
Saat sedang asyik melamun, Shena dikejutkan dengan kehadiran Ash di sampingnya.
"Sudah siap? Lima belas menit lagi kita harus berangkat ke hotel." Kata Ash.
Shena mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah terdengar khawatir? Ini kepergian ku yang kedua kali tanpanya." Shena teringat dengan Ayahnya yang selalu over protective dengannya.
"Ayah memintaku untuk membuatkan cucu yang banyak untuknya. Dia mengatakan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 49." Jawab Ash selalu Ash agar bisa menggoda istrinya.
Deg!
Shena baru teringat, Sebentar lagi Superhero nya akan berulang tahun. Shena yang mendengar permintaan Ayahnya menjadi serba salah.
Anak? Apa itu mungkin? Shena takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ia masih manja pada Ayahnya, Bagaimana caranya ia mengurus anaknya nanti?!
"Paman jangan asal bicara. Mana mungkin ayah berbicara seperti itu!" Shena menatap Ash dengan tatapan sinis.
Ash hanya menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh. Lagi pula kali ini Shena tidak akan bisa mengelak lagi dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Tadi malam saat Ash terjaga semalaman, Ia sudah memikirkan semuanya dengan matang. Jadi, tunggu saja bagaimana ia bisa membuat Shena ingin menyerahkan dirinya sendiri untuk Ash.
"Apa yang Paman pikirkan? Kenapa dari tadi senyum-senyum tidak jelas?" Shena menatap Ash dengan penuh selidik.
Ash yang ditanya begitu kembali mengangkat bahunya tidak peduli.
"Memang apa yang aku pikirkan? Kau saja yang terlalu banyak berpikir jelek mengenai ku."
Lima belas menit berlalu, Kini Shena dan Ash sudah dalam perjalanan menuju Hotel. Karena mereka menggunakan mobil pribadi milik Ash yang ada di Bali, Jadi Shena bisa duduk santai berselonjoran tanpa harus merasakan pegal di area bokongnya dan lagi pula mobil itu bisa ditutup dengan penghalang yang memisahkan area penumpang dengan supirnya.
Ash menggenggam tangan Shena saat wanitanya itu mulai merasakan rasa kantuk yang cukup berat.
"Kita masih lama ya, Paman? Aku mengantuk sekali. Kenapa hotelnya sangat jauh dari bandara? Kau kan bisa memesan di terdekat saja." Shena memejamkan matanya sambil terus memegang tangan Ash.
"Lumayan, Kau tidurlah terlebih dahulu. Nanti akan ku bangunkan setelah kita sampai." Ash mengecup singkat pipi yang sudah jauh ke alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Jangan ambil kesempatan!" Dalam tidurnya pun Shena masih sempat memarahi Ash. Ia mengusap pipinya yang terasa basah.
Wanita ini benar-benar ajaib, Dalam tidurpun masih sempat memarahi Ash.
...***...
Setelah satu jam perjalanan, Kini mereka sampai di Hotel bintang lima yang terbaik ada di Bali dan mengarah langsung ke pantai yang indah dan menakjubkan.
Shena menatap takjub pemandangan yang saat ini tengah ia nikmati. Pasalnya, selama ini ia belum pernah menempuh Bali walaupun sering menjajal destinasi luar negeri bersama Ayahnya.
"Ini indah sekali.." Shena menatap hamparan lautan yang dipenuhi beberapa wisatawan.
"Bali memang kota wisata, Jadi sudah tidak heran dengan tempat-tempat seperti ini. Nama kotanya saja disebut Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. Banyak turis juga dari luar negeri yang lebih memilih Bali untuk datang ke Indonesia sebagai destinasi mereka, bukan ibu kota seperti Thailand yang pusat wisatanya di Bangkok." Jawab Ash menimpali.
Shena teringat akan masa sekolahnya yang pernah merencanakan libur akhir tahun ke Bali.
"Pantas saja saat sekolah teman-teman ku bersikeras ingin mengajak ku ke Bali. Apa ada sesuatu yang istimewa di Bali?"
Ash menganggukkan kepalanya.
Ash melihat pergelangan tangannya dan meminta supir segera mengantarnya masuk ke hotel yang berbeda juga. Bukan sebuah gedung tinggi, melainkan semacam Villa.
Shena menghela napasnya berat mengingat dirinya yang tidak bisa menikmati waktu seperti remaja-remaja lain pada umumnya. Walaupun mereka pergi berlibur, Ia tidak akan sebebas orang-orang. Ia akan tetap dipantau selama 24 jam dalam kebebasannya dahulu.
Namun jika dipikir-pikir, Shena adalah orang yang sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Terutama Ayahnya yang ketika ditinggal sang istri, Ia tidak terlibat hubungan dengan wanita manapun lagi yang membuat Shena memiliki seorang ibu tiri. Tuan Theo lebih fokus membesarkan perusahaan dan putri kesayangannya!
Tidak seperti sekarang. Tapi ia harus bersyukur mengingat di luar sana pasti banyak seorang anak yang tengah menangis menahan rasa lapar dan haus. Anak itu menadahkan tangannya meminta belas kasih dari siapapun.
Shena memang sangat beruntung, Selain mendapatkan kehidupan yang baik, Ayahnya juga menyayangi dia dengan sepenuh hati.
"Tiba-tiba aku teringat Ayah. Terutama Ibu yang sudah tenang di alam sana."
Shena menangis mengingat Ibunya. Sebagai anak yang terbiasa hidup di bawah ketiak orang tua pasti akan merasakan hal sama seperti Shena. Entahlah apa, tiba-tiba saja Shena teringat dengan ibunya...
__ADS_1
Ash yang menyadari itu salah paham dengan Shena yang menangis.
"Apa sesuatu mengganggu pikiran mu? Masih takut dengan pria di masa lalu mu itu?"
Tentu saja Shena masih takut. Tapi saat ini bukan itu yang Shena pikirkan, Suaminya ini terkadang suka sekali menebak sesuatu yang belum tentu benar.
"Bukan! Memang apa yang harus aku takutkan jika Paman saja memberi ku penjagaan begitu ketat selama ini?" Shena mengeluarkan ponselnya dari saku dan menunjukkannya kepada Ash.
"Bisa tidak kita kesini? Aku lihat di sosial media, Jika sudah di Bali perlu mengunjungi tempat ini.."
Ash memperhatikan tempat yang ingin Shena kunjungi, dan ternyata semua tempat-tempat itu semuanya adalah tempat yang biasa ia kunjungi ketika sedang di Bali. Lain beda hal nya, Kali ini ia membawa seorang istri ke tanah Bali.
Yah Walaupun ia orang sibuk, Tapi setidaknya selama perjalanan bisnis, Ash selalu menikmati sedikit waktunya untuk refreshing di kota yang ia kunjungi.
"Itu Mudah, Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku terlebih dahulu."
"Benarkah?" Shena begitu bahagia.
Ash mengangguk dan berdeham.
"Emm, Tentu saja. Tentu saja aku akan membawa mu kemanapun yang kau ingin, Karena setelahnya kau akan membayar ku mahal." Ucap Ash tersenyum penuh arti.
Ash tidak akan melakukannya dengan Percuma-cuma? Lagi pula ini moment yang sangat tepat bagi Ash.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan Shena, Ash sudah mempersiapkan perjalanan mereka ke luar negeri seperti rencananya sejak awal. Ash juga sudah mempersiapkannya dari jauh jauh hari.
"Setelah sampai di hotel dan beristirahat sebentar di kamar, Kita akan langsung bertemu dengan rekan bisnis ku."
Shena sebenarnya tidak begitu ingin, Apalagi ia masih enggan untuk mengumumkan pernikahannya.
"Tapi aku belum siap, Paman!" Tolak Shena benar-benar belum siap.
"Sampai kapan? Jika kau tidak siap sebaiknya kau pulang saja ke Jakarta." Ash menjawabnya dengan sangat cuek.
__ADS_1
"Pamann..." Shena memukul lengan Ash dengan kesal.