Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Tidak semua hal yang di mau harus di dapat (season)


__ADS_3

Putera melihat punggung adik iparnya yang bergetar timbul rasa tak tega tapi dia tidak boleh lemah sebab itu akan menjadi pembelajaran yang baik untuk Edzar yang masih memiliki jiwa naif dan tak menggunakan akal sehatnya dengan baik di usia mudanya yang sedang jatuh cinta


karena kadang rasa cinta kita bisa menutupi kebenaran yang mutlak untuk itu pembelajaran ini di perlukan agar Edzar bisa memilih pasangan terbaik untuk hidupnya dan tidak menyakiti keluarga hanya karena seorang wanita


Putera berjalan masuk ke dalam kamarnya di mana istrinya masih dalam mode kesal "ayo tidur sweetheart" ajak putera yang sudah duduk di samping Qiana


"kakak sudah bicara sama Edzar" tanya Qiana


"sudah" Putera mengusap perut istrinya "jangan terlalu kesal karena itu tak baik untuk kehamilan kamu" pinta Putera


Qiana menghela nafas, mengusap perutnya dengan lembut "aku cuma kesal sama Edzar, bisa-bisanya menyakiti hati bunda karena cinta monyetnya itu" kesal Qiana


"Edzar masih dalam masa pubernya, dan itu masa yang memang harus di lewati jadi kita sebagai yang lebih tua harus bisa membimbingnya" jelas putera


"iya kak" Qiana memeluk sang suami dengan begitu erat sambil mencium aroma tubuh suaminya yang begitu menenangkan


***


Di lain tempat ada seorang wanita yang sedang menangis dengan histeris "hiks hiks hiks" wanita itu menangis sesenggukan tak perduli kamarnya yang tidak kedap suara dan mungkin suara tangisnya bisa terdengar sampai kemana-mana


"ceklek" pintu kamar wanita itu terbuka dengan gerakan kasar "kamu gak tahu kalau ini sudah dini hari, menangis gak jelas" ketus seoang wanita paruh baya menghampiri gadis yang sedang menangis sesenggukan


gadis itu menoleh ke arah wanita paruh baya yang baru masuk "kak Edzar mutusin aku mah" adu wanita tersebut yang tak lain adalah Lea


Zia berjalan menghampiri Lea dan mengusap kepala Lea "mama kan sudah bilang kalau keluarganya gak mungkin akan setuju kamu pacaran sama Edzar, tapi kamu nya ngeyel" balas Zia

__ADS_1


Lea mengerutkan keningnya "emang apa yang mama lakuin sampai tante Laras gak ngizinin aku sama Kak Edzar" tuntu Leas


zia jadi gelagapan sendiri "ini bukan masalah tentang ada masalah apa mama dengan tante Laras tapi lebih ke kita yang hanya orang miskin, jadi mana mungkin tante kamu ngizinin anaknya pacaran sama anak orang miskin" balas ZIa


"ini salah mama kenapa kita jadi orang miskin" kesal Lea membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut


"sudahlah Lea gak usah ngambekan, lakuin kaya biasanya saat kamu putus dengan Pacar kamu, rayu saja dia bereskan" timpal Zia ingin Lea kembali merayu Edzar agar Edzar mau kembali dengan Lea dan dirinya tidak pusing dengan tangisan Lea yang membuatnya makin pusing saja


Lea mulai memikirkan ucapan mamanya yang ada benarnya sebab saat ia merayu kekasihnya pasti kekasihnya akan luluh sebab Lea memang gadis yang cantik dan begitu di gilai pria


Usia 15 tahun tidak menjadikannya wanita yang tidak tahu tentang kata pacaran bahkan sebelum pacaran dengan Edzar tang baru berjalan beberapa bulan lalu itu, Lea sudah pernah memiliki beberapa kekasih, bahkan ada kekasih yang terpaut jauh 10 tahun darinya


kalau di bilang siapa yang harus di salahkan kenapa gadis semuda itu sudah memiliki begitu banyak pengalaman berpacaran mungkin itu tepat di tujukan pada Zia, ibu kandung Lea yang membebaskan putrinya dalam pergaulan sebab Zia tidak ingin pusing mengurusi Lea bahkan dalam pikiran Zia jika putrinya nanti hamil jika terlalu berlebihan dalam pacaran cukup ia nikahkan saja maka ia akan kehilangan tanggung jawab untuk mengurus putrinya yang ayahnya pergi entah kemana dan tidak mau bertanggung jawab padanya saat hamil Lea dulu


"besok aku akan ke kampus kak Edzar mah dan aku pastikan Kak Edzar akan kembali padaku dan tak sanggup menolak rayuanku" ucap Lea dengan senyum smirknya


***


"kami datang saat ayah masih di luar, kayanya ayah sibuk banget" balas Qiana


"iya, ayah pulang jam 2 pagi tadi. Ini kalau gak di suruh bunda untuk sarapan dulu baru tidur lagi paling ayah masih tidur" jelas ayah Mario


Qiana melirik ke arah adiknya "sudah minta maat" tanya Qiana dengan tatapan tajamnya


Edzar yang merasa di maksud oleh kakaknya itu pun hanya bisa menghela nafasa dengan kasar "iya kak" balas Edzar

__ADS_1


Edzar menoleh ke arah bunda Laras yang sedari tadi diam saja "bunda maafin Edzar ya" ucap Edzar menundukkan kepalanya


"loh" Ayah mario mengerutkan keningnya heran dengan sikap puteranya yang meminta maaf pda istrinya "apa yang ayah lewatkan" tanya ayah mario melirik ke arah ketiga anaknya meminta penjelasan


"sebaiknya makan dulu ya baru bicara lagi" pinta putera tak ingin ada perdebatan di meja makan yang itu bisa berakibat pada keadaan istrinya yang sedang hamil


"Qiana pengen cepet selesai kak" protes Qiana


"iya sweetheart tapi nanti ya setelah sarapan kasihan anak kita nanti" bantah putera mengusap lembut perut istrinya dan dengan terpaksa Qiana menurut saja apa yang di ucapkan putera padanya


Setelah acara makan yang di lakukan dengan diam, anggota keluarga kennedy berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan mereka "sekarang jelasin ke ayah apa yang terjadi, pasti ada masalah yang ayah gak tahu karena waktu ayah pulang, jelas ayah lihat bunda kalian gak tidur sama sekali dan terlihat begitu sedih tapi saat ayah tanya bunda bilang gak papa" tanya ayah mario


"itu karena Edzar sudah berani bentak bunda hanya karena bunda gak setuju dengan pacar edzar yah" sahut Qiana


Ayah mario memicingkan matanya ke arah putera sulungnya "siapa yang emngizinkan kamu membentak istri ayah padahal ayah saja tidak pernah membentaknya seumur hidup ayah" tanya Ayah mario dengan tatapan tajamnya


"edzar salah yah, tapi sekarang edzar sudah sadar kok" Edzar melirik ke arah bundanya "Edzar sudah tahu salah edzar bunda, dan Edzar juga sudah mutusin pacar Edzar dan edzar janji gak akan ada hubungan apapun dengannya" jelas Edzar


"emang kamu pacaran dengan siapa sampai berani bentak bunda, dulu kamu pacaran beberapa kali tapi gak pernah sampai marah sama bunda karena bunda kan gak pernah terlalu ikut campur tentang privasi kamu" tanya ayah mario


"pacaran sama anak wanita yang sudah bikin bunda kabur dari rumah dulu" ucap Qiana dengan tatapan tajamnya pada ayah Mario


walaupun kejadiannya sudah sangat lama tapi Qiana masih ingat dengan jelas kisah itu dan dulu ia sempat sangat membenci ayahnya dan tidak ingin bertemu ayahnya dalam kurun waktu lama sampai ayahnya bisa membuktikan bahwa Zia tidak mengandung adiknya


Ayah Mario menelan salivanya susah payah karena tentu Ayah MArio tahu betul siapa yang di maksud Qiana "Anak Zia maksud kamu" tanya ayah Mario dengan suara tercekat

__ADS_1


"masih ingat toh sama dia" ketus Qiana


__ADS_2