
Qiana melihat Cindy yang berlari dan Alvian yang sedang mengejarnya "kak aku samperin Hasley dulu ya" Qiana jadi penasaran kenapa sahabatnya itu tampak bersedih dan pergi tanpa berpamitan pada Tiara dan Roland
"Hasley" panggil Qiana
Hasley yang sedang menghampiri orang tua Cindy yang sempat memanggilnya karena penasaran dengan CIndy yang pergi tanpa pamit menoleh ke arah Qiana tak berjauhan dari posisi keluarga Cindy "iya kak" balas Hasley
"Cindy kenapa" tanya Qiana
"iya Hasley Cindy kenapa" sahut mami sarah
"hehehehe" Hasley nyengir kuda ke arah keduanya bingung harus menjawab apa
Dion yang melihat hal itu menghampiri Hasley yang sedang di tanya wanita impian serta mertuanya "Cindy merasa kurang enak badan dan sakit perut jadi dia pulang duluan" sahut Dion
Mami sarah menatap tajam ke arah Dion "terus kalau tahu cindy sakit kenapa kamu malah di sini" tanya mami sarah dengan ketus
Qiana mengernyitkan dahinya mendengar Dion yang di bentak oleh mami sarah, kan sudah ada Alvian yang menyusulnya "tadi kayaknya Kak Alvian sudah nyusul Cindy geh tan" sahut Qiana tidak ingin orang tua sahabatnya itu cemas
"tapi kan harusnya..." balas Mami sarah yang langsung di potong Dion
"aku harus nungguin Hasley, gak mungkin kan Hasley sendirian ini juga kita mau nyusul mereka" Dion menoleh ke arah Hasley "ayo hasley kita pamit dulu sama yang punya acara terus nyusul mereka" ucap Dion
"iya om" balas Hasley
Mami sarah menoleh ke arah papi Mirza "coba telpon Cindy pih, mami khawatir deh" pinta mai sarah
"biarin saja mih sudah ada Alvian yang jagain kalau ada apa-apa pasti kita di kabarin" balas papi Mirza yang jauh lebih santai menghadapi kepergian anaknya yang tiba-tiba
Qiana mendekat ke arah orang tua Cindy "perasaan tadi Cindy baik-baik aja geh tan, kok tiba-tiba sakit perut" tanya Qiana
Mami sarah tersenyum tipis ke arah Qiana "nanti coba kamu tanyain geh, soalnya tante juga gak tahu kenapa Cindy bisa tiba-tiba sakit perut" balas Mami sarah
"ya sudah nani aku coba tanya sendiri sama Cindy ya tan" Qiana pamit kepada orang tua Cindy dan kembali menghampiri Putera
putera menunggu kedatangan Qiana dengan wajah penasaran "kenapa Cindy" tanya Putera
"kata mas Dion sih bilangnya sakit perut tapi rasanya rada aneh geh kak" Qiana merasa ada yang janggal dengan reaksi mami sarah saat Dion memberitahu kalau Cindy sakit perut
"aneh kenapa" tanya putera
"tadi kan kak Alvian langsung kejar Cindy tapi kok Mami sarah tadi kesalnya sama mas Dion karena bukan dia yang nyusul Cindy" balas Qiana
"bisa gitu" Putera jadi ikut heran karena setahunya Alvian adalah kekasih Cindy
"ah mungkin perasaan aku aja deh" Qiana mencoba menepis kejanggalan yang ia rasakan
__ADS_1
***
Demi menghindari pertanyaan lebih lanjut Dion menghantar Hasley untuk pulang ke rumah dan akan bicara lebih keras pada Cindy agar menjaga sikapnya jika di depan umum apalagi di sana ada kedua orang tua Cindy dan Qiana
"om pasti akan menyesal saat tante sudah ada di titik jenuhnya" ungkap gadis berusia 16 tahun itu
Dion menoleh ke arah keponakannya "apa maksudmu" tanya Dion
"aku tinggal bersama tante cindy selama dia ada di Indonesia dan aku tahu betul bagaimana perjuangan tante Cindy agar bisa baik di mata om Dion, mulai belajar memasak mengurus rumah bahkan mengurus kantor" Hasley menoleh ke arah Dion dengan tatapan tajamnya "om tahu bagaimana cara kerja daddy kan dan dia berusaha mengimbangi cara kerja daddy dengan baik itu karena apa karena ingin om Dion bisa memandangnya sebagai seorang istri yang sempurna" ucap Hasley
"om gak minta itu" balas Dion dengan entengnya
"kalau gitu kenapa dulu nikahin tante Cindy dan hancurin masa depannya" tanya hasley dengan setengah membentak
"kamu masih kecil hasley jadi jangan ikut campur urusan orang dewasa" balas Dion begitu kesal di dikte seorang anak kecil
"sumpah demi apapun aku akan sangat bahagia saat om dion menangis kehilangan tante Cindy" tukas hasley membuang mukanya ke arah samping tak ingin terus memandangi om nya yang selalu membuat Cindy menangis seorang diri
***
Cindy kini duduk di atas batu besar sebuah tebing di kawasan puncak "sampai kapan mau di sini Cindy" tanya Alvian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari tapi Cindy tak bergerak sama sekali padahal sudah 2 jam duduk seperti itu
Cindy memeluk lututnya dan menopang dagunya di atas lututnya "kalau ingin pulang, pulang saja aku masih ingin di sini toh Vilaku tak jauh dari sini, aku bisa berjalan kaki ke sana"balas Cindy
"bercerai saja" pinta Alvian
"tidak" Cindy menggelengkan kepalanya "dia akan senang kalau aku yang meminta cerai karena di dalam perjanjian dia tidak akan kehilangan bagian warisannya jika aku yang menuntut cerai" jelas Cindy
"walaupun kamu bercerai, aku masih bisa memberikan materi jauh lebih banyak dari itu" balas Alvian
Cindy mendongak ke arah Alvian "kakak tahu bukan itu yang aku mau" mata Cindy sudah mengembun saat bicara
Alvian menarik Cindy ke dalam pelukannya "kakak tahu kalau kamu gak ingin dia terlalu lancar untuk menjalankan rencananya membuat Qiana jadi miliknya bukan" tanya Alvian memastikan hal yang sudah ia tahu
"aku gak mau dia bahagia kak" tangis Cindy pecah begitu saja "apa salahku padanya kak, dia yang memperkosa aku, dia yang meminta kami menikah, tapi dia juga yang mengabaikanku" Cindy menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvian "kakak tahu seberapa besar usahaku untuk bisa jadi istrinya bukan?" tanya Cindy dengan sesenggukan
"kakak tahu itu cindy, kakak tahu lebih dari siapapun" balas Alvian terus memeluk erat cindy
"aku tahu Qiana jauh lebih dariku tapi Qiana gak pernah melirik mas Dion kak, Qiana hanya memandang kak putera dan bukan pria lain tapi kenapa " suara Cindy tercekat saat akan melanjutkan ucapannya
"kenapa dia sampai ingin menghancurkan 5 keluarga dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya demi wanita lain" ucap Cindy menangis sesenggukan
"Dion memang pria gila yang sangat berambisi, dia tidak akan berhenti sebelum ada hal yang benar-benar membuatnya sadar kalau dia itu salah" jelas Alvian yang tahu betul karakter adiknya
"terus aku harus apa lagi kak untuk membuatnya sadar kalau dia salah" tanya Cindy
__ADS_1
"sudah Cindy jangan makin menghancurkan hidupmu untuknya lepaskan saja" Alvian mengurai pelukannya dan menatap lekat Cindy "bercerai saja dan kakak akan menikahimu" ucap Alvian yang sudah bertekad menikahi Cindy jika mereka sudah bercerai
"aku sudah bilang padanya kalau aku menyerah dan membebaskan dia melakukan apapun yang dia mau dan dia tak boleh melarang apapun yang akan aku lakukan" balas Cindy
senyum Alvian langsung terbit "kalau gitu kakak akan minta pengacara untuk urus perceraian kamu ya" Alvian meraih ponselnya untuk menghubungi pengacaranya tapi langsung di tahan Cindy
"aku memang ingin berpisah tapi tidak untuk bercerai" tukas Cindy
Alvian menatap nyalang Cindy "apa kamu gak mengahargai perasaan kakak cindy" teriak alvian yang langsung berdiri dan menatap tajam Cindy
Cindy menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk Alvian "aku sayang kakak tapi aku belum bisa bercerai darinya, bisakah bersabar untukku kak" pinta Cindy
"dua tahun Cindy, dua tahun kakak bersabar jadi selingkuhan kamu" tukas Alvian
"aku mohon bersabarlah kak, toh selama ini kita berhubungan aku tidak pernah membiarkan dia menyentuhku" jelas Cindy
"tapi bukan berarti dia tidak akan menyentuhmu nanti dan mungkin saja kau akan punya anak dengannya dan kamu akan melupakan kakak" balas Alvian
Cindy tersenyum dalam pelukan Alvian "aku sudah lepas KB ku kak, dan jika kita punya anak nanti aku akan minta cerai darinya" ucap Cindy
"benarkah" Alvian memandang wajah Cindy meminta kepastian
dan Cindy mengagukan kepalanya "iya" balas Cindy
"cup" Alvian langsung mengecup bibir Cindy "akan kakak pastikan secepatnya hasley punya adik" tukas Alvian penuh tekad
Hubungan Alvian dan Cindy memanglah sudah sangat dekat karena Alvian lah yang selalu menemani Cindy saat cindy sedang sendiri dan hubungan terlarang mereka di mulai sejak Cindy melihat Dion yang sedang menggunakan jasa wanita bayaran untuk memuaskannya dari pada pada tidur dengannya dua tahun lalu saat kebetulan Cindy pulang ke Indonesia dan berniat memberikan kejutan untuk Dion di hari ulang tahun Dion
saat itu cindy begitu marah dan muak tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tak ingin Alvian akan menerima getahnya jika dirinya sampai bercerai dari Dion karena pernikahannya bukan salah Alvian jadi tidak seharusnya Alvian yang bertanggung jawab
Alvian melihat juga kejadian Dion yang sedang mencumbu seorang wanita bayaran di sebuah club dan Alvian benar-benar merasa malu atas kelakuan adiknya. Saat itu Alvian mati-matian menghibur Cindy tapi malah Cindy minum-minum dan mengajaknya berselingkuh saja dan gilanya Alvian mengiyakan saja keinginan Cindy
Cindy memandangi wajah tampan Alvian di depannya "kak kita tetap selingkuh saja"ajak Cindy
"jangan jadi tidak waras Cindy" tukas Alvian
cindy menggelengkan kepalanya "aku tidak gila, toh kalau aku bercerai kakak haus nikahin aku, jadi ayo kita tetap selingkuh kak" ajak Cindy penuh tekad
Alvian menatap Cindy yang sedang begitu terpuruk" jangan merusak dirimu Cindy" balas Alvian dengan suara berat
"tidak kak, aku tahu kakak orang yang baik" dengan beraninya cindy naik ke atas pangkuan Alvian dan melingkarkan tangannya di leher Alvian "cup" Cindy langsung mengecup bibir tebal di hadapannya "ayo selingkuh kak" pinta Cindy lagi
"baiklah" Alvian menyetujui ajakan Cindy begitu saja
dan hubungan gelap mereka terjalin sampai detik ini. Sebenarnya Alvian ingin menikahi Cindy saja tapi Cindy masih bersikeras mempertahankan pernikahannya agar Qiana tidak di ganggu, toh Dion jarang menyentuhnya setelah menikah jadi Alvian bisa menerima itu apalagi di tambah Dion yang makin gencar melebarkan sayap bisnisnya dan jarang menemui cindy dan malah membiarkan Cindy untuk bebas tinggal dengannya
__ADS_1