
Qiana tertidur begitu lelap setelah anggota keluarganya datang menjenguk dirinya dan juga anak mereka yang baru saja lahir "selamat ya put" ucap Dion yang kebetelun datang menjenguk bersama istri dan anak mereka tentunya
"terima kasih" balas Putera
Cindy yang berada di belakang Dion menggeser sedikit tubuh suaminya "anak kalian akan di beri nama siapa" tanya Cindy
"aku sih sudah siapin nama tapi nunggu diskusi dulu sama Qiana, nanti akan di kasih tahu pas acara syukuran kelahiran anak kami" balas Putera
"emang kapan kak mau di adainnya" tanya Cindy
"nunggu Qiana nya pulih dulu, soalnya dia kan SC jadi nunggu stabil dulu baru adain acaranya" Putera tak ingin buru-buru mengadakan acara syukuran kelahiran anaknya, menunggu Qiana pulih dulu baru ia pikirkan kapan
"kalau butuh bantuan kami jangan ragu untuk meminta, kemarin kan kalian sudah repot untuk bantu acara kelahiran Delano" ucap Dion yang ingin membalas budi atas bantuan Qiana dan Putera kemarin
"gampang itu" tukas Putera
"nanti sampaikan salam kami untuk Qiana ya" ucap Dion yang akan pamit pulang sebab Dion sudah terlihat mengantuk
"maaf ya gak bisa ngobrol sama Qiana, aku kasihan mau bangunin sih soalnya dari tadi tamu gak berhenti datang jadi istirahatnya agak kurang" Putera jadi merasa tidak enak pada Dion dan Cindy yang datang menjenguk tapi yang di jenguk malah tidur pulas
"tak masalah Put" Dion menepuk bahu Putra dan melingkarkan tangannya di pinggang Cindy dengan tangan kananya sedangkan tangan kirinya menggendong Delano
"Kak putera pasti bahagia banget ya bisa punya anak" cicit Cindy
"tentu saja bahagia, mendapat anak itu adalah kebahagian tersendiri bagi pasangan yang sudah menikah" balas Dion
Cindy langsung menundukan wajahnya sedih "maafkan aku ya kak, karena belum bisa memberikan kakak anak" CIndy kian merasa bersalah karena usahanya untuk hamil belum membuahkan hasil padahal dia tidak eprnah telat dalam membuatnya setiap malam
Dion menghentikan langkahnya menyipitkan matanya ke arah Cindy " belum? lalu kamu anggap apa Delano" tanya Dion dengan nada tidak suka
__ADS_1
"tapi Dion kan bukan anak..." suara Cindy serasa tercekat saat akan berucap
Dion melepaskan tangannya dari pinggang Cindy "jadi kamu masih merasa aku bukan ayahnya" Dion terlihat begitu kecewa saat Cindy masih menganggap kalau Delano bukanlah anak Dion padahal dia sudah menganggap Delano seperti anaknya selama hampir satu tahun ini bahkan saat Cindy hamil dulu, Dion selalu melimpahkan kasih sayang untuk Cindy dengan penuh
"bukan seperti itu mas" Cindy merasa salah bicara pada Dion
"maaf kalau apa yang mas lakuin buat kamu masih kurang cukup" Dion melangkahkan kakinya lebih cepat dengan Delano yang ada dalam gendongannya
"tunggu mas" Cindy mengejar langkah Dion yang begitu cepat membuat ia begitu kepayahan mengejar Dion yang sedang kecewa akan anggapan Cindy pada dirinya
Dion melangkah cepat ke arah mobilnya dan meletakan Delano di kursi khusus yang sudah ia siapkan dalam mobil miliknya agar Delano bisa nyaman tidur lalu berjalan ke arah kursi kemudi dan menunggu Cindy yang masih jauh tertinggal
"mas" panggil Cindy saat membuka pintu mobil dan duduk di samping Dion
"pasang sabuk pengamannya" Dion memperingati Cindy agar segerap memakai sabuk pengaman dan Cindy hanya bisa menurutinya
"maafkan Cindy mas" ucap Cindy yang tidak bisa menahan laju air matanya sebab melihat Dion yang sedang marah dengannya
"hiks hiks hiks" Cindy mengusap pipinya yang basah dan mengusap ingusnya yang sudah mulai keluar "pengennya gak nangis mas tapi setiap mas lagi marah, Cindy gak tahan buat nangis" balas Cindy masih dengan suara sesenggukan
"mas gak marah sama kamu, cuma sedikit kecewa karena semua usaha mas terasa gak ada artinya buat kamu" sanggah Dion
"gak sia-sia mas, malah aku bersyukur banget ada mas Dion di hidup Cindy" Cindy menepuk dadanya pelan "tapi rasa bersalah ini masih ada mas, ini lebih ke ketakutan Cindy, Cindy takut membuat mas kecewa karena mas mengurus anak hasil perselingkuhan istri mas dengan begitu sayang" ungkap Cindy
Dion menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah istrinya yang terlihat begitu tertekan "ya ampun sayang" Dion melepas sabuk pengamannya dan memeluk Cindy begitu erat "maafin mas yang gak tahu kalau kamu begitu tertekan" Dion sadar kalau rasa bersalah Cindy membuat hidup Cindy tak tenang
Cindy balas memeluk Dion "tolong bantu Cindy mas, bantu Cindy keluar dari ketakutan Cindy" tukas Cindy
"ayo kita berikan adik untuk Delano secepatnya" putus Dion tak ingin Cindy terus merasa bersalah akan kehadiran Delano yang sebenarnya sudah Dion terima dan ikhlaskan
__ADS_1
***
setelah 3 minggu pasca melahirkan akhirnya acara syukuran kelahiran anak Qiana dan Putera di gelar dengan begitu meriah dan juga cukup besar sebab Aak mereka akan menjadi penerus keluarga Hendrawan
"terima kasih sudah hadir di acara syukuran kelahiran anak kami" ungkap Putera yang berdiri di atas podium untuk memberikan kata sambutan
"saya begitu bersyukur dengan kelahiran anak pertama saya dan Qiana yang kami syukuri lahir dengan sehat tanpa kurang suatu apapun, dan di acara kali ini kami akan mengumumkan nama anak kami yang sempat emngalami perdebatan sengit sebab hampir semua anggota keluarga besar kami ingin memberikan nama untuknya, tapi tidak mungkin kan kalau semua di terima karena akan sepanjang apa kolom nama anak kami jika tidak di pilih dengan baik dan hanya menerima semua masukan yang masuk" ucap Putera dengan di akhiri kekehan
"dan nama anak kami adalah 'Ghaly Izaz Hendrawan' dan bisa kalian panggil Ghaly" ucap Putera memberitahukan nama anaknya dan Qiana agar di kenal secara umum dan tidak salah panggil
suara tepuk tangan mengiringi sambutan yang di berikan leh putera sekaligus pengumuman nama anak Qiana dan putera . Setelah acara penyambutan itu para tamu undangan saling berbincang tentang banyak hal dan saling bertegur sapa sebab beberapa di antara mereka sulit bertemu sebab kesibukan yang mereka miliki
"Vansh" panggil Qiana pada adiknya
sang pemilik nama menoleh "iya kak" balas Vansh
"kok kayanya kamu lagi marahan sama Hasley" tanya Qiana
Vansh mengerutkan keningnya "kok kakak bisa mikir gitu" tanya Vansh
"gimana kakak gak mikir gitu, kalian kan sudah mengenal sejak masa kanak-kanak dan kalian satu sekolah sampai SMA dan dua tahun loh kalian terpisah jarak karena tempat kuliah kalian yang berbeda tapi kalian gak saling sapa sama sekali" tukas Qiana menyampaikan keherannya akan Vansh dan Hasley yang tidak bertegur sapa sekali
Vansh menghela nafas panjang "pacarnya minta buat Vansh jaga jarak dan Hasley mengiyakan permintaan itu jadi ya sudah turuti saja" Vansh mengedikkan bahunya tanda tidak mau ambil pusing
"hasley sudah punya pacar" tanya Qiana begitu terkejut jika Hasley sudah mempunyai pacar
"iya, kayanya baru beberapa bulan deh" balas Vansh
Qiana mengerukan keningnya "emang kak Alvian kasih izin" Qiana begitu penasaran akan reaksi Alvian jika tahu anak gadisnya sedang menjalin suatu hubungan
__ADS_1
"aku gak tahu kak, dan itu sama sekali bukan urusanku" balas Vansh tak mau ikut campur urusan pribadi orang lain
"oke kalau gitu" Qian juga merasa bahwa urusan pribadi bukanlah ranahnya untuk campur jadi ia setuju saja dengan sikap Vansh