
Paginya, Shena terbangun terlebih dulu. Dia merasa pengap, dadanya sesak karena ternyata Ash telah mendekapnya erat. Shena pun mengangkat kepalanya sedikit menghadap Ash, menatap lamat-lamat wajah pria yang mendekapnya. Terlintas ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya dan juga mengakui ketampanannya. Shena memperhatikan setiap inci dari wajah yang enggan disebut suaminya itu.
Ash sendiri sudah terbangun dari sejak tadi. Dan melihat dengan sedikit membuka matanya itu, bahwa istrinya telah menatapnya dengan tersenyum-senyum. Hanya saja posisinya memeluk Shena ini terlalu membuatnya sangat nyaman hingga tidak ingin melepasnya. Karena ketika begitu Shena sadar, wanita itu akan terus menjauh bahkan akan selalu berdebat dengannya.
"Jangan menatapku seperti itu. Jika kau jatuh cinta padaku, Aku tidak ingin disalahkan." Ucap Ash yang akhirnya mengeluarkan suara.
Shena kepergok Ash meski pria itu masih memejamkan matanya. Shena meringsut tenggelam ke dada bidang Ash. Malu! Membuat Ash terkekek dalam tidurnya, dan semakin mengeratkan dekapannya pada Shena.
"Paman. Sampai kapan kita dengan posisi begini?! Aku sesak, tidak bisa bernapas." Ucap Shena.
"Sampai lusa." Jawab Ash dengan tersenyum.
"YA!! Apa kita tidak membutuhkan makan, mandi.. Eoh?!! Kapan kau akan bangun. Paman Ash?!"
Benar saja dugaannya tidak meleset. Ada untungnya Ash mengambil kesempatan ini. Karena lihat saja, Gadis ini sudah mulai menjawab perkataannya lagi dengan menyentak. Berbeda dengan semalam seperti seekor kancil yang mencuri semangka dan sedang dimarahi pemiliknya sampai hanya bisa terdiam menunduk.
"Sampai kau memanggilku dengan kata suami. Maka baru aku akan melepaskan mu."
"Tidak akan Paman!! Jangan kira karena kau sudah menolongku, aku akan menerimamu sebagai suamiku. Pernikahan ini tidak pernah aku menginginkannya."
"Aku akan membuatmu menerimaku. Jangan panggil aku Ash Vinson jika aku tidak bisa membuatmu jatuh hati padaku."
Ash semakin mengeratkan dekapan. Tapi kali ini, Ash juga mengikis jarak antara wajah mereka, sehingga hidung keduanya saling menempel merasakan napas keduanya, dan mata Ash masih terpejam.
Jantung Shena berdebar dengan jarak yang sangat minim di keduanya.
"Pa-pa-man.. Ap-apa yang kau la-kukan?!"
Ash membuka mata.
"Melakukan bulan madu dengan istriku."
"Ja-jangan macam-macam Paman!! Aku adukan kau pada Ayah karena tindakan pelecehan."
"Ck, Kau selalu membahas itu. Pelecehan pada istri sendiri, memang ada?!"
Shena bungkam, kedua tangannya menahan dada Ash agar tidak semakin dekat. Tapi Ash, semakin mengeratkan dekapannya dengan mata terpejam. Hingga pada akhirnya, mereka malah tertidur kembali...
...***...
Beberapa tempat favorit di paris sudah mereka kunjungi untuk beberapa hari ini. Dan tujuan terakhir mereka kali ini di restaurant berbintang sekitar eiffel.
"Masihkah ada tempat yang ingin kau kunjungi gadis kecil?!"
"Ck, Berhenti memanggilku gadis kecil, Paman!! Aku bukan anak kecil dan sudah dewasa, tidak kecil lagi. Ingat itu!"
"Kau memanggilku Paman. Berarti kau tidak jauh lebih kecil dariku, bukan begitu, gadis kecil?!!" Goda Ash masih saja.
__ADS_1
"Sangat menyebalkan. Terserah kau saja."
Tidak lama, ponsel Ash berdering.
"Ada apa?!"
".........."
"Kapan?!"
".........."
"Bukankah masalah itu sudah kuserahkan padamu?"
".........."
"Jangan!! Jangan libatkan dia."
".........."
"Baiklah. Atur jadwalnya."
".........."
"Aku akan segera datang. Hari ini aku akan segera pulang."
"Kita pulang sekarang. Siapkan semua barang-barang mu. Dua jam lagi kita harus ke bandara." Titah Ash memberitahu setelahnya.
"Kenapa mendadak sekali?! Masih ada tempat tujuan lagi yang belum aku datangi."
"Kita kesini lagi lain waktu. Kau ingin di sini atau ku tinggal?!" Ash melangkah pergi meninggalkan Shena.
"Ck... Dasar Paman aneh. Sedikit-sedikit baik, sedikit-sedikit menyebalkan." Shena menggerutu kesal beranjak mempercepat langkah mengikuti Ash.
"Paman tunggu! Kaki ku sakit." Teriak Shena berlari sedikit tertatih, karena Shena saat ini memakai high heels.
Ash berdecak, lalu melirik kaki Shena yang berlari setengah pincang. Ash pun kembali menghampiri istrinya. Tanpa izin, Ash langsung mengangkat tubuh Shena di bahunya.
"YA!! Paman, turunkan aku!!"
"Diam lah!! Pilih ku gendong atau ku seret?!!"
"Kejam!!" Ketusnya kesal. Sedikit masih di dengar Ash. Membuat Ash tersenyum tipis tanpa diketahui Shena yang masih di gendong di pundak suaminya.
...***...
Indonesia Berada.
__ADS_1
Keesokan Harinya di Mansion...
Ash dengan Tuan Theo sedang duduk berbincang di ruang keluarga.
"Tuan Ash!!" Panggil mertuanya memulai pembicaraan.
"Ayah, Harus berapa kali aku mengatakan padamu. Tidak istri, Tidak mertua, Kalian memanggil ku sesuka hatinya." Keluh Ash yang kali ini tidak ingin Tuan oleh sang mertua.
"Hahaa... Baiklah, Baiklah... Sekarang jelaskan pada Ayah. Apa yang terjadi?"
"Apa yang harus di jelaskan?!"
"Kenapa kau membatalkan semua tiket Ayah?! Padahal malam sebelum pernikahan kalian, Kau sendiri yang mengatakan sudah menyiapkan semuanya untuk Ayah."
"Ayah mungkin tahu. Aku tidak akan bisa membiarkan Ayah pergi sendiri. Apalagi mereka masih mencari-cari keberadaan Ayah sampai sekarang."
"Apa kau meragukan kemampuan Ayah?! Ayah menyuruhmu untuk menjaga putri Ayah satu-satunya, Jadi kau tidak perlu menghawatirkan Ayah, Ash."
"Benar. Tanpa Ayah minta pun aku akan tetap menjaga putri Ayah. Hanya saja itu bukanlah alasan ku sebenarnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada istriku ketika Ayahnya pergi meninggalkan ia di sini. Dia begitu menyayangi mu dan aku tidak siap untuk melihat tangisannya mencari keberadaan mu."
"Aku memang tidak salah memilihmu sebagai menantu. Hahaa... Lalu, Apa rencanamu, Nak?!"
"Aku tidak akan membuat Ayah pergi meninggalkan negara ini. Tinggal saja di Mansion ku bersama putri dan menantu mu. Lagipula tempat ini sangat aman untuk mu, Hingga sekarang tidak ada yang mengetahui keberadaan mu di sini."
"Mansion mu ini memang sangat aman untuk Ayah. Begitu banyak penjagaan yang sangat ketat dan Keamanan mu melebihi Mansion Ayah dulu. Ayah juga tidak bisa meninggalkan putri kesayangan ku di sini."
Ash bernapas lega. Meskipun tidak ada jawaban pasti Ya atau Tidak, itu artinya Tuan Theo setuju untuk tidak pergi.
"Besok Ayah harus ikut denganku. Mereka sudah merencanakan sesuatu. Ayah hanya ikut, Aku yang akan menghadapi semuanya." Ujar Ash setelahnya.
"Baiklah, Ayah serahkan semuanya padamu. Ayah sangat mempercayai menantuku yang hebat ini."
Di sisi lain...
Shena sedang berada di kamarnya, Namun saat masuk ke ruang ganti, tidak terdapat barang-barang di lemarinya.
"Apa-apaan ini?! Kenapa semua menjadi kosong begini?! Kemana semua barang-barang ku?!"
Kekesalan Shena makin bertambah ketika melihat isi kamarnya benar-benar kosong melompong.
Ash sedang bersantai di ruang tengah, sibuk dengan iPad dan secangkir teh chamomile nya.
"Pamaann!! Kau buang kemana semua barang-barang ku?! Kenapa semua barang-barang ku tidak ada di kamar." Teriak Shena dengan nada kesalnya sambil menuruni anak tangga dengan cepat.
Ash yang sedang menyeruput Teh nya pun sampai tersedak saat istrinya itu berteriak memanggilnya.
"Aku meminta maid untuk memindahkan semua barang-barang mu ke kamarku. Kita sudah menikah, tidak pantas jika kita harus pisah kamar, apalagi pisah ranjang."
__ADS_1
"Apa-apaan ini, seenaknya saja." Komplainnya.