Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Berpulangnya sang ayah (Season 2)


__ADS_3

Putera bersiap seperti biasa saat di pagi hari "mas nanti anterin Qiana ke rumah kakek ya, Qiana mau lihat kondisi ayah kata nenek kemarin kondisinya makin lemah" ucap Qiana meminta izin pada suaminya


putera menghela nafas kasar "penyakit itu terus menggerogotinya tapi ayah gak mau berobat lagi" Putera sebenarnya menyayangkan keputusan ayahnya yang menolah pengobatan lagi karena merasakan akan percuma dan lebih ingin menghabiskan waktu bersama keluarga ketimbang di rumah sakit yang ujung-ujung akan percuma


"ya mau gimana lagi kalau itu sudah keputusan ayah" timpal Qiana dengan wajah sedih


"sebenarnya ayah masih menyimpan perasaan mendalam lah buat mama dan ingin bisa bicara sama mama tapi ayah pasti gak enak sama papa Hans jika sampai mama Kinan berbicara dengan ayah. Kamu tahu sendiri kan mereka tidak ada komunikasi lebih hanya bicara seperlunya saat berhubungan dengan kakak" jelas Putera yang sebenarnya tahu apa yang jadi perasaan terberat papanya di penghujung usia yang mungkin hanya tinggal menghitung waktu entah cepat ataupun sedikit lebih lama


"apa kakak mau Qiana bantu bicara dengan papah" tawar Qiana ingin membantu ayah mertuanya karena jelas Putera tidak enak jika meminta pada papa Hans


"entahlah Qiana, kakak bingung" balas Putera yang memang bingung harus apa karena antara ayahnya dan juga papahnya sama-sama penting untuknya


"ya sudah, jangan terlalu di pikirkan" ujar Qiana tak ingin membebani pikiran suaminya yang terlihat begitu lelah sebab selama beberapa hari ini harus bolak-balik antara rumah, rumah kakaknya, dan perusahaan sebab kondisi kakek Bimo yang makin lemah dan selalu ingin melihat Putera dan nenek Jemina lebih sering


sebenarnya bisa saja Qiana ikut tinggal di rumah kakek Burhan tapi mama sheryl tidak mengizinkan itu sebab Qiana selalu mual saat tercium bau obat dan tentu orang-orang tidak akan tega membiarkan Qiana tersiksa dengan rasa mualnya


setelah sarapan bersama, putera mengantar Qiana ke rumah kakaknya "kakak gak masuk ya sweetheart soalnya ada meeting penting pagi ini" tukas Putera mengecup kening sang istri sebelum turun dari mobil


"iya kak" balas Qiana memeluk tubuh suaminya sekilas dan berjalan keluar mobil


"dah" Qiana melambaikan tangannya ke arah mobil Putera yang kini sudah makin menjauh dan hilang dari pandangan


Qiana berjalan masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan neneknya sekaligus kakak iparnya itu


"nenek" panggil Qiana saat melihat nenek Jemina sedang berdiri di dapur dengan punggung yang bergetar


mendengar suara Qiana, nenek Jemina buru-buru menghapus air matanya dan menoleh ke belakang "kapan datang sayang" tanya nenek Jemina menghampiri Qiana delan memeluk Qiana


"barusan saja nek, di antar kak Putera tapi kak putera gak bisa mampir sebab ada meeting penting katanya" balas Qiana


"Oh" nenek Jemina mengangguk paham


Qiana menggenggam tangan nenek Jemina "ada yang mengganggu pikiran nenek" tanya Qiana

__ADS_1


nenek Jemina mengangguk"iya Qiana" balas nenek Jemina tak bisa menutupi kesedihannya


Qiana mengajak nenek Jemina untuk duduk di meja pantry "keadaan ayah makin buruk ya" tebak Qiana


dan nenek Jemina mengangguk mengiyakan "keadaannya semakin buruk, obat-obatan sudah serasa percuma tapi ayah kekeh gak mau di rawat" sedih nenek Jemina memikirkan kondisi orang tua satu-satunya yang ia miliki sebab sang ibu sudah lebih dulu menghadap sang pencipta 5 tahun silam


"dan kamu tahu Qiana, makin ke sini dia selalu menyebut cerita ketika mama mertua kamu masih jadi istri brian" ucap nenek Jemina dengan suara isakan


"kenapa gak minta mama ke sini buat jenguk ayah" tanya Qiana


"pengennya gitu Qi, tapi... " nenek Jemina nampak berpikir "nenek gak enak hati sama papah kamu" tentu nenek Jemina merasa tidak enak dengan papa Hans karena kisah masa lalu kakek bimo dan mama kinan apalagi di tambah kakek Bimo yang masih menaruh hati pada mama adiknya setelah bertahun-tahun lamanya


Qiana merasa tak tega dengan kondisi ayah mertuanya "biar Qiana bicara sama papa ya nek" ucap Qiana


"tapi Qi.. " nenek Jemina nampak ragu akan hal itu


"tenang saja nek, nenek tahu kan kalau mereka gak akan marah sama Qiana terlebih" Qiana mengusap perutnya yang sudah mulai terbentuk "ada baby di sini mereka gak akan tega marah sama Qiana, toh Qiana cuma ingin ayah Bimo menyampaikan apa yang di tahannya selama ini jangan sampai hal itu memberatkan ayah nanti" ungkap Qiana


***


sopir keluarga besar Aranda mengantarkan Qiana ke rumah sakit untuk bertemu papa Hans sekedar meminta izin agar Kakek Bimo bisa bicara dengan mama kinan dan beruntung saja papa bachtiar tidak sulit untuk di ajak berkomunikasi sebab kejadian itu sudah cukup lama dan bagi papa Hans cinta mama kinan hanyalah untuknya dan tak akan ada masalah jika hanya bicara


setelah di beri izin untuk bertemu mama kinan menemui ayah dari anak sulungnya yang sedang terbaring lemah di atas ranjangnya "siang yah" sapa Kinan dengan panggilan ayah


panggilan yang sudah lama tidak ia lontarkan semenjak hubungannya dengan kakek Bimo berjalan kurang baik dan mama kinan yang sedang hamil Putera saat itu


Kakek Bimo yang tadinya memejamkan matanya membuka matanya perlahan saat mendengar suara wanita yang sangat ia rindukan selama ini dan selalu terbawa di setiap ingatan serta mimpinya "kinan" gumam Kakek Bimo melihat kehadiran wanita yang selalu tersemat di relung hati terdalamnya


mama Kinan berjalan ke arah kakek Bimo "ayah sehat" tanya mama Kinan


kakek Bimo tersenyum tipis "masih bisa bernafas saja walau sedikit berat" balas Kakek Bimo


mama Kinan tersenyum tipis, dan diam terpaku sembari menundukkan wajahnya bingung harus berucap lagi

__ADS_1


"pasti Qiana yang sudah minta kamu ke sini" tebak Kakek Bimo


mama Kinan tersenyum tipis "ya Qiana meminta izin suami Kinan untuk Kinan bisa menjenguk ayah" balas mama Kinan


Kakek Bimo menghela nafas panjang "maafin ayah ya Kinan atas semua yang sudah ayah lakuin ke kamu dulu tapi ayah gak bisa bilang menyesal sudah melakukannya karena dulu ayah sungguh-sungguh mencintaimu dan sangat bahagia kamu mengandung anak ayah dan melahirkannya ke dunia ini" ucap Kakek Bimo dengan suara tercekat


"sudahlah yah, Kinan sudah melupakan itu semua toh sekarang Kinan sudah bahagia dengan suami Kinan bahkan Kinan punya dua anak dari mas Hans" balas mama Kinan


"Kinan" panggil Kakek Bimo


"iya yah" balas mama Kinan atas panggilan ayah Bimo yang begitu lirih


"bolehkah saya bertanya satu hal" tanya Kakek Bimo


"apa itu" balas mama Kinan


"apakah dulu pernah kamu menaruh hati pada ayah walaupun hanya seujung kuku saja" tanya Kakek Bimo


mama kinan mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan Kakek Bimo "kenapa harus membahasa itu" tanya mama kinan


"hanya ingin tahu saja, sebatas menghilangkan rasa penasaran saya" jelas Kakek Bimo


mama kinan menghela nafas "pernah, dulu hati kinan sempat bergetar untuk ayah, tapi lagi kekecewaan kinan jauh lebih besar dan membuatnya cepat menghilang di tambah ada mas Hans yang melimpahkan cinta yang begitu besar untuk kinan" balas mama kinan


Kakek Bimo tersenyum tipis "syukurlah jika saya pernah singgah di hati kamu walaupun sebentar" Kakek Bimo begitu bersyukur jika mama kinan pernah sedikit menaruh hati padanya dulu walaupun sekarang tidak mungkin


"Terima kasih sudah menjadi ibu dari anakku dan membiarkannya lahir ke dunia ini" ucap Kakek Bimo


"iya yah" balas Mama Kinan


tak lama berselang Kakek Bimo menutup matanya dengan wajah tenangnya, dan mama Kinan tahu itu tutupan mata untuk selamanya


mama Kinan menangis dalam diam menangkup wajahnya, sedih atas kepergian ayah dari anaknya. Walaupun dulu ia pernah begitu membencinya tapi cinta itu pernah singgah walau hanya sedikit dan tak lama apalagi ada anak di antara mereka

__ADS_1


__ADS_2