
Rania menggandeng tangan Vansh tanpa menyurutkan senyum di wajahnya "kita pulang ya, sudah malam" pinta Rania pada Vansh di sebelahnya
"tentu saja" Vansh melangkahkan kakinya ke arah luar meninggalkan acara pesta pernikahan Hasley
Hasley menatap punggung Vansh dan Rania yang makin menjauhn "kamu pasti akan menyesal jika berhubungan dengan Vansh" gumam Hasley yang masih bisa di dengar oleh Albert
Albert menghela nafas kasar "ku mohon Hasley jangan mengurusi hidup orang lain" pinta Albert dengan suara lirih
Hasley menoleh ke arah Albert "aku hanya kasihan sama Rania kalau sampai memiliki hubungan dengan playboy macam Vansh"timpal Hasley
"biar itu jadi urusan mereka, seperti yang wanita itu bilang kalau dia cukup mengenal Vansh dengan baik jadi jangan terus mengurusi mantan kekasihmu" ucap Albert dengan tegas
terkadang Albert merasa lelah dengan tingkah Hasley yang masih terus mengurusi Vansh yang katanya memberikan luka hati padanya padahal Hasley sudah memiliki diririnya dan hubungan mereka sudah berjalan selama 4 tahun lamanya
***
"mau mampir ke apartemenku dulu" tawar Rania saat Vansh mengantar dirinya sampi di depan pintu apartemennya
Vansh mengangguk "boleh jika di izinkan" balas Vansh
"boleh, ayo masuk" ajak Rania
Vansh duduk di sofa ruang tamu apartemen Rania sedangkan Rania berjalan masuk ke dapur untuk mengambilkan minuman "silahkan di minum" Rania meletakan gelas berisi teh lemon di atas meja
__ADS_1
Vansh menyunggingkan senyumnya saat melihat minuman yang di buat Rania "aku sedang tidak ingin curhat Rania" Vansh kembali mengingat saat kebersamaannya di luar negeri bersama Rania pasti selalu ada teh lemon menemani obrolan mereka
Rania terkekeh "seperti menjadi kebiasaan saja Vansh, kali saja kamu memang ingin bercerita tentangnya" balas Rania
Vansh menatap lekat ke arah Rania "aku akui dulu memang aku menaruh perasaan mendalam untuknya, perasaan yang ada untuknya selama bertahun-tahun aku akui begitu sulit untuk aku lepaskan, tapi ada kalanya hati ini bisa lelah Rania" Vansh meraih tangan Rania dan meletakan di dadanya " di hati ini sudah tidak ada tempat untuknya, karena dia yang sudah membuatnya mati" ungkap Vansh
Rania hanya menatap Vansh dengan tatapan sendunya tak ingin menyahut apa yang sedang ingin di utarakan oleh Vansh "cinta itu sudah tidak ada lagi saat rasa kecewa itu menghinggap di relung jiwaku" Vansh menarik napas panjang "aku dulu selalu mentolerir sikapnya dan segala apapun tuduhannya padaku karena aku tahu sulit menjalani pacaran jarak jauh, tapi setelah dia mengenalku selama bertahun-tahun tapi masih tidak bisa mengerti aku orang yang seperti apa, itu tandanya dia tidak pantas bersanding denganku " jelas Vansh
Vansh mengusap pipi Rania dengan sebelah tangannya yang bebas "aku benar-benar tak ada hati untuknya lagi karena saat aku bilang berakhir maka itu sudah jelas berakhir dan aku sungguh ingin menjadikan pendamping hidupku Rania, harus bagaimana lagi membuatmu percaya bahwa aku serius denganmu dan tidak main-main, apa tidak menjalin hubungan dengan wanita lain selama empat tahun padahal hubungan kita saja tak jelas belum membuatmu yakin" tanya Vansh
Rania memejamkan matanya "aku hanya tidak yakin dengan diriku Vansh, aku hanya wanita biasa dan juga tidak cantik tapi kau ingin menikahiku, rasanya aku tidak percaya saja kalau kamu menyukai aku yang biasa-biasa saja" ungkap Rania menyampaikan kekhawatirannya
"jangan memandang rendah dirimu, kalau aku jadi dirimu belum tentu aku bisa sekuat dirimu. Hidup di keluarga sederhana tapi tetap bisa mengantarkanmu menjadi wanita sukses dengan gelar MBA dengan usaha kamu sendiri, beasiswa yang kamu usahakan untuk bisa membahagiakan orang tuamu
Bahkan aku sangat salut dengan didikan orang tuamu yang bisa mengantarkanmu menjadi wanita sebaik ini, mereka memberikan kasih sayang terbaik yang membuatmu tak pernah minder berkumpul dengan kami orang-orang dari kalangan kaya sejak lahir, kau tumbuh jadi wanita yang begitu kuat dan juga percaya diri" timpal Vansh yang begitu bangga akan Rania
Vansh langsung tersenyum bahagia mendengar keputusan Rania yang sudah ia tunggu-tunggu "baiklah aku akan mengabari papah dan mamah untuk segera melamar kamu ke rumah orang tuamu" Vansh memeluk erat Rania
"terima kasih selalu bisa percaya denganku Rania" ucap Vansh dengan begitu tulus
"itu karena aku tahu bagaimana kamu Vansh, dan aku tahu betul seperti apa dirimu jadi tentu saja aku percaya padamu" ungkap Rania yang tahu betul bagaimana Vansh karena memang mereka cukup dekat semasa SMA apalagi Setelah mereka kuliah, Vansh sering menyambangi Rania sekedar menanyakan kabar dan bertukar cerita
Vansh mengurai pelukannya dan menatap wajah Rania lekat-lekat "kamu begitu canti hari ini Rania" gumam Vansh yang tentu masih bisa di dengar oleh Rania
__ADS_1
Rania tersenyum simpul akan ucapan Vansh "kamu sudah bilang itu berkali-kali hari ini Vansh" timpal Rania
Vansh mengusap pipi Rania dengan lembut "tapi rasanya tidak akan cukup untuk mengatakan itu" sahut Vansh
Vansh makin mengikis jarak mereka, satu tangan Vansh yang masih bebas meyentuh tengkuk Rania agar mereka makin mendekat "hatiku makin berdebar di dekatmu Rania" Vansh memiringkan wajahnya mendekat ke wajah Rania
"Emmmmm" Vansh mengusap kasar bibirnya yang harus di dorong kasar oleh tangan cantik Rania "kok di dorong gitu sih Rania" kesal Vansh yang harus merasakan dorongan Rania di area bibirnya menggunakan telapak tangan Rania
"setuju menikah denganmu bukan berarti kamu bisa langsung nyosor sebelum menikah Vansh" kekeh Rania yang merasa begitu lucu dengan tingak Vansh yang tidak bisa melaksanakan keinginannya
"nyicil dikit doang masa gak boleh sih Rania" kesal Vansh
"tentu tidak boleh, kalau mau lebih dari sekedar pelukan harus menikah dulu" tegas Rania tak ingin melakukan hal lebih dari pelukan dengan Vansh
"ya sudah, aku pulang dan langsung bilang mama sama papa buat lamar kamu besok" Vansh langsung berdiri saking kesalnya dengan Rania
"hahahaha" Rania memegang perutnya karena tertawa keras melihat tingkah Vansh "silahkan saja untuk minta pada orang tuamu tapi aku yakin dengan karakter mama kamu pasti akan sulit" balas Rania
Vansh mengerutkan keningnya "kamu remehin aku" tanya Vansh tidak terima di remehkan oleh Rania
"bukan itu maksudku Vansh, hanya saja mama kamu selalu menyiapkan segala sesuatu dengan matang, apalagi ini adalah pernikahan anak laki-laki satu-satunya mama dan papahmu, jadi pasti mereka tidak ingin melewatkan hal sekecil apapun untuk pernikahan anak mereka " jelas Rania
"akan aku pastikan pernikahan kita dalam minggu ini" ucap Vansh dengan suara lantangnya menegaskan dirinya akan menikahi Rania dalam minggu ini
__ADS_1
Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vansh yang sedang merajuk, hal yang sangat sulit ia lihat selama bertahun-tahun dan ingin membuatnya begitu terhibur
"akan aku tunggu itu" teriak Rania sebelum Vansh benar-benar menutup pintu apartemennya untuk pulang ke rumahnya