Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 46 - Perhatian Ash


__ADS_3

Pagi hari Shena terbangun, betapa terkejutnya ia saat membuka matanya dan melihat wajah tampan Ash tengah menatapnya dengan intens.


"Good morning.." Ucap Ash sekilas memberikan kecupan lembutnya.


Shena terdiam tersipu malu, pipinya bersemu merah karena malu mendapatkan morning kiss dari suaminya. Walaupun Shena masih merasa kurang nyaman dengan semuanya. Apalagi mengingat perkataannya kemarin, Ia tidak bisa menerima semuanya secara tiba-tiba. Tapi tetap saja, perlakuan Ash membuatnya sangat di istimewakan.


"Mengapa wajah mu memerah?" Tanya Ash dengan senyuman nakal nya. la tahu saat ini istri kecilnya itu sedang tersipu malu.


"Jangan seperti ini Paman, Aku malu!"


"Seperti apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Goda Ash lagi.


Shena tidak kuasa menahan malu, Sekuat tenaga ia melepaskan tangan Ash yang melingkar diperut ratanya.


"Aku ingin bersiap-siap pergi ke pasar." Elak Shena mengambil handuk, Lalu pergi meninggalkan Ash.


"Aku suka.." Gumam Ash tersenyum simpul.


"Aku harus bersabar sedikit lagi, Aku tidak ingin dia pergi lagi." Ucap Ash dalam hatinya.


Shena duduk di kursi meja makan bersebelahan dengan suaminya. la bangkit dan mengambil makanan sesuai yang Ash ingin. Shena sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan merubah semuanya mulai sekarang. Menerima Ash dan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan baik.


"Paman, Boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Shena menatap manik mata Ash.


"Silakan... Selagi bisa, Aku akan mengabulkannya."


"Aku hanya ingin berbelanja bahan masak di pasar. Sudah lama aku tidak berkunjung!"


Ash menghela napasnya berat. Ia pikir apa yang diinginkan oleh istrinya, ternyata hanya permintaan kecil.


"Aku pikir apa. Silakan saja, Mengapa perlu meminta izin dariku." Jawab Ash.


Seketika wajah Shena berubah senang.


"Paman kau tidak bohong, kan? Aku pikir dengan membeli bahan di pasar, Itu adalah pengalaman yang baru kau alami saat menikah denganku saja. Itu akan membuat mu alergi. Banyak orang yang mengatakan jika pasar itu tidak bersih, tapi akan ku pastikan pasar yang sering aku kunjungi ini bebas dari yang namanya jorok." Kata Shena.


"Tentu saja, mana mungkin aku berbohong. Bersih atau tidaknya, Aku melihat dari proses pengolahannya sudah menjadi makanan di Mansion ku sendiri."


Shena tersenyum bahagia.


"Syukurlah ternyata kau merakyat. Aku pikir pria seperti mu hanya bisa membeli apapun di tempat mewah. Jika aku pergi ke pasar, jiwa ibu-ibu ku akan meronta di sana, Aku akan bebas menawar pedagang sampai mereka takluk padaku. Setidaknya dengan harga murah aku sudah bisa menghemat pengeluaran di Mansion ini. Hihi..."


"Pergilah! Apapun yang membuat mu senang, Lakukan saja. Tapi, maafkan aku karena tidak bisa menemani mu di sana." Kata Ash mengusap lembut kepala istrinya.


"Jangan!! Jika kau ikut dengan ku, Hari ini pasti kau akan membayar 100 Milyar pada mereka. Aku juga akan mendapatkan hukuman dari ayahku lagi." Sindir Shena membuat Ash tertawa terlihat gigi.


"Haha... Jika itu terjadi, besok harinya para pedagang tidak akan berjualan lagi. Mereka pasti langsung beralih profesi menjadi juragan kontrakan." Timpal Tuan Theo.


"Selain juragan kontrakan, mungkin mereka akan menjadi juragan empang." Timpal Arthur.


Semua ikut tertawa dengan bualan mereka yang mengejek Ash.


"Baiklah, Habiskan terlebih dahulu makanan mu."

__ADS_1


Shena mengangguk, Lalu segera menghabiskan makanannya, dan sudah hampir terlambat menuju pasarnya.


Shena di antar oleh Dayn dan Arthur ke pasar yang kini mereka bertugas kembali menjaga Shena setelah beberapa hari mengawal Tuan Theo, Karena hari ini Ash ada pertemuan dengan wakil dari perusahaan luar negeri.


Di Pasar...


"Aku tunggu di depan Nona, Sembari menunggu mobil. Tadi Tuan Ash sudah menitipkan pesan untuk menunggu mu di luar saja." Kata Dayn.


"Kenapa menunggu di luar? Mobilnya akan aman walaupun ditinggal sendiri. Kau tenang saja karena tidak akan ada yang mencuri. Lebih baik ikut dengan ku ke dalam." Ajak Shena.


"Tidak masalah Nona, Saya tunggu di sini saja. Biarkan Arthur yang ikut bersama mu." Jawab Dayn.


"Hmm... Baiklah. Kalian ini memang memandang pasar itu aneh. Nanti kau akan menyesal karena pasar ini sudah seperti supermarket dalamnya." Kata Shena tidak memaksa dan pergi masuk ditemani Arthur.


Shena turun dari mobil dan langsung berjalan ke arah toko yang bersampingan.


Arthur baru pertama kali menginjakkan kakinya ke pasar, karena kemana orang kaya pergi, tidak akan jauh ke mall atau supermarket. Saat masuk, ia sangat takjub karena pasar itu sangat bersih, tidak seperti kabar yang mengklaim bahwa pasar itu jorok.


"Wah, Aku baru pertama kali melihat pasar sebersih ini. Ini bukan pasar, tapi sudah seperti supermarket." Puji Arthur.


"Benarkan apa yang ku katakan. Kalian saja yang tidak percaya. Di sini harganya murah tidak seperti di supermarket, tapi semuanya berkualitas sama." Terang Shena dan Arthur baru percaya setelah melihat keadaannya.


Shena pun mulai menjajal ke berbagai tempat toko bersama Arthur yang ingin ia beli barang jualannya sesuai kebutuhan yang ia butuhkan juga untuk keperluan Mansion.


Tapi Shena merasa seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang. Bukan Arthur, ia sedang sibuk menatap sekeliling pasar yang masih terkagum. Tapi seseorang yang seolah mengintainya dari kejauhan.


"Siapa yang mengikuti?" Batin Shena melihat ke belakang dan ke sekelilingnya dan tidak ada siapa-siapa. Hanya ramai akan pembeli yang berlalu lalang.


"Mungkin hanya perasaan ku saja." Batin Shena lagi.


"Bagaimana dengan Arthur dan Dayn yang menjaga istriku?"


"Saya sudah memantau jika Nona muda ditemani Arthur berbelanja, Sedangkan Dayn sudah mengikuti arahan anda untuk berjaga-jaga di luar memantau keadaan pasar, siapa tahu ada gerak-gerik seperti yang anda maksud."


"Bagus. Aku tidak ingin siapapun berani mendekati dan mengusik istriku."


Willie mengangguk paham, Ia tahu saat ini Ash sudah sangat mencintai Shena. Atau bahkan Shena sudah memiliki tempat kasta yang paling tinggi dan spesial di hati Tuannya.


"Tuan muda, wanita itu sudah sembuh. Dia sudah siap menjadi Asisten pribadi Nona Muda. Saya juga sudah mengeluarkan dia dari Mall." Kata Willie. Yang dimaksud adalah Rina, Si pelayan toko mall milik Ash itu.


Ash tersenyum simpul, Lalu mengambil sesuatu dari lacinya.


"Berikan ini pada wanita bodoh itu. Jika sampai dia melanggar semua peraturan ini, Maka aku tidak segan-segan melenyapkannya." Ucap Ash memberikan surat perjanjian pada wanita yang pernah membuat Shena sampai masuk ke rumah sakit akibat tamparan dan hinaannya. Sama seperti Soya yang sudah terbalaskan dengan membongkar aibnya.


"Baiklah Tuan, Besok wanita itu sudah berada di Mansion anda."


Ash tersenyum walau tidak terlihat. Setelah Willie pergi, Ia langsung melanjutkan pekerjaannya.


Wajah Ash kembali datar ketika seseorang masuk ke ruangannya tanpa permisi.


"Selamat pagi Tuan muda, aku membawa makanan untukmu." Ucap Soya tersenyum semanis mungkin. Dia memang tidak memiliki urat malu. Entah apa yang ia lakukan dengan datang ke perusahaan Ash meskipun sudah dibuat malu.


Ash bersandar ke kursinya menatap dingin wanita yang tengah berjalan ke arahnya tanpa permisi.

__ADS_1


"Siapa yang mengizinkan mu masuk?" Bentak Ash.


Dengan wajah tidak tahu malu, Soya menarik kursi dan duduk di hadapan Ash.


"Maaf Tuan, Tadi aku masuk karena aku pikir Tuan sedang meeting. Aku hanya ingin mengantarkan makanan ini untuk Tuan."


"Sekarang kau sudah mengantarnya. Kau bisa pergi sekarang! Kau memang wanita tidak tahu malu terus saja mendatangi perusahaan ku. Sepertinya membongkar aib mu kemarin tidak membuat mu sadar." Titah Ash dingin. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun melihat wanita yang paling dibencinya.


"Kau mengusir ku Tuan?" Tanya Soya dengan suara yang dibuat semanja mungkin, Siapapun yang mendengarnya pasti merasa mual.


"Pergilah! Aku sedang sibuk! Aku tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini."


Seketika wajah Soya berubah kesal, Niatnya ingin membuat Ash tergoda dan luluh tapi kenyataannya ia malah diusir dari perusahaannya. Namun, Soya tidak patah semangat, ia tetap akan berusaha untuk mendapatkan Ash.


"Baiklah Tuan, Jika begitu aku pergi dulu. Aku harap kau menyukai makanan ini." Ucap Soya lembut dan pamit pergi.


Ash Benar-benar ingin muntah saat mendengar suara manja wanita itu. Andai saja yang melakukan itu istrinya, tentu Ash akan langsung melahap habis bibir manja istrinya itu.


"Ke ruangan ku sekarang!" Seru Ash memerintahkan Willie dari teleponnya. Dan tidak lama Willie pun masuk ke ruangan.


"Bawa sampah ini keluar! Aku tidak sudi sampah ini berlama-lama di dalam ruangan ku." Titah Ash pada anak buahnya itu.


Willie bingung, Dari mana tempat makanan itu berasal, Karena ia tadi sedang ke toilet, Jadi tidak tahu siapa yang berkunjung kesini.


"Ini dari siapa, Tuan? Apa dari fans anda?" Tanya Willie ambigu.


"Kau ini sepertinya sudah mulai bodoh Wil, Tidak akan ada yang berani masuk ke ruangan ku ini selain wanita ular tidak tahu diri itu." Kesal Ash.


Willie masih belum mengerti, Namun ia tidak banyak bertanya lagi. la tidak ingin ambil pusing dan langsung menyingkirkan makanan tersebut.


Hari sudah mulai sore, Langit pun sudah semakin mendung. Shena dengan terburu-buru lari ke depan pasar tepat di mana mobilnya terparkir.


"Tuan Dayn, Ayo kita cepat pulang saja. Aku takut nanti hujan lebih dulu turun sebelum aku sampai ke Mansion." Kata Shena yang selalu ketakutan jika melihat cuaca tiba-tiba mendung yang menandakan akan hujan. Ia sendiri memiliki trauma akan petir dan hujan.


"Baik Nona..." Dayn mengangguk patuh dan mulai membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak lama terdengar suara dering ponsel milik Shena .


Paman Beruang Mesum is calling...


"Hallo Paman .." Ucap Shena menjawab ponselnya yang tertera nama paman beruang mesum itu


"Kau sudah selesai di pasar? Apa kau sudah makan?" Tanya Ash posesif.


"Aku baru saja selesai dan ini sedang menuju arah pulang. Hari ini aku lupa waktu dan aku melupakan makan siang ku Paman..." Jawab Shena terdengar sedikit manja, dan Ash sangat menyukai itu.


"Seharusnya kau makan terlebih dahulu. Ingat! Jangan membuat ku khawatir.."


Shena tersenyum sendiri mendengar perkataan manis suaminya itu. Ash memang pandai dalam memberikan perhatian, walaupun tidak begitu terlihat oleh siapapun. Tapi Shena yang sudah merasakan semuanya.


"Akan akan makan di Mansion saja, Paman. Aku akan langsung meminta maid untuk mengolah bahan yang sudah ku beli di pasar."


"Baiklah, Kita bertemu sebentar lagi. Jangan lupa makan siangmu yang terlewat tadi harus diganti menjadi makan sore. Dan nanti malam pun, Kau harus tetap ikut makan."


Arthur dan Dayn tersenyum-senyum saja di kursi depan mendengar sekilas perbincangan Ash dan Shena yang Ash terlalu posesif.

__ADS_1


Shena mengangguk, Lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam tas. Sejenak, Shena teringat dengan pesan yang dikirim oleh bekas mantan kekasih nya saat sibuk berbelanja tadi.


"Aku tidak boleh goyah, Aku sudah menikah! Dan sekarang aku harus melupakan pria yang sudah mengkhianati ku." Gumam Shena menatap hamparan jalanan.


__ADS_2