Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Masih Jadi Playboy saja (Season 2)


__ADS_3

"Qiana" suara teriakan bercampur isak tangis memekakan telinga membuat Qiana terus mengusap telinganya yang cukup berdengung


"Qiana" wanita yang sempat berteriak itu langsung memeluk Qiana begitu eratnya sampai membuat Qiana merasakan sesak


nenek Jmeina langsung saja mengurai pelukannya dan kembali menangis "tenang nek, kalau sedih jangan coba bunuh Qiana dong" Qiana terasa tercekat karena pelukan nenek Jemina begitu kuat


"nenek pusing Qiana ngehadepin om kamu itu " adu nenek jemina pada qiana


Qiana memutar bola matanya malas "kenapa selalu aku yang harus menyelesaikan masalah mereka " gerutu Qiana dalam hatinya


merasa lelah tapi tak bisa menolak, itulah yang di rasakan Qiana "ada apa nek" tanya Qiana dengan suara lembutnya


"Revano Qi" suara Nenek Jemina tercekat dan Qiana dengan sabar menunggu nenek sekaligus kakak iparnya itu bicara


"om kamu hamilin anak orang" tangis nenek Jemina kembali pecah saat mengucapkan itu


"hah!" Qiana begitu terkejut mendengar hal itu "dengan siapa?" tanya Qiana


nenek Jemina menggelengkan kepalanya "nenek gak tahu Qiana, wanita itu datang ke rumah dan bilang sedang hamil anak Revano" balas nenek jemina


"terus jawaban om revano apa" tanya Qiana


"kata om kamu bukan anak dia, ingat saja enggak katanya" balas nenek Jemina


Qiana menghela nafas lelah, memijit keningnya yang serasa berdenyut, tiap kali menghadapi tingkah om nya yang belum berubah sama sekali dan malah makin menjadi. Kata 'Playboy' memang tidak bisa lepas dari diri Revano sejak dulu


"kalau dia tidak ingat wanita itu berarti bukan anak om itu, Qiana tahu betul kalau om Revano bukan orang yang sembarangan menyentuh wanita ya walaupun dia masih punya wanita di mana-mana tapi bukan berarti dia main asal masuk ke sembarangan lubang " tukas Qiana yang tahu betul kalau Revano bukanlah pria yang sembarangan menyentuh wanita

__ADS_1


walaupun Qiana tahu betul kalau om nya pernah tidur dengan beberapa wanita tapi dia selalu main aman dan biasanya dia hanya tidur dengan wanita yang memang benar-benar ada di hatinya kala itu jadi jika Revano tidak mengingat wanita yang mengaku hamil anak Revano berarti itu tidak benar


"tapi gimana kalau itu benar" tanya nenek sesenggukan


"perempuan yang datang sudah hamil berapa bulan" tanya Qiana


nenek Jemina nampak mengingat pertemuannya denga wanita itu "mungkin tiga bulanan" balas nenek Jemina


"ya sudah gini saja nek nanti saat wanita itu datang hubungi Qiana, biar Qiana yang bicara dengan wanita itu tapi sebelum itu minta om Revano ke sini biar qiana bisa bicara dengannya " Qiana akan mengurus masalah ini setelah berbincang dengan om nya terlebih dahulu


***


Revano memandangi kukunya jengah akan kondisi yang sering terjadi dengannya "om bisa gak sih gak bikin Qiana pusing, sebulan saja" tukas Qiana dengan tatapan tajam


"om gak pernah ya minta kamu mikirin om" balas Revano dengan malasnya


"om itu bukan anak kecil Qiana" ucap Revano lagi


"kalau bukan anak kecil ya jangan bikin ulang dong" Qiana memberikan tatapan tajam pada om nya yang begitu menyebalkan


Revano membenarkan posisi duduknya "om itu gak kenal sama wanita itu, jadi bagaiamna bisa om hamilin dia" Revano ingin langsung bicara pada intinya sebab Revano tahu alasan Qiana memintanya datang ke rumah masa kecil mamahnya yang kini di tinggali oleh Putera dan juga Qiana beserta anak mereka


"makanya kurangin bermain wanita om!" tunjuk Qiana begitu kesal pada Revano


"itu urusan pribadi om Qi" kesal Revano


"berani sekali kamu bentak istriku hah!" suara bariton Putera memenuhi ruangan

__ADS_1


saat Putera meninggikan suaranya, revano langsung ciut dan tak berani menatap putera yang jelas adalah om nya karena Putera adalah adik dari mamanya "aku hanya tidak suka di campuri " cicit Revano dengan sura lirihnya


'kalau tidak ingin di campuri, urus wanita-wanita untuk tidak mengusik kamu vano, kalau mereka mengusik kamu tentu kami akan menuntut tanggung jawabmu" tunjuk Putera dengan amarah meluapnya


ia tak pernah membentak istrinya, orang tua Qiana juga tidak ada yang pernah membentak Qiana bahkan kakek Burhan selalu bertutur kata lembut saat menegur Qiana, jadi siapa Revano berani berkata kasar pada istri tercintanya


"aku gak menghamilinya putera" kesal Revano


"kalau bukan anakmu buktikan jangan banyak bacot" umpat Putera yang sudah mulai jengah dengan kelakuan Revano yang tidak pernah berubah sama sekali


"ya gimana mau buktiin kalau lahirannya saja masih lama jadi gimana mau tes DNA " balas Revano yang sudah mulai jengah akan pembahasan ini


"menurut nenek Jemina, wanita itu sudah hamil sekitar 3 bulan jadi kita bisa melakukan tes DNA saat usia kandungannya 4 bulan jadi tidak perlu menunggu waktu terlalu lama jika ingin tahu perihal siapa ayah anak itu" sahut Qiana yang emmang sudah ada rencana itu tapi ia ingin membahasnya terlebih dahulu dengan Revano


"oke kalau gitu kita akan tes DNA bulan depan" putus Revano


Putera menunjuk ke arah Revano "dengar ya Van, kalau sampai bener itu anak kamu, aku pasti akan menurunkan jabatanmu dari posisi CEO, ingat aku punya saham mayoritas di perusahaanmu dan jangan lupakan Qiana yang punya bagian dan juga mamah kamu dan kalau aku bilang ambil alih perusahaan itu kamu gak akan bisa apa-apa karena mamah kamu dan Qiana pasti nurut sama aku" ucap Putera dengan tegas


"kok jadi bawa-bawa perusahaan sih" Revano jadi kesal karena Putera membawa-bawa perusahaannya


"ya iya lah, kalau sampai ketahuan itu anak kamu pasti itu akan menimbulkan gejolak dan penurunan saham jadi kamu harus di copot dari jabatan CEO" jelas Putera


"oke" Revano hanya bisa mengiyakan saja sebab ia tidak bisa berbuat banyak saat Putera yang memiliki kekuasaan lebih besar di perusahaannya


Sebenarnya dulu Revano mempunyai bagian saham yang cukup besar sebab semua saham kakek Burhan di serahkan pada Revano dan Qiana hanya mendapatkan bagian 5 % saja, sebagai bagian untuk mama Sheryl tapi di serahkan pada Qiana


Tapi setelah Revano memegang perusahan itu sejak 4 tahun lalu sebab kesehatan kakek Burhan yang makin menurun karen faktor usia . Kondisi Perusahaan makin memburuk sebab Revano lebih sering pergi bersma wanita-wanitanya ketimbang mengurus perusahaan, alhasil perusahaan sering kehilangan Klien dan kinerja perusahaan makin menurun, untuk membantu agar perusahaan tetap berdiri putera membantu di awal tapi Revano seolah menyepelekan bantuan Putera dan itu membuat Putera sangat kesal karena Revano tidak menyadari kesalahannya sama sekali dan malah makin menjadi

__ADS_1


Alhasil Putera membeli saham perusahaan kakak ipar itu secara besar-besaran dan merombak managemen serta mengatur setiap posisi penting di perusahaan sehingga perusahaan yang di dirikan kakek Burhan masih bisa bertahan sampai sekarang


__ADS_2