
Tiupan angin semilir mengenai wajah seorang wanita cantik, menikmati hembusan angin itu sang wanita memejamkan mata meresapi setiap terpaan angin di wajah cantiknya
"jangan terbiasa membiarkan angin terlalu lama menyentuhmu sayang" seorang pria menghampiri wanita tersebut dan melingkarkan tangannya di pinggang sang wanita
"hanya nyari angin mas" wanita tersebut mengurai tangan pria itu dan mengajak pria tersebut masuk ke dalam kamarnya kembali
"nyari angin boleh tapi tidak terlalu lama karena itu tidak baik untuk kondisi tubuh kamu" ucap pria itu mengusap perut wanita itu dengan sayang
"iya mas Dion, Cindy ngerti kok" Wanita tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Cindy mengiyakan ucapan Dion suaminya
"mas yakin mau tinggal di sini selama Cindy hamil" tanya Cindy kembali memastikan hal yang sudah berkali-kali di tanyakan dan jawabannya masih tetaplah sama
"yakin dong sayang" Dion mengusap pipi Cindy dengan lembut "Mas gak mau kamu sendirian di rumah saat bekerja kalau di sini kamu kan ada mami yang jagain jadi mas bisa kerja dengan tenang" jelas Dion
"iya deh mas" Cindy pasrah saja dengan setiap ucapan suaminya yang menginginkan ia untuk istirahat di rumah saja
sedangkan di tempat yang lain, ada pria yang terus mencengkeram alat kemudi sebuah mobil "kenapa rasanya masih sesakit ini" pria tersebut menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan dan terisak lirih
pria tersebut mendongak ke atas dan terus memandangi jendela kamar seseorang yang sedikit terbuka jendelanya "aku sangat merindukanmu sayang, ingin rasanya aku berlari memelukmu sekarang tapi aku gak bisa" gumam pria tersebut menahan sesak di dadanya yang teramat sakit
"Maafkan aku yang terlalu mencintaimu" gumam pria tersebut menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan menjauh dari sana
Cindy membaringkan tubuhnya menikmati waktu istirahat siangnya sedangkan Dion terus mengusap perut Cindy sampai terlihat wajah tenang Cindy yang benar saja sudah terlelap
"Cup" Dion mengecup kening Cindy dan berjalan keluar kamar mereka
Dion berjalan keluar mencari keberadaan mertuanya "Mami"panggil Dion
yang di panggil pun menoleh sembari tersenyum simpul "iya Dion, ada apa" tanya mami mami sarah
__ADS_1
"saya mau berangkat ke kantor tapi tadi Cindy baru saja tidur siang, minta tolong nanti saat dia bangun dan cari Dion bilang kalau Dion ke kantor ya mih" balas Dion
"ya sudah berangkat saja, nanti biar mami yang kabarin kalau kamu keluar kerja " balas mami sarah
"makasih mih" Dion bergegas berjalan ke arah luar agar segera ke kantornya sebab ia terus di telpon oleh asistennya semenjak tadi
"ceklek" baru saja Dion membuka pintu langkahnya tiba-tiba saja terhenti
"pak Dion" sapa empat orang yang sangat Dion kenali
Dion mendongak dan tersenyum tipis ke arah orang yang sudah ia kenal semenjak lama sekaligus pernah menjadi muridnya selama beberapa tahun itu "kalian mau jenguk Cindy ya" tanya Dion dengan senyuman tipisnya
"iya pak, kebetulan kami baru dengar kalau Cindy sudah di izinkan pulang ke rumah jadi kami sempetin jenguk sahabat kami" balas Tiara
"kalau kalian mau jenguk sebenernya gak masalah, tapi bisa minta tolong jangan bangunin Cindy, soalnya dia bangun terlalu pagi karena mual dan dia baru saja tidur siang" pinta Dion
Dion melambaikan dua tangannya, menolak pernyataan Roland dengan tegas "bukannya mau meminta kalian pulang tapi kalau kalian gak keberatan tolong jangan bangunkan tidur Cindy, kalian bisa menunggu dia bangun sambil mengobrol dengan mami sarah, toh biasanya Cindy tidur siang tidak pernah lama" jelas Dion
Qiana yang berdiri tepat di sebelah suaminya menatap lurus ke arah Dion "bapak mau pergi" Qiana melirik pakaian Dion yang terlihat formal dan jelas akan keluar rumah
Dion tersenyum tipis ke arah Qiana "iya saya harus ke kantor" Dion melirik ke arah dua muridnya yang lain "masuk saja, saya harus segera ke kantor" pamit Dion ingin segera pergi
Putera memicingkan matanya ke arah punggung Dion yang makin menjauh, entah kenapa ia masih sulit percaya pria itu sudah rela melepas Qiana "yuk masuk kak" Qiana mengguncang lengan putera menyadarkan Putera dari lamunannya
putera menoleh ke arah Qiana "ah iya" putera mengikuti langkah Roland dan Tiara yang sudah masuk terlebih dahulu
Tiara dan Qiana menunggu sampai Cindy bangun tidur sedangkan putera dan Roland memilih balik ke kantor saja sebab tadi sempat meninggalkan pekerjaan mereka saat mengantar istri mereka
Qiana dan Tiara duduk di ruang keluarga dengan di temani camilan yang sudah di sediakan mami sarah untuk mereka, sedangkan mami sarah melanjutkan memasak untuk makan malam sebab mami sarah ingin memasak lebih awal takut Cindy akan merasa lapar saat terbangun nanti
__ADS_1
Tiara menyenggol lengan Qiana "kamu yakin gak sih kalau pak Dion bisa melupakan kamu secepat itu?" tanya Tiara
Qiana mengedikkan bahunya "entahlah, tapi semoga saja itu benar" Qiana menatap lekat sahabatnya itu "aku gak mau sampai ia harus kecewa untuk kedua kalinya jika sampai suaminya tidak benar-benar mencintainya apalagi sudah ada anak di antara mereka " balas Qiana
"semoga saja ya, apalagi sekarang semua orang sudah tahu kalau Cindy itu istri pak Dion dan bukannya kekasih kak Alvian" sahut Tiara
"duh kalian kenapa gak bangunin aku" suaraTiara melengking tinggi saat menghampiri Qiana dan Tiara yang kata mami sarah sudah menunggu hampir dua jam Cindy terbangun
Qiana dan Tiara tersenyum ke arah Cindy yang terlihat sekali sedang merasa tak enak hati "di bilangin suami kamu jangan ganggu tidur siang kamu" balas Tiara masih menampilkan senyumnya
Cindy mengerucutkan bibirnya "nanti aku marahin mas Dion deh karena buat kalian nunggu aku yang sedang tidur" balas Cindy
Qiana meletakan tangannya di atas punggung tangan Cindy "jangan lah Cin, lagian apa yang di bilangin pak Dion ada benernya, kamu harus banyak istirahat apalagi kondisi kehamilan kamu yang kurang baik dan membutuhkan banyak istiraha" cegah Qiana agar Cindy tidak menyalahkan Dion atas permintaan Dion yang menginginkan Cindy untuk terus istirahat
"tapi kalian kan jadi kasihan harus nunggu aku bangun tidur kelamaan" bala Cindy
"tidak masalah "Tiara melirik ke arah meja yang sudah banyak sekali camilan di sana "mami kamu sudah kasih kita makanan banyak buat nungguin kamu kok" Tiara tidak ingin Cindy terus merasa bersalah
"aku senang kamu sudah terlihat lebih baik" ungkap Qiana
Cindy tersenyum simpul "iya sekarang aku jauh lebih baik" balas Cindy dengan raut wajah menampilkan senyum palsu yang di paksakan
sebagai seorang sahabat Qiana dan Tiara tentu merasakan ada sesuatu yang menjadai ganjalan di hati Cindy "kamu ada masalah?" tanya Qiana dan Tiara yang saling melempar pandangan saat setelah berucap
Cindy tersenyum simpul "kalian memang sahabat baikku" Cindy mengajak Tiara dan Qiana untuk masuk ke dalam kamar untuk berbincang di sana sebab tidak ingin mami sarah mendengar apa yang ingin di sampaikan Cindy pada Tiara dan Qiana
lama mencurahkan isi hatinya membuat Qiana dan Tiara hanya diam mematung tanpa berkedip saat mendengar cerita Cindy yang membuat mereka benar-benar tercengang "itu anak kamu sama kak Alvian" tunjuk Tiara pada perut Cindy
cindy menganggukan kepalanya "iya" mata Cindy sudah berkaca-kaca dan akan bersiap akan cairan bening yang bisa jatuh begitu saja dari pelupuk matanya "dan aku sangat merindukannya" tambah Cindy yang ingin meluapkan rasa yang ia tahan beberapa minggu ini seorang diri
__ADS_1