
setelah menemani bundanya sampai tertidur, Qiana berjalan ke arah luar kamar dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi belum ada tanda-tanda adiknya pulang ke rumah.
Qiana melangkah lebar ke arah kamarnya agar saat berteriak bundanya tidak akan mendengar sebab kamarnya memiliki peredam suara yang di pasang semenjak dirinya menikah "di mana kamu" tanya Qiana saat panggilannya sudah tersambung
Putera yang memang belum tidur sampai terkejut mendengar suara Qiana yang terdengar begitu marah, putera mengamati wajah istrinya yang terlihat sedang berbicara di telpon
tak kunjung mendapat balasan membuat Qiana makin kesal saja "di mana" ulang Qiana
"apaan sih kak, aku tuh sudah besar ya jadi jangan ngatur gitu sama Edzar, ini masih jam 9 kak" balas Edzar kesal akan pertanyaan kakaknya yang jelas terdengar marah dan pasti bundanya sudah cerita dengan kakaknya
"siapa yang telpon" terdengar suara seorang wanita di seberang sana membuat Qiana makin kesal saja di buatnya
"husst" kini terdengar suara Edzar yang meminta wanita di dekatnya untuk diam
'kamu pulang sekarang, atau kakak cabut semua fasilitas yang yang kamu pegang sekarang, ingat Edzar saat kakak marah ayah pun gak akan bisa nolong kamu" ucap Qiana dengan tegas dan langsung saja mengakhiri panggilannya secara sepihak saking kesalnya
Putera yang melihat istrinya marah segera menghampiri "kamu kenapa sweetheart" Putera mengusap punggung Qiana dan membawanya untuk duduk di tepi ranjang "jangan marah-marah sweetheart" putera mengusap perut Qiana "gak baik untuk anak kita" tukas Putera mengingatkan Qiana dengan lembut
Qiana menghela nafas kasar "Edzar bikin Qiana kesal kak" adu Qiana
Putera membawa Qiana ke dalam pelukannya "kesal kenapa " tanya Putera dengan hati-hati
"kakak ingat gak cerita adik tiri bunda yang dulu coba jebak ayah" tanya Qiana
__ADS_1
Putera kembali menelisik ingatan masa lalunya sebab itu ingatan cukup lama "saat usia Edzar 4 tahunan kayanya soalnya kamu baru masuk kelas 3 SD kalau gak salah, adik tiri bunda coba jebak ayah tapi untungnya ayah bisa jelasin dengan baik sama bunda kalau wanita itu coba jebak ayah dan agak ada apapun yang terjadi" Putera ingat cerita itu karena cerita itu cukup besar dan bunda Laras dulu sampai minggat ke rumah Mama Sheryl cukup lama sambil membawa Edzar dan Nazhief yang saat itu masih sangat kecil tertama Nazhief yang baru berusia beberapa bulan saja
"iya kak, dia sempat bilang kalau anak yang di kandung perempuan itu adalah anak ayah, adik aku" kesal Qiana kembali mengingat kelakuan adik tiri bundanya dulu padahal belum lama ia sembuh pasca shock setelah kasus penculikan yang pernah di alami dan di tambah kondisi saat ayahnya di tuduh menghamili adik tiri bundanya
"terus apa hubungannya sama Edzar, setahu kakak Edzar gak tahu cerita ini" tanya Putera
"Edzar pacaran sama anak itu dan tentu bunda menolaknya dengan tegas tapi Edzar malah berani bentak bunda, aku saja yang kakaknya gak pernah berani bentak bunda. Ayah saja aku marahin kalau berani kasar sama bunda apalagi nih bocah" balas Qiana
putera memeluk sang istri "tenang sweetheart, kita bicara baik-baik ya jangan pakai emosi" ucap Putera mengingatkan istrinya bahwa sedang hamil dan tidak baik saat marah-marah
***
Qiana duduk sambil melipat tangannya sebatas dada dengan tatapan tajam menghundus ke arah seorang pria dan yang di tatap hanya bisa diam menunduk "merasa sudah dewasa kamu" tanya Qiana dengan tatapan datarnya dan suara tegasnya membuat Edzar tak berani menatap sang kakak
"enggak gitu kak" jawab Edzar dengan suara bergetar menahan takut
bukan meniadakan bunda Laras tapi lebih ke Bunda Laras yang tidak suka terlalu mengurus banyak pengeluaran, semua pengeluaran masih di atur ayah Mario walaupun tentu bunda Laras di berikan kartu yang memiliki isi cukup banyak untuk membeli segala kebutuhan Bunda Laras, dan ayah Mario tak mempermasalahkan itu semua
"terus kenapa kamu berani bentak bunda hanya karena seorang wanita? sudah mau kamu nikahin dan keluar dari rumah ini" tanya Qiana
Edzar langsung mendongak dan menggelengkan kepalanya "gak gitu kak, Edzar cuma kesal saja karena bunda ngelarang aku pacaran sama Lea" balas Edzar
"kamu tahu gak alasan bunda larang kamu pacaran sama anak bau kencur itu" tanya Qiana
__ADS_1
"karena dia anak adik tiri bunda itu bukan alasan kak, kita kan gak ada hubungan darah dan tante Zia sudah jelasin itu ke aku jadi gak papa lah kita pacaran" balas Edzar
"oh jadi wanita ular itu yang sudah ngeracuni otak kamu" tunjuk Qiana dengan tatapan nyalangnya
"tenang Qiana "nasehat Putera agar istrinya tidak marah-marah dan akan mengganggu tumbuh kembang anak mereka
"husssst!" Qiana memberi aba putera untuk diam saja
dengan mode galak seperti itu tentu putera tidak berani menyela, bisa libur panjang untuk menjenguk anaknya nanti kalau membuat princessnya marah
"kok kakak nyebut tante Zia wanita ular sih kak, tante Zia itu baik loh. Bundanya aja yang jealos karena dulu saat kakek masih hidup kakek lebih sayang sama tante Zia" terang Edzar
"kalau kamu gak tahu kejadian dulu gak usah SOK TAHU!" tukas Qiana menujuk ke arah adiknya dengan tatapan seolah ingin menelan Edzar hidup-hidup "bagaimana bisa kamu lebih percaya orang lain dari pada ibu yang melahirkan kamu, merawatmu dari kecil sampai sekarang. Harusnya kamu lebih mengenali sifat orang bersamamu sejak kamu lahir ketimbang orang lain" tukas Qiana begitu kesal dengan jalan pikiran adiknya yang begitu munafik menurutnya
"tapi benar kan kalau bunda iri sama tante Zia" balas Edzar yang merasa benar
"harusnya kamu tahu cerita kalau bunda dulu jadi pengasuh kakak seblum menikah dengan ayah" tanya Qiana
Edzar mengangguk "iya Edzar ingat itu" balas Edzar
"dulu bunda bekerja di luar negeri sebelum jadi pengasuh kakak sudah 8 tahun lebih dan itu untuk membiayai hidup ibu tiri dan adik tiri yang tidak ada hubunagn darah dengannya sama sekali, dan harusnya kamu tahu kalau bunda baru kuliah saat kamu umur dua tahun itu artinya bunda gak mengenyam pendidikan dengan benar padahal tante Zia kuliah sampai lulus tapi dasarnya dia yang gak pintar makanya kerjaannya gitu-gitu aja" jelas Qiana
Edzar mulai menelaah ucapan kakaknya "dan tentu kamu tahu kalau kakek meninggal saat bunda masih duduk di bangku SMP jadi kenapa juga wanita muda seperti bunda menghidupi dua wanita sekaligus jika bunda merasa iri dengan dua wanita pemalas dan serakah itu" tanya Qiana ingin adiknya berpikir bagaimana bundanya bisa iri padahal ia bisa sangat mudah mengabaikan dua benalu dalam hidup Bunda Laras dengan mudah setelah ayah Bunda laras meninggal dulu apalagi bunda Laras masih sangat muda dulu
__ADS_1
"tapi kata tante zi.." suara Edzar langsung di potong Qiana
"kamu masih 19 tahun Edzar, masih sangat naif dan mudah untuk di manipulasi" tukas Qiana memberi ultimatum pada adiknya agar sadar kalau Edzar sudah di tipu mentah-mentah oleh wanita ular bernama Zia yang sudah pernah memporak-porandakan rumah tangga bundanya dulu dengan tidak tahu malunya padahal Zia bisa sekolah sampai tinggi berkat pengorbanan bunda Laras yang mengorbankan masa mudanya dulu