
Di Lobby Perusahaan, menuju mobil yang terparkir di depan gedung untuk pulang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Arthur yang merasa ia perhatikan Shena seperti risih.
"Uh!! Iya. Aku baik-baik saja." Jawab Shena.
"Ingin pergi jalan-jalan terlebih dahulu?"
"Aku ingin pulang." Jawabannya lirih dengan menunduk, Tapi masih di dengar Arthur. Arthur menghela napas dan mulai melajukan mobilnya.
Tak terasa, Shena dan Arthur sudah sampai di Mansion Ash dan Shena keluar dari mobil dan masuk lebih dulu.
"Aku ke kamar dulu..." Kata Shena pamit saat menutup pintu mobilnya.
Arthur tidak menjawab, hanya memandang punggung Shena yang sudah menaiki tangga teras depan Mansion dan menghilang masuk lebih dalam.
Pikiran Arthur kembali berkecamuk dan bingung dengan sendirinya. Ia masih mengingat kejadian meeting yang terjadi diantara Arsen dan Shena. Ia masih bertanya-tanya, Ada apa dengan mereka? Apakah ada hubungan diantara keduanya di masa lalu?
Waktu berlalu begitu sangat cepat. Langit mulai petang. Sejak sepulang dari perusahaan, Arthur tidak melihat Shena keluar kamar.
"Bi, Apa Shena sudah makan?" Tanya Ash pada Ketua Maid yang usianya cukup berumur.
"Sudah Tuan. Tadi sore Nona Shena meminta saya mengantarkan makanannya ke kamar." Kata Ketua Maid itu.
"Baiklah, Kau boleh pergi." Titah Arthur. Matanya tidak lepas menatap pintu kamar Ash yang di dalamnya ada Shena seperti sedang mengurung diri.
"Baik Tuan..." Kata Maid itu membungkuk, lalu ia pergi kembali ke dapur.
Tok!! tok!! tok!!
Arthur memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Shena, Karena ia sangat khawatir. Toh, Ash sudah memintanya untuk menjaga Shena sampai Ash kembali. Jika terjadi sesuatu pada Shena bagaimana di dalam?!
Akhirnya pintu terbuka, bersamaan dengan Shena berbicara.
"Bi, Tolong buat Tuan Arthur-...?" Sepertinya Shena salah paham, Ia mengira jika yang mengetuk pintu adalah Ketua Maid dan dilihatnya melainkan Arthur.
"Perlu sesuatu?" Tanya Arthur demikian.
"Eemm.. Aku ingin Bibi membuatkan orange juice." Kata Shena mencari alasan, Padahal awalnya ia ingin meminta Maid untuk mengusir Arthur agar memberikan ruang sendiri di kamar.
"Baiklah, Kau tunggu dikamar. Akan ku bawakan untukmu. Orange Juice di malam hari mungkin enak juga." Kata Arthur.
"Terima kasih, Tuan Arthur..."
"Heemm..." Jawab Arthur tersenyum. Ia kembali menuruni anak tangga.
Shena menunggu pesanannya datang di kamar sambil melanjutkan membaca buku. Hingga-
Ctak!!
HLap!!
Lampu kamar Shena tiba-tiba mati dengan sendirinya.
"Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?! Apa hanya kamar ku saja?" Bingung Shena dalam kegelapan.
__ADS_1
"Tuan Arthur!! Kenapa lampunya mati??" Teriak Shena.
"Bibi!!!" Panggilnya lagi.
Tidak ada yang menyahut. Shena segera keluar kamar tertatih dengan tangan meraba-raba benda di sekitarnya hanya menggunakan lilin sebagai pencahayaan yang ia temukan di meja nakas dan kebetulan sudah ada dengan korek apinya. Shena sesekali memanggil penghuni rumah lainnya. Tapi nihil, tetap tidak ada jawaban.
"Tuan Arthur!! Kau di mana?"
"Bibi!!!"
"Kenapa tidak ada yang menjawab? Di mana mereka semua?!!"
Shena sampai di depan tangga, Dan rupanya memang seisi Mansion mati lampu. Ia menuruni anak tangga pelan-pelan penuh kehati-hatian dengan kaki yang meraba-raba alas keramik dan kedua tangan berpegangan pagar tangga.
"Tuan!!"
"Tuan Arthur!!" Panggil Shena berteriak dengan tidak bosannya.
"YA!! Tuan Arthur!! Kemana mereka?"
Berkali-kali dipanggil, Tetap tidak ada sahutan. Hingga Shena...
Aakhh!!!
Brugk! brugk! brugk! brugk!
Grep!!
Ash datang, tepat saat lampu menyala kembali.
"Shena!! Bangun!! Shena-yaa!!" Ash menangkap Shena yang hampir terjatuh ke lantai. Ia berusaha menepuk-nepuk pipi Shena dengan penuh kecemasan.
Belum sempat membalas Ash, Shena sudah limbung hilang kesadaran. Ash melihat sebuah jarum suntik yang tergeletak di lantai, Tidak jauh dari tempat Shena berada. Sepertinya pelaku tidak sengaja meninggalkan jejak. Dan Shena sudah di suntik obat bius sampai ia hilang kesadaran. Ash langsung mengangkatnya dan membawanya ke kamar, Diikuti Tuan Theo.
Mereka bertiga sudah kembali dari Islandia menggunakan jet pribadi dan datang ke Mansion menggunakan helikopter yang didaratkan di belakang mansion Ash yang juga terdapat tempat fasilitas pendaratannya juga. Dan ketika sampai di Mansion, mereka melihat di luar suasananya sudah gelap. Ash berpikir bahwa Arthur lupa menyalakan lampu Mansion, atau semua sudah tertidur dengan lampu yang dimatikan. Tapi saat masuk, keadaan Mansion cukup berantakan dirasakannya!
Kamar Ash dan Shena.
"Bagaimana Shena?" Tanya Dayn.
"Masih belum sadar. Mungkin karena terjatuh dari tangga tadi membuatnya terkejut dan tidak sadarkan diri." Ucap Tuan Theo yang menjawab.
"Tidak Ayah!! Shena di suntik obat bius. Tadi aku melihat sebuah jarum suntikan, tidak jauh dari Shena. Itulah yang menyebabkannya kehilangan kesadaran. Dan Dayn, Kau amankan jarum suntik itu. Kita akan selidiki!" Kata Ash menceritakan apa yang dilihatnya.
Dayn cukup terkejut dan segera mengambil keberadaan jarum suntik itu menggunakan sarung tangan agar tidak meninggal jejak sidik jari.
"Jarum Suntik?!" Tertegun Tuan Theo tidak menyangka. Ia masih berpikir bagaimana jarum suntik itu ada di Mansion mereka dan apa yang ingin dilakukan sampai harus mengenai Shena?
"Ayah sudah memanggil Dokter Pribadi. Sebentar lagi ia akan datang." Ucap Tuan Theo selanjutnya.
Ash mengangguk dan matanya kembali menatap Shena dengan sendu.
"Jarum suntiknya sudah di amankan, Tuan." Beritahu Dayn kembali ke kamar Ash.
"Bagus. Di mana Arthur?!" Tanya Ash kemudian.
__ADS_1
"Justru itu. Aku ingin memberitahu mu. Aku menemukan Arthur tergeletak di pantry, dengan beberapa maid yang terikat di gudang dengan mulut yang dibekap, Ada pula yang terkunci di kamar mereka." Kata Dayn memberitahu kejadian ganjal malam hari ini.
"CCTV?!" Teringat Ash otaknya cemerlang tertuju pada benda itu!
Ash bergegas dengan langkah panjang menuju ruang CCTV yang pasti merekam gerak-gerik keadaan Mansion setiap hari dan 24 jam.
Dayn pun mengikutinya sampai setengah berlari. Sedangkan, Shena sedang dijaga oleh Tuan Theo di kamar.
Dayn langsung mengoperasikan komputer untuk melihat rekaman ulang CCTV pada malam hari ini. Ash dan Dayn sangat serius melihat tampilan layar itu. Di sana, beberapa pria berkostum hitam berhasil memanipulasi penjaga Mansion Ash yang dikerahkan, Mereka sengaja mematikan jaringan listrik dan komunikasi untuk melewati keamanan Mansion Ash.
"Aku dengar sebelum Shena keluar kamar, mereka terlebih dahulu melumpuhkan Arthur diam-diam dengan beberapa penjaga dan maid lainnya. Karena mereka mendengar suara helikopter kita dari atas, jadi mereka melarikan diri sebelum melakukan aksinya." Ujar Dayn menjelaskan.
Karena otomatis jaringan listrik mati, CCTV yang beroperasi pun mati. Benda itu hanya bisa menampilkan beberapa menit saat keadaan masih menyala. Tapi sayangnya, Hal yang membuat Ash kesal dan menyesal seumur hidupnya, ia tidak bisa melihat rekaman di dalam Mansion untuk melihat siapa yang menyuntikkan Shena obat bius?!
Ash terdiam, Ia kembali ke kamar dengan Shena yang masih terbaring, dan Tuan Theo masih menjaga.
Ash duduk di tepi ranjang samping istrinya. Ash meraih jari-jari lentik itu dan menggenggamnya erat. Ia menatap Shena yang terbaring lemah di ranjang dengan getir.
"Maafkan Aku, Aku meninggalkan mu sendiri di sini. Aku tidak bisa menjagamu." Lirih Ash mengecup punggung tangan Shena.
"Jika saja Aku, Ayah, dan Dayn tidak cepat segera kembali. Saat datang, Mungkin aku akan kesulitan mencari mu yang sudah hilang, dibawa pergi oleh mereka!" Lirih Ash hampir menangis. Ia berpikir, bahwa orang yang menyuntikkan obat bius pada Shena dan pergi dengan cepatnya di bawah kegelapan dan mengetahui Ash telah datang, Itu berniat untuk menculik Shena!
Di Pantry...
Arthur terbangun, memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.
Akh!!
"Uh!! Kau sudah bangun?!" Dayn membantu Arthur duduk dari baringnya, dan memberikannya minum.
"Kepalaku sakit sekali.." Kata Arthur memegang kepalanya kuat-kuat.
"Minum saja dulu. Aku akan membantumu ke kamar. Kau harus beristirahat Arthur." Kata Dayn.
Arthur pun menerima minum itu dan ia teguk sampai tandas.
Dayn mengangkat tubuh Arthur yang lemah untuk dirangkulnya ia bawa masuk ke kamar.
Sesampainya di kamar, Dayn membantunya kembali Arthur berbaring.
"Kapan kau datang? Kenapa tidak mengabari jika akan pulang?" Tanya Arthur dengan nada lemah.
"Kami datang 2 jam lalu, Ketika lampu sudah mati."
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa terbangun di pantry dan tubuhku selemah ini? Seingat ku semalam aku di dapur membuatkan Shena orange juice permintaannya. Apa Shena baik-baik saja?"
"Shena.. Ketika lampu mati, Dia di suntik obat bius dan kehilangan kesadarannya. Dan aku menemukan mu tergeletak di dapur, dan beberapa maid dan penjaga sudah dalam keadaan terikat."
"Obat bius?? Siapa yang melakukannya??" Pekik Arthur sangat terkejut mendengar jarum suntik yang berisi obat bius sampai membuat Shena kehilangan kesadaran.
Sebelum Dayn menjawab, Ash yang baru datang ke kamar Arthur.
"Kau sudah bangun?" Tanya Ash demikian.
"Sudah. Ash, Maafkan aku." Menyesal Arthur dan sangat bersalah.
__ADS_1
"Tidak Apa-apa. Kau sudah berusaha. Shena juga baik-baik saja. Aku lebih dulu datang sebelum mereka berhasil membawa Shena pergi. Jika itu terjadi, Aku tidak tahu akan bagaimana akhirnya. Mungkin aku akan bersikap lain padamu dari ini, dan bisa saja aku bahkan sudah membunuh mu. Terima kasih Arthur, selama aku tidak ada, kau sudah menjaganya." Kata Arthur sama sekali tidak marah atas kelalaian yang hampir saja membuat Shena dalam bahaya. Ash sepenuhnya tahu, bahwa itu peristiwa yang direncanakan dan kesalahan mutlak dilakukan orang lain tanpa tahu jika hari ini akan terjadi bencana.
"Terima Kasih kembali, Ash..." Jawab Arthur, Namun hatinya masih belum luput dari rasa penuh penyesalan.