
***
Qiana bermain dengan bik laras dan Sheryl di ruang keluarga yang sudah di sulap om bachtiar menjadi arena bermain qiana “bik laras gak pengen pulang buat jenguk keluarga bik laras” Tanya Sheryl di sela mengawasi qiana bermain bersama pengasuh anaknya itu
“enggak lah non, di rumah juga Cuma ada ibu tiri sama adik saya saja” bik laras terlihat sekali enggan untuk pulang ke rumah untuk bertemu keluarganya
“bapaknya bik laras kemana” Tanya Sheryl
“bapak sudah meninggal 5 tahun lalu” balas bik laras
sheryl mengernyitkan dahinya saat melihat raut wajah bik laras yang terlihat biasa saja saat bercerita perihal kematian ayahnya “tapi bukannya bik laras bilang rutin kirim uang buat mereka ya” Tanya Sheryl penasaran
bik laras pernah menceritakan pada sheryl tentang ia yang tak bisa berbelanja keperluannya dengan sesuka hati karena harus mengirimi uang pada keluarganya di kampung
“saya emang rutin kirim uang ke kampung karena adik saya kan masih sekolah dan ibu tiri saya gak kerja” balas bik laras dengan jujur
“ya ampun, baik banget sih bik laras, masih muda tapi mau nanggung hidup ibu tiri bik laras” ucap Sheryl yang begitu salut pada bik larus yang masih muda tapi begitu bertanggung jawab pada keluarga sambungnya padahal ayahnya sudah meninggal lama
“29 tahun itu tidak muda nyonya, bahkan usia saya di atas nyonya” balas bik laras yang merasa usianya sudah tidak muda lagi
“29 masih muda lah bi, Cuma carak 1 tahun juga sama aku” kekeh Sheryl merasa jarak usianya tidak terlalu jauh dengan pengasuh anaknya
“ya sudah deh kalau menurut nyonya saya masih muda” balas bik laras tak ingin mendebat majikannya
“oh ya bik, sabtu nanti ikut qiana ke rumah ayahnya ya, saya agak ragu kalau biarin qiana hanya di urus ayahnya” ucap Sheryl menyampaikan kekhawatirannya pada bik laras jika membiarkan qiana hanya di urus mario, walaupun jelas di rumah mario banyak pembantu yang bisa membantu mario untuk mengurus qiana
__ADS_1
“iya nyonya “ balas bik laras
“bik saya mau masak makan malam dulu ya” ucap Sheryl setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 sore yang itu artinya, om bachtiar akan pulang karena biasanya om bactiar pulang sekitar jam 5 sore
Sheryl memasak dengan di bantu oleh pelayan yang ada di rumah om bachtiar sedangkan bik laras menemani qiana bermain. Sheryl menyiapkan banyak jenis masakan karena ia juga ingin membaginya dengan para pelayan di rumah om bachtiar yag berjumlah cukup banyak, melebihi pekerja di rumahnya
“bik laras" panggil sheryl pada pengasuh anaknya yang berada tak jauh dari dapur itu "ini sudah sore mandiin qiana ya, saya mau mandi dulu nanti biar pas papahnya qiana pulang kerja bisa langsung makan” ucap Sheryl
“iya nyonya” bik laras membawa qiana ke kamarnya untuk di mandikan
Sheryl menoleh ke arah para pelayan “tata di meja makan ya, saya mau membersihkan diri dulu baru nyambut papanya qiana”ucap Sheryl bergegas naik ke lantai atas untuk mandi dan bersiap menyambut kepulangan om bachtiar
Sheryl bercermin di balik cermin besar yang ada di kamar om bachtiar dan dirinya sambil melihat penampilannya “bagus” Sheryl merasa puas saat Sheryl memakai mini dres berwarna biru dan menggerai rambut panjangnya
“saatnya nyambut papa pulang” Sheryl berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah
“kalian gak dengar ya, buang makanan itu dan ganti dengan makanan yang sudah aku bawa” teriak seorang wanita berpakaian seksi dan minim itu
“maaf nona, kami gak berani buang makanan ini, ini hasil masakan nyonya Sheryl” balas salah satu pelayan yang terlihat sudah paruh baya bernama lastri
wanita itu menatap nyalang lastri “kamu lupa siapa saya, saya itu tantenya kaila jadi saya punya hak untuk atur semua barang di rumah ini dan apa saja yang di buang atau tinggal di sini “seru wanita yang tak lain dan tak bukan adalah tante kayla bernama Diandra pradana
“tapi maaf nona, kami tetap gak berani “ balas lastri yang jelas tak akan berani melawan sheryl karena om bachtiar sudah mengultimatum semua pekerja di rumah untuk mematuhi semua perintah sheryl tanpa terkecuali dan menegaskan bahwa sheryl adalah nyonya di rumah itu, jadi sheryl di bebaskan melakukan apapun yang di inginkan di rumah itu
“oh kalian berani” tante kayla berniat menarik piring yanga ada di meja agar bisa di buangnya
__ADS_1
“berani kamu buang makanan itu, aku akan buat kamu mneyesal seumur hidup” ancam Sheryl dengan nada tegas menghampiri diandra
diandra berkacak pinggang ke arah Sheryl “siapa kamu berani nantang saya, kamu gak tahu siapa saya” Tanya diandra dengan pongahnya
“saya tahu siapa kamu, kamu tante kayla yang paling di takuti oleh kayla” balas Sheryl datar
Diandra ingin melayangkan tamparan ke wajah Sheryl tapi dengan sigap di tahan oleh Sheryl “kalau mau bertamu di rumah seseorang, bersikaplah layaknya seorang tamu jangan sok jadi tuan rumah” Sheryl membuang tangan diandra dengan kasar
“akan aku laporin kamu sama mas bachtiar biar dia akan memberimu pelajaran” ancam diandra
“silahkan kalau kamu mau lapor” Sheryl mempersilahkan diandra untuk mengadu pada om bachtiar yang pasti akan membela sheryl ketimbang wanita tidak tahu diri di hadapannya
Diandra dengan yakinnya mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi om bachtiar tapi tak kunjung di angkat oleh pemilik nomor itu
sheryl terkekeh pelan melihat diandra yang di abaikan om bachtiar “kenapa, gak di angkat” Tanya Sheryl
Diandra menatap tak suka ke arah Sheryl tapi tangannya tetap sibuk menghubungi om bachtiar
Sheryl tersenyum kecut dan mengambil ponselnya untuk menghubngi om bachtiar “papa di mana” Tanya Sheryl saat panggilannya sudah tersambung
“dijalan mah, bentar lagi juga sampai. Kangen ya” balas om bachtiar
"iya pah, cepat pulang gih, di rumah ada tamu yang ngaku nyonya rumah papa, dan mau buang masakan mama loh" adu sheryl tepat di depan muka diandra
andai om bachtiar ada di hadapan sheryl, pastinya sheryl bisa melihat kemarahan di wajah kekasihnya itu "siapa yang berani membuang masakan kamu" tanya om bachtiar
__ADS_1
"liat saja sendiri, mama mau main sama qiana nanti kalau sudah selesai baru panggil ya dan kita makan malam bareng" ucap sheryl
"iya sayang" om bachtiar bachtiar mematikan panggilannya dan dengan cepat melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumahnya dan membuat perhitungan pada seseorang yang begitu berani bertingkah di rumahnya