Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 42 - Bermain Solo


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Pagi ini Shena sudah mulai beraktivitas seperti biasa yang memiliki kebebasan meskipun masih dalam pengawalan yang ketat. Shena senang sekali, akhirnya ia tidak hanya berdiam diri di Mansion saja.


Shena bersiap-siap memakai baju dan sedikit memoles wajah nya. Shena memang tidak terlalu menyukai bergaya berlebihan. Dari dulu Shena adalah gadis feminim yang menyukai pakaian dress, Saat menikah dengan Ash pun sudah mengubah image nya menjadi wanita yang sangat feminim dan anggun lagi. Semua di dalam lemarinya berisi gaun dan pakaian ala wanita Korea yang sangat tertutup. Dari mulai celana sepatu baju kaos, itu tidak pernah ada di dalam lemarinya. Bahkan Shena tidak pernah memakai celana jeans dan sweater atau kemeja biasa seperti wanita gaul lainnya yang casual.


"Bagaimana Paman? Apa penampilan ku sudah cantik?" Tanya Shena polos memutar tubuhnya dihadapan Ash. Ia siap untuk pergi hari ini.


Pria itu hanya menatap sekilas, Lalu kembali fokus dengan ponselnya.


"Tidak ada bedanya, Kau tetap jelek."


Shena berdecak kesal mengerucutkan bibirnya.


"Katakan saja kau terpesona padaku, Sampai-sampai kau tidak sanggup menatap ku." Ucap Shena percaya diri, Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyuman manisnya.


"Siapkan pakaian kerja ku!" Titah Ash tanpa melihat ke arah Shena.


"Biasanya Paman bisa menyiapkan semuanya sendiri. Kenapa hari ini manja sekali?"


"Apa gunanya menikahi mu?" Ketus Ash.


Shena terdiam saat Ash menanyakan hal itu, Padahal selama ini dia sendiri yang melarang Shena melakukan ini dan itu. Shena bergegas menyiapkan baju kerja suaminya dengan setelan jas dan celana senada berwarna hitam, tak lupa juga dengan vest, dengan dalaman kemeja berwarna coklat tua dan dasi berwarna hitam, tak lupa sepatu, kaus kaki dan jam tangan mahalnya. Ash tidak menyukai warna pakaian yang terang, Ia lebih menyukai warna yang gelap dan tidak mencolok jika pergi bekerja.


"Ini! Aku yakin pilihan ku pasti tepat."


Ash meletakkan ponselnya, Lalu merentangkan tangannya ke arah Shena.


"Cepat pakaikan! Aku sedang sangat malas."


Shena menatap jengah dan melemparkan setelan tersebut ke arah ranjang. Entahlah mengapa akhir-akhir ini Ash menjadi lebih menyebalkan.


Karena Ash tubuhnya lebih tinggi dari Shena, Ia sampai harus menaiki kursi meja rias untuk menyamaratakan tinggi tubuh suaminya agar lebih mudah memasangkan kancing daripada harus menjinjitkan kakinya.


Perlahan Shena mengambil kemeja suaminya untuk memakaikan nya, Namun ia baru sadar sejak tadi Ash tidak menggunakan baju yang lengkap setelah selesai mandi yang hanya mengenakan bathrobe.


"Kenapa berhenti? Aku bisa terlambat nanti." Ucap Ash tersenyum nakal, Ia tahu jika saat ini istrinya itu sedang malu.


"Pakai bajumu sendiri, Paman! Kau membuat mataku tidak perawan lagi." Shena meneguk salivanya panas, Ia baru sadar jika tubuh suaminya benar-benar bagus seperti artis Korea Selatan. Dan hampir saja ia pun tidak sampai melihat perut roti sobek dan dada bidang suaminya.


"Kau memang sudah bukan wanita perawan lagi, Sayang. Jangankan mata mu, Aku juga bisa membuat seluruh tubuh mu tidak perawan lagi untuk kedua kalinya saat ini juga." Ash tersenyum nakal maju ke arah istrinya itu.


Shena mundur ke belakang menghindari sosok Ash yang semakin dekat dengan tubuhnya.


"Jangan mendekat Paman, Kau bisa khilaf." Seru Shena menutupi matanya dengan kedua tangannya.


"Khilaf kenapa? Aku hanya mengambil ini." Ash mengambil kemeja miliknya yang ada di belakang tubuh Shena. Ia tertawa senang menggoda istrinya itu.


Shena mengangkat pandangannya ke wajah Ash. Sangat jelas tercium wangi dari tubuh mereka masing-masing. Shena sejenak terdiam menghirup harum tubuh suaminya sampai memejamkan matanya.


Ash memperhatikan wajah Shena yang sangat dekat dengan wajahnya, Ia melihat wajah Shena yang diciptakan begitu sempurna. Mata, alis, hidung, wajah dan juga bibir tipis yang berwarna merah jambu. Sebagai seorang laki-laki normal, Ash ingin sekali melahap bibir tipis milik istrinya. Tapi ia mencoba untuk menahan dan menunggu benda favorit barunya untuk dilakukan nanti saja.


"Ekhem..." Dehem Ash membuat Shena membuka matanya perlahan.


"Mengapa kau menutup matamu? Kau berharap aku menempelkan bibir ku disisi wajah mu yang mana?" Goda Ash spontan membuat wajah Shena memerah pada menahan malu sampai memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"A-aku hanya.." Shena tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. la menggigit bibir bawahnya yang merah membuat bibir itu terlihat basah dan merekah.


Ash tertawa kecil dan langsung mundur membawa dirinya ke dalam ruang ganti. Ia tidak ingin berlama-lama melihat wajah istrinya atau nanti bisa-bisa dirinya khilaf di pagi hari.


"Sial.." Umpat Ash merutuki dirinya sendiri. Niatnya ingin menggoda Shena tapi malah dirinya sendiri yang tergoda. Bahkan sebenarnya adiknya pun sudah menegang dari tadi.


"Aku harus lebih waspada.." Kata Ash menenangkan tubuhnya yang mulai memanas.


Ash mencoba menyegarkan otaknya agar tidak terus menerus memikirkan hal yang aneh-aneh.


...***...


Shena menunggu suaminya di ruang makan. Sudah hampir setengah jam Ash belum juga turun. Padahal ini sudah hampir terlambat. Pakaian apa yang ia pakai sampai waktu terbuang begitu banyak dan ia belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


"Shena, Di mana suami mu? Kenapa belum turun juga?" Tanya Tuan Theo yang lama menunggu juga untuk sarapan bersama.


"Aku juga tidak tahu, Ayah. Padahal tadi aku sudah menyiapkan pakaiannya, dia hanya tinggal mengenakan pakaian itu. Tapi memang entah kenapa sampai sekarang belum juga turun." Kata Shena dengan nada kesal akibat menunggu lama suaminya.


"Ash seperti wanita saja yang sangat lama untuk bersiap-siap. Apa dia juga bermake up?" Kata Tuan Theo. Ia terkekeh bersama Arthur dan Dayn.


Akhirnya pria yang sedang diejek menunjukkan batang hidungnya juga yang kini sedang menuruni tangga.


"Sudah makan?" Tanya Ash menarik kursi disebelah istrinya.


"Kami semua menunggu mu Ash." Balas Tuan Theo.


"Kenapa kau sangat lama? Kau mandi lagi? Rambut mu juga masih terlihat basah. Padahal terakhir kita bertemu, Dan aku lihat rambut mu sudah kering." Kata Shena giliran bertanya.


"Agh... Iya... Tubuhku kembali gerah. Jadi, Aku memutuskan untuk kembali mandi." Jawab Ash tanpa menatap Shena, Seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak berkata jujur tadi.


"Apakah olahraga pagi? Ckckck..." Ikut Arthur juga menggoda sepupunya.


Ash malah beraut wajah memerah seperti menahan malu saat semua orang menggodanya, Sedangkan Shena masih menatap suaminya itu intens penuh tanda tanya dan mengernyitkan dahinya penuh kecurigaan. Tapi, Apa yang dilakukan suaminya sendirian di ruang ganti dan sekarang terlihat baru saja selesai mandi?


Shena rasa tidak masuk akal jawaban suaminya. Padahal mandi di pagi hari itu menyegarkan tubuh, bukan malah membuat gerah lagi.


"Aku menunggu mu, Paman! Aku sudah terlambat.." Kata Shena. Ia tidak mengambil pusing lagi.


Ash melihat jam tangannya. Memang benar, Ini sudah hampir jam tujuh pagi.


Akhirnya Ash membatalkan niatnya untuk sarapan.


"Jika begitu aku akan mengantar mu sekarang."


"Tapi kau belum sarapan! Aku bisa pergi naik taksi saja."


Ash menggeleng tidak setuju, Ia tidak ingin sampai Shena hilang dalam pandangannya.


"Aku antar atau kau tidak pergi sama sekali." Ujar Ash.


"Memangnya Shena akan pergi kemana?" Tanya Tuan Theo.


"Aku akan pergi menemui teman lama ku saat sekolah menengah pertama, Ayah. Dia baru saja kembali dari Australia dan kami berencana bertemu."


"Ouh, Teman baik mu itu, ya. Dia yang berkuliah di Australia. Ayah harap kau berteman baik dengannya agar kau tidak kesepian lagi. Setidaknya akan ada teman perempuan yang bisa kau ajak jalan-jalan ke mall. Ayah sangat kenal dengannya dan pasti ia adalah teman yang tulus untukmu tidak seperti Soya dan yang lainnya." Kata Tuan Theo.

__ADS_1


"Iya Ayah... Apalagi studinya lebih cepat selesai dari yang ia bayangkan. Dan ia akan tinggal di sini lagi bersama orang tuanya." Ucap Shena bahagia teman baik lamanya kembali.


Ingin tidak ingin Shena menurut saja, karena tidak ada pilihan lain. Ia sudah terlalu bosan melihat wajah suaminya yang datar itu daripada tidak diantar sama sekali menemui teman lamanya itu.


Hari ini Willie tidak menjemput Ash karena tugas di luar kota. Jadi, Ash menggunakan mobilnya sendiri. Ash mengeluarkan dompet nya dan menarik salah satu black card dan menyerahkannya pada Shena.


"Pakai ini! Kau bisa pakai sesuka hatimu tanpa perlu memikirkan limitnya!" Ucap Ash menyodorkan black card itu.


Shena terbelalak tidak percaya, suaminya itu memberikan nya black card yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Ya walaupun ia tahu, karena ayahnya juga memiliki kartu yang sama seperti yang Ash beri. Tapi, Karena sudah lama tidak memegang benda itu setelah Ayahnya dinyatakan bangkrut dan semua harta disita yang sampai saat ini masih simpang siur kebenarannya dirasakan oleh Shena. Apakah benar Ayahnya bangkrut? Shena merasa canggung memegang benda itu lagi. Padahal dulu dia sering menghilang black card ayahnya saking tidak berharganya mungkin!


"Kau yakin Paman, memberikan aku black card ini?" Tanya Shena memastikan, Mungkin saja suaminya khilaf dan salah memberikan kartu.


"Ambilah!! Kartu ini sengaja aku berikan untukmu. Kau bisa menggunakannya untuk keperluan mu sendiri sekarang."


Shena menerimanya, Tapi bagaimana bisa ia memakai kartu ini dihadapan temannya. Yang mungkin semua tahu Shena sekarang hanya gadis biasa saja. Bahkan mungkin kabar Ayahnya bangkrut sudah sampai ke telinga negara Australia, siapa yang tinggal di sana dan mengenal sosok Ayahnya.


"Terima kasih Paman, Tapi boleh aku menggantinya dengan uang cash saja tidak?"


"Mengapa tidak kau gunakan saja kartu ini! Kau bisa membeli apapun yang kau ingin seperti dulu bersama ayahmu, bukan."


"Tapi aku sendiri tidak pernah memakai black card ayahku dulu dengan sembarangan? Nanti yang ada kasir yang mengenaliku akan kebingungan lagi. Padahal mereka tahu ayahku sudah bangkrut." Ujar Shena.


"Kau bisa mengatakan pada semua orang bahwa kau adalah istri Ash Vinson. Maka mereka sendiri tidak akan berani berbuat padamu."


"Itu malah akan membuat mereka tidak percaya."


"Sepertinya memang aku harus mempublish secara luas pernikahan mu dengan mu detik ini juga."


"Jangan!! Aku belum siap. Itu akan lebih membuat masalah tambah besar lagi. Banyak orang yang akan mengecam hubungan kita." Ujar Shena membuat suaminya mengeluarkan napasnya berat.


Ash mengambil beberapa gepok uang yang memang selalu ada di dalam dasboard mobilnya. Biasanya uang-uang itu digunakan untuk memberikan anak atau pengemis jalanan dan tukang parkir.


"Ini, Aku hanya memiliki sedikit." Ucap Ash memberikan pecahan uang 100 ribu sebanyak 10 gepok. Ash memang jarang menggunakan uang cash.


"Ini terlalu banyak. Tas ku saja tidak akan muat menyimpan uang sebanyak ini." Pekik Shena. Jika dihitung, 1 gepok biasanya terdapat uang 10 juta yang diambil dari bank, Jika 10 maka ada 100 juta cash di tangan Shena.


Ash menghiraukan Shena. Ia memaksa uang itu masuk ke dalam tas Shena yang muat dan malah masih tersisa banyak ruang. Ash tahu mungkin itu hanya alasan istrinya saja yang enggan.


Sesampainya di sebuah taman, Shena langsung mencium tangan suaminya setelah itu membuka pintu mobilnya. Namun, gerakannya terhenti saat tiba-tiba Ash menarik tubuhnya lebih mendekat ke arahnya.


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibir manis Shena.


"A-apa yang kau lakukan, Paman! Jika ada yang melihat kita bagaimana?" Shena melihat sekitar area dengan wajah yang bersemu merah, membuat Ash menyunggingkan senyumnya.


"Bagus jika ada yang melihat! Agar mereka tahu jika kau sudah ada yang memiliki." Sekali lagi Ash menempelkan bibirnya di bibir istrinya.


"Astaga, Kenapa jantung ku berdegup kencang sekali.." Gumam Shena memandang wajah Ash yang berada dekat dihadapannya.


"Apa masih kurang?" Tanya Ash seketika membuyarkan lamunan Shena.


"Aku pergi. Terima kasih.."


Shena langsung turun dari mobil dengan wajah yang masih bersemu merah. Ash tersenyum melihat istrinya yang malu tapi ingin.

__ADS_1


"Cukup awasi dari kejauhan. Jangan sampai kehadiran kalian diketahui olehnya. Atau tidak dia akan marah padaku!" Titah Ash menekan earphonenya yang memanggil seseorang sebelum melajukan mobilnya ke perusahaan.


__ADS_2