Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
om muda vs keponakan tua (season 2)


__ADS_3

qiana berdiri di depan gerbang sambil  menggusar tanah dengan kakinya "tin tin tin" terdengar suara klakson motor


sang pengendara membuka kaca helm nya "ayok pulang sama om aja" ajak revano


"oga, nanti di marahin sama kak putera lagi gara-gara di bonceng makhlukugal-ugalan kaya om" balas qiana


"cih" revano berdecih mendengar penuturan qian


"ya sudah, tunggu sana kakak kesayangan kamu itu" ketus revano meninggalkan qiana yang masih menunggu jemputan putera


qiana masih menunggu jemputan putera padahal sudah jam 3.30 "ih nyebelin, mending naik taksi saja" kesal qiana melangkah lebar ke tepi jalan untuk menyetop taksi


qiana berulang kali melambaikan tangannya untuk menyetop taksi tapi tak kunjung ia dapat "awas saja kak putera" teriak qiana meluapkan kekesalannya


"braghh" terdengar bantingan pintu mobil


qiana menoleh ke arah sumber suara dan menatap tajam kedatangan putera yang tengah berlari menghampirinya "maaf princess" ucap putera dengan suara tersengal-sengal karena berlari


qiana berkacak pinggang ke arah putera "bisa gak di gunain ponselnya, gak guna juga punya ponsel tapi gak di pakai! bisa kan kabarin kalau gak bisa jemputgak harus bikin nunggu orang 1 jam lebih" teriak qiana dengan kesal karena  harus menunggu satu setengah jam di depan gerbang sekola


"maaf princess tadi ada ...." belum selesai putera berucap sudah ada seorang wanita yang turun dari mobil putera


"gak usah selebai itu deh, cuma nunggu sebentar aja langsung marah-marah, gak malu apa di lihat banyak orang " ucap seorang wanita dengan ketus


qiana menunjuk ke arah wanita tersebut tapi tatapan matanya tertuju ke arah putera "siapa dia kak" tanya qiana dengan tatapan yang jelas tidak suka


"dia..." belum sempat putera menjawab kembali wanita itu menyela putera "ngapain juga kamu begitu ingin tahu hah" sahut wanita itu dengan nada tidak bersahabat


"ocha diam" bentak putera


ocha melirik ke arah putera "ngapain kamu bentak aku demi wanita ini, kamu suka sama dia ya" rengek wanita bernama ocha itu


"jangan bilang dia pacar kakak" tanya qiana


ocha menoleh dan menatap tajam qiana "kalau ia kenapa? gak terima" ucap ocha bersedekap tangan


qiana langsung begitu kesal dengan kakaknya "qiana bakal ngadu sama tante dan om" ucap qiana penuh emosi yang meluap


qiana berjalan menjauh dari putera, sungguh dia tak terima dengan cara kekasih putera dalam berbicara dengannya, emang apa salahnya sampai dia bicara seketus itu


"qiana tunggu" putera berniat mengejar qiana yang sudah mendapat taksi


"putera" ocha menarik tangan putera "ngapain juga kamu peduli sama wanita itu sih, kamu tuh sudah punya aku, jangan lupa aku ini pacar kamu" balas ocha dengan kesal

__ADS_1


putera menghempas tangan ocha dengan kasar "sekarang tidak lagi, kita putus!" bentak putera


ocha begitu terkejut putera memutuskannya begitu saja "kamu gila mutusin wanita secantik aku hanya demi wanita picisan kaya gitu hah" ocha tentu tidak terima jika di putuskan hanya karena membela qiana


"aku emang sempat gila mau nerima kamu jadi pacar aku" putera mulai jengah dengan ocha dan ingin bergegas meninggalkan ocha agar bisa mengejar qiana


putera mengambil tas ocha dan melemparnya ke arah ocha "jangan coba menghubungiku lagi, aku gak sudih berhubungan dengan orang yang berani membentak adikku" bentak putera


"haaa" ocha menganga lebar


sungguh dirinya tak menyangka kalau qiana adalah adiknya karena setahu ocha putera hanya punya dua adik laki-laki dan bukannya adik perempuan


"tunggu putera" teriak ocha yang tak di hiraukan sama sekali oleh putera


"bodoh" umpat ocha menyadari kesalahannya yang selalu mengutamakan emosinya ketimbang akal sehatnya


***


putera mengendari mobilnya bak pembalap hebat, ia terus mengejar qiana berbekal ingatannya tentang plat taksi yang di naiki qiana "harus dapat" gumam putera yang ingin bisa mengejar qiana


sungguh putera tak ingin qiana sampai rumah kakek mereka lebih dulu, bisa di amuk dia oleh mamanya jika sampai ketahuan berpacaran, apalagi pacarnya menyakit princess keluarganya


putera menyipitkan matanya tat kala putera melihat mobil yang di tumpangi qiana terlihat "dapat" putera makin menekan pedal gasnya agar bisa mendahului qiana


"ya ampun"qiana berteriak kencang karena terkejut bahwa sopir taksi itu mengerem mobil secara mendadak


"apa-apaan sih pak, bisa nyetir enggak" umpat qiana


"maaf non, itu ada mobil yang cegat kita " tunjuk sopir taksi pada mobil di depannya


qiana memicingkan matanya tatkala putera lah yang mencegat taksinya "sial, selalu kekejar" gumam qiana begitu kesal


putera membuka pintu mobil dengan gerakan kasar saat sopir taksi membukanya karena teriakan putera "keluar baik-baik apa kakak paksa" ucap putera


qiana berkacak pinggang ke arah "kenapa harus ikut kakak, gak takut pacar kakak itu marah-marah lagi hah!" teriak qiana


"sudah putus" putera langsung menarik tangan qiana dengan cepat dan bergegas membayar ongkos taksi


"nih pak, ambil saja kembaliannya" putera menyerahkan 3 lembar uang berwarna merah pada pak sopir yang masih diam melongo


melihat punggung putera dan qiana yang makin menjauh pun hanya bisa berdecak sebal "dasar anak muda, kalau sudah pacaran suka gitu" gumam pak sopir kembali melajukan mobilnya


qiana terus mode ngambek dalam mobil putera "maaf deh princess, sungguh kakak sudah putus dengan wanita gak tahu diri itu" ucap putera dengan nada memelas

__ADS_1


qiana yang awalnya hanya menatap jendela kini menoleh ke arah putera " gila gak sih kak, dia itu marah-marah sama aku karena sebal sama kakak yang buat aku nunggu sejam lebih, padahal kakak yang salah kan kakak yang kekeh mau jemput qiana" balas qiana dengan ketus


"iya maaf" balas putera dengan memelas


10 mneit kemudian mereka sudah sampai di kediaman keluarga aranda, putera memarkirkan mobilnya di parkiran mobil milik kakeknya "yuk princess" ajak putera


"heh" qiana hanya membuang muka karena masih kesal dengan pacar putera yang marah-marah dengannya


"nenek" panggil qiana saat masuk ke dalam rumah besar milik kakeknya


"wah cucu nenek" nenek jemina berlari menghambur memeluk qiana yang sudah di nantikan kedatangannya sejak pagi


(jemina di panggil nenek karena posisinya sebagai istri ayahnya sheryl ya, walaupun sebenarnya jarak usia jemina tak jauh dari usia sheryl dan juga kinan)


nenek jemina mengurai pelukannya dan menatap lembut qiana "sudah makan" tanya nenek jemina


qiana melirik jam dinding "makannya nanti saja ya nek, tanggung sudah mau jam makan malam" balas qiana


"ya sudah kalian mandi di kamar kalian saja" ucap nenek jemina pada qiana dan putera agar segera membersihkan diri


di rumah milik kakek burhan memang tersedia semua kamar milik cucunya, mulai dari qiana dan kedua adiknya serta putera juga kedua adiknya, bahkan kamar milik damian dan adiknya rain juga ada tersendiri didalamnya


"iya nek" qiana dan putera bergegas ke kamar mereka untuk bebersih setelah seharian beraktivitas


*


qiana berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri keluarga kakeknya yang sudah duduk berkumpul di meja makan "kakek" panggil qiana menghambur memeluk kakeknya dengan erat


"wah cucu kakek yang paling cantik datang ya" ucap kakek burhan sedang akan kedatangan qiana


revano memutar bola matanya malas "iya dia paling cantik, secara dia kan satu-satunya cucu ayah" seru revano


"dasar suka iri" sahut qiana


"kamu mau menginap di sini sayang" kakek burhan juga melirik putera "cucu kakek yang paling tua juga di sini" tanya kakek burhan


"iya kek, kita nginep sini mau denger keluh kesah nenek dengan kelakuan om revano" balas putera dengan santainya


"dasar keponakan tua, berani ya kamu sama om yang masih tmapan dan muda ini" kesal revano


revano memang terkenal playboy dan selalu mengabaikan nasehat mama serta kakak-kakanya tapi yang paling ia takuti tentu lah ayahnya yang kini sudah memberi tatapan tajam padanya


"revano" panggil kakek burhan tahu kelakuan anaknya yang sulit sekali di atur

__ADS_1


"ayah" revano cengengesan di depan ayahnya yang sudah akan meledak


__ADS_2