Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 71 - Kekecewaan


__ADS_3

Langit telah bertukar warna. Bulan kini melangkah ke depan, semakin tinggi mendahului matahari. Sinarnya perlahan menyentuh dinding rumah dan menelusup jendela kamar.


Kesunyian dengan ruangan gelap hingga memeluk separuh tubuh Shena yang sedang menangis. Sejak kepulangannya sore hari dan menenangkan diri sepanjang siang di tempat yang membuatnya tenang, ia masih setia dalam kesendirian dan enggan menemui siapapun.


Para maid yang diminta untuk menangani Shena saja hanya mampu berdiri di depan pintu kamar tanpa berani masuk. Saat memanggil dan menjelaskan maksud tujuannya, dari dalam hanya terdengar penolakan agar mereka segera pergi.


Seharusnya, suami lah yang justru bertanggung jawab untuk menangani istrinya yang sedang marah. Tapi Ash ingin membiarkan Shena sendiri untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Barangkali suasana hatinya sedang buruk, Ash takut Shena akan lebih marah saat melihatnya datang, sembari mencari cara bagaimana untuk menghadapi istrinya.


Para maid melapor jika Shena menolak kedatangan mereka, Shena tidak ingin menemui siapapun. Padahal Shena belum makan dan luka lecetnya pasti belum diobati, Para maid datang untuk mengantarkan makan dan juga kotak obat untuk mengobati luka Shena, tapi yang didapat adalah bentakan penolakan.


Mendengar perkataan dari para maid, Ash membangkang untuk membiarkan istrinya memiliki waktu sendiri terlalu lama. Namun, karena Shena bertindak sesukanya sampai tidak memperhatikan diri sendiri, membuat Ash langsung pergi ke kamarnya.


Ash mencoba datang ke kamarnya yang untungnya tidak dikunci. Mungkin Shena lupa. Saat pertama membuka pintu, kegelapan seisi ruangan memekik tubuhnya, ia segera masuk lebih dalam untuk menyalakan saklar lampu. Ketika seisi ruangan terang, Ash melihat penampakan Shena yang tengah menangis dengan guling yang dipeluk. Guling itu sudah setengah bagian terlihat basah akibat deras air mata Shena yang tidak henti karena kekecewaan mendalam yang dirasakan melebihi diselingkuhi suami penyebab orang ketiga.


"Sudah tiga jam kau mengurung diri. Lihat, sekarang aku pulang lebih awal, kan. Ayo kita makan bersama! Biasanya kita sudah berkumpul di meja makan." Ucap Ash mengumpulkan tenaga untuk berbicara pada Shena.


Selesai bicara dan rupanya tidak ada jawaban seperti yang diharapkan. Hanya ada suara keheningan dan dingin AC yang menusuk.


Tapi Ash tidak menyerah. Ia tetap berusaha untuk mengurangi ketegangan dan mengembalikan suasana hati istrinya menjadi lebih baik.


"Lukamu ini perlu diobati. Meskipun hanya luka kecil, tapi bisa mengakibatkan infeksi. Sebagai suami, aku akan membantu istriku untuk mengobati lukanya. Kau harus tahu bukan hanya dokter yang bisa mengobati luka, orang yang memiliki ketulusan dan cinta sendiri dapat membantu segalanya." Kata Ash dengan sedikit bumbu candaan.


"Kau benar peduli atau hanya ingin berpura-pura agar bisa membunuh ku secara halus?" Gertak Shena akhirnya bangkit dari ranjangnya. Sorot matanya tajam menatap suaminya.


Ash tidak menjawab. Ia hanya terkejut melihat mata istrinya yang sudah sangat sembap. Ash bahkan hanya menunduk tak berani menatap istrinya sekarang.


"Bukankah ini yang kau inginkan!?" Lontar Shena lagi sedikit berteriak.


"Aku akan membersihkan lukamu. Jika dibiarkan terlalu lama, takutnya akan terkontaminasi bakteri yang membuatmu malah tambah sakit." Jawab Ash yang tidak peduli pada amarah Shena dan hanya berusaha mempertahankan narasinya. Lagipula ia masih belum mengerti kenapa Shena berbicara seperti itu. Memangnya Ash ingin melihat Shena kecelakaan dan terluka?

__ADS_1


"Berhenti untuk berpura-pura tidak mendengar dan sekarang fokus untuk menjawab semua pertanyaan ku padamu!" Cerca Shena masih nada tingginya.


"Duduklah! Aku harus cepat mengobati lukamu." Kata Ash duduk di samping ranjang dan mulai mengambil NaCL untuk membersihkan luka Shena.


"Aku tidak butuh bantuan darimu!!" Sarkas Shena mengambil botol air NaCL yang ada di tangan Ash, lalu dilemparkan begitu saja sangat keras sampai terbanting, bahkan botol itu pecah dan airnya tumpah membasahi lantai.


Ash yang cukup tempramen dan tidak suka dibantah, Sekarang hanya bisa menjadi patung membisu yang tidak bisa marah pada seorang wanita yang tengah kesal padanya.


"Dan... sekarang aku benar-benar ingin mendengar pengakuan darimu. Obat apa ini?" Sedikit teriak Shena. Ia melemparkan banyak butir obat yang dilayangkan sampai satu persatu butir obat itu menyentuh wajah Ash dan terjatuh berhamburan di lantai.


Ash menundukkan kepalanya, menatap nanar ke arah lantai yang banyak obat berhamburan.


"Apa kau juga jadi hilang ingatan setelah menatap semua obat ini?" Pekik Shena menyindir.


Ash sama sekali tidak melirik Shena. Ia hanya menarik dan menghembuskan nafas panjang beratnya.


"Obat penghilang ingatan!" Jawab Ash datar berterus terang.


Lagi, pertanyaan itu membuat Ash terdiam selama beberapa saat.


"Obat ini akan membuat mu mengalami kehilangan memori." Jelas Ash lagi. Ash masih tidak berani menatap Shena yang jaraknya dekat.


"Heh, Rupanya kau akan jujur. Tak kusangka kau masih memiliki kejujuran dalam dirimu yang penuh kelicikan. Baru kali ini aku mendengar penjahat mengakui kesalahannya." Maki Shena mendorong Ash hingga beberapa langkah membuatnya mundur.


"Aku tahu... Aku tahu dan baru menyadari saat pagi kau meminta sesuatu dariku. Kau pergi menemui Dokter Anita untuk menanyakan obat yang ku berikan padamu. Dokter Anita yang memberitahu padaku, bahwa pagi tadi kau mengunjungi rumah sakitnya. Dia sendiri yang meminta ku untuk menenangkan mu. Dia melihat kau keluar dengan sedih." Kata Ash yang rupanya sudah tahu masalah yang membuat Shena marah padanya.


"Apa rencana mu dengan melakukan ini padaku?" Tanya Shena.


"Aku melihat kau rela menangisi seseorang yang sudah menyakiti mu. Dan saat kau bertemu dengannya lagi, kau bahkan masih setia menangisinya. Dan aku yakin kau masih menyimpan perasaan padanya hingga saat ini. Aku hanya ingin menghilangkan kesedihan mu dan membuat mu tidak mengingatnya lagi." Jelas Ash yang akhirnya berani mempertemukan matanya melihat Shena.

__ADS_1


"Kau bukan hanya akan menghilangkan air mata kesedihan ku, dan juga ingatan ku terhadapnya. Tapi kau akan membuat dunia ku hancur karena secara perlahan aku tidak akan mengingat siapapun dan aku tidak tahu siapa diriku sendiri. Itu kan yang kau inginkan?" Kecewa Shena yang tidak habis pikir lagi.


"Tanpa obat, kepala ku bisa terbentur keras dan kehilangan semua ingatan ku. Seharusnya tadi aku menggunakan kecepatan tinggi sepenuhnya supaya mobil ku begitu keras menabrak agar selain kehilangan ingatan, Aku juga bisa kehilangan nyawa ku." Lanjut Shena Berbicara.


Laju Shena terus berbicara meluapkan kekesalan dan kekecewaannya. Ash sendiri hanya menjadi pendengar yang baik dan kegemuruhan hatinya yang menyesal.


"Aku akan kehilangan ingatan ku semuanya. Bukan hanya tentang Tuan Arsen dan Deon saja, Aku juga akan kehilangan ingatan siapa ayah yang ku sayangi dan jati diriku. Apa kau pikir obat ini magic yang hanya bisa membuat ingatan ku tentang semua orang terhapus kecuali hanya mengenal dirimu seorang? Tidak, Tuan Ash, Aku juga tidak akan mengetahui siapapun di dunia ini."


"Itu lebih baik, Setidaknya dengan cara ini akibatnya suatu hari aku bisa mengatakan padamu bahwa kau hanya memiliki satu orang yang tulus padamu di dunia ini karena aku adalah orang pertama yang akan ada di samping mu saat kau terbangun dan tidak mengenal siapapun." Ucap Ash demikian.


"Kau pikir ini seperti yang sering drama lakukan? Aku terbangun dalam keadaan tidak mengingat siapapun, lalu kau mengatakan padaku kau adalah suamiku? Lalu, bagaimana dengan Ayah ku yang sudah ada sejak aku lahir. Dia adalah orang yang tulus setelah ibuku. Kau hanya orang yang masuk tanpa mengetuk pintu. Apa yang bisa aku banggakan darimu? Apa aku perlu bangga karena beruntung telah menikahi pria kaya raya setelah ayahku menerima kebangkrutan?" Cerca Shena tiada hentinya.


Lagi, Ash hanya terdiam. Hal ini malah membuat Shena geram pada pria yang sama sekali tidak merespon seolah tidak terlihat peduli pada kekecewaannya.


"Ini adalah pengalaman baru dalam seumur hidupku. Aku baru tahu jika ternyata ada obat yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Yang ku tahu dari obat bisa menyembuhkan dari rasa sakit. Tapi rupanya penyembuh sendiri bisa menyakiti seseorang juga."


Shena menangis sejadinya. Tubuhnya tak kuasa lagi untuk menahan keseimbangan berdirinya, Ia terduduk di lantai yang dingin.


Ash menghampiri Shena. Mereka sama-sama terduduk di lantai yang dingin. Ash meraih wajah istrinya yang penuh deraian air mata dan mengusap menggunakan ibu jarinya. Sambil menatap dalam manik istrinya, ia mencoba berbicara dari hati ke hati.


"Tuan Ash, aku tahu aku bukan wanita berpendidikan tinggi. Aku tidak bersekolah. Tapi aku adalah wanita yang dijaga kehormatannya. Kau yang hebat tidak bisa sembarangan menipuku begitu saja. Aku ini sebenarnya tidak bodoh!" Bicara Shena sedikit tenang dari sebelumnya. Hanya tangisan yang masih terisak.


Belum ada yang mampu dikatakan Ash. Karena ia sendiri bingung, ada banyak hal yang ingin ia lakukan untuk Shena tapi yang pasti untuk sekadar menjelaskan pun tidak akan membuatnya mengerti.


"Aku lebih baik mati daripada hanya mengenal satu manusia di dunia ini. Licik seperti mu!" Hardik Shena selanjutnya.


"Itu akan membuat ku lebih sakit. Aku berjanji akan menghentikan ini. Aku tidak berpikir kau akan marah nantinya. Aku benar bodoh karena sudah bersikap pintar padamu. Aku pikir hal ini tidak akan diketahui oleh mu. Hanya satu yang bisa ku katakan padamu, Maaf!"


Kedua tangan kokohnya memegang wajah Shena. Perlahan Ash dekatkan wajahnya. Shena yang semrawut tidak ingin mendapatkan sentuhan dari suaminya. Ingin menghindar, sayangnya tenaga Ash lebih kuat. Shena merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat. Hanya dalam hitungan detik wajahnya telah pucat bak mayat hidup.

__ADS_1


Laki-laki itu bahkan sudah menguasai tubuhnya hanya dalam hitungan menit. Membuat Shena tak dapat bergerak sama sekali. Shena hanya dapat menggeliat kala bibir basah pria itu mulai menjelajahi setiap bagian bibirnya. Ia hanya bisa menutup mata dan sepasang bola matanya melelehkan cairan bening mewakilkan rasa sakit yang ia terima. Selemah itukah Shena hanya dengan selalu mendapat perlakuan ciuman bibir Ash sudah bisa mengendalikan perasaannya?


__ADS_2