Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Astaga! (Season 2)


__ADS_3

semilir angin berhembus menusuk kulit membuat tubuh serasa di tusuk dan di gelitik. Cahaya mentari mulai menusuk-nusuk kelopak mata yang menutup agar segera membuka agar segera menikmati pagi yang cerah  dan indahnya hari


"eeeuuughh" tubuh seorang wanita menggeliat saat kesadaran mulai mengumpul


"apa ini" gumam wanita itu saat ada sebuah tangan yang bertengger di perutnya


mata wanita itu bergerak ke arah perutnya dan terdapat sebuah tangan besar yang dengan kurang ajarnya berada di atas perutnya, matanya kembali menelusuri siapa pemilik tangan kekar itu dan sontak matanya membelalak lebar kala mengetahui siapa pemilik tangan kurang ajar itu


"aaaaahhhhhh!" teriak wanita itu mendorong kasar tubuh pria itu


"aduuuh" pria itu mengusap bokongnya yang harus berciuman dengan lantai yang dingin saat baru membuka mata


"ya ampun Adinda, bisa gak sih gak main asal dorong gitu" kesal Rain mengusap bokongnya yang habis bermesraan dengan lantai yang dingin


"ya bapak ngapain tidur seranjang sama saya, pakai meluk saya segal coba" tanya Adinda dengan tatapan kesalnya


Rain memicingkan matanya ke arah Adinda "kamu lupa yang semalam" todong Rain menatap tajam ke arah Adinda


ya perempuan dan pria yang tidur seranjang itu adalah Rain dan Adinda yang entah kenapa bisa tidur satu ranjang dan entah di mana


Adinda melirik kamar yang mereka tempati dan kamar itu bukan seperti kamar hotel, Adinda mulai mengingat kejadian semalam


Flash Back


*"bagaimana" tanya Rain *


*Adinda memejamkan matanya "baiklah saya mau menikah dengan bapak" entah kerasukan apa ADinda setuju saja dengan lamaran Rain yang terkesan tidak romantis dan lain dari pada yang lain itu *


*Rain langsung menyunggingkan semyumnya "terima kasih,sepulang dari sini saya akan meminta orang tua saya untuk melamar kamu, dan kita menikah dalam minggu ini" ucap Rain *


"apa Pak!" kaget Adinda

__ADS_1


*"iya kita menikah dalam minggu ini, saya tidak suka menunggu lama Adinda" tukas Rain *


*"Astaga!" Adinda berteriak tak percaya akan lamaran yang terkesan memaksa dan sungguh terburu-buru itu *


*"bapak itu jangan ngada-ngada pak, lagian mana boleh kita nikah dadakan, walaupun orang tuan bapak setuju saja dengan pemikiran bapak gak mungkin kakak saya setuju, kakak saya ingin pernikahan terbaik untuk saya pak jadi mana mungkin dia mengizinkan pernikahan dadakan macam gini kecuali...." ucap Adinda menggantungkan ucapannya *


Rain menatap penuh harap pada Adinda "kecuali apa" tanya Rain penasaran


"*kecuali bapak sudah merawanin saya, kan gak mungkin kakak saya menunda waktu jika saya sudah di sentuh bapak, tapi kan kita gak sampai ke tahap itu jadi tolong ubah pemikiran bapak" tukas Adinda ingin Rain tidak buru-buru menikahinya *


"oke kalau gitu" balas Rain  dengan senyum tipisnya


*'terima kasih ya pak sudah ngertiin kondisi saya " Adinda bisa bernafas lega tatkala Rain bisa memahami ucapannya *


Rain beranjak dari duduknya "ayok pulang" ajak Rain


"ayo pak" Adinda berjakan mengikuti Rain untuk memasuki mobil


Rain hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Adinda, matanya terus fokus ke arah jalanan di depannya, mobil itu terus berjalan cukup jauh sampai kira-kira setengah jam lamanya dan jalanan makin sepi saja membuat Adinda makin takut


"kita kemana ini pak" tanya Adinda yang tak kunjung mendapat balasan oleh Rain


sampai pada saat mobil Rain berhenti di sebuah rumah sederhana di tengah hutan "sudah sampai, ayok turun"ajak Rain


*'ini di mana pak" tanya Adinda memegang sabuk pengamannya dengan kencang *


*Rain berjalan turun lebih dulu dan menghampiri Adidna dari pintu sebelah  "ayok turun" ajak Rain dengan menggenggam tangan Adinda dengan lembut *


*Adinda seolah terhipnotis dengan ajakan Rain dan mengikuti langkah Rain memasuki rumah itu. Saat Rain membuka pintu rumah itu, Rain mulai menghidupkan lampu di dalam rumah membuat rumah itu terang benderang mengusir ketakutan yang Adinda rasakan *


*'ngapain kita di sini pak" tanya Adinda masih terus menggenggam tangan Rain dengan erat *

__ADS_1


*Rain mengajak Adinda duduk di sofa dan menghadap ke arah Adinda "ingin menghabiskan waktu berdua denganmu" Rain langsung menyambar benda kenyal yang terus menggoda imannya sejak kemarin *


"pak" Adinda mendorong tubuh Rain saking terkejutnya "kok bapak curi ciuman pertama Adinda sih pak, itu tuh untuk suami Adinda tahu" kesal Adinda


sudut bibir Rain terangkat ke atas "itu juga ciuman pertama saya, dan itu juga untuk istri saya" balas Rain membuat ADinda diam mematung atas ucapan Rain


*melihat Adinda yang terdiam langsung saja Rain menyerang Adinda dengan gerakan memabukan membuat Adinda yang awlanya diam saja dan diam dengan kaku kini mulai mengikuti nalurinya untuk mengikuti RAin yang sungguh menggoda imannya *


*Rain menghentikan kegiatannya setelah di rasa kekurangan pasokan oksigen dan menatap Adinda dengan tatapan sayunya "kau akan jadi istriku secepatnya" bisik Rain membuat Adinda menoleh ke arah Rain *


*Rain langsung menyerang Adinda dengan begitu liarnya dan sialnya walau Adinda terus menolak tapi lagi-lagi tubuhnya malah menerima dan meminat lebih akan sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Rain 


Rain mengangkat tubuh mungil Adinda ke dalam kamar tanpa melepas pangutannya dan membawa Adinda seperti bayi koala yang hinggap di tubuhnya 


malam itu menjadi malam pertama Rain menjebol pertahanan seorang wanita "CUP" Rain mengecup kening Adinda cukup dalam "kau akan jadi istriku apapun yang terjadi" bisik Rain dengan seringai liciknya 


Flash back End


Adinda menatap tajam ke arah Rain  "segitunya bapak ingin kita menikah cepat" Adinda menatap tak percaya ke arah Rain yang sudah duduk di hadapannya


"jangan lupa kalau kamu juga menikmatinya Adinda" tangan Rain mengambil tangan Adinda dan mengarahkan ke dadanya "kau pikir kelakuan siapa ini" Rain memperlihatkan bekas merah keunguan yang jelas adalah kelakuan Adinda pada tubuhnya


Adinda langsung menggigit bibir bawahnya tak percaya akan ulahnya di tubuh Rain "itu ulahku" tanya Adinda


Rain mengangguk dan menatap lurus ke arah tubuh adinda "aku juga membuat karya seni di sana" tunjuk Rain dengan dagunya


Adinda langsung menyibak selimutnya dan terpampang lah bekas merah keungunan di bagian dada serta gunung kembarnya yang cukup banyak "ya ampun pak" teriak Adinda


Rain menatap lapar ke arah Adinda yang tak sengaja mempertontonkan aset berharga milik Adinda "kau yang memancingku ya" tukas Rain


Adinda baru sadar memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya, buru-buru Adinda menutup kembali tubuhnya dengan selimut tapi langsung di tahan Rain

__ADS_1


"kamu yang mancing aku jadi kamu harus bertanggung jawab" tanpa aba-aba Rain langsung melahap habis Adinda tanpa ampun kala itu


__ADS_2