
"Hei! bibit pelakor!" bentak tiara menatap nayalang ajeng yang berani mengusik kekasihnya
roland yang tahu betul tabiat kekasih menarik tangan qiana kebelakang untuk menyari aman "kok malah mundur sih roland" bisik qiana
"hussst" roland meletakan telunjuk tangannya di bibir sebagai tanda "jangan mengusik banteng cantik lagi ngamuk" bisik roland
"hah" qiana hanya menganga mendengar penuturan roland
tiara menyingsingkan lengan bajunya dan berkacak pinggang di depan ajeng "kamu mau nguji kebaranku hah!" bentak tiara
ajeng jadi katakutan dengan kemarahan tiara "emang aku gapain kak" tanya ajeng
"dengar ya " tiara menunjuk muka ajeng "mamaku mungkin malas berdebat saat mamamu ngerebut papa aku, tapi enggak dengan aku " tiara mendorong bahu ajeng dengan telunjuk tangannya "berani kamu mengusik priaku " tiara mengepalkan tangan kanannya di depan ajeng dengan gerakan meremas perlahan "abis kamu" ancam tiara
"aku gak gitu kak" elak ajeng
"sekarang pergi dari sini" usir tiara
"enggak kak" ajeng meraih tangan tiara "aku gak mau rebut kak roland dari kakak" ucap tiara dengan muka memelasnya
tiara menghempaskan tangan ajeng "gak usah sok muna deh, aku paham betul wanita macam apa kamu dan mamamu itu" tiara menarik ponsel yang ada di sakunya menghubungi seseorang
tiara meletakan poselnya di pipi sambil menatap tajam ajeng "bawa anak kesayangan papa itu menjauh dari mataku, atau aku minta kakek bikin perusahaan papa benar-benar bangkrut" ucap tiara dengan tajam
"ada apa sayang" tanya papa marco bingung dengan ucapan anaknya padahal dirinya belum sempat menyapa
"anak papa yang gak tahu diri ini, masih ngemis harta warisan kakek yang di berikan padaku, karena merasa kurang dengan uang yang papa kasih, mending uang yang papa kirim buat aku kasih ke pengemis ini deh, aku masih dapat jatah dari mama yang gak kurang dari pemberian papah" balas tiara begitu kesal dengan anak hasil selingkuhan papanya yang tidak tahu diri
"maafin papa sayang, papa akan kasih peringatan keras buat ajeng buat gak ganggu kamu" balas papa marco
"ini peringatan terakhir aku pah, kemarin-kemarin aku masih memohon ke kakek untuk gak bikin perusahaan papa bangkrut walaupun aku gak bisa bantu papa buat pertahanin kerjasama papa dengan kakek tapi saat aku cerita ke kakek kalau anak hasil perselingkuhan papa itu ganggu aku, aku jamin papa akan habis" tiara menekankan setiap ucapannya ke pada sang papa agar papannya mengerti kalau dia sedang benar-benar marah
"iya sayang maafin papah" papa marco langsung mengakhiri panggilannya
"kakak telpon papah" terlihat sekali wajah ajeng jadi panik
"kenapa" tiara menatap ajeng dengan penuh cibiran "emang kamu aja yang bisa laporan sama mama pelakormu itu, aku juga bisa laporan sama papa kandungku, yang jelas namanya ada di akta kelahiranku" jelas tiara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah anak sah sedangkan dia hanya anak di luar nikah
__ADS_1
"kamu" ajeng mulai kehilangan kesabaran dan berniat menampar tiara tapi ponselnya langsung berdering
ajeng langsung mengambil ponselnya dan terlihat nama papanya di sana "kau benar-benar" ajeng memilih menyingkir untuk mengangkat panggilan papanya
qiana dari tadi bukan melihat tiara tapi sibuk melihat wajah roland yang tersenyum sepanjang tiara sedang mengamuk "gila kamu ya roland" tukas qiana tak sanggup lagi menahan rasa yang sedari tadi ingin ia luapkan
roalnd menoleh ke arah qiana "kenapa kamu bilang sahabat kamu gila" kesal roland
qiana menoleh ke arah tiara yang sedang berjalan ke arahnya dan menunjuk ke arah roland yang ada di sebelahnya "pacar kamu gila tiara, masa dari tadi dia senyum-senyum sendiri waktu lihat kamu marah-marah sama anak yang sok dewasa itu" ucap qiana
Roland terkekeh akan tanggapan qiana "itu karena aku terlalu cinta dengan sahabat kamu ini" roland melingkarkan tangannya di pinggang tiara "marah saja terlihat begitu cantik, gimana saaat dia sedaang tersenyum coba" puji roland
"sudah ah" tiara menepuk pelan bahu roland yang selalu bisa membuat pipinya merona
"iiiihhhhh" qiana bergidik ngeri dengan tingkah kedua sahabatnya
"alah kaya kamu gak gitu aja sama kak putera" ledek roland
"enggak" balas qiana dengan yakin
qiana mengernyitkan dahinya dengan kekompakan sang sahabat yang meragukannya "kamu itu lebih parah dari kita kali qiana, dulu saja pake title kakak adik jadi gak nampak banget tapi sekarang sudah kelihatan bucinnya" ucap roland yang bisa melihat jelas bagaiamana qiana dan putera saat pacaran karena qiana dan roland satu kampus
"iya, aku denger loh dari roland" tiara melirik ke arah qiana "gimana tuh guru matematika kita" tanya tiara
"udah ah" qiana mengambil kantong belanjaannya dan berjalan ke arah lift
"tunggu qiana" tiara meminta roland mengambil sisa belanjaannya dan segera mengejar qiana
***
qiana, roland dan tiara memasak bersama sambil bertukar cerita tentang keseharian mereka "jadi kangen cindy ya, kapan coba dia pulang" qiana teringat dengan satu sahabatnya yang memilih kuliah di luar negeri
"iya yah, kangen loh sama dia" sahut tiara
"kita telpon saja " usul roland
"ya kali di sana jam berapa, di sini aja sudah jam 6 berarti di sana sudah tengah malam kali" sahut tiara
__ADS_1
"iya juga sih, suka lupa perbedaan waktu negeara tempat kita tinggal dengan tempat kuliah cindy" balas roland
"pacar kamu kok belum ke sini" tanya roland
"katanya dia pulang jam enam kok, paling bentar lagi sampai" balas qiana
"ya sudah tata makanannya dulu, aku mau mandi bentar " ucap qiana
"oke" tiara memberikan ibu jarinya pada qiana
baru saja qiana masuk kamarnya, terdenagr suara bel pintu apartemen qiana "aku bukain pintu dulu ya sayang, paling itu kak putera" roland beranjak dari duduknya menuju pintu
"ceklek" roland langsung melambaikan tangannya "hai kak" sapa roland
"kamu sama tiara sudah di sini" tanya putera
"sudah dong, dari tadi malah" putera masuk dengan santai sambil membawa kotak kue yang ia ambil dari toko neneknya
tiara langsung semangat saat melihat putera membawa kue yang jelas dari bungkusnya adalah dari tokok nenek jemina "wah bawa kue kesukaan aku pasti" tebak tiara
"kakak bawa buat qiana ya, kamu dapat sisanya aja" putera membuka kulkas dan meletakan kuenya di kulkas
"segitunya sama aku kak" kesal tiara
putera melirik ke arah isi kulkas qiana "kamu baru belanja sama qiana" tanya putera
"iya, pasokan makanan kita menipis jadi belanja tadi" balas tiara
"tapi gak belanjaan kamu di taro kulkas qiana semua kali" tukas putera
"ya gak papa sih kak, toh aku sering masaknya disini" balas tiara
"dasar gak modal" ledek putera yang tak di hiraukan sama sekali oleh tiara
"biarin sih, uang saku qiana kan banyak kalau kurang juga bisa minta kakak" sahut tiara dengan santainya
"emang uang sakumu gak banyak" putera memilih duduk di sofa dan menyalakan TV sambil menunggu qiana keluar kamarnya
__ADS_1