
Salma berjalan ke arah rumah besar dengan halaman luas di sana "mbok, nyonya ada" tanya Salma pada Mbok nah, asisten rumah tangga Mario yang sudah berusia sepuh itu
ya Walaupun Mboh sudah berusia lanjut tapi Ayah Mario tetap mempekerjakannya sebab Mbok nah sudah lama mengabdi dengan Mario dari saat ia masih menikah dengan Mama Sheryl, di tambah dengan kondisi Mbok nah yang harus tinggal berjauhan dengan anak semata wayangnya yang memilih tinggal di luar negeri jadi Ayah MArio tetap mempekerjakan mbok nah sekaligus untuk mengurus wanita paruh baya tersebut sebab hampir semua pekerjaan di lakukan oleh pegawai lain sedangkan mbok nah hanya bertugas mengawasi saja
"ada kok neng salma, nanti mbok panggilin ya" Mbok nah langsung saja berjalan ke arah kamar bunda Laras untuk memberi tahu kalau Salma sudah datang
Salma memilih duduk di ruang tamu sembari menunggu ibu dari bosnya itu datang " sudah datang salma" tanya Bunda laras
"sudah nyonya, barusan saja sampai" balas Salma
"ya sudah, ayok berangkat" ajak Bunda laras
"nona Qiana gimana" Salma ingin tahu dengan Qiana sebab di telpon bunda Laras menyebutkan akan bersama Qiana juga belanjanya sebab ini adalah urusan pernikahan adiknya
"langsung ketemu di Mall aja katanya, soalnya dia mau mampir ke kantor suaminya, Gahaly ngerengek pengen sama ayahnya" balas Bunda larah
"oh begitu" Salma mengiyakan saja dan mengikuti langkah Bunda laras
Salma dan bunda Laras duduk di kursi penumpang "jalan pak" titah bunda Laras pada sang sopir
"gimana kabar ibu kamu, Salma" tanya BUnda LAras sekedar membuka obrolan
"baik bu, cuma ya sering ngeluh rada capek soalnya warungnya cukup rame" balas Salma
"saya salut loh sama ibu kamu yang seorang singgle parents tapi bisa mengurus tiga orang anak sendirian, apalagi kalau gak salah adikmu juga kuliah kan? pasti biayanya besar" ungkap Bunda Laras
"iya nyonya, saya bangga banget sama ibu karena sudah besarin kita bertiga sendirian semenjak ayah meninggal, padahal bisa saja ibu nikah lagi tapi dia bilang gak mau dan pengen fokus urus kita bertiga dan kalau kita semua sudah selesai kuliah dan masih ada yang mau sama beliau baru ibu pikirn mau nikah lagi atau enggak" sahut Salma
"gaji kamu bukannya cukup besar Salma, kamu bisa minta ibu kamu istirahat dan sepertinya uang kamu bisa di pakai buat sekolahin adik-adik kamu" tanya bunda Laras
__ADS_1
"kalau ibu saya mau, Salma juga gak akan keberatan nyonya tapi ibu yang wanti-wanti kalau gajinya Salma harus di tabung, bahkan biar Salma gak diem-diem bayarin kuliah adik Salma, uang salma di pegang semua, Salma cuma di jatahin uang jajan setiap harinya aja" jelas Salma
"wah, bangga banget saya sama ibu kamu yang selalu mengutamakan anak di banding kebahagiaannya sendiri" salut bunda Laras
"saya juga salut sama nyonya, saya denger loh dari tuan cerita nyonya saat belum menikah dengan tuan besar, dan gimana perjuangan nyonya untuk menguliahkan adik sambung nyonya" ungkap Salma
Bunda Laras memicingkan matanya ke arah Salma "Edzar cerita itu ke kamu" tanya Bunda Laras tak menyangka Edzar bercerita hal itu pada Salma
"iya, kadang tuan kalau lagi bete suka cerita ngalor ngidul" ungkap Salma
"sama James, emang suka cerita juga" tanya Bunda Laras
"kata Tuan sih enggak, sih James katanya cerewet kaya emak-emak komplek jadi gak enak di ajak cerita" kekeh Salma
"ah, aku kira tidak ada yang bisa mendekati anakku" batin bunda Laras
***
Salma dan bunda Laras berjalan ke arah Mall di mana sudah ada Qiana yang berdiri di depan pintu masuk
"Qiana" Bunda Laras langsung memeluk tubuh Qiana "sudah dari tadi ya" tanya Bunda Laras
"belum kok bunda" Qiana mengurai pelukannya "barusan sampai tadi soalnya lama di perusahaan kak putera" Qiana melirik ke arah Salma dan cipika cipika pada Salma
"yuk jalan" Qiana menggandeng lengan Bunda Laras dan Salma berjalan tepat di belakangnya
"di kantor gak banyak kerjaan apa? kok Edzar ngizinin kamu ikut biasanya kalau kita mau minta temenin kamu pasti ada drama dulu karena katanya kamu yang biasa hendel kerjaannya" tanya Qiana sekilas melirik ke belakang
"gak terlalu kok non, tadi cuma meeting sebentar terus sudah selesai ya sudah saya di izinkan untuk nemenin nyonya" balas Salma
__ADS_1
Bunda laras dan Qiana membeli begitu banyak barang yang akan dia pakai sebagai hantaran saat proses lamaran Nazhief. Saking banyaknya sampai Qiana memilih untuk meminta pihak mall mengirimkan ke rumah karena dua mobil yang mereka bawa tak akan cukup menampungnya
"kamu suka dengan pilihanmu itu, kalau mau kamu bisa nambah barang yang kamu mau kok, jangan cuma untuk kedua adik dan ibumu saja" Bunda Laras melirik belanjaan yang ada di tangan Salma
Salma mengangkat tiga paper bag di tangannya "ini sudah cukup kok nyonya, kalau untukku bisa Salma beli sendiri lagian baru hari sabtu kemarin tuan Edzar kasih satu set gaun dan segala aksesorisnya dan tentu itu tidak murah" balas Salma
"kalau yang itu kan hadiah dari Edzar buat kamu yang nemenin dia ke pesta, kalau ini kan hadiah dari saya buat kamu yang sudah ikut nemenin saya dan kasih masukan buat barang yang cocok untuk anak seusia kamu" sahut bunda Laras
"tapi ini sudah lebih dari cukup nyonya, malah ini terlalu banyak" tegas Salma
"ya sudah" Bunda Laras mengusap punggung Salma dengan lembut
Setelah selesai belanja mereka memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran ternama di Jakarta "ini Bunda belum pulang jam segini, ayah pasti ngambek gak mau makan" cicit Qiana saat menyendokan makanan ke mulutnya
"biarin saja, sesekali juga. Lagian ayahmu makin tua makin manja saja, masa kalau gak di layanin makannya ayah gak mau makan" Bunda Laras santai saja menikmati santapan malamnya
"itu kan karena ayah cinta sama bunda" kekeh Qiana
"tapi saya salut loh sama nyonya dan tuan besar yang tetap langgeng di usia pernikahan yang cukup lama" tukas Salma
Bunda Laras tersenyum simpul ke arah Salma "saya juga bersyukur untuk itu, tapi usia pernikahan saya yang cukup lama tentu pernah di hadang badai besar dan beruntung karena bisa menjalaninya sampai detik ini jadi keutuhan rumah tangga saya sekarang yang kamu lihat" balas Bunda laras
"saya juga pernah dengar cerita itu loh nyonya, makanya saya salut sama nyonya" Salma mengacungkan kedua jempolnya ke arah Bunda laras
Qiana mengerutkan keningnya "Edzar cerita itu ke kamu" Heran Qiana
Salma melihat raut wajah keheranan Qiana hampir sama dengan raut wajah heran bunda laras saat ia bercerita perihal ia yang tahu cerita keluarga besar Edzar dari mulut edzar sendiri
"apa saya salah denger cerita tentang ini" Salma jadi tidak enak jika cerita yang ia dengar bukanlah hal yang harus ia dengar
__ADS_1
Bunda laras menggenggam tangan Qiana sebagai kode "gak salah kok Salma, saya malah seneng banget jika Edzar ada teman cerita " sahut Bunda Laras dengan senyuman
Qiana menatap bingung bunda Laras tapi ia tak ingin bertanya karena tak ingin melangkahi apa yang sudah di peringatkan bundanya