
Sudah tiga hari setelah kejadian teror malam hari itu, berlalu seperti biasanya tanpa masalah. Semua yang pernah terlibat dalam peristiwa itu, mulai melupakannya. Shena yang dikurung dalam Mansion, Ia merasa terkekang dan sangat bosan mengapa Ash melarangnya untuk tidak keluar selama tiga hari itu. Ash memastikan kondisi berjalan dengan aman sebelum mereka bisa beraktivitas seperti biasa. Ash tidak sedetik pun meninggalkan istrinya, Ia memilih mengerjakan pekerjaannya di Mansion.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Ash. Ia sedang bersama dengan Shena di ruang kerjanya.
Ash bertanya saat ia melihat Shena mencuri-curi pandangan padanya.
"Tidak ada!" Shena menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kau menatap ku dari tadi?"
"Aku hanya ingin menatap mu, Apa tidak boleh? Selama tiga hari ini, tidak ada yang bisa kulakukan di luar, selain hanya menatapmu bosan." Kata Shena dengan mengerucutkan bibirnya.
Ash tersenyum mendengarkan pertanyaan istrinya.
"Tentu saja boleh, Bahkan kau bisa menyentuh ku jika kau ingin!" Seringai Ash.
"Maksud mu?"
Ash berdecak kesal saat istri kecilnya itu tampak seperti anak kucing yang terlihat polos.
"Lupakan! Tapi ingat, setelah keadaan semua membaik kau harus membayar semua waktu ku yang terbuang hanya untuk dirimu!"
"Jika kau tidak ingin, Mengapa kau harus melakukannya? Aku saja bahkan tidak mengerti kenapa kau melakukan hal seperti ini dengan mengisolasi kami." Desis Shena kesal.
"Aku tidak ingin terlihat buruk di mata mertua ku, dan Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kau harus membayarnya!"
Seru Ash menatap intens wajah istrinya.
"Aku masih bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi." Kata Shena yang melupakan peristiwa teror di malam hari itu.
Dengan perasaan kesal Shena menatap jengah pada Ash, Shena tidak menyangka jika suaminya hanya berpura-pura peduli padanya hanya untuk terlihat baik di depan ayahnya bahwa ia telah menjaga putrinya dengan baik.
"Baiklah aku akan membayarnya. Katakan berapa yang harus aku bayar?" Tanya Shena tetap membuang pandangannya dari sang suami.
"Aku tidak membutuhkan uangmu! Aku sudah memiliki banyak uang!" Jawab Ash semakin mendekat pada Shena.
Shena mencoba menghindari tatapan suaminya yang hanya beberapa senti, Ia menjadi salah tingkah saat tatapan suaminya tidak berpaling darinya.
"Lalu, Aku harus membayarnya dengan apa?" Tanya Shena polos.
Ash mengeluarkan seringai jahatnya, Ia senang jika melihat istrinya saat ini. la mendekati tubuh Shena, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Shena dan semakin mendekat. Ditatapnya bibir tipis dan mungil istrinya, rasanya ingin sekali ia ******* bibir istrinya.
"Seharusnya sepanjang hari di Mansion selama tiga hari adalah kesempatan yang banyak terbuang. Kita sama sekali tidak melakukan apapun. Aku ingin kau melayani dan memuaskan ku di atas ranjang!" Bisik Ash dengan sensual. Pada saat Shena ingin membuka mulutnya untuk menggerutu, dengan cepat Ash mencium bibir sang istri.
Cup!
__ADS_1
Shena terdiam dengan sentuhan bibir Ash. Ini adalah ciuman entah ke berapa kalinya setelah di Paris dan pergulatan mendadak mereka. Ash menarik wajahnya dan melihat wajah istrinya yang bersemu merah.
"Apa kau menginginkan yang lebih?" Tanya Ash menggoda istrinya.
Dengan cepat Shena mendorong tubuh Ash dengan sekuat tenaganya.
"Dasar Paman beruang kutub mesum!" Maki Shena dengan umpatan panggilan sayangnya itu dan wajahnya pun memerah.
Shena tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Ash yang dingin itu rupanya sangat mesum sejak mereka pertama mengenal. Yah walaupun sebenarnya tubuh Shena juga merespon setiap apa yang Ash lakukan pada tubuhnya.
"Baiklah jika kau diam, Itu tandanya kau memang menginginkan yang lebih!" Ash mendekat untuk menggoda istrinya, Ia senang sekali melakukan hal seperti itu.
"Paman jangan macam macam. Ini masih siang." Shena menahan tubuh Ash agar tidak menempel pada tubuhnya, namun sayang itu semua gagal.
"Jadi, Jika malam nanti, itu artinya kita bisa melakukannya?" Goda Ash lagi. Shena benar-benar salah ucap.
Ash yang awalnya ingin menjahili istrinya jadi terbawa suasana. la menatap benda kenyal tersebut, Ia terus mendekat dan mendekat. 3 senti, 2 senti dan...
Drtttt... derttt...
Suara ponsel Ash berdering.
"Sial!" Decak Ash kesal saat aktivitasnya terganggu. Dilihatnya nama si penelepon ternyata Asisten nya.
"Jika ini tidak penting, Maka aku akan membunuh mu, Kenan." Geram Ash.
"Ada apa?" Bentak Ash kala mengangkat teleponnya.
"Maaf Tuan, Apa saya mengganggu?" Tanya Kenan tanpa berdosa.
"Kau sangat menggangu ku, Sekarang katakan ada apa kau menelepon ku?"
"Maaf sekali Tuan, Tapi ini sangat penting! Aku harus menyampaikannya."
"Cepatlah katakan! Jika ini tidak penting maka aku akan membunuh mu, Kenan." Geram Ash membuat Kenan menghela napasnya. la tahu saat ini Tuannya sedang dimabuk asmara.
"Tuan, Nona Soya..!" Belum sempat Kenan melanjutkan ucapnya Ash langsung menyanggahnya.
"Usir dan singkirkan wanita ****** itu, Aku tidak ingin melihatnya menginjakkan kakinya di perusahaan ku." Tegas Ash dingin.
"Maaf Tuan, Beliau datang bersama Ayahnya yang membuat pernyataan bahwa Nona itu sedang mengandung anak Tuan. Saya sudah berusaha untuk mengusirnya, Namun Nona itu mengancam akan menyebarkan berita palsu ini jika ia sedang mengandung anak Tuan saat ini. Tentu saja nama baik Tuan akan tercemar meskipun ini berita palsu. sepertinya mereka berusaha menyerang anda, Tuan."
Ash menggertakkan giginya menanan emosi yang ia rasa sudah mencapai ubun-ubun nya.
"Wanita ular itu ingin bermain-main dengan ku! Baiklah akan ku turuti. Aku akan ke perusahan saat ini juga." Ash memutuskan sambungannya sepihak. la sangat geram dengan wanita itu saat ini, Siapa lagi jika bukan Soya yang membuat onar.
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain, Kenan mengumpat kesal saat sambungan terputus sepihak, ingin rasanya ia mencekik leher wanita ular yang membuatnya terganggu saat ini.
"Kau bermain dengan orang yang salah Nona! Ini mengganggu pekerjaan ku saja." Kenan mengusap wajah kasar. Membayangkan apa yang akan dilakukan Tuannya saja sudah membuat tubuh panas dingin, Apalagi jika itu terjadi setelah Ash datang.
"Aku harap kau masih bisa melihat matahari esok hari Nona." Gumam Kenan menggelengkan kepalanya.
"Paman ingin kemana?" Tanya Shena saat dilihatnya sang suami sedang bersiap-siap dengan pakaian yang rapi.
"Aku ada keperluan, Kau istirahatlah! Sebentar lagi Dayn, Arthur dan juga Ayah akan menemani mu di sini."
"Ada apa? Aku dengar ada yang hamil? Siapa yang hamil?" Tanya Shena saat Ash selesai menelepon.
Ash mengusap kepala istrinya dan mencium kening sang istri.
"Sayang, Aku akan segera kembali. Kau harus tetap berada di Mansion, dan jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Aku pergi dulu." Kata Ash tergesa-gesa dan ia mengecup kening Shena sebelum pergi.
Shena menjadi gundah dan kecemasan melanda hatinya. Telinganya tidak salah dengar jika Ash memiliki konflik dengan wanita yang mengaku sedang mengandung anaknya di telepon itu.
Tanpa bertanya lagi, Shena menganggukkan kepala nya. Ia yakin saat ini pasti suaminya itu sedang ada masalah. Tadi Shena melihat wajah Ash dengan ekspresi menakutkannya.
Setelah sampai di depan pintu Ash menutup pintu ruang kerja dan menatap beberapa orang yang berbadan besar tengah berdiri di depan ruangan sedari tadi yang dijaga ketat.
"Arthur dan Dayn belum datang. Kalian jaga istriku, Jangan sampai terjadi sesuatu! Dan larang siapapun yang ingin masuk terkecuali keluarga, ataupun Maid." Tegas Ash dengan wajah seriusnya.
"Baik Tuan, Kami akan melaksanakannya!" Ucap mereka serentak.
"Dan satu lagi, Kalian juga harus berhati-hati. Kenali teman kalian, karena siapa tahu ada yang menyamar di salah satu antara kalian."
Para orang suruhan Ash langsung menunduk hormat.
"Baiklah Tuan, Kami akan menjaga Nona muda dengan baik."
...***...
Ash memasuki perusahaan dengan dijaga ketat oleh beberapa pengawalnya, Ia terlihat sangat perfect dengan balutan jas berwarna navy dipadukan dengan celana berwarna hitam dan kemeja putihnya.
"Di mana wanita ular itu?" Tanya Ash saat Kenan sampai dihadapannya.
"Wanita itu berada di ruangan anda Tuan Muda! Dia sudah menunggu dengan Ayahnya."
"Kau sudah mengumpulkan semua foto dan juga vidio rekaman rencana laknat mereka dulu yang sudah aku perintahkan?"
"Sudah Tuan, Semua berada di dalam benda ini." Kenan menunjukan flashdisk nya ke arah Ash.
"Bagus. Aku akan menemui wanita ular itu, dan siap mempermalukan dia. Kalian semua!" Tunjuk Ash pada semua bodyguardnya, "Urus semua bodyguard yang mereka bawa. Ingat! Mereka sedang meletakkan beberapa kamera dan juga alat pendengar. Jadi, kalian harus bekerja dengan rapi!"
__ADS_1