
Qiana melihat bangku panjang di dekat area pepohonan besar dan memilih duduk di sana “huuuhhh” qiana meluruskan kakinya yang terasa pegal “kenapa tadi gak kerasa pegal ya” gumam qiana yang baru merasakan kakinya pegal-pegal padahal tadi terasa biasa saja
Qiana memijat kakinya sendiri sambil membungkukan tubuhnya “sret” tiba-tiba saja ada yang meraih kakinya dan sedikit mengangkat satu kakinya
“kalau capek mending seprti ini” dion meregangkan kaki qiana dan mulai memberi pijatan untuk menghilangkan pegal di kedua kaki qiana
“harusnya bapak gak perlu repot-repot” ucap qiana saat dion sudah menyelesaikan pijatan untuk kaki qiana
“gak repot” dion duduk di samping qiana “ itu adikmu yang mana” Tanya dion
Qiana mengerutkan keningnya “maksudnya” Tanya qiana yang bingung pertanyaan dion
“maksud saya, adik dari ayah kamu atau adik dari mama kamu. Saya tahu kalau orang tua kamu berpisah dan sudah memiliki keluarga masing-masing” balas dion
"bapak kenal dengan orang tua saya" tanya qiana
"kenal baik tidak sih, cuma pernah beberapa kali bertegur sapa" balas Dion
Qiana mengangguk “dia adik dari keluarga mama saya” balas qiana dengan santai
“apa kamu sedih keluargamu sudah memiliki keluarga masing-masing” Tanya dion lagi
Qiana memundurkan tubuhnya dan menautkan alisnya memandang guru matematikanya yang menurutnya berkata aneh “ kenapa saya harus sedih, sepertinya tidak ada alasan saya harus bersedih deh” balas qiana
"biasanya kan anak yang mempunyai keluarga broken home akan sedih" balas dion
"saya gak gitu deh" sahut qiana
“biasanya kasih sayang orang tua yang sudah memiliki keluarga lain akan berbeda jadi kebahagiaan anak yang memiliki orang tua berbeda akan jauh berbeda sikapnya” sahut dion
__ADS_1
“mungkin untuk keluarga lain iya, tapi bagiku tidak ada kata broken home, ayah dan mamaku tetap mencintaiku sebesar mereka mencintai anak-anak mereka yang lain, malah aku punya tambahan orang tua, ada bunda dan papa dan juga ketiga adiku yang sangat menyayangiku jadi kenapa juga harus bersedih" qiana heran dengan jalan pemikiran Dion yang mengira bahwa anak hasil perceraian akanlah bernasib sedih padahal dia merasa happy-happy saja selama ini
"mereka tetap memberikan kasih sayang yang terlimpah banyak untukku, jadi kenapa harus bersedih” jelas qiana yang tak suka ada orang yang mengatakan kasih sayang orang tuanya pada dirinya berbeda dengan anak-anak orang tuanya yang lain
“maaf kalau bapak salah” ucap dion jadi tidak enak dengan qiana karena sepertinya salah bicara
“gak masalah pak, yang penting sekarang bapak tahu kalau saya bahagia dengan keluarga besar yang saya miliki sekarang" balas qiana dengan tegas
“ngomong-ngomong kenapa kamu yang nemenin adikmu, emang orang tua kamu kemana” Tanya dion mencoba mengalikan pembicaraan
“mereka ada bisnis di luar negeri jadi aku yang menjaga vansh” balas qiana
“kau wanita yang hebat” puji dion akan qiana yang terlihat kuat dan hebat
“tentu, aku punya 3 adik yang kesemuanya adalah laki-laki jadi aku harus bisa mengayomi ketiga adikku dengan baik” balas qiana dengan bangganya yang memilkii 3 orang adik pria
“ngomong-ngomong kenapa bapak yang nemenin keponakan bapak sendirian saja kenapa gak sama istri bapak saja biar lengkap keluarganya” Tanya qiana mencoba basa-basi dengan guru matematikanya
“oh” qiana membulatkan mulutnya “maaf, gak tahu pak, saya kira bapak sudah menikah secara bapak kans sudag tua" balas qiana
“usia saya 27 tahun qiana, jadi tidaklah setua itu" sanggah dion tidak terima di katakan sudah tua
"maaf pak, kan saya gak tahu kalau di usia segitu bapak belum menikah" balas qiana
"it's oke, sekarang kan kamu sudah tahu kalau saya belum menikah” balas dion dengan santai
Qiana beranjak dari duduknya “ini sudah sangat sore, jadi saya mau balik kamar ya pak” pamit qiana
“iya” balas dion yang memilih tetap duduk di sana
__ADS_1
Dion melihat punggung qiana yang makin menjauh “kamu memang wanita yang baik” gumam dion tersenyum simpul ke arah qiana yang jelas tidak melihat senyum dion karena langkah kaki qiana memunggungi dion
Keesokan harinya perlombaan di mulai kembali dan qiana kembali mengikutinya “siap gak vansh” Tanya qiana
“siaplah, paling yang gak siap itu kakak” balas vansh dengan yakinnya
“ngejek kamu ya” qiana membaca judul perlombaan tebak sains yang di rasa mudah bagi qiana “itu mah gampang buat kakak, kali ini kakak pasti dapat juara satu lagi” ucap qiana dengan pongahnya
“kakak mah sombong, gak ingat ya kalau nilai kakak selalu standar terus jadi bagaimana bisa menjawabnya” balas vansh mencibir qiana
“kita lihat ya” balas qiana ingin adiknya tidak meremehkan otak cerdasnya
Perlombaan di mulai dan qiana dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan yang di berikan panitia padanya dan mengalahkan semua lawan-lawannya yang bisa jelas di lihat usianya ada di atas qiana, karena kebanyakan peserta adalah orang tuan, sedangkan qiana masihlah anak SMA
Qiana begitu senang karena bisa menjawab semua pertanyaan dengan mudah, tapi ia tak sadar ada satu pasang mata yang menyorotnya tajam karena dengan mudahnya menjawab pertanyaan setingkat SMA bahkan ada yang cukup berat tapi qiana dengan mudahnya menjawab padahal di sekolah qiana terkenal sebagai anak standar yang tak punya kelebihan apapun selain cantik dan anak keluarga kaya
“selamat untuk Vansh Wafiq Atharazka dan kakaknya yang kembali menempati urutan pertama di perlombaan sains ini” seru panitia
Qiana berteriak girang karena kembali menang, sampai matanya bertemu pandang pada sepasang mata hitam itu “gawat, lupa kalau ada guruku di sini” umpat qiana dalam hatinya yang melupakan kebiasaannya di sekolah untuk emnjadi orang biasa saja
Qiana hanya tertawa canggung ke arah dion yang masih menatapnya tajam "gimana nih, mesti bilang apa tentang aku yang bisa jawab semua pertanyaan dengan cepat" batin qiana
selama perlombaan selesai dan sampai pembagian hadiah untuk perlombaan yang sebelumnya sudah di lakukan anak-anak dan perlombaan hari ini dan kemarin, Dion ingin menghampiri qiana tapi lagi dan lagi qiana terus menghindari dion sampai pada saat acara selesai dan semua keluarga anak-anak di sekolah dasar persada bangsa akan segera pulang “bisa kita bicara qiana” ucap dion mencegat qiana yang terus menghindarinya sejak siang tadi
“saya harus pulang pak” qiana kembali menghindar tapi tangan dion menahan langkah qiana
“sebentar saja” ucap dion dengan tegas
“qiana” panggil seorang pria melambaikan tangannya ke arah qiana
__ADS_1
Qiana menoleh dan berteriak girang dalam hatinya “itu kakak saya nyari pak” qiana berlari ke arah putera yang datang untuk menjemputnya menggantikan pak anton