
Qiana berjalan ke arah rumahnya dan di sana sudah ada putera yang sedang berbincang dengan papa bachtiar di ruang keluarga dan ada mama sheryl juga di sana "kakak di sini" Qiana langsung memeluk putera dan juga kedua orang tuanya dan duduk di sebelah mama Sheryl
"kangen sama kamu jadi ke sini deh" balas putera dengan santainya padahal ada kedua orang tua Qiana di sana
"ya ampun putera gak ada malunya sekarang ya kamu" ucap mama sheryl menatap sinis putera yang tidak bisa menjaga image nya di depan orang tua kekasihnya
putera menoleh ke arah mama sheryl "ya gak papa dong, kan sebentar lagi Qiana jadi istri putera lagian kalian sudah kenal putera dari orok jadi gak perlu lah jaga image gitu" balas putera dengan kekahan
"bener kali mah, dia kan sudah kita kenal dari dulu toh dia juga akan menikah dengan Qiana sebentar lagi, kamu gak ingat dulu kita kaya apa waktu pacaran" sahut papa bachtiar menaik turunkan alisnya ke arah mama sheryl
"papah" rengek mama sheryl malu akan kelakuan suaminya di depan calon menantunya
"ekhem-ekhem" putera sedikit berdeh dan menatap serius ke arah kedua orang tua Qiana itu "sebenernya kali ini ada yang mau putera bicarain dan ini cukup penting" ucap putera
"ada apa kak" tanya Qiana nampak khawatir dengan raut wajah putera
"sepertinya kita harus mempercepat pernikahan kita Qiana " ucap Putera
"loh kok di cepetin, persiapannya masih 20% putera, tante gak mau ya acara pernikahan anak sulung tante gak berkesan" sahut mama sheryl
"kali ini saya mohon maaf sebesar-besarnya tan tapi pernikahan ini nampaknya harus di percepat soalnya ayah Bimo sedang sakit keras dan dia ingin melihat saya menikah" jelas putera
putera melirik Qiana "tidak masalah kan kalau kita melakukan pemberkatan dulu, nanti untuk resepsi kita akan rencanakan dengan lebih baik" tanya putera meminta pengertian Qiana kali ini sebab ayah kandung putera sedang sakit keras dan tuhan bisa memanggilnya kapanpun
"memang kapan rencana pemberkatannya" tanya Qiana
"mungkin dalam minggu Qiana, soalnya ayah kekeh gak mau berangkat berobat kalau kita belum nikah jadi kakak ambil keputusan untuk mempercepat perniakahan kita, gak masalah kan kalau kita pemberkatan dulu" tanya putera
"iya kak, Qiana mau kok" balas Qiana
"gak bisa gitu Qiana, masa pernikahan kamu dadakan gini" mama sheryl tentu tidak terima jika pernikahan anak sulungnya di adakan dengan tergesa-gesa sebab pernikahan Qiana sudah ada dalam bayangan mama Sheryl dan ingin ia rayakan sebesar mungkin
__ADS_1
"mah" tegur papa Bachtiar
"tapi mama sudah ada rencana sendiri untuk pernikahan Qiana" balas Mama Sheryl dengan tatapan tajam
"resepsinya kan masih bisa di adalan sesuai keinginan mama jadi jangan lebay deh lagian yang nikah kan aku dan aku gak masalah dengan itu mah" sahut Qiana tak ingin mamanya memperpanjang masalah yang bisa di buat sederhana tapi jika mamanya tetap ngeyel pasti akan melebar nantinya
"bener itu mah, kan cuma acara pemberkatannya aja yang di duluin soal resepsi nanti bisa nyusul mah" tambah papa Bachtiar
"maafin putera ya tante kalau terkesan memburu hal ini tapi sebagai seorang anak, putera hanya ingin kasih rasa tenang untuk ayah saja karena entah tuhan akan kasih perpanjangan umur untuknya sampai berapa lama lagi walaupun sebenarnya saya juga masih ingin ayah bisa lihat putera yang ngasih beliau cucu tapi kembali lagi pada Sang pemberi usia maunya kapan akan manggil ayah"putera menghela nafas panjang
"usia ayah sudah tidak muda lagi tante" ucap putera syarat dengan wajah penuh iba
ada rasa tak tega yang di rasakan mama sheryl melihat wajah putera, Mama sheryl tentu tahu betul ayah kandung puter itu sudah sakit-sakitan sejak lama apalagi semenjak ayahnya menikahi anak perempuan kakek Bimo menjadikan ia pria yang hanya tinggal seorang diri dan di urus oleh pekerja saja
"baiklah, kita adakan pemberkatan dalam minggu ini" putus Mama sheryl menerima permintaan putera dengan berbesar hati
toh dia sudah sangat yakin putera pasti akan bisa membahagiakan Qiana dan menjaga Qiana tak kalah dengan dulu malah mungkin akan jauh lebih menjaga Qiana dengan jauh lebih baik
"tapi karena pernikahan kalian di percepat terus rumah kalian pasti belum selesai di bangun terus kalian mau tinggal di mana" tanya Mama sheryl
"untuk sementara tinggal di rumah ayah dulu, toh dua minggu lagi ayah juga akan berangkat berobat ke Jerman" balas Putera
"terus nanti yang nemenin ayah kamu berobat siapa" tanya Mama sheryl
"nenek Jemina yang nemenin ayah" balas Putera
Mama sheryl mengangguk "ya sudah bilang juga sama ayahnya Qiana kalau pernikahannya di percepat" ucap mama sheryl
"sudah kok tante, dan om mario setuju saja kalau Qiana gak masalah" balas Putera
"ya sudah, bilang sama mama kamu dan seluruh keluarga kamu besok kita mulai sibuk buat acara pernikahan kalian dan untuk Qiana gak tante izinin kerja dulu sampai acara pernikahan kalian" tukas mama sheryl
__ADS_1
putera mengerutkan keningnya "emangnya harus sampai Qiana gak berangkat kerja " tanya putera
mama sheryl menatap tajam putera "gak cuma izin gak kerja tapi kamu juga di larang menemui Qiana sampai acara pernikahan" tegas mama sheryl
"kok gitu sih tante" protes putera
"untuk yang ini gak ada tawar-tawaran" mama sheryl langsung menarik Qiana masuk ke dalam kamarnya dan putera benar-benar tidak di izinkan untuk menemui Qiana bahkan ponsel Qiana di sita mama sheryl agar putera tidak bisa menghubungi Qiana sampai acara pernikahan mereka
Putera melirik papa bachtiar "harus begitu ya om" tanya putera dengan wajah prustasinya
"harus" papa bachtiar beranjak dari duduknya dan menepuk eplan bahu putera "sabar untuk seminggu saja" papa bachtiar memilih pergi agar tidak di rayu putera agar tetap bisa menemui Qiana
Dan benar saja selama acara pernikahan mereka Putera di larang keras menemui Qiana, bahkan untuk keamanan mama Sheryl sampai menyiapkan bodyguard di rumah agar Putera tidak bisa menerobos masuk ke dalam rumah dan mencuri waktu untuk melihat qiana sebelum acara pernikahan
"mah" rengek Putera pada mama kinan
"apa sayang" tanya mama kinan yang masih sibuk fiting baju untuk acara pemberkatan hari esok begitupun anggota keluarga yang lain
"gak bisa apa aku telpon Qiana sebentar saja" mohon putera dengan wajah memelas
"gak bisa" balas mama kinan dengan tegas
"ya ampun mah 4 hari gak lihat dan dengar suaranya itu berasa dunia berhenti berputar tau gak " ucap putera dengan kesal
mama kinan terkekeh di ikuti papa Hans yang meras putera begitu lucu "besok juga ketemu putera, malah mau kamu kurung dalam kamar juga boleh" kekeh papa Hans
"papah" mama kinan menatap tajam suaminya dan langsung membuat suaminya diam
"sabar Putera, ini cuma rentetan adat saja jangan sampai kamu bikin mertuamu itu marah besar dan gagalin pernikahan kalian karena kamunya yang ngeyel" ancam mama kinan yang langsung membuat putera diam
mana mungkin ia rela pernikahannya di batalkan kalau nekat ingin bertemu Qiana, tak apalah sabar sampai hari esok, seperti kata ayahnya dia akan mengurung Qiana dalam kamar saja usai pemberkatan biar saja keluarga besanya marah, karena nanti Qiana akan jadi istrinya
__ADS_1