Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Hamil (Season 2)


__ADS_3

"SIAL" Ziva menari taplak meja yang masih berisi makanan dengan kasar "PRANK" semua pring berjatuhan dan makanan yang belum sempat tersentuh itu jatuh begitu saja padahal belum sempat di nikmati siapapun


"aku akan merebutnya" gumam Ziva menggeretakan giginya saking kesalnya dengan Qiana yang sudah menyepelekannya


wanita yang duduk tepat di sebelah Ziva hanya memutar bola matanya malas, ia tahu betul sifat atasannya itu karena memang ia sudah bekerja sebagai sekertaris Ziva setelah Ziva mulai terjun ke perusahaan keluarganya setelah sebelumnya  menjadi orang kepercayaan ayah dari Ziva dan terpaksa harus beralih mengurus Ziva karena ayah Ziva sudah sangat percaya dengan kemampuan Diana sebagai seorang sekertaris handal


Diana memilih mendeiamkan saja kelakuan atasannya itu sebab akan percuma jika ia menasehati atau menenangkan Ziva sebab Ziva adalah anak manja yang keras kepala dan paling tidak bisa mendengarkan nasehat orang lain


***


Qiana menatap jalanan dengan terus mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan pertemuannya tadi "sudah sweetheart jangan manyun terus dong" bujuk Putera yang terus meminta istrinya itu tidak marah ataupun terpengaruh dengan wanita yang sama sekali tidak penting menurutnya


bagi putera, Ziva hanyalah orang satu almamater kampusnya saja dan tidak berarti lebih menurutnya, jadi Putera tidak ingin hanya karena wanita tidak penting istrinya harus marah ataupun kesal


Qiana menoleh ke arah Putera "aku kesal aja sama dia kak, jadi orang kok belagu amat. Berasa wanita paling kaya di dunia apa" ketus Qiana


"dia itu memang biasa di manja karena dia anak satu-satunya di keluarga besarnya berbeda dengan kita yang walaupun kita berada di kalangan mampu tapi kita pinya adik-adik yang bisa mengajarkan kita untuk lebih mandiri" jelas Putera


Qiana memicingkan matanya ke arah Putera "kakak bela dia" Qiana tentu tidak terima jika suaminya membela wanita lain walaupun jelas itu hanya sekerdar menenangkannya saja


Putera menautkan kedua alisnya "kok jadi bilang bela dia sih Sweetheart" Putera menepikan mobilnya dan melepas seatbelrnya memeluk sang istri yang sedang dalam mode merajuk


"wanita lain tidak penting sayang jadi buat apa kakak bela dia, yang penting buat kakak cuma istri kakak saja, kakak cuma gak mau kamu jadi kepikiran cuma karena wanita yang gak penting "jelas putera


Qiana menghela nafas dan membalas pelukan sang suami "maaf ya kak, harusnya kesalku ke dia gak buat kakak kena juga" Qiana merasa tidak enak pada suaminya karena jadi sasaran kekesalannya pada wanita yang jelas menaruh hati pada suaminya


"sudah yuk pulang, mas pengen bobok sambil di peluk" Putera mengurai pelukannya dan kembali memasang seatbeltnya agar bisa kembali melajukan mobilnya kembali


Qiana terkekeh pelan "kakak kok makin manja sih" Qiana hanya bisa menggelengkan kepalanya saking lucunya melihat kelakuan Putera yang makin manja padanya akhir-akhir ini


"biarin manja sama istri sendiri ini" putera hanya cuek saja dengan tawa sang istri karena baginya ia hanya ingin dekat istrinya dan tak ingin jauh-jauh dari Qiana yang sudah menjadi candu untuknya

__ADS_1


***


"ayo bangun kak, sudah siang ini " bujuk Qiana pada putera yang terus memeluknya dari tadi tapi putera tidak mau melepasnya sama sekali


putera menggelengkan kepalanya "ini kan akhir pekan Sweetheart jadi biarkan saja seperti ini" balas putera


"tapi ini sudah siang kak, kita juga belum sarapan loh" balas Qiana


Putera menolehkan pandangannya ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 siang "ya ampun telat makan kita ya" Putera segera beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi


"ya ampun" Qiana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putera yang mirip anak kecil itu


Qiana ikut turun dari ranjang mereka dan mengikuti langkah [utera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian santai


Putera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan berjalan ke arah meja makan "kalian baru keluar" tanya kakek Bimo


Qiana dan Putera sekarang tinggal di rumah ayah Kandung Putera sebab pengobatan Kakek Bimo tidaklah berjalan baik, penyakitnya sudah cukup parah dan Kakek Bimo tidak ingin melanjutkan pengobatannya, ia memutuskan untuk menghabiskan sisa umurnya di rumah saja agar bisa melihat anak serta cucunya lebih dekat dan tidak terhalang pengobatan yang jelas hanya akan sia-sia saja sebab usianya juga memang sudah cukup tua jadi Putera mengalah saja dan tinggal dengan kakek Bimo dan sisa usia ayahnya yaang tidak tahu sampai kapan itu


"ayah sudah makan" tanya Qiana


"sudah dong, ini sudah jam berapa" kekeh kakek Bimo melirik jam dinding rumahnya


"kakak sih" Qiana menepuk pelan dada suaminya yang manja dan terus merengek ingin di peluk seharian


"aduh" putera mengusap dadanya "kakak males keluar dan hanya ingin meluk kamu, masa salah sih" balas Putera tanpa rasa bersalah sama sekali padahal melewatkan sarapan mereka


"gak salah sih put, tapi kasih makan Qiana dulu ya jangan  biarin perut istri kamu kosong" nasehat kakek Bimo


"iya maaf deh" Putera mencubit pelan pipi Qiana


Qiana berjalan lebih dulu ke meja makan dan segera menyantap makanan yang sudah disediakan pelayan rumah mertuanya itu tanpa menunggu Putera sebab ia memang meras sangat lapar karena sudah cukup telat untuk sarapan

__ADS_1


putera hanya geleng kepala melihat Qiana yang makan lebih dulu tanpa menunggu dirinya, salahnya juga sih kenapa membuat istrinya melewatkan sarapannya "segitunya gak mau nungguin suami" ledek Putera


"biarin, laper soalnya " Qiana memakan dengan cepat makanan di hadapannya seolah ia belum makan sebulan


"pelan-pelan sweetheart" pinta Putera yang jelas di abaikan Qiana karena Qiana terus makan dengan lahap


Putera duduk di hadapan Qiana dan mengambil makanannya sendiri sebab Qiana sedang sibuk makan jadi putera memilih mengambil makanannya sendiri saja "Hoek..." baru saja Putera mengambil nasi tapi dia sudah merasa mual saja


buru-buru Putera berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya "kamu kenapa kak" Qiana yang khawatir dengan putera mengejar Putera untuk memeriksa kondis suaminya


"kakak gak papa" Qiana terus memijit tengkuk putera yang sedang memuntahkan cairan bening dari mulutnya


"mual sweetheart" rajuk putera yang langsung lemas sebab ia memuntahkan semua isi perutnya yang jelas belum ada isinya karena ia belum sempat sarapan


Qiana memapah Putera untuk duduk di sofa dekat kakek Bimo "kamu gak papa nak" tanya Kakek Bimo


Putera hanya memejamkan matanya sebab ia masih merasa begitu lemas "lemes banget yah, abis muntah tadi" balas putera


"kamu masuk angin? kayanya tadi masih baik-baik saja" tanya Kakek Bimo


"gak tahu nih yah, kayanya baik-baik saja deh, cuma tadi waktu cium bau nasi bawaannya pengen muntah saja" balas Putera


senyum Kakek Bimo langsung terbit "kapan terakhir kamu datang bulan Qiana" tanya Kakek Bimo


Qiana yang di tanya jelas mengernyitkan dahinya "kok Qiana yang di tanya yah, mana pertanyaannya datang bulan lagi. Apa hubungannya coba" balas Qiana


"kali aja kamu sedang isi, soalnya dulu waktu mamanya putera lagi hamil ayah yang ngidam dan gak bisa cium bau nasi" jelas Kakek Bimo


"bulan kemarin sih emang gak datang bulan sih yah, soalnya Qiana kan emang sering telat datang bulan" bals Qiana


Putera langsung membuka matanya lebar "ayok ke rumah sakit sweetheart" ajak putera dengan semangat 45

__ADS_1


__ADS_2