
qiana sedang bermain dengan bik laras di area bermain dalam rumahnya "qiana coba panggil mama" pinta mario pada anaknya yang masih sibuk bermain
"panggil sendiri lah, kenapa minta qiana" balas qiana
"emang kamu gak pengen main sama mama, dari tadi kan mama sama pria itu terus" tanya mario lagi
qiana mengerutkan keningnya "pria itu siapa? perasaan mama sama papa deh di kamarnya" balas qiana
"ya dia maksud ayah" balas mario
"malas ah, panggil sendiri. lagian paling mama masih kangen papa kan kemarin papa perginya seminggu padahal biasanya papa itu kalau pergi gak pernah lebih tiga hari, mama kan lebih manja sama papa ketimbang qiana" balas qiana dengan polosnya
"manja gimana" tanya mario penasaran
qiana menghitung dengan jarinya "mama kan harus rutin ke rumah sakit, kalau gak ada papa pati mama gak mau" qiana menekuk jari kelingkingnya dan kembali berpikir "mama gak akan mau minum obat kalau gak di ingetin papa" qiana kembali menekuk jari manisnya dan kembali berpikir "mama itu gak akan keluar rumah kalau gak ada papa" qiana tersenyum setelah menekuk jari tengahnya "dan mama gak akan tertawa lepas kalau gak ada papa" ucap qiana dengan senyum mengembang karena mengingat saat mamanya tertawa lepas
ada rasa tak rela saat dua wanita terpenting dalam hidupnya begitu dekat dengan pria lain, mungkin ini yang di rasakan brian dulu saat kinan bercerai darinya dan dekat dengan Hans "aku gak akan biarin kamu jadi milik pria itu" gumam mario mengepalkan tangannya erat
***
"keluar yuk pah"ajak sheryl
om bachtiar malah makin mengeratkan pelukannya "masih pengen bermanja sama kamu" balas om bachtiar
"tapi kita sudah lama di dalam pah, ini sudah mau jam makan siang" ucap sheryl megingatkan kalau ini sudah jam makan siang
"tadi papa sudah pesan makan di restoran langganan kita, qiana kan juga suka makanan di sana jadi biarin papa meluk mama lebih lama" balas om bachtiar yang masih betah memeluk sheryl dan mencium bahu polos milik sheryl
mendapat perlakuan seperti itu timbul gelanyar aneh di tubuh sheryl "jangan terus seperti itu pah, mama jadi geli" tubuh sheryl mulai menggeliat karena ulah om bachtiar yang terus bermain di lehernya karena posisi om bachtiar yang memeluk sheryl dari belakang "sekali lagi, terus kita mandi dan keluar makan" pinta om bachtiar
"ini sudah tiga kali pah, emang papa gak lelah" sheryl mencebikkan bibirnya melihat kelakuan om bachtiar yang tidak lelah-lelahnya untuk menggoda dirinya
om bachtiar memutar wajah sheryl dan "cup" om bachtiar mengecup kilas bibir sheryl
__ADS_1
"gak ada kata lelah jika itu denganmu" balas om bachtiar
entah kenapa om bachtiar selalu bisa membangkitkan gairah sheryl dengan begitu baik "cup" sheryl melahap dengan rakus bibir tebal pria yang ada di hadapannya dan om bachtiar pun membalas dengan tak kalah rakusnya
***
sheryl keluar bersama om bachtiar di jam makan siang dengan tangan saling bertautan "kamu pesen makan apa pah" tanya sheryl
"makanan yang kamu dan qiana suka" om bachtiar mengajak sheryl menuju meja makan yang di sana sudah ada qiana dan mario yang sedang menunggu kedatangan sheryl dan om bachtiar
"sayang" sheryl mengecup qiana dengan lembut
"mama ngobrol apa sih sama papa, lama banget" qiana mengerucutkan bibirnya karena di abaikan oleh mama dan papanya
sheryl melirik bik laras yang berada tak jauh dari meja makan "qiana tidak tidur siang ya bik" tanya sheryl
"enggak nyonya, dari tadi ribut kenapa nyonya dan tuan gak keluar, tapi kata nona gak boleh ganggu nyonya" balas bik laras
"ya ampun"sheryl jadi tak enak dengan putrinya
"apa" tanya qiana masih dalam mode ngambek
om bachtiar mengusap kepala qiana "tadi mama dan papa bahas mau ajak kamu pulang ke Indonesia ketemu sama kakek, uncle, aunty, tante, om, kak putera, damian dan juga om kecil" ucap om bachtiar
senyum langsung terbit di bibir qiana "benarkah kita akan pulang" tanya qiana begitu antusias
"iya sayang" balas om bachtiar
"yeeee" qiana berteriak girang senang akan rencana orang tuanya yang akan pulang ke negara asalnya walaupun sebenernya qiana juga tidak terlalu mengingat negara tempat ia di lahirkan
"ya sudah makan dulu, minta suapin ayah ya" om bachtiar melirik mario agar menyuapi qiana makan
mario menyuapi qiana makan sambil melirik ke arah om bachtiar "jangan bilang kalian pulang untuk menikah"tanya mario dengan nada tak suka
__ADS_1
"hahahaha" om bachtiar tertawa keras akan pertanyaan mario "apa boleh" tanya om bachtiar
"tentu gak boleh" balas mario dengan tegas "aku gak rela ya kalau kalian menikah karena bagiku sheryl masih istriku" cetus mario dengan penuh penekanan
om bachtiar terkekeh "jangan terlalu khawatir, akungak buru-buru kok buat nikahin sheryl, lagian saya juga tahu kalau sheryl masih menata hatinya jadi saya gak terburu-buru, selagi sheryl nyaman dengan keadaannya sekarang saya gak akan memaksanya" jelas om bachtiar
mario memicingkan matanya ke arah om bachtiar "iya kalian gak buru-buru nikah tapi kalian sudah seintim itu dalam berhubungan" seru mario tak suka melihat hubungan sheryl dan om bachtiar sudah berjalan cukup jauh
sheryl yang awalnya diam saja melirik ke arah mario dan om bachtiar secara tajam "kalau kalian mau bicara menggunakan bahasa yang absurd dan gak baik silahkan kalian bicara di luar, jangan kotori telinga qiana dengan omongan tidak jelas kalian itu" ucap sheryl dengan penuh peringatan
om bachtiar menatap sheryl dengan rasa bersalah "maaf mah kalau papa ngomong yang aneh-aneh, gak lagi-lagi deh" ucap om bachtiar
"cih" mario membuang mukanya kasar tapi tetap melakukan tugasnya dalam menyuapi qiana
seusai makan siang, sheryl merapihkan meja makan sisa mereka semua makan siang, dan mario terus mengamati sheryl
"pah, main yuk" ajak qiana
"ayuk" om bachtiar menggendong qiana ke arah luar untuk bermain di halaman
mario menatap tajam ke arah sheryl "aku gak rela kamu bersamanya" ucap mario
"kamu sudah gak ada hak melarangku mas, lagian qiana sayang banget dengan om bachtiar jadi gak ada alasa aku menolak cintanya" balas sheryl
"tapi kamu masih mencintaiku" sahut mario
sheryl melempar lap kain yang sedang ia gunakan dan menatap tajam mario "buat apa bersama orang yang kita cintai kalau ujung-ujungnya terluka berkali-kali, lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita dan menghargai kita, itu jauh lebih baik karena dia akan memberikan kebahagiaan jauh lebih banyak" balas sheryl dengan jujur
"tapi mas juga cinta sama kamu sheryl, dan selalu ingin membahagiakanmu" ungkap mario
sheryl kembali melap meja makan "tapi pada kenyataannya kamu lagi dan lagi membuatku kecewa dengan alasan yang sama, itu artinya mas gak menyadari kesalahan mas yang terus melukai hatiku" balas sheryl
"maaf sheryl" ucap mario
__ADS_1
"maaf mas, hatiku gak bisa kembali ke tempat semula dan seperti dulu" balas sheryl