
Shena mengendarai mobil dengan cepat setelah urusannya dengan Dokter Anita selesai. Banyak pengendara lain yang mengklakson untuk memperlambatnya. Namun, Shena dengan marah mengendarai mobil tersebut.
Shena nampak sedih, dia sangat kecewa setelah mendapatkan informasi tentang obat yang ia konsumsi dari Ash. Dalam hati, Shena mengatakan bahwa dia akan sangat membenci suaminya. Meski masih banyak pengendara yang khawatir melihat mobil itu melaju cepat tak beraturan dan memperingatkan Shena untuk memperlambat lajunya, Pikiran Shena masih kacau, ia tidak peduli bahwa itu akan membahayakan nyawanya. Dalam berkendara, perasaannya sangat berkecamuk, apa yang dikatakan Dokter Anita terus saja berputar dan menghantui otaknya.
"Shena, Aku tidak tahu apa yang terjadi pada hubungan kalian, Aku juga tidak tahu bagaimana Tuan Ash ingin melakukan ini padamu."
"Ini adalah Obat Penghilang Ingatan. Itu artinya Tuan Ash ingin menghilangkan memori mu."
"Obat ini adalah Golongan obat Benzodiazepin. Ini adalah Obat anti kegelisahan dapat menyebabkan kehilangan memori karena efek sedatif yang mereka miliki di bagian-bagian tertentu dari otak. Efek samping obat ini bisa mempengaruhi memori jangka pendek maupun panjang. Midazolam, khususnya, diyakini bisa menimbulkan amnesia yang parah."
"Hanya dengan membuat mu mengonsumsi obat ini, yang pada gilirannya menyebabkan potensi kehilangan memori. Semua ingatan mu bisa menghilang secara perlahan jika terus dikonsumsi setiap hari. Tentu saja ini akan berdampak buruk bagimu."
"Aku cukup mengenal Tuan, Di usianya yang akan menginjak 27 tahun, Sejak dari dulu apapun yang membuatnya terobsesi akan melakukan segala apapun untuk mendapatkannya."
"Aku tahu bagaimana pernikahan kalian terjadi. Meski aku bukan siapapun, Aku tahu kau juga pasti belum siap untuk mencintai Tuan Ash. Kalian seperti ini hanya sebuah ikatan yang mendadak. Tapi sayangnya, Aku heran kenapa Tuan Ash bisa melakukan ini untuk mu."
Kalimat itulah yang terus terngiang-ngiang dalam otaknya sampai membuat Shena bergemuruh, seluruh tubuhnya bergetar menahan emosi, dan semakin tidak memperhatikan jalan raya.
Arrrghh!
Bugh!
__ADS_1
Saking sangat kesalnya, Shena meninju kan tangannya memukul pada setir. Saat sedang dilanda amarah justru hal itu tidak membuat tangannya sakit. Shena beberapa kali mengusap air mata dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Aku... akan dibuat Amnesia? Ash, sebenarnya apa yang kau rencanakan padaku??" Getir nada suaranya yang mulai mengeluarkan air mata.
Perasaan Shena sangat kacau. Ia tidak henti menangis begitu derasnya. Kecepatan pun bukan diturunkan, melainkan malah ditinggikan.
CKIIITT!
CRASHHH!
Dalam sekali hentakan Shena mendadak menekan pijakan rem yang semula melaju begitu cepat menjadi terhenti sampai membanting setir, mobil berputar sampai ban mobil berdecit dan begitu keras menghantam pembatas jalan. Shena sendiri sampai terbentur cukup keras mengenai setir yang membuat dahinya terluka mengeluarkan darah. Untungnya air bag secepatnya keluar saat menerima sinyal terjadi benturan keras, sehingga luka Shena tidak terlalu parah.
Alhasil, Mobil mewah Ash pada bagian depan rusak. Beruntungnya tidak sampai ringsek, hanya menyebabkan beberapa bagian yang penyok dan Shena sendiri masih bisa menyalakan mobilnya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
...~o0o~...
"Kalian tidak becus menjadi satu wanita saja. Jika istriku menghilang, Siapa di sini yang akan bertanggung jawab?! Apa yang kalian kerjakan seharian ini??" Gertak Ash memarahi para penjaga yang hanya menunduk pasrah menerima suara tinggi Ash yang memaki dan seakan menggebu di wajah mereka.
Di Mansion Keluarga Vinson, Ash sedang memarahi semua para penjaga Mansion nya, ia mendapatkan kabar dari Dayn bahwa Shena tidak ada di Mansion dan saat dicek tidak ada tanda-tanda Shena berada di kamar sejak pagi. Ash sampai meninggalkan kesibukannya untuk pulang lebih awal. Ash mengira jika Shena mengeyel pergi keluar secara diam-diam, Namun yang membuatnya sangat marah adalah kekhawatirannya pada sang istri yang tidak kunjung pulang sudah menjelang sore, ditambah handphone Shena yang tidak bisa dihubungi. Bahkan ia belum mendapatkan kabar dari bawahan yang diperintahkan untuk mencari Shena.
Suara mobil yang terparkir di depan Mansion terdengar. Paman Jim yang berjaga di luar untuk menunggu tanda kepulangan Shena, Segera memberitahukannya pada Ash yang masih mondar-mandir kesana-kemari tidak tenang firasat buruknya yang takut terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Tuan muda, Nyonya muda sudah pulang!" Ucap Paman Jim datang dengan raut wajah kegirangan.
Mendengar kabar baik, Ash diikuti Tuan Theo bergegas berlari keluar. Terlihat Shena yang memang sudah pulang, Namun tampilannya sangat kacau, terdapat darah yang masih belum dibersihkan sampai mengering dan noda hingga menetes ke bajunya dan pastinya terkejut melihat mobil yang dikendarai Shena penyok. Mereka mulai sangat khawatir dan mengira kecelakaan kecil telah terjadi.
Awalnya Shena pergi secara diam-diam. Namun saat pulang, sudah tidak ada lagi perlu ditakuti ataupun disembunyikan. Sehingga, Shena pulang dan keluar dari mobil dengan percaya diri secara terang-terangan tanpa ingin mempedulikan lagi akan bagaimana reaksi suaminya yang sudah berdiri di depan pintu.
Dengan gontai Shena menaiki tangga teras depan Mansion. Ia tidak ingin menghadapi suaminya. Pada saat Ash datang ingin menarik tangannya untuk menanyakan pertanyaan yang tersimpan, dengan cepat Shena menghindar melewati Ash begitu saja dan hanya mendekati ayahnya.
Ash jadi merasa tidak enak hati karena untuk pertama kalinya ia ingin merengkuh Shena, Kini terabaikan begitu saja yang membuat tangannya yang sudah diulurkan jadi menganggur.
"Shena, dahimu terluka. Apa yang telah terjadi, Nak?" Tanya Tuan Theo panik langsung menghampiri putrinya yang kembali pulang dengan keadaan mengkhawatirkan. Perasaan seorang ayah mana yang tidak terkejut melihat putri kesayangannya terluka meski hanya luka kecil.
"Ini semua kesalahan menantu mu. Tanyakan saja pada dia kenapa aku bisa seperti ini." Jawab Shena dingin menghindari semua orang, tanpa berlama pergi masuk menuju kamarnya, muak melihat wajah suaminya yang justru khawatir tapi Shena tidak peduli.
"Ash, kau mengetahui sesuatu? Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Tuan Theo mengguncangkan tubuh Ash yang melamun.
Ash tidak mampu mengeluarkan suaranya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala untuk merespon pertanyaan sang mertua. Dia sendiri bingung kenapa Shena tiba-tiba menunjukkan ekspresi yang berbeda yang terlihat tidak menyukai dirinya. Apalagi melihat tatapan sedih Shena padanya diselimuti tatapan kebencian.
"Shena sudah mengalami kecelakaan. Dia pasti mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Jika saja putriku tidak pulang selamat, sesuatu hal buruk itu terjadi karena salah mu." Gertak Tuan Theo terdengar marah pada menantunya dan Ash hanya terdiam mendengar makian sang Ayah mertua.
Tuan Theo pun segera pergi menyusul Shena untuk melihat kondisinya. Sedangkan Ash, masih belum berani menghadapi istrinya sekarang. Jika bukan karena melihat Shena terlihat marah hari ini, Ash adalah orang yang paling panik.
__ADS_1