
setelah kematian ayah kandungnya, putera sempat mengalami masa kesedihan cukup lama, ya walau bagaimanapun Bimo adalah ayah kandungnya, orang yang berperan besar dalam kelahirannya tentu ada rasa kehilangan sosok ayah yang cukup dalam
tapi beruntungnya dia memiliki Qiana yang selalu bisa menghiburnya dan menghilangkan luka yang sedang ia rasa dengan segala tingkah manja dan konyolnya saat sedang hamil apalagi makin lama kehamilan Qiana yang makin membesar membuatnya menjadi sosok yang begitu cereet dan juga manja serta sering mengeluh
"kakak" panggil Qiana dengan suara manjanya
putera hanya bisa menghela nafas tatkala mendengar suara istrinya yang menandakan ingin sesuatu "ada apa sweetheart" tanya Putera dengan senyum manisnya menanggapi sang istri yang memiliki mood tak bagus semenjak hamil
Tapi sebagai seorang suami siaga, ia ak eprnah mengeluh dan selalu berusaha meuruti apapun yang Qiana inginkan "lihat deh perut Qiana" pinta Qiana membusungkan dadanya agar perut buncitnya makin terlihat
Putera mengerutkan keningnya "emang kenapa dengan perut kamu sweetheart" tanya Putera
"perut Qiana makin buncit jadi makin bulet dan jelek" balas Qiana mencebikkan bibirnya kesal
Putera menarik tubuh Qiana mendekat dan memangku tubuh Qiana "buncit kan karena ada buah cinta kita di sini" ucap Putera mengusap perut buncit Qiana yang memang kini sudah mengandung 9 bulan dan tinggal menghitung minggu bahkan hari untuk melahirkan
"tapi Qiana jadi jelek kak" rengek Qiana merasa insecure dengan bentuk tubuhnya yang kini makin membulat
"tidak jelek Qiana, hanya makin berisi saja" Putera mengarahkan wajah Qiana ke arahnya "di mata kakak kamu tetap wanita paling cantyik dan paling seksi tidak ada yang melebihi kamu dari segi apapun" tukas Putera meyakinkan istrinya bahwa sebulat apapun Qiana sat hamil tentu bagi Putera Qiana lah yang tercantik
"tapi di luaran sana banyak wanita seksi yang ada di dekat kakak" sahut Qiana
"ayolah Qiana, jangan selalu insecure dengan penampilanmu saat ini, kamu tuh cantik dari segi manapun, lagian yang buat kamu bulat seperti ini kan kakak jadi jangan pernah merasa kamu jelek karena kamu wanita tercantik di hidup kakak setelah mama" balas Putera dengan jujur
mungkin di mata orang lain jika dia di jadikan nomor dua pasti akan merasa sebal tapi bagi Qiana di nomor duakan setelah ibu kandung pria yang sangat di cintainya tentu tidak masalah,karena saat kita menikah tentu orang tua suami kita akan menjadi orang tua kita juga
__ADS_1
"oh ya kak, nanti Cindy sama Tiara mau mampir ke sini, mau jenguk katanya soalnya Qiana kan gak boleh keluar sama kakak jadi mereka yang ngalah datangin Qiana" ucap Qiana
"sama suami mereka" tanya Putera
"enggak, mereka sama anak-anaknya saja, bapaknya apda sibuk cari duit katanya" balas Qiana
"ya sudah, nanti tinggal bilang ke mbok suruh buatin camilan buat teman-teman kamu, dan ingat ya Qiana jangan gendong salah satu di antara mereka" ucap Putera memperingati Qiana agr tidak menggendong anak-anak sahabatnya
"iya sih kak" balas Qiana mencebikkan bibirnya kesal terlalu di atur tapi ia tetap menurut saja sebab apa yang di lakukan putera hanya karena khawatir dengannya saja
***
"qiana" panggil Tiara menghampiri Qiana yang sedang duduk di sofa sambil mendorong stroler putrinya
"hai Tiara" Qiana langsung memeluk sahatnya
Qiana langsung mencebikkan bibirnya "gak usah ingetin aku kalau perutku begitu besar ya" kesal Qiana setiap mengingat perutnya yang begitu besar padahal dia hanya hamil satu anak
Tiara langsung terkekeh melihat tingkah sahabatnya "masih aja suka merajuk kalau inget sedang gendut"ledek tiara
"tiara!" kesal Qiana membuat Tiara makin tertawa lantang
"Cindy sama Delano belum sampai" tanya Tiara bekum emndapati keberadaan sahabatnya yang lain
"belum, mungkin bentar lagi" Qiana mengajak Tiara dan Anak tiara untuk duduk
__ADS_1
"hai Scarlett" sapa Qiana mengajak anak Tiara yang bernama Scarlett Sadie Ainsley untuk berbincang walau hanya di balas dengan tawa ala anak bayi saja
"mertua kamu izinin kamu di sini sampai jam berapa" tanya Qiana yang hafal betul kalau orang tua Roland tak bisa jauh dari cucu mereka
"kali ini agak lama, soalnya mami sama papi lagi hadirin acara reuni kolega bisnisnya" Tiara mengedikkan bahunya "maklum lah sudah lama gak terjun di perusahaan, kangen ketemu teman-teman lama" kekeh Tiara
"ngomong-ngomong mama kamu, gak pengen nikah lagi apa? kayanya kemarin kak putera ada nyinggung orang yang ngejer buat nikahin mama kamu deh" tanya Qiana yang sempat mendengar kabar kalau mama Tiara di lirik oleh seseorang
"gak tahu mama, katanya malas mau nikah lagi, takut sakit hati lagi jadi santai saja dia bilang" bals Tiara
"iya sih, kita mah sebagai anak dukung saja jangan terlalu ambil pusing ya" balas Qiana membenarkan Tiara yang tidak ikut campur dengan kehidupan orang tuanya
"terus sama keluarga papah kamu gimana" tanya Qiana yang tahu betul kehidupan papanya makin memburuk saja setelah bercerai dari mama Tiara
Tiara mengedikkan bahunya "gak mau ambil pusing, aku masih sakit hati dan gak terima saat anak wanita itu coba goda Roland, untung aku selalu ngasih batasan untuk Roland dan Roland bisa menjaganya dengan baik" Tiara jadi ingat bahwa anak papanya dari perempuan lain berulang kali mencoba menggoda suaminya tapi beruntung Roland selalu di temani sang asisten yang selalu menjaga Roland dari hama-hama pengganggu macam Ajeng
"aku ingat waktu kak Putra bantu ngusir si ajeng-ajeng itu dari perusahaann om Brian waktu ajeng terus cari perhatian ke Roland tapi terhalang rasa tak enak sama om Brian sebagai mitra bisnisnya" ucap Qiana kembali mengingat cerita sang suami saat Putera berani memecat Ajeng dari perusahaan keluarga mama Sheryl dengan mangatasnamankan pemilik saham sehingga bisa memecat ajeng yang sudah berbuat di laur nalar sebagai pekerja dari sebuah perusahaan
"itu adalah salah satu cobaan terberat saat aku lagi hamil besar tahu" timpal Tiara begitu kesal setiap mengingat adik dari papa yang sama itu terus mengusik hidupnya hanya dengan alasan memiliki papa yang sama padahal Tiara tidak pernah menuntut materi apapun dari papanya walaupun harta warisan kakek dari pihak papanya tetap ia pegang karena itu adalah amanah dari kakeknya saat masih hidup
"lagi cerita apa nih" sela Cindy dari balik pintu bersama Delano yang kini sudah mulai belajar berjalan di usianya yang baru menginjak 10 bulan itu
Delano berjalan dengan tertatih ke arah Scarlett yang ada dalam stroler membuat Cindy harus ekstra mengawasi puteranyayang baru belajar berjalan itu dan tentu belum begitu lancar
"wah sudah mulai belajar berjalan ya" ucap Qiana gemas dengan Delano yang sedang berjalan ke arah Scarlett walaupun berkali-kali jatuh dan bangun sendiri tanpa menangis sama sekali
__ADS_1
"iya, aktif banget si Delano, cuma mas Dion saja yang ekstra sabar ngikutin Delano" tukas Cindy memagang tubuh Delano agar tidak terlalu kuat mencium pipi Scarlett