Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Tidak Sakit (Season 2)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Putera terus menanyai Qiana apakah merasakan sakit atau perasaan tidak nyaman tapi jawaban Qiana selalu sama 'tidak'


"berapa kali Qiana mesti ngulang sih kak, Qiana gak papa, gak usah selebai itu deh" Qiana begitu kesal saat Putera terus menyayai pertanyaan yang sama dan Qiana juga membalasnya dengan jawaban yang sama pula


"Kakak hanya cemas saja Qi" balas Putera


"Qiana tuh gak papa kak" Qiana terus meyakinkan putera bahwa dirinya tidak merasa ada yang salah dan tak ingin Putera khawatir secara berlebihan


"tidak, kita harus periksa" Putera bergegas membawa Qiana ke rumah sakit milik keluarganya dan membawanya itu di periksa agar nantinya ia tidak menyesal jika sampai tidak cepat tanggap


"gimana dok" tanya Putera saat Qiana sudah di periksa oleh dokter kandungan Qiana yaitu dokter Rasti


Dokter Rasti langsung menoleh ke arah perawatnya tanpa menoleh ke arah Putera yang sejak tadi merasa cemas "Siapkan ruang operasi sekarang" ucap Dokter Rasti yang langsung di tanggapi perawat dengan bergegas pergi dari sana


"Ruang operas" gumam Putera nampak cemas


"ada apa dok" tanya Putera


"Air ketuban Nona Qiana sudah pecah, dan cairannya sudah hampir habis tapi nona Qiana tidak merasakan apapun jadikita harus melakukantindakan operasi cesar sekarang juga" jelas Dokter Rasti


"Cesar" beo Putera mengulang ucapan Dokter Rasti


"iya tuan, lebih baik segera urus berkas perstujuan operasi agar kita bisa langsung segera mengoperasi nona Qiana " balas Rasti


"Kakak" Qiana jadi panik karena mendengar kata operasi


Putera langsung menggenggam tangan Qiana "tenang Sweetheart, kamu dan anak kita kan baik-baik saja" ucap Putera menenangkan Qiana


dengan cepat Putera mengurus berkas persetujuan di lakukannya operasi untuk proses kelahiran anak mereka. Ingin rasanya putera menemani Qiana melahirkan tapi Putera tidak di izinkan masuk ke ruang operasi, jadilah ia hanya menunggu di ruang operasi dengan perasaan tak menentu


"putera" panggil mama kinan menghampiri anaknya yang sedang duduk di ruang tunggu

__ADS_1


"mama" Putera langsung berlari menghampiri sang mama dan memeluknya begitu erat "tadi Qiana baik-baik saja tapi saat lihat baju Qiana basah Putera jadi cemas mah dan benar saja kalau air ketubannya sudah pecah dan Qiana harus di operas mah" adu Putera meluapkan perasaan tak menentu yang sedang ia rasakan


Mama kinan menepuk punggung Putera dengan pelan "kamu sudah cukup tanggap dengan langsung membawa Qiana ke sini sayang" mama kinan mengajak putera untuk duduk


"Qiana tidak merasakan sakit atau mules gitu" tanya mama Kinan


"gak mah, makanya dokter langsung minta operasi saja gak pake obat induksi" jelas Putera


"orang tua Qiana sudah di beri tahu kan" tanya Mama kinan mengingatkan untuk mengabari keluarga Qiana yang lain


"sudah mah, bunda lagi perjalanan ke sini kalau mama Sheryl lagi nunggu papa, soalnya papa gak ngizinin mama pergi sendiri takut panik dan berakhir tidak baik di jalan" balas Putera


mama kinan menepuk-nepuk bahu putera "yakin saja kalau Qiana dan anak kamu baik-baik saja" ucap Mama kinan


operasi berjalan selama 8 jam dan itu terasa begitu lama untuk putera karena ia begitu mencemaskan sang istri tapi tak bisa ikut menemani, padahal keinginannya bahwa Qiana melahirkan normal agar ia bisa menemani Qiana saat melakukan proses persalinan


"kenapa lama sekali mah" rengek Putera yang sejak tadi menangis menunggui istrinya yang tidak kunjung selesai di operasi


"sabar putera, paling sebentar lagi selesai" balas mama kinan


Putera melirik ke arah mama Sheryl "mama istrirahat di kamar saja mah, kasihan kandungan mama kalau kelelahan" pinta Putera tak ingin mertuanya kelelahan sebab mama sheryl sedang hamil 3 bulan saat ini


"iya mah, lebih baik istirahat dulu ya, nanti saat Qiana keluar dari ruang operasi kita balik lagi" sahut papa Bachtiar


sebenarnya ia ingin menolak tapi ia juga sadar bahwa kondisinya sekarang begitu lemah saat mengandung di usia tua sepertinya "baiklah, tapi langsung ke sini ya pah kalau Qiana sudah keluar ruangan operasi" balas mama Sheryl


"tentu saja mah, papa juga khawatir dengan keadaan qiana" balas papa Bachtiar


Putera terus berjalan mondar-mandir menunggu hasil operasi Qiana "ceklek" ruang operasi terbuka dan dengan cepat Putera menghampirinya


"gimana keadaan istri saya dok" tanya Putera

__ADS_1


Dokter muda yang masih mengenakan pakaian khusu di ruang operasi itu menampilkan senyum serahnya "syukurlah kami masih bisa menyelamatkan anak tuan walaupun tadi kami sempat ketakutan karena bayi anda tidak menangis tapi beruntung anak anda bisa menangis setelah menjalani beberapa tindakan dan organ tanda vital anak anda baik-baik saja dan sekarang di bawa ke ruang perawatan anak" jelas sang dokter


"lalu istri saya" tanya putera


"istri tuan sudah di bawa ke ruang perawatan dan anda bisa menjenguknya" balas sang dokter meninggalkan Putera yang kini sudah bisa bernafas lega karena sudah tahu kalau istrinya baik-baik saja


"syukurlah" Putera langsung saja berjalan ke arah ruang rawat yang sudah ia tahu di mana karena dari jauh-jauh hari Putera meminta pada papanya untuk menyiapkan ruang khusus untuk Qiana saat melahirkan


"ceklek" Putera membuka pintu dan menghampiri Qiana yang masih betah tertidur karena pengaruh obat biusnya


"sweetheart" Putera terus mengecup punggung tangan istrinya saking bersyukurnya kalau Qiana baik-baik saja


Mama kinan menepuk bahu putera "mama lihat anak kalian dulu ya, nanti kalau Qiana sudah sadar segera kabari mama ya" pamit mama Kinan yang ingin menjenguk cucu pertamanya


"iya mah" balas Putera


Putera terus memandangi wajah Qiana tanpa berkedip seolah akan kehilangan jika ia berkedip hanya sekilas saja "Euuughhh" Qiana mulai mengerjapkan matanya


"kamu sudah sadar sweetheart" tanya Putera saat melihat istrinya sudah membuka mata


"kakak" gumam Qiana


Qiana melirik ke arah perutnya yang sudah rata "anak kita gimana kak" tanya Qiana dengan perasaan cemas


"anak kita baik-baik saja, sekarang lagi di jenguk mama nanti kalau kamu sudah agak mendingan baru di bawa ke sini" balas putera


putera menatap Qiana dengan mata berkaca-kaca "jantungku seperti mau lepas saat melihatmu masuk ruang operasi" adu Putera begitu sedih saat mengingat Qiana akan menjalani operasi seroang diri


Qiana mengusap lengan Putera "yang penting Qiana sudah baik-baik saja kak" sahut Qiana dengan senyum tipisnya


"emang kamu gak ngerasain apapun saat ketubanmu pecah" tanya Putera

__ADS_1


Qiana menggelengkan kepalanya " tidak kaka, rasanya tidak sakit jadi aku biasa saja, lain kali buat pembelajaran aja jangan sampai abai sama air di tubuh saat hami besar" timpal Qiana menjadikan hal yang menimpanya suatu pembelajaran


__ADS_2