
Andreas kini sudah di perbolehkan pulang ke rumah "sudah beres semua kan Sia, jangan sampai ada yang ketinggalan ya" tegur Amra pada menantunya yang kini tengah sibuk merapihkan barang-barang milik Andreas
"iya bu sudah, kalau ada yang ketinggalan, Sia akan balik ke sini sendiri" balas Sia
"kalau mau balik kesini, balik sendiri dan jangan pernah minta sopir untuk antar kamu" sahut Amra
"kapan juga Sia pernah pakai mobil mas Andreas selama menikah dengan mas Andreas kalau tidak dengan mas Andreas " balas Sia
"berani kamu ya" tunjuk Amra dengan tatapan nyalang
"sesuai dengan janji kamu ke aku mas, kalau saat operasi kali ini berakhir mas akan setujui gugatan cerai aku" Sia melirik ke arah Andreas yang masih betah duduk di pinggir ranjang
"iya sih, pasti akan saya tandatangani, bahkan kalau kamu kasih sekarang akan langsung saya tandatangani" ketus Andreas
"baik" Sia mengambil sebuah map yang ia simpan dalam tas nya dan menyerahkan pada Andreas "ini tandatangani" Sia menyerahkan map tersebut bersamaan dengan sebuah pulpen
"niat banget kamu ya" Andreas langsung mengambil map tersebut dengan kasar dan segera membubuhkan tandatangan di sana
"terima kasih" Sia menyimpan kembali dokumen yang sudah di tandatangi Andreas dan menyimpan kembali dalam tasnya
Amra memicingkan matanya ke ara Sia "gak takut kamu kalau jatuh miskin hah" sindir amra
"gak sama sekali, saya gak masalh jatuh miskin, toh dulu saya bisa menjalaninya dengan baik jadi tak masalah" balas Sia
Sia mengangkat barang-barang bawaan Andreas "ini sebagai bakti terakhirku sebagai seorang istri" Sia mengangkat semua barang bawaan Andreas seorang diri ke arah mobil Andreas yang terparkir di halaman rumah sakit walaupun harus lelah bolak-balik seorang diri
"brak" Sia menutup pintu bagasi mobil karena semua barang Andreas sudah di masukan ke dalam bagasi 'semuanya sudah selesai di masukin" Sia menyium punggung tangan Andreas takzim
"ini terakhir kali aku bersikap ini sama mas, karena hari ini aku akan ajukan gugatan cerai ke pengadilan dan aku juga sudah memindahkan barang-barang milikku dari rumah mas" Sia menoeh ke arah Amra dengan cepat "dan ibu jangan khawatir kalau aku akan ambil barang pemberian Mas Andreas, semua pakaian serta perhiasan masih utuh ada di kamar, Sia hanya membawa barang yang dulu saya bawa ke rumah itu" sela Sia saat amra akn menyampaikan protesnya
"bagus deh" sahut Amra
"jangan gitu dong mah, itu hak Sia, dia sudah jadi istriku selama 5 tahun dan aku beliin itu pakai uang aku bukan uang mama" sahut Andreas merasa tindakan ibunya sudah kelewatan
"harus gitu dong, kalau gak ingat dia kuliah dengan hasil beasiswa, ibu pasti akan nuntut buat balikin semua biaya kuliahnya" sahut Amra tanpa rasa bersalah sama sekali
__ADS_1
Sia menyunggingkan senyumnya, merasa begitu bersyukur mempunyai otak yang encer sehingga bisa menyelesaikan pendidikannya tanpa bantuan orang lain
Sia menunduk pada Andreas "aku berterima kasih sama mas sudah tetap mengizinkanku untuk berkuliah sampai selesai, dan terima kasih mau bercerai dariku. Perceraian ini aku akan anggap sebagai bayaranku yang telah mengurusmu sebagai seorang istri selama lima tahun ini" ucap Sia yang entah kenapa membuat dada Andreas begitu tertusuk
bayaran apa, padahal selama menikah dengan Andreas, Sia tidak pernah mendapatkan apapun dari Andreas, bahkan uang belanja saja tidak pernah di berikan pada Sia. Sia hanya akan memasak apa yang ada di kulkasnya dan jika tidak ada, maka ia akan kerja paruh waktu untuk makan
semua pakaian yang ada di lemarinya adalah pemberian Kevin mertuanya, jika ada pemberian Andreas itu hanya paksaan dari Kevin saat Sia di haruskan menghadiri suatu acara bersama Andreas atas perintah Kevin
"kamu akan tinggal di mana, jika langsung pindah? ayah kamu mana mungkin menerimamu jika tahu kamu bercerai dariku" tanya Andreas
"aku akan mengurusnya" Sia memilih pergi dari sana dengan langkah cepat
Andreas memandangi punggung Sia dengan perasaan tak menentu "sudah Andreas, biarkan saja wanita tidak tahu diri itu, ibu malah senang banget dia berpisah dari kamu, ibu gak sudih punya menantu kampungan kaya dia" sinis Amra
"iya bu" Andreas mengangguk patuh saja pada ibunya
tak jauh dari situ ada seorang pria yang menyunggingkan senyumnya lebar "pucuk di cinta ulam pun tiba" gumam pria itu dengan senyum seringainya "kamu pasti akan jadi milikku, tak perduli kamu hanya seorang janda" Pria itu langsung turun dari mobil ketika melihat mobi Andreas makin menjauh dan menghilang
***
Sia berjalan ke arah meja Resepsionis "maaf nona, saya mau ketemu sama ibu Rania, bisa" tanya Sia dengan sopan
" dengan siapa ya mbak, apa sudah ada janji" tanya petugas resepsionis
"di bilang janji bukan ya, saya di minta pak Damian untuk menemui ibu Rania" jelas Sia
"sebentar ya mbak, saya tanya sama asisten ibu Rania dulu" izin petugas Resepsionis yang langsung menghubungi asisten Rania
"dengan mba Lucinda Karensa bukan ya" tanya Petugas resepsionis tersebut
"iya nona" balas Sia
"ya sudah mbanya langsung naik ke lantai 19 saja, nanti keluar lift, lurus saja nanti kalau ketemu meja sekertaris langsung nanya saja" jelas pertugas resepsionis
"terima kasih" Sia langsung saja menuju lift agar segera bertemu dengan Rania
__ADS_1
saat keluar dari lift segera saja Sia berjalan ke arah yang instruksikan petugas resepsionis dan di sana ia bisa melihat meja sekertaris "maaf mba, bu Rania nya ada" tanya Sia dengan sopan
"mba Lucinda Karensa ya" tebak Jelita, sekertaris Rania
"iya mba" balas Sia
"langsung masuk saja mba, bu Rania sudah nunggu" Jelita mempersilahkan Sia untuk masuk
"terima kasih mba" Sia langsung berjalan ke arah pintu besar yang jelas itu adalah Ruangan Rania
"tok tok tok" Sia mengetuk pintu ruangan Rania
"masuk" seru Rania
Sia membuka pintu ruangan Rania "maaf bu, saya Lucinda Karensa, mau menyerahkan CV saya" ucap Sia dengan Sopan
Rania memandang Sia dari atas sampai bawah, dan terlihat biasa saja menurutya "mana" pinta Rania dan Sia langsung menyerahkannya pada Rania
Rania membaca detail riwayat hidup Sia dengan teliti "kamu mengisi di sini sedang dalam proses bercerai" tanya Rania tak menyangka Damian membantu wanita yang akan bercerai
"iya bu, proses perceraian kami masih dalam tahap mediasi jadi saya tulis dalam proses perpisahan " jelas Sia
Rania mengangguk paham "saya salut dengan kejujuran kamu yang mengatakan masih tahap bercerai, padahal jika kamu bilang masih singgle saya percaya loh, secara kamu masih muda dan baru selesai kuliah" balas Rania
"saya gak perlu malu dengan status saya saat ini, karena saya bahagia dengan status saya saat ini" jelas Sia jujur
"kamu ada hubungan apa dengan Damian" tanya Rania dengan tatapan mengintimisadi
"tidak ada hubungan apa-apa, saya kenal saja dengan dokter damian baru dua minggu lalu saat menemani suami saya di rumah sakit" balas Sia
"lalu kenapa bisa dia memberikan rekomendasi ke kamu" tanya Rania tak puas dengan jawaban Sia
"untuk itu, silahkan tanya pada Dokter Damian, bukan kapasitas saya menjawab hal itu" balas Sia
"baiklah" Rania cukup suka dengan keberanian Sia dan rasa percaya diri serta ketenangannya dalam bicara dengannya "kamu bisa mulai bekerja senin besok,silahkan urus serah terima kerjaan kamu di HRD" Rania memberikan sebuah map pada Sia dengan senyum tipisnya
__ADS_1
"terima kasih sudah menerima saya bu" Sia langsung pamit keluar Ruangan untuk mengurus kontrak kerjanya dan posisinya di perusahaan itu