Theo tertawa bersama Dayn dan Arthur lagi.


"Ayah... Cukup jangan menggoda kami. Ini di meja makan dan tidak baik membicarakan hal itu." Ucap Shena merengek.


"Tapi, di ranjang lebih baik, bukan?" Goda ayahnya tidak ada habisnya.


"Ash, Shena, Teruslah seperti ini dan selalu bahagia." Pesan Tuan Theo dengan menyesap tehnya perlahan. Seketika suasana sarapan pun menjadi sedih setiap kali orang tua selalu memberi pesan ataupun nasihat pada anaknya.


...***...


Drrtt drrtt...


Suara ponsel Ash berbunyi.


"Ya." Jawab Ash setelah panggilan terhubung.


"Tuan, wanita kemarin yang menjebak anda, datang kembali ke hotel karena mengira anda masih ada di sana. Dia mengamuk ingin bertemu dengan Tuan." Ujar anak buah tangan kanannya yang menelepon. Sejak pagi ia ditugaskan untuk melihat situasi yang ada di hotel setelah Ash mendapat jebakan yang buruk. Nama ketua anak buah itu adalah Willi.


"Apalagi yang ia lakukan di sana?" Tanya Ash dengan menahan kekesalannya.


"Maaf Tuan, Wanita itu saat ini mengamuk dan mencari informasi keberadaan kamar anda saat menginap tadi malam." Jawabnya dalam telepon.

__ADS_1


"Biarkan saja jika dia mengetahuinya. Lalu, apa masalahnya? Kau usir saja wanita gila itu." Geram Ash.


"Dia membawa banyak bodyguard Tuan, Dan saat ini dia sedang dalam perjalanan ke kamar hotel. Saya sudah menghubungi beberapa bodyguard untuk berjaga jaga di sana." Ucap Willi dengan datar.


"Shitt..." Umpatnya emosi.


"Apa dia sudah mengenali wajah istriku?" Tanya Ash dengan nada khawatir.


"Sepertinya tidak Tuan, Karena Tuan Jim turun tangan mengatur segalanya. Dan semua sudah dipastikan tidak ada orang luar yang mengetahui pernikahan anda dan Nyonya seperti permintaan anda Tuan. Hanya saja, mungkin Nona itu kesal melihat anda kemarin malam dengan Nyonya." Jelas Willi panjang lebar.


"Good girl." Batin Ash senang.


"Baiklah, Kau cepatlah urus mereka. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada istriku ke depannya." Perintah Ash dengan suara dinginnya.


"Baiklah Tuan." Setelah pembicaraan selesai Willi langsung mematikan sambungannya.


"Aku akan pastikan kalian berdua akan baik baik saja." Ucap Willi.


Setelah selesai berteleponan, Shena datang menghampiri Ash di kamarnya.


"Paman, Aku ingin makan es krim di taman." Pinta Shena memelas.


Ash menatap wajah memelas istrinya, Rasanya ia ingin sekali melahap istrinya saat itu juga, namun ia urungkan.


"Sebentar lagi Dayn dan Arthur akan sampai, Aku akan menyuruh mereka membelikan es krim yang kau inginkan."


"Tapi aku ingin makan di sana, Paman." Rengek Shena manja.


"Kau bersikaplah baik, Istriku. Atau aku akan menanggalkan seluruh pakaianmu dan membuatmu akan berdiam diri di bawah selimut itu." Ucap Ash menunjuk ke arah ranjangnya.


Shena berdecak kesal, bagaimana tidak, baru beberapa minggu menikah dan kemarin merasakan sensasi itu. Suaminya selalu berucap dengan kata-kata yang menurutnya sangat vulgar.


"Dasar beruang kutub tua jelek." Pekik Ara kesal.


"Kau memiliki panggilan baru untukku? Itu terdengar seperti pujian." Ucap Ash malah terkekeh.


"Ya. Kau seperti beruang kutub yang sifatnya dingin, Kau sudah tua karena usia mu berbeda jauh dariku, dan aku mematahkan perkataan orang lain yang menganggap mu tampan padahal bagiku kau jelek. Panggilan itu sudah mengungkapkan segalanya." Sentak Shena menghardik kesal.


"Terima Kasih atas pujian mu, Istriku..." Ucap Ash sama sekali tidak menyinggung.

__ADS_1


"Ck... Lalu, Aku harus apa, Aku bosan sekali." Tanya Shena dengan wajah masam dan merajuk.


"Kau harus memanjakan suami mu, Sayang." Ash menangkap Shena dengan menerjangnya sebuah pelukan yang erat. Ash menggelitik pinggang Shena yang merasakan geli tertidur di sofa sampai tertawa bersama dan bertengkar bersama.


__ADS_2