
Libur kuliah akhirnya tiba, acara yang paling di tunggu qiana dan tiara akhirnya datang juga "mana cindy sih dari tadi gak kelihatan" mata qiana terus memindai setiap orang yang keluar dari pintu kedatangan luar negeri
"entahlah, bukannya jadwal landasnya harus jam sekarang ya" balas tiara masih mengamati setiap orang
qiana mencebikkan bibirnya "sayang banget ya roland ikut sibuk kaya kak putera, di paksa ikut terjun ke perusahaan" ucap qiana
"mau gimana lagi, namanya pewaris tunggal, ya pasrah aja kalau mereka sibuk urus perusahaan secara orang yang bergantung di perusahaan mereka kan banyak, gak cuman satu" balas tiara
"hai" tiara melambaikan tangannya dengah keras saat melihat sahabatnya datang
cindy langsung berlari ke arah tiara dan qiana "kangeeen" cindy langsung saja memeluk tiara dan juga qiana
tiara dan qiana balas memeluk cindy "kami juga kangen kamu" mereka sudah saling emanangis haru karena hampir satu tahun tak bertemu
qiana mengurai pelukannya dan mengusap air matanya " kamu sih jauh sendiri kuliahnya" cicit qiana
" ya mau gimana, kalian kan tahu mamiku kalau sudah bilang A yang Harus A gak boleh jadi B" balas cindy
"nanti malam kita tidur bertiga ya, di kamar tiara saja deh yang kamarnya paling besar" ucap qiana
"boleh deh, tapi masaknya tetap di kamar kamu ya" sahut tiara
"kalian asyik banget di bolehin tinggal sendiri, nah aku harus tinggal di asrama" keluh cindy
"sabar cin, mamimu itu kan sayang banget sama kamu, mungkin mami kamu takut kaya aku yang pacaran dari muda" timpal tiara
"ngomong-ngomong pacar kamu mana, gak kangen apa ya dia ama sahabatnya kok gak nongol dia" cindy mencebikkan bibirnya saking sebalnya dengan roland yang tidak ikut menjemput
"lagi di paksa buat urus perusahaan dia" balas tiara
"tumben dia mau, bukannya dulu dia paling susah ya kalau di ajak ke perusahaan" tanya cindy
"iya lah mau, orang di ancem dia sama papahnya, kalau gak keperusahaan di blacklist dia buat masuk gedung apartemen tempat tinggal kami" sahut qiana
cindy terkekeh "iya ya, yang punya gedung kan papanya, dia baru nebeng nama aja" balas cindy
tiara dan qiana membantu cindy membawa koper milik cindy "terus kalian ke sini nyetir sendiri apa" tanya cindy
"gak mungkin" balas qiana dan tiara begitu kompak
"kak putera minta sopir mamaku buat anter kita" ucap qiana
__ADS_1
"pak anto yang antar" tanya cindy
"iya, siapa lagi" balas qiana
"ya kirain siapa gitu, kan vansh sekolah" balas cindy
"vansh di jemput mamah, mamah juga gak ada kerjaan jadi biar lebih perhatiin vansh aja" sahut qiana
cindy meletakan tangannya di bahu qiana dan tiara "pokoknya nanti kita harus ngobrol banyak, dan suuh roland buat mampir nemuin aku ya" ucap cindy
"oke bos" balas tiara dan qiana dengan kompak
"nanti aku juga mau dapat cerita lengkap dari kamu qiana, sejak kapan dan bagaimana kamu bisa pacaran sama kak putera" tuntut cindy
"iya deh" qiana hanya pasrah dengan keinginan sahabatnya itu
***
qiana, tiara dan cindy kini sedang mengobrol banyak hal sambil memakan camilan yang sengaja di kirimkan mami cindy. Emang kadang kelakuan anak kurang ajar itu berlaku untuk cindy, pulang dari luar negeri bukannya bertemu orang tuanya ini malah langsung bertemu dengan sahabatnya alhasil mami dan papi cindy harus menyusul cindy ke apartemen tiara dengan membawa begitu banyak makanan di sana
"aku beneran gak enak loh sama tante sarah, padahal kata tante sarah dia kangen banget sama kamu eh malah kamu milih ke sini" ucap tiara merasa kasihan pada orang tua cindy
"biarin saja, lagian liburanku kan dua bulan full jadi gak papalah di sini beberapa hari nanti waktu buat mami dan papi banyak" cindy santai saja walaupun tadi mami sarah sempat terisak gara-gara cindy yang tidak mau pulang dan ingin menginap lebih dulu
"kalian berdua enak sih sudah punya pacar, aku belum sama sekali" cindy mencebikkan bibirnya setiap mengingat di antara ketiga sahabatnya hanya dia saja yang jomblo
"mau kita cariin pacar" tanya tiara
cindy langsung menggelengkan kepalanya "enggak ah, nanti kalau longdistance relationship kan berat " memikirkannya saja sudah berat apalagi benar kejadian "nanti aja lah kalau sudah lulus kuliah biar mami gak banyak protes" putus cindy
"terus ngapain iri" tanya tiara mulai kesal dengan sahabatnya itu
"ya kan cuma bilang iri, bukannya mau juga pacaran" balas cindy dengan santai
qiana melirik ke arah jam dinding di kamar tiara "eh sudah jam tiga, masak yuk nanti mereka pulang belum ada makanan ngomel mereka" cicit qiana
"ya sudah yuk" balas tiara
cindy ikut berdiri "cieee, yang perhatian sama pacarnya sudah kayak sama suami" kekeh cindy
"iya dong, biar jadi calon istri idaman" sahut tiara dengan bangganya
__ADS_1
"udah ayok" ajak qiana
qiana dan tiara kini sibuk memasak dengan alat masak mereka masing-masing sedangkan cindy lebih banyak membantu mencuci sayuran atau memotong sayuran "gila, aku gak nyangka kalian niat banget buat jadi istri idaman" cindy begitu takjub dengan perubahan qiana dan tiara saat setelah setahun tak bertemu, begitu banyak perubahan pada mereka berdua
tiara terkekeh sambil melirik ke arah qiana yang masih sangat fokus memasak "dia yang ajakin aku belajar masak, awalnya parah banget hasil masakan aku dan kerjaannya di marah bundanya qiana tapi dua bulan ini benar-benar banyak perubahan sih, ternyata gak sesulit itu memasak" balas tiara
qiana mencebikkan bibirnya "dasat tiara aja yang berbakat masak, aku aja belajar udah mau setahun masih gini-gini aja" sahut qiana
cindy mengacungkan kedua jempolnya pada qiana dan tiara "ini namanya pacaran membawa aura positif, kalian berdua yang gak pernah injek dapur sekarang bisa masak loh" cindy benar-benar takjub akan perubahan kedua sahabtanya yang lebih banyak ke arah positif
tiara banyak berubah tentang sikapnya yang tak sefrontal jaman SMA dan qiana yang lebih mandiri dan tak sering merajuk itu "aku ikut bahagia dengan perubahan kalian, sungguh aku bersyukur untuk itu" ungkap cindy tulus dari hatinya
tiara dan qiana memandangi wajah cindy "kami juga berdoa nanti kamu dapat pasangan yang tepat" ucap tiara
"amiiin" sahut qiana
"ting tong" terdengar suara bel di apartemen qiana
"itu paling roland, ajak masuk gi cin" pinta tiara
"ya sudah aku bukain pintu ya" cindy berlari ke arah pintu dan membuka pintu dengan gerakan cepat
"roland" teriak cindy sampai memekikan telinga roland
"ya ampun suaramu" roland mengusap telinganya yang berdengung dan menghambur memeluk cindy "maaf tidak ikut menjemputmu di bandara, papiku benar-benar cerewet" roland mengusap punggung cindy dengan gerakan pelan
"it's ok kan qiana dan tiara menjemputku" balas cindy
"ayo masuk" ajak cindy kembali menutup pintu apartemen qiana
"wah baunya sedap banget sayang" roland mengecup pipi tiara dari samping
"iya dong, ini resep baru yang di ajarin bunda laras kemarin" balas Tiara
"wah, tiap hari di kasih resep baru terus, kapan-kapan aku harus datang bawain banyak bingkisan buat bundanya qiana karena ngajarin pacarku ini masak" roland mencubit gemas pipi tiara
"sudah ah sayang, bantu tata piring ya" pinta Roland
"oke" Roland mulai mengambil set piring berjumlah lima untuk di tata di meja makan "untung meja makanmu besar ya qiana, jadi kalau lagi ngumpul gini gak bingung kita" meja makan apartemen qiana memang terbilang luas, bisa di isi 10 orang
"iya dong besar, kamu tahu sendiri keluargaku besar, orang tuaku empat dan adikku 3" balas qiana
__ADS_1
"bener juga itu" kekeh cindy