
Beberapa bulan sudah menyandang status sebagai nyonya Hendrawan tak mengurungkan niatnya yang tetap ingin bekerja walaupun sebenarnya ia bingung sendiri apa motif sebenarnya saat ia tetap ingin bekerja walaupun segala pekerjaannya ia lakukan dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh
"pak, ini jadwal bapak hari ini" Qiana menyerahkan Ipad berisi jadwal rutin Putera untuk putera lihat
"iya" putera mengambil Ipad itu dan mengecek jadwalnya hari ini
"loh, jam 2 nanti ada meeting" Putera memicingkan matanya ke arah sekertaris pribadi sekaligus istri tercintanya itu
"nanti qiana ke rumah mama sendiri gak papa kok kak, orang itu katanya mau berangkat ke Jerman hari ini dan gak bisa rubah jadwal hari ini" jelas Qiana
Putera langsung saja memberengut sebal "ih kakak gak mau kalau pisah lama dari kamu" rengek putera yang begitu manja pada Qiana
"ya ampun mas, cuma sebentar doang ke rumah mamanya, abis anter titipan mama abis itu langsung nyusul kamu kok" Qiana begitu heran dengan sikap manja suaminya yang makin hari makin parah saja padahal mereka kan hampir 24 jam bersama, di rumah dan di kantor tapi ini masih merengek saja saat di tinggal sendiri sebentar
"gak mau pergi sendiri" rajuk Putera mencebikkan bibirnya
Qiana melirik arloji di tangan cantiknya "kalau enggak Qiana ke rumah mama sekarang saja, jadi masih sempat nemenin mas keluar buat meeting nanti" usul Qiana
senyum merekah itu langsung terbit begitu saja "ya sudah, tapi langsung balik ke sini ya" balas putera tak ingin pergi tanpa di dampingi istrinya
rasanya entah kenapa putera kini tak mau jauh dari istri tercintanya itu walaupun sedetik saja
Qiana bergegas ke rumah mamanya sesuai permintaan sangat mama yang menginginkan qiana menemui mama sheryl untuk mengantarkan pesanan sang mama saat qiana menemani qiana ke luar negeri bersama putera
"mama" panggil qiana mencari keberadaan mama sheryl di penjuru ruangan
"anak mama" mama sheryl langsung saja memeluk putri sulungnya itu
qiana menyodorkan paperbag berisi pesanan mama sheryl "nih mah pesanannya
mama sheryl melirik isi paperbag dan tersenyum simpul " makasih ya sayang" ungkap mama sheryl
"ya sudah mah, aku balik kantor dulu" pamit qiana
__ADS_1
mama sheryl mengerucutkan bibirnya "semenjak jadi istri putra kamu gak sayang mama lagi ya" mama sheryl melipat tangannya sebatas dada "suami kamu memonopoli kamu" ketus mama sheryl
qiana memutar bola matanya malas "jangan kaya kak putera deh mah dan bikin aku pusing" pinta Qiana
"ya itu" tunjuk mama sheryl "barang sebentar aja ke sini kamu pasti cepat mau pulang, suami kamu itu punya waktu kamu 24 jam loh, masa kasih waktu mama sebentar aja gak boleh" balas mama sheryl
qiana menghela nafas kasar "kak putera kan gak hanya atasanku mah, dia juga suamiku, saat di tempat kerja aku di butuhkan untuk kerjaannya, sedangkan di rumah dia butuh perhatian qiana sebagai istrinya dan hari ini qiana harus menemani kakak ketemu kliennya " jelas Qiana
"iya sih yang punya suami" balas mama sheryl dengan mencebikkan bibirnya
qiana langsung menghambur memeluk mamanya "jangan ngambek deh mah, mama aja kadang lebih mentingin suami mama ketimbang qiana maupun vansh" qiana mengurai pelukannya dan menatap wajah mama sheryl lekat "karena apa? karena pasangan kita lah yang menemani kita seumur hidup bukan anak kita" jelas qiana
"iya deh" mama sheryl hanya bisa pasrah saat waktu anaknya perempuannya lebih banyak di habiskan bersama sang suami
"ya sudah qiana pamit ya" qiana mengecup pipi sang mama
qiana langsung melakukan mobilnya menuju kantor agar bisa menemani putera untuk meeting, tapi sialnya jalanan begitu macet kala itu, jadi terpaksa qiana meminta putera untuk berangkat sendiri ke lokasi meeting dan qiana akan menyusul ke sana, agar tidak. memakan waktu sebab tempat meeting mereka berada di jalanan arah qiana ke kantor
"brak" qiana menutup pintu dan melangkahkan kakinya menuju restoran ternama
"ceklek" qiana membuka pintu ruangan dimana suaminya berada
"maaf Pak tadi saya kena macet" qiana langsung saja melangkah menuju putera dan duduk di sebelahnya
putera tersenyum manis ke arah qiana dan kembali melanjutkan pembahasan bisnisnya "baik kita lanjutkan pembahasannya" putera akan melanjutkan rencana bisnis perusahaanya dengan sang klien
"apa seperti ini kelakuan bawahan kamu putera" suara serang wanita menatap qiana dengan tatapan tajamnya
qiana mendongak dan mengerutkan keningnya melihat ke arah wanita di hadapannya yang ia ketahui sebagai klien suaminya "ibu gak suka dengan saya" tanya qiana menunjuk dirinya sendiri
"iya lah, aku gak suka ya sama orang yang seenaknya datang dan pergi saat bekerja" balas wanita itu dengan tatapan tajamnya
qiana tersenyum ke arah wanita bernama ziva itu "maaf ibu ziva saya keluar atas izin pak putera dan saya juga sudah menyampaikan pada putera kalau saya terkena macet dan bukankan pak putera datang tepat waktu" tanya qiana
__ADS_1
"putera memang tidak terlambat" ziva menoleh ke arah putera "lebih baik kamu pecat wanita gak profesional ini deh" ucap ziva dengan ketus
putera yang awalnya mencoba menahan diri sekuat tenaga sebab ada istrinya yang selalu mengingatkan untuk menahan emosinya kini pun sudah terpancing "untuk itu adalah urusan internal perusahaan ku jadi jangan terlalu ikut campur" sahut putera dengan nada tidak suka
ziva memberengut kesal "sebagai salah satu teman kamu aku tuh cuma ngingetin kamu ya putera, jangan sampai kamu tergoda oleh wanita gak bener dengan kedok sekertaris pribadi" ucap ziva dengan nada penuntutan
ziva adalah salah satu teman putera saat berkuliah S2 di Amerika, ziva baru pulang satu bulan lalu, jadi ia melewatkan acara pernikahan putera sehingga tak tahu siapa istri putera
putera akan berucap tapi qiana menahan putera dengan menggenggam tangan putera dan ziva melihat itu membuat ziva menatap tajam ke arah qiana "kalau saya menggoda pak putera apa itu merugikan anda" tanya qiana
"gak pantas ya seorang CEO besar bersanding sama sekertaris yang gak punya level seperti kamu" tunjuk ziva dengan tatapan nyalangnya
Qiana terkekeh dan menatap remeh ke arah ziva "tapi sayang pak putera sudah tergoda sama saya tuh bu, sampai tergila-gila malah" balas qiana dengan entengnya
"kamu!" tunjuk Ziva begitu kesalnya
qiana langsung mendorong telunjuk ziva menjauh "jangan kurang ajar anda! " ucap qiana dengan suara lantangnya
ziva menoleh ke arah putera "kamu pecat dia atau kerjasama kita batal" ucap ziva dengan suara lantangnya
"oke" putera menutup laptopnya dan beranjak duduknya dan menarik tangan qiana untuk menjauh
"kamu milih dia? " tunjuk ziva pada qiana dengan tatapan tak percaya pada putera yang lebih memilih qiana padahal kontrak mereka bernilai miliaran
"iya lah aku milih dia, orang aku kerja capek-capek buat dia dan untuk nyenengin dia, jadi kalau suruh milih jelas aku milih dia dong" putera melingkarkan tangannya ke pinggang qiana
qiana tersenyum smirk melihat raut ziva yang tak percaya "apa anda mencoba mengharapkan pria dengan status suami orang lain" tanya qiana
ziva mengerutkan keningnya tatkala qiana bertanya "suami orang" cicit ziva
qiana mengangkat tangan putra dan juga tangannya yang terdapat cincin pernikahan mereka "katanya sahabat tapi gak tahu sahabatnya sudah menikah" qiana berdecak ke arah ziva
"dia suamiku jadi harusnya yang mengingatkan untuk tidak menggoda adalah aku, Jangan coba goda suamiku" tukas qiana berjalan menjauh dari sana bersama putera tentunya
__ADS_1
"maaf untuk beberapa ini tidak update, sebab laptop saya sempat rusak jadi saya harus kembali mengulang menulis cerita yang sudah saya sempat buat dan mengetiknya di ponsel jadi terhalang waktu dan pikiran tentunya, tapi semoga tetap bisa rutin update walau hanya dengan ponsel saja nulisnya"