Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Menghantar Kelulusan (season 2)


__ADS_3

acara sidang skripsi putra akhirnya tiba juga, kini putera sedang duduk menunggu gilirannya untuk sidang dengan di temani Qiana yang duduk di samping putera untuk memberi dukungan


"gugup enggak kak" tanya qiana menggenggam tangan putera dengan erat


"enggak kok sweetheart, kakak kan sudah biasa untuk presentasi di depan klien jadi gak terlalu tegang lagi" balas putera


"nanti abis sidang kita  jalan berdua ya kak, keluarga kita nanti aja kumpulnya" ajak qiana


putera mencubit pelan hidung qiana "boleh saja sweetheart" balas putera


"Hans putera Hendrawan, sebentar lagi giliran kamu" seorang panitia menghampiri putera agar putera bisa bersiap untuk melakukan presentasi tentang skripsinya dan melakukan tanya jawab nanti


"baik pak" putera dan qiana berjalan ke arah ruang sidang


qiana dengan cekatan membantu putera mempersiapkan materi apa saja untuk sidang skripsinya  "siap ya kak" qiana mengecup pipi putera untuk memberika semangat


"iya sweetheart" putera duduk di kursi untuk sidangnya dan qiana menuju ke kursi penonton untuk mengamati sidang skripsi kekasihnya


dan saat para penguji datang, mata putera membelalak lebar tatkala di antara penguji skripsinya ada Dion di sana "gimana bisa pria itu ada di sana, dia kan bukan dosen tetap di sini dan bukannya waktu untuk menggantikan dosen statiska itu sudah habis" batin putera  merasa kehadiran Dion di sana begitulah aneh


putera bersikap tenang dan biasa saat Dion duduk tepat di depannya "bagaimana saudara putera sudah siap" tanya Dion


"tentu saja sanga siap" balas putera dengan yakinnya


moderator melirik tajam ke arah Dion karena sudah mulai bicara padahal dia yang bertugas saja belum membukanya "maaf pak Dion, bisa saya bicara" tanya dosen yang bertugas sebagai moderator sekaligus skertaris yang akan mencatata jalannya sidang skripsi putera

__ADS_1


dion tersenyum canggung "silahkan bu" Dion merasa salah bicara karena rata-rata dosen penguji di sidang putera adalah dosen senior dan ini bukan ada di sekolahnya tapi di kampus yang namanya tidak terdaftar sama sekali sebagai pemegang saham jadi ia tidak bisa seenaknya mengambil keputusan atau tindakan


putera tersenyum miring, sedikit banyak ia tahu posisi Dion di sana setelah melihat raut wajah Dion yang tidak enak pada Dosen wanita bergelar S2 yang putera tahu adalah dosen yang sangat prefeksionis


Dosen wanita itu yang tak lain bernama ibu verlita mengambil mic nya dan menatap putera "sebelum kita ulai sidang kamu, alangkah lebih baiknya kamu tahu kenapa pak Dion ada di hadapan kamu berbarengan dengan dosen penguji lain, saya tahu kamu mahasiswa cerdas jadi pasti ada pertanyaan kenapa priaa itu" tunjuk ibu verlita pada Dion "bisa ada duduk di sana" jelas bu verlita


"beliau duduk di sana menggantikan dosen yang harus menguji kamu karena kebetulan jadwal beliau bentrokan dengan jadwal sidang di jurusan lain jadi dengan terpaksa pihak jurusan meminta pak Dion untuk ikut menguji di karenakan Pak Dion adalah salah satu pengusaha di ibukota yang jelas ini berkaitan dengan skripsi kamu" jelas ibu verlita


"baik bu" balas putera


acara sidang skripsi putera terdengar seperti benar-benar sidang betulan karena suasananya yang cukup mencekam dan dingin. Hal itu tentu karena Dion selalu menanyakan hal-hal luas tentang skripsi putera walaupun tak berhubungan langsung tapi tetap ada hubungannya jadi mau tak mau putera harus menanggapi pertanyaan Dion


tapi beruntung bagi putera bahwa dirinya sudah mulai terjun di perusahaan ayahnya dan di bimbing langsung oleh ayahnya yang jelas adalah pengusaha sukses sejak puluhan tahun dan membawa perusahaannya menjadi lima besar di Indosia jadi ilmu yang di berikan sang ayah sedikit banyak membantu putera dalam menjawab pertanyaan Dion yang begitu menjebak


Dion menatap tidak suka ke arah putera "kalau gitu..." belum sempat dion selesai berucap sudah di bantah ketua sidang


"cukup pak Dion" suara itu menginterupsi Dion yang masih belum puas memojokkan putera


tapi pria paruh baya bergelar profesor itu tentu tak mau membiarkan kelakuan Dion yang seperti anak-anak karena terus memojokkan putera padahal putera bisa menjawab setiap pertanyaan dengan baik, tentu selaku sesepuh kampus dia harus bersikap realistis dan profesional tak memihak teman sejawat yang sebenarnya tidak jelas itu


Pak Arjun selaku ketua sidang sekaligus profesor di kampus putera melirik putera dengan senyum mengembang "saya suka semua jawaban kamu yang menjelaskan bahwa kau mengerjakan sendiri skripsimu dan mengisyaratkan dirimu yang seorang pengusaha mumpuni, untuk beberapa orang kita semua dosen penguji mungkin membutuhkan waktu untuk berdiskusi tentang nilai kamu, tapi menurut saya teman dosen yang lain akan setuju dengan saya jika saya memberikan nilai A untuk skripsi kamu" ucap pak arjun menoleh ke arah dosen-dosen lain yang ikut mengangguk kecuali Dion


tapi jelas pak arjun tak memperdulikan respon Dion yang jelas tidak suka dengan keputusan yang di ambil pak arjun untuk memberikan nilai A pada Putera


pak arjun kembali menatap putera " dengan ini saya selaku ketua sidang menyatakan bahwa saudara Hans Putra Hendrawan lulus sidang dengan predikat A" pak arjun langsung mengetuk palu tiga kali sebagai tanda keputusan final putera yang di nyatakan lulus

__ADS_1


terdengar riuh tepuk tangan dari penonton sidang karena mungkin ini pertama kali buat mereka melihat sidang skripsi yang begitu menegangkan tapi putera bisa menguasainya dengan baik


Qiana langsung menghambur memeluk putera "selamat ya kak" Qiana langsung memberi selamat tak perduli kalau kelima dosen penguji itu belum berpindah tempat


"ekhem ekhem" bu verlita berdehem keras


"ibu tahu kalau pacar kamu yang lulus tapi tahu tempat qiana" seru bu verlita menggelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu mahasiswinya


"maaf bu, pak" qiana membungkuk ke arah para dosen penguji


"biarin saja, namanya anak muda" sahut pak arjun tersenyum ke arah qiana dan putera


jangan tanya bagaimana raut wajah Dion, tentu sudah tak kuasa menahan amarah tapi hanay bisa ia tahan karena memang dirinya bukan siapa-siapa qiana jadi Dion hanya bisa mengepalkan tangganya kuat saat melihat qiana memeluk putera dengan senyum mengembangnya


"harusnya senyum itu untukku bukan untuk pria bau kencur itu" batin Dion menatap tajam ke arah putera "aku pasti akan merebut apa yang harus jadi milikku" Dion berjalan pergi dari ruangan sidang tanpa suara


"aku tadi deg-degan banget tau kak, saat mas Dion terus mojokin kakak" ucap qiana menyampaikan kekhawatirannya perihal sidang yang putera jalani


putera tersenyum tipis ke arah Qiana "tapi kakak bisa kan, kakak sudah belajar banyak untuk skripsi ini jadi pasti kakak bisa ya walaupun tadi pembahasannya ada yang di luar konteks skripsi kakak tapi syukur kakak ngalamin sendir di perusahaan ayah jadi gak kaget banget sama pertanyaan pria gila itu" balas putera


"qiana benar-benar gak habis pikir deh sama mas Dion yang terus nyerang kakak" kesal qiana


putera mengusap pipi qiana "itu karena dia iri melihat kakak yang bisa dapatin wanita secantik dan sebaik kamu di hidup kakak" balas putera


muka qiana langsung memerah karena malu "kakak bisa aja deh" cicit qiana memukul manja dada sang kekasih

__ADS_1


__ADS_2